NovelToon NovelToon
Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.

Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: UMPAN YANG DIKAWAL BENCANA ALAM

Hembusan angin dingin menusuk di sela pepohonan mati yang menandai batas Hutan Kelam. Rimbunnya kanopi membuat sinar mentari seolah enggan menembus masuk, menyisakan kegelapan yang kental. Atmosfer mencekam itu seketika membuat para taruna tingkat tiga bergidik dan menelan ludah.

Axel terseok di barisan paling belakang dengan napas yang mulai memburu. Beban tas punggung militer seberat dua puluh kilogram berisi logistik, kristal mana, dan tenda sungguh menyiksa pundaknya. Tanpa bantuan aliran sihir untuk memperkuat raga, tugas kasar ini benar-benar menguji batas kekuatan fisiknya sebagai manusia biasa.

"Rapatkan barisan! Bentuk formasi panah!" seru Gideon dari baris terdepan. Zirah ksatria emasnya berkilau kontras di tengah suramnya hutan. Ia menoleh sekilas, menatap Axel yang tertinggal beberapa langkah dengan senyum penuh hinaan. "Hei, sampah! Percepat langkahmu. Kalau sampai tertinggal dan jadi santapan Shadow Wolf, jangan harap kami sudi membuang tenaga untuk menolongmu."

Beberapa taruna pengikut Gideon tertawa kecil. Mereka semua mafhum bahwa membawa staf tanpa bakat sihir ke zona B-Rank adalah tindakan cari mati. Namun, tak ada yang berani menyanggah keputusan sang Tuan Muda Valkyrie.

Axel berhenti sejenak untuk mengatur napas, memilih abai terhadap ocehan Gideon. Perhatiannya justru terpusat pada panel sistem yang terus berkedip kuning sejak mereka meninggalkan akademi tadi pagi.

> [ RADAR MANAJEMEN RISIKO ]

> Peringatan Anomali Ekstrem!

> Dua entitas dengan tingkat bahaya S-Rank terdeteksi mengikuti Host dalam radius 500 meter di luar jangkauan deteksi akademi.

> Status Entitas 1 (Reynarda Vance): Memakai Zirah Penuh. Niat Membunuh (Terhadap Gideon): 75\%

> Status Entitas 2 (Elysia Whisperwind): Bersembunyi di dimensi bayangan. Niat Membunuh (Terhadap Gideon): 85\%

Sambil menyeka peluh di wajahnya, Axel bergumam lirih, "Mereka benar-benar mengikutiku. Sepertinya aturan dilarang ikut campur dalam misi orang lain hanya dianggap angin lalu oleh kedua monster ini."

Di satu sisi, Axel merasa lega karena keselamatannya terjamin. Namun di sisi lain, ia tahu jika sampai kakinya tergores ranting saja hari ini, Gideon dan seluruh rombongan ini bisa berakhir menjadi pupuk kompos di tanah Hutan Kelam.

GRRRRRR.

Geraman rendah bergema dari balik semak, memaksa seluruh rombongan berhenti mendadak. Suhu udara anjlok seketika. Dari kegelapan pohon-pohon raksasa, belasan pasang mata merah menyala muncul serempak. Kawanan Shadow Wolf—monster serigala setinggi manusia dewasa dengan bulu segelap bayangan dan cakar yang sanggup merobek baja—siap menerkam.

"Siaga tempur!" teriak Gideon seraya menghunus pedang. Wajahnya memucat melihat jumlah lawan yang muncul. "Lihat, ada serigala Alpha di sana! Serangannya pasti sangat mematikan!"

Gideon menoleh ke belakang, melirik Axel yang berdiri tak jauh dari kawanan serigala yang mulai mengambil ancang-ancang. Sebuah niat picik terlintas di benak pemuda angkuh itu. Inilah kesempatan yang ia tunggu-tunggu.

"Axel! Maju sekarang dan lemparkan tas logistik itu ke arah mereka untuk mengacaukan formasi!" perintah Gideon lantang.

"Melemparnya? Tas ini beratnya dua puluh kilo, dan jarak mereka sepuluh meter dari sini," sahut Axel datar.

"Lakukan saja, dasar tidak berguna! Kau mau kita semua mati?!" bentak Gideon. Ia sengaja tak memerintahkan pasukannya untuk membantu Axel. Niat aslinya jelas: menjadikan Axel umpan hidup. Jika para serigala itu sibuk mencabik Axel, Gideon dan tim elitnya punya celah untuk menyerang sang Alpha.

Sang Alpha melolong nyaring, memberi perintah serang. Tiga ekor Shadow Wolf melesat menerjang Axel dengan taring yang meneteskan liur beracun.

"Matilah kau, pemungut sampah," bisik Gideon sinis, menanti pertumpahan darah di depan matanya.

Namun, yang terjadi selanjutnya bukanlah hancurnya tubuh Axel, melainkan sebuah kiamat kecil yang turun ke bumi.

JDHAAARRR!

