Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi di Paviliun
Aroma tanah basah sisa hujan semalam menguar melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Di sudut paviliun barat kediaman Evander, Aria duduk menghadap meja kayu ek tua yang permukaannya mulai mengelupas. Sinar matahari pagi yang masih malu-malu menyapu helai rambutnya, menciptakan bayangan keemasan di atas kertas-kertas kosong yang berserakan.
Ia mengembuskan napas perlahan. Jari-jarinya yang ramping bergerak menyentuh cangkir porselen retak berisi teh lavender hangat. Kehangatan yang merambat ke telapak tangannya sedikit mengurangi rasa dingin yang menggelayuti tubuhnya sejak kemarin. Mengubah kenyataan melalui tulisan ternyata menuntut harga yang tidak murah. Dadanya masih terasa agak sesak, dan pusaran mana di dalam tubuhnya terasa sepi, seperti sumur yang baru saja dikuras habis.
Pintu kayu berderit pelan. Mia melangkah masuk dengan nampan berisi roti gandum panggang yang aromanya langsung memenuhi ruangan.
“Nona, Anda harus memakan ini selagi hangat,” kata Mia lembut. Pelayan setia itu meletakkan nampan dengan gerakan hati-hati, seolah takut merusak ketenangan pagi yang langka ini.
Aria tersenyum tipis, mengangguk kecil. “Terima kasih, Mia. Bagaimana keadaan di luar?”
Mia tidak bisa menyembunyikan binar lega di pelupuk matanya. Bahunya yang biasa tegang kini tampak lebih rileks. “Sangat tenang, Nona. Sejak koin emas dari Persekutuan Dagang Werner tiba kemarin sore, para penagih utang tidak lagi terlihat di gerbang depan. Tuan Baron bahkan bisa tidur nyenyak semalam tanpa perlu memeriksa buku kas hingga fajar.”
Mendengar hal itu, ada kehangatan yang perlahan mekar di dada Aria. Keputusan ekstrem yang ia ambil kemarin setidaknya memberikan napas baru bagi keluarga kecil ini. Namun, ia tahu ini hanyalah permulaan dari badai yang sesungguhnya.
“Istirahatlah setelah ini, Mia. Kau sudah bekerja keras mendampingiku,” ujar Aria sembari meraih sepotong roti.
Mia membungkuk dalam, senyum tulus menghiasi wajahnya yang polos sebelum ia melangkah mundur dan menutup pintu rapat-rapat.
Begitu keheningan kembali menguasai ruangan, Aria meletakkan rotinya. Ia mengetuk permukaan meja tiga kali menggunakan ujung jari telunjuknya. Dari balik lipatan gaun tidurnya, seberkas cahaya keemasan yang redup mulai berpendar, membentuk lingkaran kecil yang berputar di udara.
Sesosok peri kecil dengan sayap transparan serupa lembaran perkamen kuno muncul. Lumi mengucek matanya yang bulat, lalu meregangkan tangan mungilnya.
“Ah, Aria! Mengapa kau memanggilku sepagi ini? Aku masih memulihkan energi setelah pertunjukan hebat kemarin,” keluh Lumi dengan suara cempreng yang khas, meski tatapannya tetap memancarkan kesetiaan yang mendalam.
“Kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai, Lumi,” kata Aria pelan, matanya menatap tajam ke arah pena bulu angsa yang tergeletak diam. “Kekuatan kemarin... berapa banyak batas yang tersisa?”
Lumi mendarat di tepi cangkir teh, melipat kaki kecilnya. “Kau menggunakan mana suci dalam jumlah besar untuk membalikkan kebohongan Master Boris. Ingat, Aria, kemampuan 'Penulis Takdir' milikmu bukanlah sihir tanpa batas. Setiap kata yang kau ubah dalam naskah dunia ini membutuhkan bayaran setimpal. Jika kau menulis perubahan yang terlalu besar tanpa persiapan fisik yang matang, jiwamu yang akan terkikis.”
Aria terdiam. Ia memandangi telapak tangannya sendiri. Di dunia aslinya, sebagai mahasiswi kedokteran, ia memahami betul konsep aksi-reaksi dalam tubuh manusia. Di dunia fantasi ini, hukum itu tampaknya berlaku dalam bentuk pertukaran setara antara energi kehidupan dan manipulasi realitas.
“Aku mengerti,” sahut Aria lirih. “Tapi kita harus memperbaiki sektor perkebunan anggur di wilayah selatan Evander terlebih dahulu. Jika kita hanya mengandalkan koin emas kemarin, dalam enam bulan keluarga ini akan kembali jatuh miskin.”
“Kau ingin mengubah cuaca atau kesuburan tanah?” tanya Lumi, wajah kecilnya tampak cemas.
“Tidak secara langsung,” jawab Aria, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh siasat. “Mengubah cuaca membutuhkan terlalu banyak mana dan akan memicu kecurigaan menara sihir. Kita hanya perlu menuliskan bahwa 'seorang ahli botani keliling menemukan metode fermentasi baru dan secara tidak sengaja melewati wilayah Evander'. Perubahan kecil yang logis, namun berdampak besar.”
