Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9.
Pagi itu, halaman kampus sudah ramai oleh mahasiswa yang lalu-lalang. Udara masih sejuk, tetapi suasana justru terasa panas karena satu topik yang sama terus diperbincangkan.
"Eh, semalam aku lihat Raymond nganter Angela pulang."
"Serius?"
"Iya. Pakai mobil sport hitam itu."
"Bahkan katanya mereka makan bareng dulu."
Bisikan demi bisikan menyebar lebih cepat daripada pengumuman kampus. Di sisi lain, Angela baru saja memarkir motornya. Ia melepas helm, lalu mengembuskan napas panjang.
"Kenapa rasanya semua orang ngelihatin gue, sih?" gumamnya pelan. Maya menyenggol lengannya sambil terkekeh.
"Karena sekarang lo artis kampus."
"Artis kepala lo."
"Serius. Gosip lo sama Raymond udah naik level." Angela memijat pelipis.
"Gue cuma nebeng mobil doang."
"Masalahnya... yang lo tumpangi itu Raymond." Angela hanya bisa menghela napas pasrah.
****
Sementara itu Di gedung rektorat, Raymond baru selesai rapat singkat dengan dosen pembimbing program magang perusahaan milik keluarganya.
Ia keluar ruangan dengan langkah tenang. Kemeja hitam berlengan panjang dipadukan celana chino krem membuat penampilannya terlihat santai, tetapi aura dinginnya tetap tidak berubah. Beberapa mahasiswi yang melihatnya langsung berhenti berjalan.
"Itu Raymond..."
"Gila... ganteng banget."
"Kalau dia senyum sekali aja ke aku, aku rela ngerjain skripsi lima kali." Temannya menepuk bahunya.
"Mimpi." Raymond sama sekali tidak menoleh. Langkahnya tetap lurus seolah tidak ada siapa pun di sekitarnya.
Namun, saat matanya menangkap sosok Angela di kejauhan, langkahnya otomatis berubah arah.
Kevin yang berjalan di belakang langsung mengangkat sebelah alis.
"Nah, tuh. Kompas manusia udah nemu kutub utaranya." Rio tertawa pelan.
"Instingnya ngeri." jawab Rio sambil terkikik geli.
Angela sedang berbincang dengan Maya ketika tiba-tiba suasana di sekitar mereka mendadak sunyi.
Maya menelan ludah.
"Ang?" bisiknya.
"Hah?"
"Di belakang lo." Angela menoleh. Raymond sudah berdiri tepat beberapa langkah darinya.
"Udah sarapan?" tanya Raymond datar.
Angela mengedip beberapa kali.
"Hah? Udah."
"Udah."
"Bagus." Jawaban singkat itu membuat Angela makin bingung.
"Terus?" Raymond mengeluarkan sebuah kotak bekal dari tasnya.
"Ada buah." Angela melotot.
"Hah?"
"Kemarin kamu bilang sering lupa makan buah." Angela langsung menutup wajahnya.
"Ya ampun..." Maya memutar badan, pura-pura melihat langit.
"Aku nggak lihat apa-apa." Mahasiswa lain mulai berbisik lagi.
"Dia... bawain bekal?"
"Raymond?"
"Yang katanya dingin itu?"
"Fix. Dunia mau kiamat." Angela buru-buru berbisik.
"Raymond! Jangan di sini!"
"Kenapa?"
"Semua orang ngelihatin." Raymond menoleh pelan ke arah kerumunan. Tatapannya yang datar membuat sebagian mahasiswa langsung berpaling.
"Lanjut."
Angela hampir tepok jidat.
"Bukan gitu maksudku!" Kevin dan Rio yang sejak tadi menonton akhirnya tidak kuat menahan tawa.
"Bos kita kalau urusan bisnis IQ-nya dua ratus." Kevin berbisik pelan . Rio mengangguk.
"Kalau urusan ngedeketin cewek...Mungkin masih perlu pembaruan sistem." Mereka berdua langsung menahan tawa saat Raymond melirik ke arah mereka.
"Kerjaan kalian banyak?" Kevin spontan berdiri tegak.
"Enggak, Bos."
"Kalau begitu, pergi."
"Iya, Bos." Keduanya langsung kabur sambil menahan tawa. Angela hanya bisa menggeleng pelan.
