NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:993
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan Panggung Mewah

Suara jepretan kamera digital terdengar bertubi-tubi, seperti rentetan tembakan yang diarahkan tepat ke wajah Alena. Cahaya lampu flash yang berkekuatan tinggi menyengat matanya yang mulai perih. Studio pemotretan hari itu terasa luar biasa pengap, meskipun mesin pendingin ruangan sudah disetel ke suhu paling rendah. Aroma wewangian dari produk kosmetik terbaru yang sedang ia promosikan—sebuah perpaduan antara ekstrak bunga mawar sintetis dan bahan kimia tajam—terus-menerus menusuk indra penciumannya. Bagi orang normal, aroma itu mungkin terasa segar. Namun bagi Alena, bau itu seperti racun yang mengaduk-aduk isi perutnya sejak kaki pertamanya melangkah masuk ke ruangan ini.

​"Alena, fokus! Tatapannya tolong dibuat lebih sensual namun tetap terlihat polos! Kamu adalah wajah dari produk skincare suci ini!" teriak sang fotografer dari balik lensa besarnya.

​Alena memaksakan sebuah senyuman. Bibirnya yang dipoles lipstik merah muda mengembang sempurna, menyembunyikan fakta bahwa di balik riasan tebal itu, wajahnya seputih kertas tanpa darah. Kedua tangannya yang memegang botol serum kecil mulai gemetar hebat. Rasa pening yang luar biasa mendadak menyerang bagian belakang kepalanya, membuat ruangan studio yang megah itu seolah berputar terbalik.

​‘Tahan, Alena. Tinggal beberapa jepretan lagi,’ bisik batinnya mencoba menguatkan diri.

​Namun, tubuhnya menolak berkompromi. Sebuah gelombang mual yang sangat dahsyat naik dari ulu hatinya, menyumbat tenggorokannya hingga ia merasa tercekik. Tanpa aba-aba, Alena menurunkan botol kosmetik di tangannya, membalikkan badan, dan berlari meninggalkan set pemotretan tanpa memedulikan teriakan bingung dari fotografer dan kru produksi. Ia berlari kencang menuju toilet di sudut studio, mengunci pintunya, dan langsung tumpah bertumpu pada wastafel porselen. Ia memuntahkan cairan bening berulang kali hingga dadanya terasa sesak dan tenggorokannya terbakar serak.

​Di luar pintu toilet, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat, disusul ketukan keras yang penuh tuntutan. Itu adalah Siska, manajer pribadinya yang telah mendampinginya selama sepuluh tahun terakhir.

​"Alena! Buka pintunya! Kamu apa-apaan sih? Ini brand besar, para petinggi mereka sedang memperhatikanmu dari ruang monitor!" suara Siska terdengar melengking, sarat akan kepanikan yang tertahan.

​Kabar mengenai memburuknya kondisi kesehatan Alena tentu saja tidak bisa disembunyikan selamanya dari Siska. Selama dua minggu terakhir, Alena telah melewatkan tiga kontrak iklan besar dengan alasan sakit yang dibuat-buat, mulai dari gejala tifus hingga kelelahan akut. Tapi Siska bukanlah wanita amatir yang mudah dibohongi. Dia adalah manajer bertangan dingin yang tahu kapan artisnya benar-benar sakit dan kapan artisnya sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar.

​Dengan tubuh yang lemas dan napas yang terengah-engah, Alena membuka kunci pintu toilet. Begitu pintu terbuka, Siska tidak memberikan waktu bagi Alena untuk bernapas. Wanita paruh baya dengan pakaian necis itu langsung mencengkeram lengan Alena dengan kuat, menariknya memotong kerumunan staf yang memandang penuh tanya, dan membawanya keluar menuju area parkir bawah tanah. Target Siska adalah sebuah mobil van mewah pribadi berkaca gelap pekat yang biasa digunakan untuk mobilitas Alena.

