NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Mobil Brant menderu halus di sepanjang jalan menuju rumah Luca.

Masih dengan mengenakan seragam cheerleaders-nya, Luca duduk dengan posisi kaki yang agak random—khas dia yang tidak bisa diam.

​"Kak Brant, liat deh! Tadi pas stunt, aku ngerasa kayak beneran bisa terbang tahu," ucap Luca sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti sayap, matanya berbinar menatap Brant.

​Brant melirik sekilas, tangannya yang kekar mengendalikan kemudi dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi menggenggam jemari Luca, mengunci pergerakan random cowok manis itu. "Duduk yang bener, Luca. Jangan banyak tingkah di mobil."

​"Iih, kan aku lagi excited! Emang tadi aku nggak keren ya?" Luca memanyunkan bibirnya, sengaja memancing .

​Brant terdiam sejenak, lalu suaranya merendah, "Keren. Terlalu keren sampai gue nggak suka semua mata di lapangan tadi cuma tertuju ke lo."

​Luca tertawa renyah, dia tahu itu cara Brant bilang kalau dia cemburu. "Posesif banget sih, Kak!"

Begitu mobil itu berhenti, Lea sudah berdiri di teras dengan tangan bersedekap, wajahnya jutek maksimal. Dia menatap Luca yang turun dengan seragam cheerleader lengkap—rok mini dan atasan ketat yang mengekspos lekuk tubuhnya.

​Lea mendengus kasar, matanya menyapu penampilan kakaknya dari atas sampai bawah dengan tatapan menghakimi.

​"Gila ya lo, Ca! Jam segini baru balik, mana dandanannya modelan begini lagi," semprot Lea galak sambil menjitak kepala Luca sampai si empunya mengaduh. "Lo tuh laki, sadar nggak sih? Pake baju kurang bahan begini, mau pamer ke nyamuk atau mau nyari perkara di jalan?!"

​"Aduh! Sakit, Lea! Kan tadi abis latihan... lagian tim butuh flyer, dan aku yang paling pas!" Luca merengut sambil mengusap kepalanya.

​Lea nggak peduli sama alasan Luca. Dia langsung melangkah lebar menuju pintu kemudi mobil Brant dan menggetok kacanya dengan keras—hampir seperti mau ngajak berantem. Begitu kaca mobil itu turun, Lea langsung melotot ke arah Brant.

​"Woi, Kak! Otak lo taruh mana sih?" tanya Lea tanpa basa-basi, nggak ada takut-takutnya.

"Lo jagain ni anak gimana? Malem-malem lo biarin dia keluyuran pake baju begini. Lo tau kan kakak gue otaknya sering ketinggalan di lapangan? Kalau ada orang jahat gimana? Lo mau tanggung jawab?!"

​Brant hanya menatap Lea dengan tatapan datarnya , tapi dia tidak membantah ucapan Lea. "Gue liatin terus dari tadi. Nggak bakal ada yang berani nyentuh," jawab Brant singkat.

​"Halah! Bacot doang!" ketus Lea. Dia beralih narik kerah belakang baju Luca. "Masuk lo! Ganti baju sana, geli gue liatnya! Kak Brant, lo juga balik! Jangan bengong liatin kakak gue yang aneh ini terus!"

Dari balik kemudi, Brant tidak langsung menginjak gas. Matanya yang tajam tetap tertuju pada pintu rumah Luca. Ia memperhatikan bagaimana Lea dengan kasarnya menyeret kakaknya masuk, sementara Luca masih sempat-sempatnya menoleh ke arah mobil sambil melambaikan tangan dengan wajah cemberut yang menggemaskan.

​Hanya setelah pintu depan tertutup rapat, ketegangan di bahu Brant sedikit mengendur. bayangan Luca yang melompat di udara dengan seragam cheerleader yang minim kembali terlintas di pikirannya.

​Ia tidak bisa membiarkan ini berlanjut.

​Brant mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat menekan kontak Jack. Belum sempat nada sambung ketiga berakhir, suara Jack sudah terdengar.

​"Halo, Jack," suara Brant rendah, hampir seperti bisikan yang mengancam.

​"Ya, Brant? Ada apa ? Gue baru mau makan nih."

​Brant tidak peduli. "Gue berubah pikiran. Besok pagi, gue mau calon pengganti Luca sudah ada."

​Di seberang sana, Jack terdengar menghela napas frustrasi. "Brant, ayolah! Luca itu ikon tim kita. Kenapa lo segitunya sih?"

​"Gue nggak suka dia pake baju konyol kayak gitu lagi. " jawab Brant dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.

Setelah memastikan semuanya sesuai kendalinya, Brant menginjak gas dalam-dalam. Mesin Cayman itu menderu garang, membelah keheningan malam menuju apartemennya.

Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden dapur, di mana aroma nasi goreng dan telur mata sapi sudah menyerbak. Ibu Lana, mamanya Luca dan Lea, yang sudah tampil rapi dan modis dengan blazer elegan siap berangkat ke butiknya, sedang menata piring di atas meja makan.