"Aku serius, jangan terlalu sering begini."
Raymond menatapnya beberapa detik.
"Aku cuma nganter bekal."
"Iya, tapi..."
"Nggak boleh?" Angela kehilangan kata-kata.
Melihat ekspresi Raymond yang tetap datar namun terdengar seperti benar-benar meminta jawaban, rasa kesalnya perlahan luluh.
"Ya... boleh. Tapi jangan di depan banyak orang juga." Raymond mengangguk singkat.
"Ok." Angela menghela napas lega. Akhirnya mengerti juga. Namun, baru beberapa langkah Raymond berjalan meninggalkan mereka, lalu ponselnya bergetar. Mendakan ebuah pesan masuk.
Nenek: Kalau ketemu Angela hari ini, ajak makan malam ke rumah. Nenek mau kenalan.
Raymond membaca pesan itu sekali, lalu tanpa ragu membalas.
Raymond: Baik, Nek.
Sementara itu, di sisi lain kampus, Clarissa yang melihat semua kejadian tadi mengepalkan tangan hingga buku di pelukannya sedikit tertekuk.
Tatapannya dipenuhi rasa iri.
"Angela..." gumamnya lirih.
"Kita lihat saja... sampai kapan kamu bisa terus berada di sisi Raymond."
Jam pulang kuliah pun akhirnya usai. Mahasiswa berhamburan keluar kelas sambil bercanda dan membicarakan rencana sore mereka. Angela merapikan buku-bukunya ke dalam tas, lalu meregangkan bahu.
"Huft... akhirnya selesai juga," keluhnya sambil mengembuskan napas panjang.
Maya menepuk pundaknya pelan.
"Capek?" Angela mengangguk.
"Dosen statistik tadi ngajarnya kayak balapan. Otakku masih loading." Maya terkekeh.
"Makanya jangan kebanyakan mikirin Raymond."
"Ih! Nyambungnya ke situ lagi."
Mereka tertawa bersama hingga suara langkah kaki yang begitu mereka kenal menghampiri. Suasana koridor perlahan menjadi lebih tenang. Beberapa mahasiswa langsung menoleh.
"Raymond."
"Dia datang lagi."
"Nunggu Angela, ya?"
Angela memejamkan mata sesaat. Kenapa sih timing-nya selalu begini, Raymond berhenti tepat di depan mereka.
"Sudah selesai?"
"Iya," jawab Angela singkat.
"Ada waktu malam ini?" Angela mengernyit.
"Kenapa?"
Raymond memasukkan satu tangan ke saku celana, sementara tangan satunya memegang kunci mobil.
"Nenek ingin bertemu denganmu."
"...Hah?" Angela mengira dirinya salah dengar.
"Nenekku mengundangmu makan malam."
Beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat langsung memperlambat langkah.
"Eh... dia bilang apa?"
"Makan malam?"
"Sama keluarga Raymond?" Angela langsung melotot.
"Tunggu dulu!" Raymond menatapnya tenang.
"Ada masalah?"
"Masalahnya besar!" Angela menunjuk dirinya sendiri.
"Aku ini siapa? Masa tiba-tiba makan malam sama keluarga kamu?"
"Kamu Angela."
"Bukan itu maksudku!"
Raymond tampak berpikir beberapa detik.
"Lalu?"
Angela sampai menepuk dahinya sendiri.
Maya yang berdiri di samping sudah menahan tawa sampai bahunya bergetar.
"Maaf... aku nggak kuat...." Angela melirik tajam.
"Jangan ketawa!"
"Maaf... tapi ekspresi kalian lucu banget."
Raymond kembali menatap Angela.
"Nenek hanya ingin berkenalan." Angela menggeleng cepat.
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Aku gugup."
"Kamu tidak perlu gugup."
"Ya gampang buat kamu ngomong begitu!"
Raymond terdiam beberapa saat, lalu berkata dengan nada datar yang justru terdengar tulus.
"Kalau kamu gugup... aku temani." Kalimat sederhana itu membuat Angela terdiam.
Entah kenapa, rasa paniknya sedikit berkurang. Namun sebelum sempat menjawab, sebuah suara perempuan menyela dari belakang.
"Raymond."
Ketiganya menoleh bersamaan.
Clarissa berjalan mendekat dengan senyum yang terlihat manis, meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
"Kebetulan sekali ketemu di sini."