​Siska mendorong Alena masuk ke dalam van, menyusul di belakangnya, dan langsung mengunci pintu mobil dari dalam dengan bunyi klik yang terdengar final di telinga Alena. Suasana di dalam van mendadak menjadi begitu sempit dan mencekam. Suara bising studio di luar sana lenyap, digantikan oleh kesunyian yang menekan dada.

​"Alena, jujur sama aku. Apa yang terjadi denganmu?" cecar Siska dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan. Ia berdiri di hadapan Alena yang duduk meringkuk di kursi penumpang. "Kamu tidak bisa menyembunyikan ini lagi dariku. Wajahmu pucat setiap pagi, kamu tidak menyentuh makanan katering sama sekali, dan sekarang kamu muntah-muntah di lokasi syuting iklan kosmetik vital ini! Jangan bilang kamu menggunakan obat-obatan terlarang?!"

​Alena hanya tertunduk dalam-dalam. Rambut panjangnya yang telah ditata rapi kini acak-acakan, menutupi sebagian wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Ia meremas jemarinya yang terasa sedingin es. Tuduhan Siska tentang narkoba mungkin masih bisa diselesaikan dengan rehabilitasi diam-diam, namun kenyataan yang ia simpan jauh lebih destruktif dari sekadar obat-obatan. Perlahan, dengan tangan yang bergetar hebat, Alena membuka ritsleting tas desainer miliknya. Ia merogoh bagian kantung paling dalam, mengeluarkan selembar kertas putih berlogo klinik laboratorium swasta, dan menyerahkannya kepada Siska tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

​Siska merebut kertas itu dengan kasar. Matanya dengan cepat memindai baris demi baris tulisan medis di atasnya, hingga pandangannya terpaku pada satu kesimpulan di bagian bawah dokumen: Hasil Tes hCG: Positif (Estimasi Kehamilan 4 Minggu).

​Dalam sekejap, warna wajah Siska berubah dari kecurigaan menjadi merah padam karena amarah yang meledak-ledak. Tubuhnya gemetar, dan kertas di tangannya langsung remuk dalam cengkeramannya.

​"Kamu gila, Alena! Kamu benar-benar gila!" teriak Siska, suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding van yang sempit. "Siapa ayahnya?! Siapa bajingan yang telah menghancurkan masa depanmu dan masa depanku?!"

​Alena langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini tumpah ruah, merusak riasan wajah berharga jutaan rupiah yang melekat di kulitnya. "Aku tidak bisa mengatakannya, Mbak... Tolong, jangan paksa aku," tangis Alena pecah.

​Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa rahasia tentang Adrian sampai ke liang kubur. Adrian bukan sekadar aktor biasa; dia adalah pewaris tunggal dari Dewangga Group, salah satu konglomerat terbesar yang menguasai gurita bisnis media dan hiburan di negara ini. Jika nama Adrian sampai terlibat dan mencuat ke permukaan, raksasa bisnis seperti Dewangga Group tidak akan tinggal diam. Mereka memiliki tim hukum terbaik yang bisa dengan mudah membalikkan fakta, menuntut Alena atas pencemaran nama baik, atau membuat hidupnya berakhir di dalam penjara. Lebih buruk lagi, Alena akan dijadikan santapan empuk media massa yang haus akan skandal, dikuliti habis-habis hingga tidak ada lagi harga diri yang tersisa dari dirinya.

​"Jangan paksa kamu?!" Siska tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar mengerikan di telinga Alena. Siska melangkah mendekat, mencengkeram kedua bahu Alena dan memaksa aktris itu untuk menatap langsung ke matanya yang menyalang penuh amarah.

