NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007: Kanit Adira Membela

"Nah, Dok. Sekarang bagian orang yang mau membelamu."

Bisikan Bambang membuat Arka tidak tahu harus menjawab apa.

Adira Larasati sudah melangkah masuk ke ruangan Gunawan Prasetyo. Ia tidak menunggu dipersilakan dua kali. Map perkara Hendra Wijaya berada di tangan kirinya, ponsel di tangan kanan, layar masih menampilkan pesan terbaru dari Inafis.

Gunawan menatapnya. "Bu Iptu, saya belum memanggil Anda."

"Saya tahu, Pak Wakapolrestabes. Tapi keputusan itu menyangkut perkara yang saya tangani, jadi saya perlu menyampaikan keberatan sebelum catatan dibuat final."

Gunawan menyipitkan mata. "Keberatan atas apa?"

"Atas kata cacat prosedur yang berdiri sendirian tanpa mencatat dampak operasional tindakan Dok Arka."

Arka berdiri di ambang pintu. Ia hendak mundur, tapi Gunawan menunjuk kursi di sisi dinding.

"Duduk di luar dulu, Dokter Arka. Saya dengar apa yang mau dikatakan Kanit Anda."

Pintu dibiarkan setengah terbuka.

Bambang langsung menarik Arka ke sisi koridor. "Jangan sok tidak mau dengar. Kalau ada orang membelamu di depan Wakapolrestabes, minimal dengarkan dengan sopan."

Arka duduk di bangku panjang. Dari celah pintu, suara Adira terdengar jelas.

"Pak, sebelum Dok Arka membuka jaringan leher, perkara ini masih berjalan sebagai bunuh diri. Keluarga meminta percepatan pemakaman. VeR awal hampir ditulis. Kalau jenazah keluar malam itu, kami kehilangan kondisi luka terbaik."

Gunawan menjawab datar, "Saya sudah tahu."

"Belum semua, Pak." Adira membuka map. "Setelah status perkara berubah, Hendra Wijaya kami periksa. Dia mengaku. Tim Pak Bambang sudah menemukan benang di selokan belakang kos dan potongan kabel dekat warung. Inafis juga mengirim foto gesekan baru di pipa luar jendela dapur. Semua itu bergerak karena tiga temuan awal Dok Arka."

Bambang mengangkat jempol tanpa suara ke arah Arka.

Arka tetap diam.

Di dalam ruangan, Gunawan mengetuk meja. "Itu tetap tidak membuat penguncian ruang autopsi menjadi benar."

"Saya tidak bilang benar, Pak. Saya bilang nilai tindakannya tidak bisa dihitung hanya sebagai pelanggaran. Kalau yang dicatat hanya peringatan, pesan ke lapangan jadi buruk: orang yang menyelamatkan perkara besar mendapat hukuman yang sama kerasnya dengan orang yang lalai."

"Anda meminta saya memberi hadiah karena dia melanggar aturan?"

"Saya meminta Bapak membedakan niat, hasil, dan risiko." Suara Adira tetap stabil. "Niatnya mempertahankan bukti. Hasilnya pembunuhan terbuka. Risikonya sudah dia tanggung sendiri di depan Bapak. Kalau ini hanya berakhir dengan peringatan tertulis, besok semua Dokter Muda akan belajar satu hal: lebih aman diam daripada menyelamatkan bukti."

Koridor hening.

Bambang berbisik, "Kalau Bu Iptu sudah pakai nada begitu, biasanya lawan bicara cuma punya dua pilihan: setuju atau pura-pura marah dulu."

Dari dalam, Gunawan berkata, "Anda terlalu emosional."

"Tidak, Pak. Saya sedang menghitung perkara." Adira langsung menjawab. "Satu korban perempuan hampir dikubur dengan status bunuh diri. Satu tersangka hampir pulang sebagai pelapor. Satu penyidik utama hampir mengejar arah yang salah selama hari-hari pertama perkara. Itu hitungan perkara. Tanpa tindakan Dok Arka, biaya operasionalnya jauh lebih besar."

Gunawan tidak langsung membalas.

Arka menunduk melihat tangannya. Kemarin tangan itu memegang skalpel tanpa izin. Hari ini, tangan itu menjadi alasan satu ruangan berdebat tentang aturan dan kebenaran.

Bambang menyenggol bahunya. "Dok, kau sadar tidak?"

"Apa, Pak Bambang?"

"Kau baru hari pertama, sudah bikin Kanit ribut sama Wakapolrestabes. Biasanya orang perlu bertahun-tahun untuk bikin kacau sebesar ini."

Arka hampir tersenyum, tapi menahannya.