Lumi mengangguk setuju, tampak kagum dengan kehati-hatian Aria yang tidak ceroboh seperti tokoh protagonis dalam dongeng biasa.
Sebelum Aria sempat meraih pena, ketukan tegas terdengar dari pintu utama paviliun. Ketukan itu berbeda dari ketukan Mia yang biasanya ragu-ragu. Ketukan kali ini berirama, berat, dan dipenuhi wibawa.
Lumi segera menghilang dalam sekejap, menyisakan pendar emas tipis yang langsung menyatu dengan bayangan meja.
Aria merapikan jubah tidurnya, memastikan tidak ada tanda-tanda penggunaan sihir di sekitarnya sebelum bersuara. “Masuk.”
Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok pria paruh baya dengan garis wajah tegas namun lelah. Baron Edward Evander melangkah masuk. Di tangannya, ia memegang sebuah surat dengan segel lilin berwarna hitam pekat—segel yang langsung membuat detak jantung Aria berpacu lebih cepat.
“Aria,” panggil Edward, suaranya berat dan sarat akan kecemasan yang tertahan. “Ada surat yang datang pagi ini dari Kediaman Veritas.”
Aria bangkit dari kursinya, melangkah mendekat ke arah ayahnya. Ia bisa melihat bagaimana jemari Edward yang kasar—bekas seorang jenderal perang—sedikit bergetar saat menyerahkan surat tersebut.
“Apakah Duke Lucien Veritas mengirimkannya sendiri?” tanya Aria, berusaha menjaga suaranya tetap datar dan tenang.
“Utusan pribadinya yang mengantarkan ini langsung ke tangan pelayan depan,” jawab Edward, matanya menatap lekat sang putri dengan pandangan penuh selidik dan kekhawatiran. “Aria, apa yang sebenarnya terjadi kemarin di aula utama? Mengapa nama keluarga kita tiba-tiba dikaitkan dengan sang Duke?”
Aria menerima surat itu. Tekstur kertasnya sangat halus, beraroma kayu cendana yang mahal—khas selera tinggi para petinggi kekaisaran. Ia memecahkan segel lilin bergambar serigala hitam dengan hati-hati.
Isi surat itu singkat, ditulis dengan tinta perak yang indah:
*Kepada Lady Aria Evander\,*
*Keberuntungan tidak selalu datang dua kali\, begitu pula dengan kebenaran yang tiba-tiba berpihak pada mereka yang terdesak. Aku menantikan kehadiranmu dalam jamuan teh kecil di taman barat istana lusa sore. Mari kita bicarakan tentang 'pena' yang kau gunakan untuk menulis ulang akhir dari pertunjukan kemarin.*
*Lucien Veritas.*
Napas Aria tertahan di tenggorokan. Surat itu bukan sekadar undangan biasa. Itu adalah sebuah peringatan, bahkan mungkin ancaman terselubung. Duke Lucien, sang penguasa bayangan yang mengetahui rahasia bahwa dunia ini diatur oleh naskah takdir, telah mencium ketidakberesan pada aksi penyelamatan pusaka kemarin.
“Aria?” Edward menyentuh bahu putrinya lembut, membuyarkan lamunan dingin yang sempat menguasai benak gadis itu.
“Tidak apa-apa, Ayah,” kata Aria cepat, menyembunyikan surat itu di balik lipatan tangannya. Ia memaksakan senyum menenangkan untuk meredakan ketakutan pria tua di depannya. “Duke Veritas hanya ingin mendiskusikan hubungan bisnis lama yang melibatkan Persekutuan Dagang Werner. Ini adalah kesempatan bagus bagi posisi tawar keluarga kita.”
Edward menghela napas panjang, tampak tidak sepenuhnya percaya, namun ia memilih untuk menghormati privasi putrinya yang kini tampak jauh lebih dewasa dan mandiri.
“Berhati-hatilah, Nak. Istana bukanlah tempat bagi orang-orang jujur seperti kita,” pesan Edward sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah kaki yang terasa berat.
Setelah pintu tertutup kembali, Aria meremas pinggiran surat di tangannya hingga kertas mahal itu sedikit kusut. Ia tahu betul reputasi Evelyn Roselia yang licik pasti sedang merencanakan sesuatu untuk mengembalikan posisinya setelah kegagalan Lady Catherine kemarin. Ditambah lagi, kini ia harus berhadapan langsung dengan Duke Lucien yang misterius.
“Lumi,” panggil Aria dingin, matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah langit utara tempat istana kekaisaran berdiri megah di balik kabut pagi.
Cahaya emas kecil kembali muncul di pundaknya.
“Kita harus mempersiapkan naskah baru untuk pertemuan lusa,” bisik Aria, jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Jika Duke itu ingin bermain catur denganku, maka aku akan memastikan dia tidak bisa menebak bidak mana yang akan kujatuhkan terlebih dahulu.”