​"Dengar baik-baik, Alena," Siska menurunkan nada suaranya menjadi bisikan yang tajam, namun terdengar jauh lebih mengancam daripada teriakan sebelumnya. "Kontrak eksklusifmu dengan agensi kita masih tersisa lima tahun lagi. Kamu pikir kamu bisa bersikap romantis dan menyembunyikan anak haram ini? Di dalam kontrak itu, ada klausul moralitas yang sangat ketat! Kamu dinyatakan tidak boleh terlibat skandal moral apa pun, termasuk hamil di luar nikah!"

​Siska melepaskan cengkeramannya dan mulai berjalan mondar-mandir di ruang van yang terbatas, menghitung kerugian di dalam kepalanya seolah Alena hanyalah sebuah produk investasi yang gagal.

​"Jika para investor dan pemilik brand kecantikan di luar sana tahu bahwa ikon kesucian mereka sedang berbadan dua tanpa suami, mereka akan menarik seluruh investasi mereka dalam hitungan jam! Agensi tidak akan mau menanggung kerugian itu sendirian, Alena. Kamu akan dituntut untuk membayar ganti rugi atas pelanggaran kontrak sebesar lima puluh miliar rupiah! Lima puluh miliar! Apakah kamu punya uang sebanyak itu di rekeningmu sekarang?!"

​Kata-kata Siska seperti palu godam yang menghantam seluruh sendi kehidupan Alena. Lima puluh miliar rupiah adalah angka yang mustahil bisa ia lunasi, bahkan jika ia menjual seluruh aset, apartemen, dan mobil mewah yang ia miliki saat ini. Ia akan jatuh miskin, bangkrut, dan namanya akan selamanya tercoreng sebagai produk gagal di industri yang pernah memujanya.

​Siska tiba-tiba berhenti mondar-mandir. Wajah kemarahannya perlahan mereda, digantikan oleh ekspresi dingin, kalkulatif, dan penuh tipu daya. Ia berlutut di depan Alena, memegang kedua tangan dingin artisnya itu dengan kehangatan yang palsu.

​"Alena, tatap aku," ujar Siska lembut, namun nadanya sedingin es. "Kita masih bisa menyelamatkan ini. Belum ada orang luar yang tahu. Pemotretan hari ini bisa kita tunda dengan alasan kamu pingsan karena vertigo. Kita harus menyingkirkan janin itu secepatnya sebelum perutmu mulai membesar dan membuncit."

​Mendengar kata "menyingkirkan", tubuh Alena tersentak hebat.

​"Aku akan mengatur janji dengan sebuah klinik medis swasta yang sangat tepercaya dan rahasia di Singapura minggu depan," lanjut Siska tanpa beban, seolah sedang merencanakan jadwal liburan biasa. "Kita akan terbang ke sana dengan alasan melakukan perawatan kulit eksklusif atau operasi sinus. Prosedurnya hanya butuh waktu beberapa jam. Tidak akan ada satu pun paparazzi atau netizen yang tahu. Setelah itu, kamu pulang ke Indonesia, dan kamu bisa kembali menjadi Alena sang 'Nation's Sweetheart' yang dicintai semua orang. Sempurna, bersih, dan tanpa cela."

​Kata-kata Siska bergaung di dalam kepala Alena seperti belati yang dihunus dan dihujamkan langsung ke jantungnya berulang kali.

​Menyingkirkan janin itu?

​Janin yang bahkan belum sempat membentuk wajah utuh, belum sempat merasakan detak jantung yang sempurna, dan belum sempat melihat bagaimana rupa dunia luar? Alena perlahan menarik tangannya dari genggaman Siska. Ia membawa tangan kanannya turun, menyentuh permukaan perutnya yang masih rata di balik gaun satin yang ia kenakan.

​Pada detik itulah, sebuah getaran aneh menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Itu adalah sebuah perasaan hangat, asing, namun sangat kuat yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya: naluri keibuannya bangkit dengan begitu perkasa. Di dalam rahimnya, ada sebuah kehidupan yang sedang mengandungkan harapan, sebuah entitas yang mutlak bergantung pada perlindungannya. Janin itu tidak pernah meminta untuk diciptakan dari kesalahan satu malam yang penuh keputusasaan. Janin itu tidak berdosa. Yang berdosa adalah dirinya dan Adrian yang kehilangan akal sehat malam itu.

