NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

suasana menegangkan.

Apartemen Adit

Jari-jemari Adit menelusuri wajah gadis dalam foto itu dengan penuh kerinduan. Senyum yang sama, senyum yang dulu selalu mampu menenangkan hatinya di masa-masa sulit. Tujuh tahun berlalu, namun wajah itu masih terpatri begitu jelas, begitu hidup di dalam sanubarinya.

"Dulu aku melepaskanmu karena aku pikir itu yang terbaik untukmu..." suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca menatap foto itu lekat-lekat. "Aku biarkan kau pergi bersamanya karena aku yakin dia bisa memberimu kehidupan yang lebih baik, lebih terjamin... Ternyata aku salah besar. Dia tidak menjagamu seharusnya. Dia menyakitimu, lalu pergi begitu saja tanpa menoleh. Dan sekarang... dia kembali lagi, seakan tak pernah ada luka yang ia tinggalkan."

Adit menutup foto itu perlahan, menyimpannya kembali ke dalam laci dengan tekad yang membara di dadanya.

"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, Davina. Tidak peduli apa pun yang dilakukan Rio. Aku tidak akan membiarkanmu terluka untuk kedua kalinya oleh pria yang sama."

Di saat yang sama, ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama yang terpampang di layar membuat jantungnya berdegup kencang

Davina....

Adit segera mengangkatnya, suaranya seketika berubah lembut dan penuh perhatian, seakan takut menyakiti wanita yang meneleponnya itu.

"Davina? Ada apa?"

Di seberang sambungan telepon, suara napas yang terasa berat dan isak tangis yang tertahan terdengar jelas di telinganya. Hati Adit seketika terasa perih, seakan luka di dadanyalah yang sedang menangis.

"Dit..." suara Davina terdengar pecah, penuh kepedihan yang tak mampu lagi ia sembunyikan. "Aku... aku tak tahu harus bicara pada siapa. Rio... dia..."

"Tenanglah, Davina. Tarik napas dalam-dalam. Aku di sini. Dengarkan suaraku, jangan takut. Apa pun yang terjadi, aku ada untukmu." Adit mencoba menenangkannya, meski hatinya mendidih membayangkan apa yang baru saja dilakukan Rio padanya. "Apakah dia menyakitimu? Katakan padaku, Davina!"

Davina terisak lebih hebat. "Dia menuduhku... menuduhku masih mencintaimu, seolah-olah aku yang bersalah. Dia memaksanya kembali ke hidupku, seakan luka yang dulu ia tinggalkan sudah sembuh begitu saja. Dia bilang... kami belum bercerai, secara agama kami masih sah. Dit... aku merasa terperangkap. Aku tak tahu harus lari ke mana."

Amarah Adit seketika meledak, namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya demi menenangkan wanita yang dicintainya itu.

"Davina, dengarkan aku baik-baik. Kau tidak sendirian. Rio tidak berhak memperlakukanmu seperti itu. Pernikahan itu bukan sekadar status di atas kertas atau di hadapan Tuhan, tapi ada hati yang harus dijaga. Dan hatimu sudah ia lukai berkali-kali." Adit berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang tegas namun penuh kelembutan. "Tetaplah di dalam rumah. Kunci pintunya. Jangan biarkan ia masuk jika ia masih dalam keadaan emosi seperti itu. Aku datang sekarang juga. Tunggu aku, Davina. Aku janji, tak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu lagi."

"Jangan... Dit, jangan datang..." Davina mencoba menahan, tak ingin memperkeruh suasana. "Dia mungkin masih belum pergi. Aku tak ingin terjadi pertengkaran di antara kalian."

"Kau tak perlu khawatirkan aku. Yang kupikirkan hanyalah keselamatanmu dan Zahra. Biarkan aku yang menghadapinya. Percayalah padaku sekali lagi."

Sambungan telepon terputus. Adit segera beranjak dari kursinya, melangkah lebar-lebar keluar ruangan dengan wajah yang tak pernah sekeras ini sebelumnya. Di matanya tak lagi tampak kelembutan yang biasa terlihat. Kini yang tersisa hanyalah ketegasan dan tekad bulat , ia akan menghadapi Rio, menghadapi segala risiko, demi melindungi wanita yang dicintainya.

Sementara itu, di teras rumah Davina, Rio masih berdiri terpaku mematung. Pipi kanannya terasa panas dan perih, namun yang jauh lebih menyakitkan adalah kata-kata dan tatapan Davina tadi. Tatapan yang penuh kekecewaan, ketakutan, dan sekat setinggi langit yang memisahkan mereka.

"Belum bercerai..." gumamnya pelan, seakan meyakinkan diri sendiri. "Kau masih istriku. Zahra masih anakku. Apa pun yang terjadi... kau tetap milikku. Dan aku tak akan membiarkan siapa pun mengambil tempatku di sisimu."

Namun kalimat itu belum selesai terucap, dari kejauhan tampak sebuah mobil melaju kencang menuju ke arah rumah itu. Rio menyipitkan matanya. Ia mengenali mobil itu. Itu mobil Adit.

Mobil itu berhenti tepat di hadapan rumahnya. Pintu terbuka, dan sosok pria yang baru saja ia benci sepenuh hati melangkah turun dengan langkah yang mantap dan penuh keyakinan. Kedua pria itu berdiri berhadapan di bawah remang cahaya lampu teras — Rio yang penuh amarah dan keputusasaan, Adit yang tenang namun siap membela apa yang menjadi haknya.

