Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Riak di Pasar Gelap dan Undangan Berdarah
Pagi hari setelah badai besar mereda, atmosfer Kota Jakarta di tahun 2042 kembali diselimuti oleh kabut abu-abu tipis yang berasal dari pembuangan energi siber kota metropolitan. Namun, di dalam markas komando Biro Keamanan Khusus, suasananya jauh lebih dingin dan mencekam daripada cuaca di luar.
Kapten Hendra menatap layar holografik di depannya dengan wajah yang tegang. Di atas meja metalik, empat gawai taktis milik agennya yang hancur berkeping-keping diletakkan sebagai bukti bisu. Rekaman medis menunjukkan keempat agen elit tersebut mengalami kelumpuhan saraf total—bukan karena hantaman fisik atau senjata pulsa elektromagnetik, melainkan akibat distorsi energi internal yang tidak dikenal.
"Satu kedipan mata..." gumam Hendra, suaranya bergetar menahan amarah. "Kamera pengawas publik hanya menangkap distorsi cahaya selama 0,1 detik sebelum tim kita tumbang. Siapa sebenarnya Arkana Wijaya? Bagaimana seorang mahasiswa biasa bisa memanipulasi frekuensi energi murni hingga merusak enkripsi kuantum kita?"
Mendadak, layar utama di ruangan tersebut berkedip merah. Sebuah pesan teks terenkripsi masuk, memotong seluruh protokol keamanan tingkat tinggi milik militer.
Pesan dari Kegelapan: "Peringatan pertama telah diberikan. Mundur, atau saksikan tatanan siber kalian runtuh dari dalam."
Hendra mengepalkan tinjunya hingga memutih. Sinyal pesan itu lenyap dalam hitungan detik, meninggalkan jejak enkripsi biner yang mustahil untuk dilacak bahkan oleh superkomputer militer sekalipun. Di balik bayang-bayang kota ini, faksi baru yang dipimpin oleh sang Silver Flash telah resmi menjadi ancaman terbesar bagi otoritas modern.
Pergerakan Dani dan Sinyal Pasar Gelap
Sementara itu, di dalam aula bawah tanah Kota Tua, Dani sedang bersandar di kursi kerjanya dengan senyuman puas. Jari-jemarinya yang telah diperkuat oleh penempaan ranah Body Tempering Tingkat Dua masih menari-nari di atas keyboard virtual, menghapus sisa-sisa jejak peretasan yang baru saja ia lakukan pada satelit pengawas militer.
"Arka, gertakan lo semalam bener-bener bikin Biro Keamanan Khusus membeku," kata Dani begitu melihat Arkana berjalan masuk ke dalam ruangan. "Mereka menarik mundur seluruh drone pengawas dari sekitar area kosan lo. Untuk sementara, identitas fana lo aman."
Arkana duduk di seberang Dani, ekspresi wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi sedikit pun. Ia memutar Cincin Kaisar Abadi di jarinya, merasakan sirkulasi energi Qi di dalam tubuhnya yang semakin solid setelah pertempuran senyap semalam.
"Itu hanya taktik menunda waktu, Dani," jawab Arkana datar. "Begitu mereka menyadari bahwa teknologi tidak bisa menyentuh kita, mereka akan mulai mencari bantuan dari pihak lain. Klan-klan kuno yang bekerja sama dengan pemerintah pasti akan segera turun tangan."
"Lo bener, dan tebakan lo terbukti lebih cepat dari perkiraan," Dani menekan sebuah tombol, memproyeksikan sebuah poster digital berwarna hitam-emas ke udara tengah ruangan. "Gua baru aja menyusup ke jaringan terdalam Deep Web Jakarta. Ada pergerakan besar di pasar gelap malam ini."
Arkana menyipitkan matanya menatap proyeksi tersebut. Di atas poster digital itu, tertulis sebuah nama yang cukup familier di dalam ingatan dokumen takdirnya: Turnamen Naga Besi — Arena Bawah Tanah Jakarta.