​Alena menatap Siska dengan pandangan mata yang perlahan berubah, dari ketakutan menjadi sebuah ketegasan yang rapuh namun menolak untuk tunduk. "Tidak, Mbak... Aku tidak bisa melakukannya," bisik Alena, suaranya bergetar namun sarat akan penolakan yang absolut.

​Siska tertegun, matanya membelalak tidak percaya. "Apa kamu bilang? Kamu menolak?!"

​"Aku tidak akan pergi ke Singapura. Aku tidak akan membunuh anakku sendiri," tegas Alena, air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena meratapi nasibnya, melainkan karena rasa bersalah yang mendalam kepada kehidupan kecil di dalam dirinya.

​"Kamu sudah kehilangan akal sehatmu, Alena!" Siska bangkit berdiri dengan kasar, wajahnya kembali mengeras dipenuhi kemurkaan. "Anak? Kamu menyebut gumpalan darah pembawa sial itu sebagai anakmu?! Dia adalah penghancur kariermu! Jika kamu memelihara janin itu, kamu akan kehilangan pekerjaanmu, kamu akan menghadapi tuntutan hukum lima puluh miliar, dan publik akan meludahimu setiap kali kamu berjalan di tempat umum! Kamu mau hidup luntang-lantung di jalanan setelah semua kemewahan yang kamu nikmati selama ini?!"

​"Aku tahu risiko finansialnya, Mbak Siska. Tapi membunuh darah dagingku sendiri demi uang dan popularitas... aku tidak akan pernah bisa melakukan hal sekeji itu," jawab Alena dengan suara yang mengeras. Ia mencengkeram perutnya lebih erat, seolah mencoba melindungi bayinya dari tatapan penuh kebencian Siska.

​Siska mendengus kasar, lalu berjalan mundur menuju pintu van. Ia memegang tuas pintu, bersiap untuk keluar, namun sebelum ia membuka pintu, ia membalikkan badannya dan memberikan tatapan paling dingin yang pernah Alena lihat selama sepuluh tahun mereka bekerja bersama.

​"Pikirkan baik-baik ucapanmu dalam waktu dua puluh empat jam ini, Alena," ancam Siska dengan suara yang sangat pelan namun tajam bak sembilu. "Jangan biarkan moralitas bodohmu itu menghancurkan hidup kita semua. Aku yang membangun kariermu dari nol, dari saat kamu bukan siapa-siapa hingga menjadi ratu di panggung megah ini. Dan jika kamu memilih untuk mempertahankan 'masalah' itu, ingatlah bahwa aku juga memiliki kekuatan untuk menjatuhkanmu ke dasar jurang yang paling dalam sebelum agensi atau investor menuntutmu. Pilihan ada di tanganmu: Singapura dan tetap menjadi ratu, atau pertahankan janin itu dan hancur berkeping-keping."

​Brak!

​Siska keluar dari mobil van dan membanting pintunya dengan sangat keras, meninggalkan Alena sendirian dalam kegelapan dan kesunyian van mewah itu.

​Alena menyandarkan kepalanya ke jendela mobil yang dingin. Di luar sana, lampu-lampu basemen parkir studio menyala temaram, memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu kecil dan kesepian. Panggung megah yang selama ini ia puja, sorak-sorai jutaan penggemar yang setiap hari memanggil namanya, kini terasa seperti sebuah penjara emas yang siap mengeksekusinya hidup-hidup. Dua garis merah di atas kertas laboratorium itu kini benar-benar telah berubah menjadi labirin tanpa jalan keluar, di mana setiap sudutnya menuntut pengorbanan yang teramat besar dari hidupnya.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!