Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Bayang yang Menjadi Nyata
Semalam terasa begitu panjang dan menyiksa bagi penghuni rumah besar itu. Arkan sama sekali tak bisa memejamkan mata. Ia menghabiskan waktunya terjaga di ruang kerja, duduk diam di balik meja dengan pikiran yang kacau balau. Di satu sisi, kabar kepulangan Kirana seharusnya menjadi berita paling membahagiakan yang ia tunggu-tunggu selama bertahun-tahun. Namun di sisi lain, rasa sakit di mata Nara saat berlari pergi semalam masih terbayang jelas di ingatannya, menimbulkan rasa bersalah yang menggerogoti seluruh isi dadanya.
Pagi pun tiba. Cahaya matahari masuk namun tak mampu menghangatkan suasana dingin yang menyelimuti rumah itu. Nara bangun lebih pagi dari biasanya. Matanya sembab dan bengkak, jelas sekali bekas tangisan semalam. Ia berusaha menutupinya dengan riasan tipis, namun kesedihan di raut wajahnya tak bisa disembunyikan.
Nara turun ke ruang makan dengan langkah pelan. Ia sudah mengambil keputusan. Seperti yang dikatakannya semalam, ia akan minggir. Ia tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan Arkan, meski itu berarti ia harus menelan pil pahit kehilangan perasaannya sendiri yang perlahan tumbuh. Ia akan bersikap seolah tidak ada apa-apa, bersikap seolah semua kembali seperti awal—hanya istri kontrak yang menjalankan tugas.
Saat ia masuk, Arkan sudah ada di sana. Pria itu terlihat jauh lebih buruk dari biasanya. Wajahnya pucat, kantung matanya terlihat jelas, dan tatapannya kosong, seolah jiwanya tak ada di tubuhnya.
"Selamat pagi," sapa Nara datar, suaranya tenang namun dingin, penuh jarak. Ia duduk di ujung meja, menjauh sejauh mungkin.
Arkan mengangkat wajahnya perlahan, menatap Nara lekat-lekat. Ia berharap melihat sedikit saja sisa kelembutan di mata gadis itu, tapi yang ia temukan hanyalah dinding tinggi yang kembali dibangun Nara, bahkan lebih tebal dan lebih dingin dari sebelumnya.
"Pagi," jawab Arkan lirih. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan, ingin meminta maaf lagi, tapi lidahnya terasa kaku. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ia bingung? Bahwa ia tak tahu siapa yang sebenarnya ia inginkan? Itu hanya akan membuat Nara makin terluka.
Suasana hening kembali menguasai ruangan. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling berbentuk, menciptakan bunyi yang menyesakkan.
"Kirana... dia akan tiba siang ini," ucap Arkan tiba-tiba, memecah keheningan. Kalimat itu keluar begitu saja, entah kenapa ia merasa perlu memberitahu Nara, seolah ingin menguji reaksi gadis itu.
Tangan Nara berhenti bergerak sejenak, namun ia tetap menunduk, memainkan makanannya. "Begitu ya. Kalau begitu, Mas pasti sibuk menjemput dan menemaninya. Jangan khawatir soal rumah atau keperluan lain, saya akan atur semuanya supaya nyaman. Saya juga akan mengurung diri di kamar atau pergi sebentar kalau dia berkunjung ke sini. Saya tidak akan mengganggu."
Jawaban pasrah itu kembali menghantam dada Arkan. Mendengar Nara bicara seolah dirinya adalah orang asing yang harus disembunyikan, seolah keberadaannya adalah aib yang harus dijauhkan... rasanya jauh lebih sakit daripada luka apa pun yang pernah dirasakannya.
"Kau tidak perlu pergi ke mana-mana. Kau istriku, Nara. Kau berhak ada di sini," jawab Arkan tajam, nada suaranya meninggi karena emosi yang tertahan.
Nara mengangkat wajahnya, tersenyum tipis yang sama sekali tak sampai ke matanya. "Istri kontrak, Mas. Istri di atas kertas saja. Dan sekarang, wanita yang dicintai Mas sudah kembali. Posisi saya otomatis mundur satu langkah ke belakang, bukan? Itu aturan tak tertulis yang saya pahami sejak awal."
Arkan ingin membalas, ingin membantah, tapi kata-kata itu terasa benar dan menohok. Ia tak punya alasan untuk melarang, karena ia sendirilah yang menanamkan konsep itu sejak hari pertama.
Belum sempat percakapan itu berlanjut, ponsel Arkan di meja berdering nyaring. Nama yang tertera di layar membuat jantung Arkan berdegup kencang, campur rasa gembira dan gugup.
"Kirana"
Nara melihat nama itu sekilas. Hatinya diremas kuat, tapi ia segera memalingkan wajah, berpura-pura tidak melihat.
Arkan mengangkat telepon itu dengan tangan sedikit gemetar. "Halo... ya, Halo, Kirana..."
Suara di seberang sana terdengar renyah, ceria, dan penuh keakraban. Meski jarak, suara wanita itu terdengar begitu dekat di hati Arkan. Nara bisa mendengar potongan pembicaraan itu, suara wanita yang begitu akrab dengan suaminya sendiri.
"Arkan! Aku sudah sampai bandara nih! Kapan kamu jemput? Aku kangen banget lho sama kamu, sama Jakarta, sama semuanya... Terutama kangen banget sama kamu..."
