Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Dari Newyork
Emma berdiri di balkon kamarnya.
Udara malam Inggris terasa jauh lebih dingin dibanding New York.
Ia menyandarkan kedua siku di pagar balkon sambil memandangi taman belakang mansion yang diterangi lampu-lampu taman berwarna kekuningan.
Suasana begitu tenang.
Terlalu tenang.
Ponselnya bergetar pelan.
Layar menampilkan nama yang membuat sudut bibirnya terangkat.
panggilan video jarak jauh dari Ella.
Emma segera mengangkatnya.
Layar memperlihatkan wajah Ella yang tampak kelelahan.
Rambut pirang sebahunya masih sedikit berantakan, blazer hitam masih melekat di tubuhnya.
Di belakang Ella terlihat pemandangan gedung-gedung Manhattan yang mulai diterangi lampu malam.
Emma melirik jam.
Pukul delapan malam di Inggris.
Artinya...
Di New York baru pukul tiga sore.
"Hei."
Ella tersenyum lega.
"Akhirnya kau mengangkat."
"Aku baru selesai makan malam."
"Bagaimana?"
Emma langsung mendengus.
"Suami palsumu menyebalkan."
Ella tertawa kecil.
"Aku sudah menduganya."
"Kenapa kau tidak bilang kalau dia bicara seperlunya? Selama makan malam aku hampir mati bosan."
"Itu memang Ralph."
Emma memutar bola matanya.
"Dia bahkan bisa membuat suasana makan malam terasa seperti rapat direksi."
Ella kembali tertawa.
Tawa itu terdengar lebih lepas daripada beberapa hari lalu.
Emma memperhatikannya.
"Ada apa?"
Ella menggeleng.
"Tidak."
"Kau tidak pandai berbohong."
Ella menunduk sebentar.
"Hari ini..."
Ia menarik napas.
"Aku berhasil melewati rapat pertama."
Emma mengangkat alis.
"Serius?"
"Aku hampir pingsan."
Emma terkekeh.
"Tapi berhasil, kan?"
Ella mengangguk.
"Bosmu sangat baik."
Emma mendengus pelan.
"Tuan William?"
"Iya."
"Dia tidak memarahiku meski aku beberapa kali gugup."
Emma tersenyum tipis.
"Itu memang dia."
Ella kemudian menatap layar dengan wajah penasaran.
"Kalau di sana bagaimana?"
Emma menceritakan semuanya.
Tentang mansion.
Tentang para pelayan.
Tentang makan malam yang nyaris tanpa suara.
Hingga...
Tentang kedatangan Lusiana.
"Lusiana?"
Ella tampak mengernyit.
"Aku mengenalnya."
Emma langsung menegakkan tubuh.
"Kau belum ada menyebut namanya."
"Karena dia jarang datang."
"Siapa dia sebenarnya?"
Ella berpikir sejenak.
"Lady Lusiana Roosevelt."
"Keluarga bangsawan?"
"Iya."
"Teman kecil Ralph juga kerabat jauh keluarga Alexander."
Emma mengangguk pelan.
"Lalu?"
"Dulu..."
Ella memilih kata-katanya hati-hati.
"Orang tua mereka sempat ingin menjodohkan Ralph dan Lusiana."
Emma langsung bersiul pelan.
"Menarik."
"Tapi Lusiana menolak."
"Kenapa?"
"Karena dia menikah dengan pria yang dicintainya. pria bernama Patrick."
Emma menyandarkan tubuh ke kursi balkon.
"Dan sekarang?"
"Kalau yang kau katakan benar..."
Ella tampak mulai khawatir.
"Berarti dia sudah bercerai."
"Pagi ini."
Emma menjawab singkat.
Ella terdiam.
"Emma..."
"Hm?"
"Jangan meremehkannya."
Emma tersenyum miring.
"Aku tidak pernah meremehkan siapa pun."
"Lusiana berbeda."
"Bedanya?"
"Dia sangat pintar."
"Dan?"
"Dia mengenal Ralph jauh lebih lama dariku."
Emma terdiam.
Kalimat itu masuk akal.
Sangat masuk akal.
Ia baru mengenal Ralph lewat cerita beberapa hari.
Sedangkan Lusiana...
Sudah mengenalnya sejak kecil.
"Tenang."
Emma akhirnya berkata.
"Aku tidak berniat bermusuhan dengannya."
"Tapi?"
"Kalau dia mencoba mengganggu rumah tanggamu..."
Emma mengangkat bahu.
"...aku tidak akan tinggal diam."
Ella menggeleng sambil tersenyum pasrah.
"Kau benar-benar Emma yang nakal dan pemarah."
"Tentu saja."
Mereka tertawa bersamaan.
Tiba-tiba wajah Ella berubah.
"Oh iya."
"Ada apa?"
"Aku hampir lupa."
Emma langsung tahu.
Nada bicara Ella berubah menjadi serius.
"Hari ini..."
Ella menelan ludah.
"...aku bertemu pria yang bernama Roman."
Emma yang sedang meminum air langsung berhenti.
"Secepat itu?"
Ella mengangguk pelan.
"Dia benar-benar seperti yang kau ceritakan."
Emma mendecak.
"Menyebalkan bukan?"
"Sangat."
"Sombong?"
"Sedikit."
"Sok tahu?"
Ella mengangguk lagi.
Emma langsung tertawa puas.
"Nah, kan?"
"Tapi..."
Ella ragu-ragu melanjutkan.
"Aneh."
Emma menyipitkan mata.
"Apa lagi?"
"Dia tidak seburuk yang kau katakan."
Emma hampir tersedak.
"Apa?"
"Dia memang membantah pendapatku."
"Tuh, kan."
"Tapi..."
Ella mengingat kembali kejadian siang tadi.
"Setelah rapat selesai, dia diam-diam membantuku membawa dokumen."
Emma terdiam.
"Itu tidak mungkin."
"Itu benar."
"Roman James tidak mungkin melakukan hal baik tanpa alasan. Dia memang musuh dalam selimut."
Ella hanya tersenyum kecil.
"Aku juga belum mengerti."
Emma menggeleng pelan.
"Hati-hati dengannya."
"Aku tahu."
"Dia licik."
"Baik."
"Dan jangan terlalu percaya."
Ella mengangguk.
Meski dalam hatinya...
Kesan pertama terhadap Roman ternyata jauh berbeda dari cerita Emma.
Setelah panggilan berakhir...
Emma meletakkan ponselnya di atas meja.
Ia baru hendak masuk ke kamar ketika terdengar suara ketukan pelan.
Tok...
Tok...
Tok...
Emma membuka pintu.
Mr. Howard berdiri dengan sikap tegak.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Nyonya."
"Ada apa?"
"Besok pagi Tuan Ralph akan menghadiri jamuan minum teh di kediaman keluarga Roosevelt."
Emma mengangguk pelan.
"Lalu?"
"Lady Lusiana secara khusus mengundang Anda untuk ikut hadir."
Emma mengangkat sebelah alis.
"Dia mengundangku?"
"Benar, Nyonya."
Emma tersenyum tipis.
"Baiklah."
"Kalau begitu..."
Ia menatap lorong yang sunyi.
"...besok aku akan melihat seperti apa dunia bangsawan Inggris yang sebenarnya."
Tanpa Emma sadari...
Undangan itu bukan sekadar jamuan minum teh.
Melainkan awal dari permainan halus yang telah disiapkan Lusiana Roosevelt untuk menguji apakah wanita yang berdiri di hadapannya benar-benar masih Ella Alexander yang dulu ia kenal.
mulai ngikuti sepertinya menarik