"Ini bukan sekadar pertarungan ilegal biasa," Dani menjelaskan dengan nada serius. "Tahun ini, hadiah utamanya bukan cuma uang kripto atau implan militer ilegal, melainkan sebutir Kristal Darah Bumi yang ditemukan di kedalaman Gunung Gede. Gua denger, petarung dari generasi muda klan-klan kuno—termasuk Klan Kamandaka—bakal turun gunung buat memperebutkan kristal itu."
Rencana Penyusupan dan Target Baru
Arkana bangkit dari duduknya, sepasang mata peraknya berkilat tajam di balik keremangan aula bawah tanah. Di dalam jalur kultivasi sejati, Kristal Darah Bumi adalah salah satu sumber daya alam murni yang sangat krusial untuk membantunya menerobos dari ranah Spirit Gathering menuju ranah Foundation Establishment. Jika ia bisa mendapatkan kristal tersebut, kecepatan kultivasinya akan melesat sepuluh kali lipat.
"Turnamen ini... adalah panggung yang sempurna," batin Arkana. "Klan Kamandaka mengira mereka bisa menguasai era baru ini sendirian. Mari kita tunjukkan siapa pemilik sah dari energi semesta ini."
Ia menoleh ke arah Dani. "Siapkan identitas baru untuk gua di arena tersebut. Gua tidak akan maju sebagai Arkana Wijaya ataupun Silver Flash. Mulai malam ini, arena bawah tanah akan mengenal sosok baru."
"Gua udah siapkan semuanya, Arka," Dani tersenyum misterius, mengklik sebuah profil samaran yang telah selesai dibuat. "Identitas lo di arena adalah 'Asura', seorang petarung bebas tanpa modifikasi siber yang datang dari wilayah luar batas hukum. Biarkan mereka mengira lo hanyalah umpan, sampai lo mematahkan besi-besi mekanis mereka dengan tangan kosong."
Sumpah Setia di Kaki Gunung
Di saat yang sama, di lembah rahasia Gunung Salak, Lisa sedang berdiri di depan tiga puluh anggota Divisi Bayangan Kaisar. Hujan buatan dari sistem formasi kabut tipis mengalir di sekitar mereka, namun aura spiritual yang dipancarkan oleh para pemuda itu telah jauh lebih kuat dan stabil dibandingkan malam sebelumnya.
Bintang, yang kini ditunjuk sebagai kapten regu pertama, melangkah maju dengan gerakan yang tegas. Setiap langkah kakinya meninggalkan bekas retakan kecil di atas tanah berbatu—sebuah bukti dari kekuatan fisik ranah Body Tempering Tingkat Satu yang telah menyatu sempurna dengan sistem meridiannya.
"Kak Lisa, burung intai yang semalam dihancurkan pasti memiliki pemilik," ucap Bintang, pandangan matanya lurus dan tajam. "Jika musuh datang menyerang lembah ini saat Yang Mulia Kaisar tidak ada, kami—Divisi Bayangan—siap menjadi perisai darah pertama. Kami tidak akan membiarkan satu jengkal pun tanah ini dinodai oleh kaki orang luar."
Lisa tersenyum bangga, tangan kanannya menggenggam tongkat spiritualnya dengan erat. "Pertahankan tekad itu, Bintang. Berlatihlah seolah-olah besok adalah hari kiamat. Karena begitu gerbang perang terbuka, dunia di luar sana tidak akan pernah siap menghadapi badai yang kita bawa dari gunung ini."
Di bawah langit malam tahun 2042 yang dipenuhi oleh kilatan lampu neon kota dan misteri kabut purba, bidak-bidak catur takdir telah mulai bergerak. Perang antara teknologi masa depan, warisan leluhur klan kuno, dan kekuatan mutlak sang Kaisar Abadi kini bersiap untuk meledak di tengah gemerlapnya distrik bawah tanah Jakarta.