Sebuah pedang raksasa berselimut cahaya suci keemasan menghujam bumi tepat di hadapan Axel dengan kecepatan kilat. Serangan itu menciptakan kawah selebar tiga meter dan gelombang kejut dahsyat yang mementalkan ketiga serigala tadi. Tubuh monster-monster tersebut hancur menjadi debu bahkan sebelum sempat menyentuh tanah.

Belum sempat debu mengendap, udara di hutan itu mendadak membeku. Badai salju tak kasat mata turun menghantam, sementara akar berduri muncul dari tanah beku, melilit dan meremukkan tulang-tulang serigala yang tersisa dengan bunyi berderak yang mengerikan.

Kurang dari dua detik, belasan Shadow Wolf tingkat B—termasuk sang Alpha—lenyap tanpa sisa.

Gideon dan para taruna lainnya tertegun, rahang mereka nyaris jatuh ke tanah. Lutut mereka gemetar hebat melihat siapa yang muncul dari balik pepohonan.

Dari sisi kiri Axel, Reynarda Vance melangkah maju dengan zirah peraknya yang berkilau. Matanya yang biasa tenang kini memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga menyesakkan napas. Dari sisi kanan Axel, ruang hampa terkoyak dan Elysia Whisperwind melayang turun. Ujung jemari sang peri cantik memancarkan sihir elemen murni yang tampak bergejolak.

[Peringatan Kritis! Tingkat Emosi Heroine Tidak Stabil!]

[Sanity Reynarda: 45% -> 20% (Kemarahan Apokaliptik)]

[Sanity Elysia: 42% -> 15% (Hasrat Menghancurkan)]

"G-Gideon..." salah seorang taruna terbata sembari menunjuk ke arah dua legenda yang kini berdiri mengapit pembawa logistik mereka. "A-Apa yang dilakukan Lady Reynarda dan Sang Penyihir Agung di tempat ini...?"

Reynarda mencabut pedang besarnya dari tanah tanpa melirik bangkai monster sedikit pun. Tatapannya setajam gletser, tertuju lurus pada Gideon yang kini menggigil ketakutan.

"Beraninya kau," suaranya menggelegar tenang namun penuh tekanan mana yang memaksa beberapa taruna langsung berlutut dan memuntahkan darah. "Kau menjadikan jangkarku... milikku... sebagai umpan monster?"

"K-Ksatria Suci Reynarda! Ini hanya kesalahpahaman! Ini misi resmi—" Pembelaan Gideon terputus saat akar berduri milik Elysia melesat mencekik lehernya dan mengangkatnya beberapa senti dari tanah.

"Serangga berisik," desis Elysia dengan mata menyipit. "Mungkin pita suaranya harus kupotong, lalu kupatahkan seluruh tulangnya agar ia paham harganya mengusik ketenanganku."

Akar berduri itu semakin mengetat. Gideon meronta dengan wajah membiru kehabisan napas. Seluruh pasukan elitnya hanya bisa mematung; bergerak sedikit saja berarti kematian instan di tangan dua wanita OP ini.

Axel memperhatikan bar Sanity yang terus berkedip merah di atas kepala Reynarda dan Elysia. Jika ia tidak bertindak, Gideon akan tewas dan kedua gadis ini bakal dicap sebagai pengkhianat kekaisaran karena membunuh taruna tanpa pengadilan.

"Cukup, Rey. Elysia."

Suara Axel tidak keras, hanya sebuah instruksi tenang yang biasa. Namun, bagi kedua wanita itu, kata-kata tersebut memiliki efek magis yang mutlak. Axel melangkah maju, meletakkan tangannya di lengan Reynarda dan punggung Elysia.

Seketika, efek Penenang Jiwa menjalar.

Tekanan mana suci di udara lenyap. Akar yang melilit leher Gideon mengendur, menjatuhkan pemuda sombong itu ke tanah dalam kondisi terbatuk-batuk meraup udara dengan wajah penuh air mata ketakutan.

Aura mengerikan Reynarda dan Elysia sirna seketika, digantikan oleh ekspresi sayu. Reynarda melepaskan genggaman pedangnya dan menyandarkan kepala di bahu Axel, sementara Elysia memejamkan mata sambil memeluk lengan kanan Axel erat-erat.

"Kalian membuat pakaianku kotor karena debu sihir kalian," tegur Axel dengan nada lelah, layaknya seorang majikan yang memarahi dua kucing peliharaannya setelah membuat kekacauan.

Axel kemudian menatap Gideon yang masih terkapar gemetar. Sang Ksatria Suci dan Sang Penyihir Agung, begitu jinak di tangan seorang staf logistik?

"Tuan Muda Gideon," ucap Axel dingin. "Misi selesai. Dan demi kebaikanmu sendiri... jangan pernah panggil namaku lagi, baik di dalam maupun di luar akademi. Mengerti?"

Gideon hanya sanggup mengangguk panik, harga dirinya hancur total malam itu. Ia akhirnya menyadari bahwa Axel bukanlah sekadar umpan, melainkan tombol pemicu kiamat yang baru saja ia tekan secara tidak sengaja.

1
Pria Misterius
Harem😋 aku suka ini
Orimura Ichika
up yg banyak thor👍
Orimura Ichika: di tungguin 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!