Udara di antara keduanya seketika berubah menjadi berat, menegangkan, seakan bentrokan besar tak bisa lagi.

Adit berhenti tepat di hadapan Rio. Wajahnya tenang namun matanya menyala tajam, menatap lurus ke manik mata Rio tanpa rasa takut sedikit pun.

"Mundur, Rio," ucap Adit rendah namun membelah udara dengan tegas. "Kau sudah membuatnya takut. Sekarang pergilah."

Rio tertawa sinis, matanya menyala penuh amarah. Ia melangkah maju mendekat, dada keduanya hampir bersentuhan.

"Kau menyuruhku pergi?" bentak Rio suaranya menggelegar. "Siapa kau ini, hah?! Aku suaminya! Ayah dari anaknya! Secara agama kami masih sah! Rumah ini rumah mertuaku! Kau lah yang seharusnya pergi! Jangan ikut campur urusan kami!" aku tidak berurusan denganmu.

"Betul aku tidak berhak ikut campur?" Adit mengangkat alis, tak kalah tajam menatap balik. "Kalau ini rumah mertuamu, lalu kenapa istrimu ketakutan meneleponku meminta pertolongan? Pria macam apa kau yang justru membuat istri sendiri tak tenang tinggal di rumah ibunya, lalu kalau ia nyaman denganmu lantas kenapa kau tidak masuk kedalam bertemu dengan zahra?"

"Aku suaminya! Berhak atas dirinya!" Rio mengepalkan tangan kuat.

"Berhak?" Adit melangkah maju selangkah, suaranya naik namun tetap terkendali, penuh penekanan. "Hak itu didapat dari tanggung jawab dan kasih sayang, Rio! Bukan sekadar status di atas kertas! Kau pergi dan sibuk dengan duniamu. Kau tak pernah tahu betapa berat harinya! Kau tak tahu siapa yang menemaninya saat ia menangis sendirian! Kau tak tahu siapa yang mengantar jemput Zahra ke Paud setiap pagi dan sore! Kau tak tahu siapa yang menjaganya saat putrimu sakit demam tak kunjung turun! Bukan kau! dimana rasa pertanggung jawaban mu tu hah.

Rio terdiam mendadak, wajahnya memerah menahan rasa malu yang bercampur amarah.

"Itu... itu karena kau berniat buruk sejak awal!" seru Rio berusaha membela diri. "Kau menungguku pergi supaya kau bisa merebutnya dariku!"aku tahu kau siapa? Kau mantan dia tujuh tahun lalukan cihhhh .... Jangan kau kira aku tidak tahu niat terselubungmu... !

Adit tersenyum getir, matanya menatap Rio dengan pandangan yang penuh ketegasan namun juga rasa kasihan.

"Jika aku berniat merebutnya, sudah lama aku membawanya pergi jauh darimu, Rio. Tujuh tahun itu waktu yang sangat lama. Tapi aku menunggu... aku menunggu dia kembali tapi tidak dengan cara kotormu ini. Dan sekarang kau kembali? Bukan untuk menebus kesalahan, melainkan untuk menuduh, memaksa, dan menyakitinya lagi!" kau laki - laki macam apa hah...?

Adit menunjuk pintu yang tertutup rapat di belakang Rio.

"Dia ada di dalam sana bersama putrimu. Dia takut padamu. Kau menyebut itu cinta? Kau menyebut itu hak suami? Dengarkan aku baik-baik: status pernikahan tidak akan pernah membuat hatinya kembali padamu. Hanya kesabaran, kelembutan, dan perhatian tulus yang bisa meluluhkan hatinya. Dan kalau kau terus bersikap seperti ini... aku tak akan diam saja. Aku akan melindunginya dan Zahra, meski harus melawanmu!" aku tidak peduli...

Rio terpaku. Kata-kata Adit menghantam dadanya berkali-kali. Ia menatap pintu rumah itu, membayangkan Davina dan Zahra yang bersembunyi di baliknya sambil menahan napas karena takut padanya. Rasa bersalah perlahan mulai merayap di hatinya, namun gengsi dan rasa cemburu masih menahan dirinya untuk mengaku kalah.

"Kau..." Rio bergumam, suaranya kehilangan kekuatan. "Kau pikir kau bisa menggantikanku di hati mereka..."

"Aku tak ingin menggantikan siapa pun," potong Adit tenang. "Aku hanya ingin mereka hidup tenang. Tanpa tuduhan. Tanpa rasa takut. Tanpa paksaan. Jika kau benar-benar mencintai mereka, mulailah dengan tidak menyakiti mereka."

Keheningan kembali menyelimuti tempat itu. Rio menatap pintu rumah itu lama sekali. Ia sadar... saat ini, kehadirannya justru menjadi sumber ketakutan bagi wanita dan anak yang dicintainya. Perlahan, ia melangkah mundur, menatap tajam ke arah Adit.

"Ini belum selesai..." ucap Rio lirih, penuh ancaman namun juga penuh kepedihan. "Aku suaminya. Aku tak akan menyerah begitu saja."

Rio berbalik perlahan, melangkah kembali masuk ke dalam mobilnya. Pintu terbuka dan tertutup. Mobil itu melaju perlahan meninggalkan halaman rumah itu.

Adit baru saja menghela napas panjang saat pintu rumah terbuka pelan. Davina muncul di ambang pintu, matanya basah menatap punggung mobil Rio yang menjauh. Di sampingnya, tangan mungil Zahra memeluk erat kaki ibunya, menatap kepergian ayahnya dengan tatapan bingung.

 

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!