Kalimat terakhir itu terdengar jelas sekali, menusuk telinga Nara hingga ke ulu hati. Ia melihat wajah Arkan berubah. Cahaya yang hilang itu kembali hadir di mata pria itu. Senyum indah yang belum pernah Nara lihat tertuju padanya, kini tersungging lebar di bibir Arkan, penuh kebahagiaan dan kerinduan yang mendalam.
"Ya, aku segera ke sana. Tunggu sebentar ya. Aku juga kangen banget sama kamu... banyak banget hal yang mau aku ceritakan," jawab Arkan lembut, nadanya berubah sepenuhnya menjadi nada bicara yang sangat manis dan penuh kasih sayang.
Nara tak sanggup lagi mendengarnya lebih lama. Ia bangkit berdiri perlahan, mengelap mulutnya dengan serbet, lalu berjalan pergi menaiki tangga tanpa suara. Ia tak ingin terlihat menyedihkan dengan berdiri di sana, menyaksikan pria yang dicintainya sedang berbunga-bunga karena wanita lain.
Arkan sempat ingin memanggilnya, ingin meminta agar Nara tetap di sini, tapi ia terikat oleh panggilan itu. Ia hanya diam melihat punggung Nara yang menjauh dan menghilang di balik pintu kamar.
Setelah panggilan usai, Arkan duduk kembali dengan berat. Kebahagiaan karena kedatangan Kirana ternyata tak sepenuhnya utuh, karena ada rasa hampa besar yang ditinggalkan kepergian Nara.
Siang itu, Arkan pergi meninggalkan rumah dengan cepat. Mobilnya melaju kencang menuju bandara, membawa hati yang penuh kerinduan masa lalu namun juga penuh kegelisahan akan kenyataan yang ditinggalkannya di rumah.
Di bandara, sesosok wanita cantik berdiri menunggu di pintu kedatangan. Kirana. Wanita itu lebih cantik, lebih dewasa, dan lebih berkelas dari ingatan Arkan. Rambut panjangnya bergelombang indah, pakaiannya modis, dan senyumnya tetap sama—senyum yang dulu mampu mengubah Arkan yang dingin menjadi pria yang paling romantis.
Begitu melihat Arkan, Kirana langsung berlari kecil dan menubrukkan dirinya ke dalam pelukan Arkan, memeluk erat pinggang pria itu seolah tak ingin dilepaskan lagi.
"Arkan... akhirnya kita bertemu lagi..." bisik Kirana bahagia, menempelkan wajahnya di dada Arkan.
Arkan membalas pelukan itu, erat sekali. Bau wangi tubuh wanita itu, kehangatannya, semuanya membawa Arkan kembali ke lima tahun lalu, saat dunia terasa milik berdua. Untuk sesaat, Arkan merasa kembali hidup. Ia merasa semua pengorbanannya selama ini terbayar lunas.
"Ya, aku di sini. Kau kembali," jawab Arkan pelan, membelai rambut Kirana.
Namun, di detik itu juga, bayangan wajah sedih Nara melintas tiba-tiba di benaknya. Bayangan gadis yang ada di rumah, sendirian, terluka, dan bersiap kalah demi kebahagiaannya. Pelukan yang seharusnya terasa paling bahagia di dunia itu, mendadak terasa berat dan penuh beban.
Sepanjang perjalanan pulang, Kirana terus bercerita dengan antusias. Ia bercerita tentang hidupnya di luar negeri, tentang rencana-rencananya ke depan, tentang betapa ia merindukan Arkan setiap hari. Arkan mendengarkan, sesekali menjawab dan tersenyum, tapi pikirannya terbelah dua. Setiap kali ia melihat senyum Kirana, ia teringat senyum getir Nara pagi tadi.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan gerbang rumah besar milik Arkan. Rumah yang dulu adalah tempat impian Arkan untuk hidup bersama Kirana, tapi kini rumah itu sudah dihuni oleh orang lain—orang yang diam-diam telah mengisi ruang-ruang kosong di sana.
Kirana turun dari mobil, menatap bangunan mewah itu dengan mata berbinar. "Wah, indah sekali rumah ini, Arkan. Jadi ini tempat kamu tinggal sekarang? Dulu kan kita berencana bangun rumah seperti ini, ingat tidak?"
Arkan mengangguk pelan, menelan ludah susah payah. "Ya... ingat."
Mereka berjalan masuk melewati halaman depan. Di teras belakang, tampak sosok Nara sedang duduk diam, memandang kosong ke arah kolam ikan. Ia sengaja ada di sana, menjauh, agar tidak mengganggu momen pertemuan itu.
Namun, Kirana melihatnya. Ia berhenti melangkah, menatap sosok Nara dengan dahi berkerut bingung. Ia menoleh ke Arkan, bertanya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Arkan... siapa wanita itu? Kenapa ada orang asing di rumah kita?"
Kata "rumah kita" itu terucap begitu saja dari mulut Kirana, begitu wajar, begitu berhak.
Arkan terdiam kaku. Ia menatap Nara yang perlahan berbalik badan, berdiri tegak, dan menatap mereka berdua dari kejauhan dengan tatapan tenang namun penuh luka.
Di detik itu, kebenaran harus diucapkan. Di detik itu, masa lalu dan kenyataan akhirnya bertemu muka. Dan Arkan sadar, mulai detik ini, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
"Itu... itu Nara," jawab Arkan pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Dia... istriku, Kirana."
Bersambung...