Di dalam, suara Gunawan terdengar lagi. "Baik. Apa usulan Anda?"

Adira langsung menjawab, seolah sudah menunggu pertanyaan itu.

"Pertama, catatan peringatan tertulis diubah menjadi teguran lisan yang dicatat dalam notulen koordinasi, tanpa masuk catatan disiplin utama. Kedua, Polrestabes mengirim rekomendasi resmi ke RSUD dan IKF agar evaluasi kompetensi Dok Arka dipercepat. Ketiga, karena kontribusinya langsung membuka pembunuhan, dia masuk daftar penerima Piagam Penghargaan perkara ini. Keempat, bonus perkara sesuai kebijakan internal, Rp 7.500.000."

Bambang nyaris tersedak kopi. "Langsung paket lengkap."

Gunawan tertawa pendek di dalam ruangan. "Anda datang bukan membawa keberatan. Anda datang membawa daftar belanja."

"Saya membawa angka, Pak."

"Angka apa lagi?"

"Waktu dari jenazah masuk sampai status berubah: kurang dari satu jam. Waktu dari Hendra masuk pemeriksaan sampai pengakuan: kurang dari dua jam. Potensi kesalahan awal: satu perkara pembunuhan tertutup sebagai bunuh diri. Nilai Rp 7.500.000 lebih murah daripada biaya mengejar pelaku setelah barang bukti hilang."

Bambang menatap Arka. "Kau dengar? Sekarang kau sudah punya harga operasional."

Arka pelan berkata, "Saya tidak tahu harus senang atau takut."

"Dua-duanya sehat."

Di dalam ruangan, dr. Suherman akhirnya berbicara. Suaranya berat.

"Pak Gunawan, saya mendukung usulan Bu Iptu untuk evaluasi dipercepat. Saya tetap menilai tindakan Arka melanggar prosedur. Tapi kemampuan teknis dan keberaniannya membaca temuan... tidak bisa saya abaikan."

Adira tidak menyela.

Gunawan berkata, "Anda juga hampir menulis VeR yang salah, Dokter Suherman."

"Benar, Pak. Karena itu saya akan mengawasi evaluasinya langsung. Lebih baik kemampuan seperti itu ditempatkan di jalur resmi daripada terus dianggap gangguan."

Kali ini, Arka benar-benar terdiam.

Kemarin pria itu menyebutnya tenaga angkut.

Sekarang pria yang sama meminta jalur resminya dibuka.

Gunawan menarik napas panjang. "Baik. Keputusan final: teguran lisan. Evaluasi kompetensi dipercepat. Rekomendasi Piagam Penghargaan masuk. Bonus perkara Rp 7.500.000 diajukan melalui mekanisme keuangan, koordinasi dengan RSUD. Tapi catat: kalau Dokter Arka mengunci ruang autopsi lagi tanpa izin, saya sendiri yang akan menyeretnya keluar."

Adira menjawab, "Siap, Pak. Itu adil."

"Jangan bilang adil. Bilang melelahkan. Keluar. Semuanya."

Pintu terbuka lebih lebar.

Adira keluar dengan wajah datar. Begitu melewati Arka, ia berkata singkat, "Jangan ulangi cara bodohnya. Ulangi hasilnya."

"Baik, Bu Iptu. Terima kasih."

"Terima kasih nanti saja kalau uangnya benar-benar masuk rekening."

Bambang tertawa pelan. "Dok, sudah kubilang. Kau beruntung dapat Kanit yang melindungi orangnya sendiri."

Arka menoleh. "Melindungi orangnya sendiri?"

Bambang melambaikan tangan. "Maksudku, orang yang kalau sudah menganggapmu berguna, tidak membiarkanmu diinjak begitu saja."

Ponsel Arka bergetar.

Tidak ada pesan WA.

Yang muncul justru panel sistem tipis di tepi pandangannya.

[Misi awal selesai.]

[Kasus pembunuhan kamar tertutup: inti perkara terungkap.]

[Reputasi +50.]

[Hadiah tertunda: Injeksi Pengetahuan Forensik Dasar akan disinkronkan setelah laporan final.]

Arka menutup mata sesaat.

Saat membukanya, Adira sudah berjalan menuju lift. Bambang menepuk bahunya.

"Ayo, Dok. Kembali ke IKF. Kau masih anak magang. Anak magang biasanya tetap dapat kerjaan."

Arka melihat map di tangannya, lalu ke arah lift.

Kemarin ia mencuci botol spesimen karena diremehkan.

Hari ini ia mungkin masih akan mencuci botol.

Bedanya, sekarang pintu menuju jalur resmi sudah terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!