​Ia melirik jam tangannya, lalu menoleh ke arah tangga. "Lea!" panggil mamanya dengan suara tegas namun lembut.

​Lea turun dengan langkah malas, masih mengucek mata dan mengenakan seragam SMA yang sudah rapi. "Ya, ma?"

​"mama sudah siapkan sarapan buat kamu sama Luca. Mama harus berangkat sekarang, ada klien penting di butik pagi ini," ucap ibu Lana sambil menyambar tas tangannya. "Bangunin kakakmu itu. Jangan sampai dia telat lagi ke kampusnya. Dan bilang ke dia, jangan terlalu banyak makan gorengan kalau mau tetap lentur buat latihan cheer nanti."

Mamanya malah mendukung ternyata.

​Lea mendengus, langsung menarik kursi meja makan. "Dih, Luca tanpa dibangunin juga bakal bangun kalau denger suara motor Kak Brant ngetem di depan, ma."

​"Ya sudah, pokoknya bangunin.

mama berangkat ya!" Ibu lana mencium kening Lea kilat sebelum menghilang di balik pintu depan.

"WOI, LUCA! BANGUN!" teriak Lea galak. "Mama udah berangkat ke butik! Itu sarapan kalau nggak dimakan bakal gue kasih ke kucing ya!"

​Dari dalam kamar, terdengar suara buk!—sepertinya Luca kaget sampai berguling dari kasur.

​"Lea! Galak banget sih, ini masih pagi!" sahut Luca dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

​"Banyak bacot! Cepetan mandi," Lea berteriak sekali lagi sebelum turun kembali ke meja makan untuk menghabiskan bagiannya sendiri.

​Mama Luca sudah berangkat ke butik, dan lea sudah naik ojek ke sekolahnya. sekarang tinggal Luca yang buru-buru siap-siap karena ternyata Brant tak bisa menjemputnya hari itu.

Pagi menjelang siang itu, Luca memang benar-benar terlambat. Namun, keberuntungan tampaknya masih berpihak padanya karena dosen jam pertama berhalangan hadir, membuat cowok itu bisa bernapas lega sejenak.

​Sialnya, rasa lega itu tidak bertahan lama. Prahara lain justru menghantam egonya yang begitu bangga menjadi seorang flyer di tim basket kampus. Posisi impiannya itu mendadak harus diganti, dan semua ini terjadi karena ulah seseorang—siapa lagi kalau bukan kekasihnya sendiri, Brant, yang kelewat protektif.

​Luca berdiri mematung di tengah ruang latihan, matanya menatap tajam ke arah Jack yang masih sibuk mencatat peserta audisi baru. Perasaan sedih yang sempat menyergapnya mendadak berubah menjadi rasa kesal yang campur aduk. Luca tidak langsung menangis, tetapi semburat merah di wajahnya tidak bisa menyembunyikan betapa emosinya sedang bergejolak saat ini.

​"kak Jack!" seru Luca. Suaranya nggak seram, malah terdengar seperti anak kecil yang es krimnya tumpah.

​"Eh, ya, Ca?" Jack menoleh, ngeri-ngeri sedap melihat Luca yang sudah berkacak pinggang.

​"Gak bisa gitu dong! Ini audisi ilegal! Aku protes! Aku mau mogok kuliah kalau posisiku diganti!"

Luca mulai menghentak-hentakkan kakinya ke lantai , melakukan gerakan cheerleader yang asal-asalan—seperti ayam yang lagi senam.

​Jack menahan tawa. "Ca, ini perintah Brant langsung..."

​"Bodo amat sama Kak Brant! Dia pikir dia siapa? Presiden Kampus?!" Luca terus mengomel sambil berjalan mondar-mandir. tangannya masih memegang pompom yang dia temukan di kursi.

​"Bilang ya ke dia, kalau dia cari penggantiku, aku bakal... aku bakal hias mobilnya pake stiker bunga-bunga pink!" ancam Luca dengan wajah yang sok galak, padahal matanya sudah berkaca-kaca karena bingung.

​Tiba-tiba, bayangan tinggi besar menutupi cahaya dari pintu. Brant berdiri di sana, bersandar di kusen pintu dengan tangan bersedekap, menatap kelakuan konyol Luca.

​"Mau pasang stiker apa tadi?" tanya Brant pendek.

​Luca langsung membeku di posisinya—masih dengan satu kaki terangkat dan tangan memegang pompom. Dia menoleh pelan, menelan ludah, lalu bukannya takut, dia malah menantang.

​"Stiker bunga matahari! Biar mobil kakak nggak gaul lagi kayak pemiliknya!" tantang Luca, meski suaranya sedikit mencicit.

​Brant nggak marah. Dia cuma menatap Luca dari atas ke bawah, lalu berjalan mendekat. Jack langsung pura-pura sibuk.

​"Ikut gue sekarang," perintah Brant, nadanya mutlak.

​"Nggak mau! Mau audisi jadi penggantinya Luca Stellan juga!" jawab Luca sambil membuang muka dengan gaya dramatis, tapi tangannya malah tanpa sadar memegang ujung jaket Brant.