Raymond hanya mengangguk singkat.
"Ada perlu apa?"
Clarissa tersenyum tipis.
"Aku dengar keluarga kalian sedang mencari kandidat untuk program magang di perusahaan."
"Benar."
"Aku ingin ikut seleksi."
"Silakan daftar sesuai prosedur."
Jawaban Raymond begitu formal hingga senyum Clarissa sempat membeku.
"Tidak ada jalur khusus?"
"Tidak." Clarissa masih mencoba tersenyum.
"Kalau rekomendasi darimu?"
"Tidak ada." Jawabannya singkat, tegas, dan tanpa ekspresi. Beberapa mahasiswa yang menyaksikan percakapan itu saling pandang.
"Waduh..."
"Ditolak halus."
"Halus dari mana? Itu mah dingin banget."
Angela menggigit bibir agar tidak ikut tertawa.
Clarissa melirik sekilas ke arah Angela. Senyumnya masih terpasang, tetapi tatapannya berubah tajam.
"Kalau begitu... sampai jumpa lagi." Ia berbalik dan melangkah pergi. Begitu berada cukup jauh dari keramaian, senyum di wajahnya menghilang seketika. Ia mengepalkan tangan.
"Angela... sejak kamu datang, perhatian Raymond benar-benar berubah."
"Kalau aku tidak bisa merebut perhatiannya dengan cara biasa..."
"Berarti aku harus memakai cara lain." batinnya.
Di sisi lain, Angela masih menatap Raymond dengan wajah bingung.
"Jadi... soal makan malam itu..." Raymond menunggu jawabannya dengan sabar.
Angela menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerah.
"Oke... tapi cuma sebentar."
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Raymond terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Cukup." Dari kejauhan, Kevin yang mengintip bersama Rio langsung berbisik pelan.
"Astaga..." Rio mengangguk cepat.
"Bos senyum." Kevin sampai mengucek matanya.
"Catat tanggalnya. Ini peristiwa langka."
Keduanya saling tos sambil tertawa pelan, tidak menyadari bahwa dari balik jendela lantai dua, sepasang mata lain sedang mengawasi mobil Raymond dan Angela.
Tatapan itu dipenuhi kecemburuan dan rencana yang mulai terbentuk.
****
Angela berdiri di depan kontrakannya sambil ngaca di cermin kecil yang nempel di dinding.
Hari ini dia sengaja dandan sedikit lebih rapi. Blus krem lengan panjang dipadukan jeans biru tua, rambutnya yang biasa dikuncir asal sekarang disisir rapi. Semakin rapi penampilannya, semakin nggak tenang hatinya.
"Ya ampun... kenapa gue jadi nervous gini, sih?" gumamnya pelan sambil merapikan ujung bajunya lagi. Tak berselang lama, Ponselnya bergetar.
Raymond: Aku udah di depan.
"Oke... semangat, Angela. Cuma makan malam doang. Nggak usah panik." Angela langsung menarik napas panjang. Ia mengunci pintu kontrakan, lalu berjalan keluar.
Mobil sport hitam milik Raymond sudah terparkir rapi di depan gang. Raymond berdiri di samping mobil dengan polo hitam dan celana chino abu-abu. Gayanya santai, tapi auranya tetap bikin orang segan.
Begitu melihat Angela keluar, Raymond langsung terdiam. Tatapannya nggak lepas beberapa detik membuat Angela jadi salah tingkah.
"Apa?" tanyanya sambil menunduk melihat pakaiannya. "Ada yang aneh?"
"Nggak."
"Terus?"
"Kamu cantik." Angela langsung bengong.
"..."
Butuh beberapa detik sampai otaknya mencerna kalimat itu.
"Hah?"Pipinya langsung memanas. "Ih... ngapain ngomong gitu, sih?" Raymond terlihat benar-benar bingung.
"Kan memang cantik." Angela buru-buru membuka pintu mobil.
"Udah... ayo berangkat!" Raymond hanya mengangguk kecil.
Meski wajahnya tetap datar, sudut bibirnya naik tipis melihat Angela yang salah tingkah.
Sepanjang perjalanan, suasana mobil cukup santai , Lagu akustik mengalun pelan dari speaker. Angela berkali-kali memainkan sabuk pengamannya.
"Ray."
"Hm?"
"Keluarga kamu... orangnya gimana?"
"Baik." Angela menoleh.
"Terus?"
"Nenek cerewet." Angela tertawa kecil.
"Kalau papa kamu?"
"Tegas."
"Mama?"
"Lembut." Angela mengembuskan napas.
"Ya ampun... ngobrol sama kamu tuh kayak main tebak kata." Raymond meliriknya sekilas.
"Kamu maunya jawaban panjang?"
"Iya."
"Oke."
Angela menunggu ucapan Raymond, lima detik, sepuluh detik, lima belas detik. sementara Raymond masih fokus nyetir.
"Lho? Katanya mau jawab panjang?" Raymond menjawab santai.
"Lagi nyusun." Angela langsung ngakak.
"Hahaha... serius deh, kamu ternyata ada lucunya juga." Mendengar tawa itu, Raymond ikut tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elite.
Angela melihat kanan-kiri dengan mata membulat.
"Buset..."
"Hm?"
"Rumah kamu yang mana?" Raymond menunjuk ke depan.
"Yang itu." Angela mengikuti arah telunjuknya.
Beberapa detik kemudian.
"WOI!" Raymond menoleh.
"Kenapa?" Angela menunjuk rumah megah di depan mereka.
"Itu rumah apa hotel?"
"Itu rumah."
"Rumah apanya! Itu mah istana!" Raymond cuma menjawab singkat.
"Oh." Angela sampai geleng-geleng kepala.
"Oh apanya? Gue bisa nyasar di dalam rumah segede itu." Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Belum sempat Angela turun, pintu rumah sudah terbuka.
Seorang wanita anggun keluar lebih dulu sambil tersenyum hangat.
"Itu mama," bisik Raymond. Di belakangnya menyusul seorang pria berwajah tegas.
"Itu papa."
Di susul seorang nenek berambut putih berjalan paling depan dengan semangat yang sama sekali nggak kalah sama anak muda.
Begitu melihat Angela, wajahnya langsung berbinar.
"Aduh! Ini Angela, ya?" Angela baru mau membungkukkan badan buat salim.
"E-eh... selamat malam, Nek."
Belum sempat selesai bicara, sang nenek sudah menariknya ke dalam pelukan.
"Ya ampun... cantik banget! Pantes cucu nenek tiap hari senyum-senyum sendiri."
Angela langsung membeku.
Hah...? Raymond senyum-senyum? Yang bener aja?
Raymond hanya batuk pelan sambil memalingkan wajah. Ibunya langsung terkekeh.
"Ma, jangan bikin Angela kaget."
"Lho, memang kenyataannya begitu."
Angela melirik Raymond dengan tatapan penuh tanya.
Raymond pura-pura nggak lihat.
"Masuk, yuk." Saat mereka berjalan masuk ke ruang tamu, ternyata dari lantai dua ada beberapa kepala yang lagi ngintip dari balik balkon.
"Itu Angela?"
"Iya."
"Cantik juga."
"Pantes si Raymond lengket."
"Ssst! Pelan-pelan! Nanti ketahuan!"
"Eh, geser dikit! Gue nggak kelihatan!" Mereka saling dorong sampai salah satu hampir kehilangan keseimbangan.
"WOY! Jangan dorong! Gue jatuh nih!"
Angela yang mendengar suara gaduh langsung mendongak.
"Hm?" Seketika semua kepala langsung menghilang.
"Kayaknya tadi ada orang deh..." Angela mengernyit.
"Paling saudara-saudaraku." Raymond menjawab santai.
"Pasti lagi ngintip."
"Iya." Angela langsung menatap Raymond.
"Kamu santai banget?"
"Mereka memang begitu." Angela cuma bisa menghela napas, Dalam hati ia mulai sadar, Sepertinya bukan cuma Raymond yang unik.
Satu keluarganya juga sama aja.
Begitu masuk ke ruang tamu, Angela langsung dibuat melongo.
Ruangannya luas banget. Langit-langitnya tinggi, lampu kristal menggantung di tengah ruangan, sementara aroma masakan dari ruang makan bikin perutnya langsung keroncongan.
"Ya Allah... ini rumah apa museum?" batinnya.
"Angela, sini duduk, Nak," panggil Mama Raymond dengan senyum ramah.
"I-iya, Tante." Angela baru mau duduk di ujung sofa.
"Tunggu!" Suara nenek mendadak membuat semua orang menoleh.
"Nggak di situ." Angela langsung berdiri lagi.
"Lho?" Duduknya di sebelah Raymond." Angela berkedip.
"Hah?"
"Iya, biar cucu nenek nggak manyun."
"Nek..." Raymond menghela napas pelan. Angela malah makin salah tingkah.
"Nggak apa-apa, Nek. Aku di sini aja."
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Nenek yang punya rumah."
"..."
Angela nggak bisa membantah lagi.
Pelan-pelan ia pindah duduk di sebelah Raymond.
Di lantai dua...
Beberapa kepala kembali muncul dari balik pagar balkon.
"Buset... Nenek gercep."
"Belum lima menit udah dijodohin."
"Kasihan Raymond. Muka datarnya nggak bisa nutupin kalau dia lagi seneng."
"Eh, eh... senyum dikit tuh!"
"Cepet foto!"
"WOI! Jangan!"
Suara kamera ponsel terdengar pelan. Raymond mendongak. Tatapannya langsung mengarah ke balkon, Seketika,
"Kabur!!"
Bruk!
Gedebuk!
"Aduh! Kepala gue!"
"Itu siapa yang keinjek kaki gue?!" Angela refleks menoleh ke atas.
"Itu... tadi ada yang jatuh?" Raymond mengangguk santai.
"Iya."
"Kamu nggak khawatir?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Udah biasa." Angela cuma bisa melongo.
"Keluarga ini emang beda..." Tak lama kemudian, Papa Raymond datang membawa teko teh.
"Nggak usah tegang ya, Angela. Anggap aja rumah sendiri." Angela langsung berdiri sopan.
"Iya, Om."
Papa Raymond tersenyum tipis.
"Raymond jarang sekali bawa teman ke rumah."
Belum sempat Angela menjawab...
Nenek langsung menyela.
"Teman apanya?"
Semua mata langsung tertuju pada nenek.
"Itu calon—"
"Nek." Raymond memotong dengan nada datar. Nenek malah nyengir.
"Iya, iya... belum resmi." Angela hampir tersedak teh yang baru saja diminumnya.
Raymond tanpa banyak bicara langsung menyodorkan segelas air.
"Pelan-pelan." Angela menerima gelas itu sambil menatap Raymond.
"Makasih..." Mama Raymond menutup mulutnya, menahan tawa.
"Ma, lihat tuh. Raymond sampai sigap begitu."
Papa Raymond ikut mengangguk pelan.
"Jarang."
Sementara di balik pintu dapur...
Dua orang sepupu Raymond lagi nguping.
"Fix."
"Kenapa?"
"Abang es kita akhirnya laku."
"Ssst! Jangan keras-keras!"
Belum selesai mereka berbisik...
Raymond menoleh ke arah dapur.
"Kalian masuk."
Dua sepupu itu langsung membeku.
"Ketahuan..." Pelan-pelan mereka keluar sambil nyengir.
"Hehe... hai, Kak Angela." Angela langsung berdiri.
"Halo..." Salah satu dari mereka mengulurkan tangan.
"Kenalin. Aku Dion."
"Aku Dimas."
"Kami sepupunya Bang Raymond." Angela tersenyum ramah.
"Angela."
Dion langsung melirik Raymond, lalu berbisik cukup keras sampai semua orang bisa dengar.
"Bang, akhirnya selera abang normal juga."
Ruangan langsung hening. Raymond menatap Dion tanpa ekspresi.
"Dion."
"Iya, Bang?"
"Besok ikut aku lari jam lima pagi."
Senyum Dion langsung lenyap.
"..."
"Bang... aku minta maaf."
Semua orang langsung tertawa.
Angela pun nggak bisa menahan tawanya.
"Hahaha..."
Melihat tawa Angela memenuhi ruang tamu, seluruh keluarga saling bertukar pandang.
Sudah lama mereka nggak melihat rumah semeriah ini.
Bahkan Raymond yang biasanya hanya bicara seperlunya, malam itu beberapa kali terlihat mencuri pandang ke arah Angela.
Dan hal kecil itu...
Nggak luput dari perhatian sang nenek.
Nenek tersenyum penuh arti.
"Kayaknya... cucu nenek benar-benar jatuh cinta."
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y