Brant membawa Luca menuju kantin dekat gedung Ekonomi, fakultas kebanggaan Luca. Begitu mereka duduk, Brant menatap Luca yang masih tampak kesal.

​"Makan," ucap Brant pendek sambil menyodorkan menu.

​"Nggak laper! Kakak jelasin dulu kenapa cari penggantiku!" Luca memalingkan muka

Brant menghela napas, matanya menatap Luca tajam sampai Luca merasa ciut. "Denger ya, Ca. Seragam itu nggak pantes buat lo. Lo itu laki, dan pakaian itu... terlalu aneh, terlalu terbuka. Gue nggak suka lo jadi tontonan konyol di tengah lapangan."

​Brant sebenernya juga emosi sendiri, kenapa dulu si Jack bisa-bisanya nerima Luca dan kenapa gue juga malah ngebiarin aja dari awal? batinnya kesal.

​"Tapi Kak, itu kan seni! Aku suka lompat-lompat!" protes Luca dengan gaya khasnya.

​"Diem, Luca. Jangan dibantah," potong Brant dingin. Tatapan sadisnya nya keluar maksimal, bikin Luca otomatis tutup mulut dan cuma bisa mainin ujung jarinya. Melihat Luca yang mulai layu, nada suara Brant sedikit melunak. "Nanti gue beliin Boba Brown Sugar kesukaan lo yang extra topping itu. Tapi nurut sama gue."

​Mendengar kata "Boba", mata Luca langsung sedikit berbinar. "Janji ya? Yang ukurannya paling gede?"

​"Iya, rewel," jawab Brant pelan.

​Baru saja suasana agak tenang, tiba-tiba dua orang cowok dengan gaya modis datang menghampiri. Mereka adalah geng sahabat Brant dari Fakultas Bisnis.

​"Woi, Brant! Ternyata beneran di sini lo!" seru Clay, salah satu sahabatnya. "Gila ya, kantin Bisnis full banget, makanya kita nyari lo. Eh, pantesan milih di sini, pemandangannya seger-seger ya? Banyak cewek cakep sama cowok imut di gedung Ekonomi."

​"Traktir kali, Brant! Akhir bulan nih, dompet gue udah kayak kerupuk, garing banget!" timpal Rey sambil nyengir ke arah Luca yang kelihatan mungil di sebelah Brant.

​Brant cuma mendengus. "Pesen aja, jangan berisik."

​Tepat saat mereka baru mau duduk, Jack datang dengan napas terengah-engah.

" gue cari lu semua di kantin biasa nggak ada , ngumpul di sini terntaya." Melihat Brant jack jadi ingin bilang sesuatu.

​"Brant! Nih, gue bawa kabar cepet!" Jack nggak sadar kalau ada Luca di situ. "Gue udah dapet pengganti Luca. Anak fakultas Kesenian, cewek, tinggi, badannya lentur banget. Pokoknya pas banget buat posisi flyer. Besok dia udah bisa mulai latihan!"

​Seketika, suasana meja itu jadi senyap. Luca yang baru mau nyedot boba yang baru datang, langsung mematung. Pipinya yang kembung berisi boba perlahan mengempis, dan matanya menatap Jack lalu beralih ke Brant dengan tatapan yang terluka.

​"O-oh... jadi beneran udah ada penggantinya?" bisik Luca pelan, suaranya bergetar.

​Jack baru sadar dia salah ngomong. "Eh, Luca... ada di sini? Anu... maksud gue..."

​"Kak Brant jahat!" seru Luca sambil berdiri, tapi kali ini matanya beneran berkaca-kaca. "Boba-nya nggak jadi enak!"

Brant cuma diam mematung menatap punggung Luca yang menghilang di balik kerumunan mahasiswa. Dia mendengus, dengan wajah yang makin dingin. Dia tahu Luca pasti bakal langsung masuk kelas dan curhat habis-habisan ke sahabatnya.

​"Biarin aja," gumam Brant singkat. "Entar juga balik sendiri kalau udah capek ngedumel."

​"Yee, songong banget ni Kulkas! Awas lo, entar dia ngambek beneran baru tahu rasa," celetuk Clay sambil narik ipad yang dibawa Jack. "Mana liat? Gue mau liat penggantinya si Luca. Cakep nggak?"

​Jack menyodorkan ipad itu ke tengah meja. Di layar itu terpampang profil mahasiswi Kesenian bernama Vania. Fotonya lagi pose estetik, badannya tinggi semampai, dan mukanya emang tipe-tipe "Goddess" kampus.

​"Anjir! Gila sih ini!" seru Rey sampai keselek es tehnya. "Jack, lo serius mau ganti Luca sama yang ginian? Ini mah bukan cuma pinter lompat, ini mah pinter bikin cowok satu stadion serangan jantung, Cuk!"

​"Gila, damage-nya nggak ngotak," timpal Clay sambil nge-zoom foto Vania. "Body goals parah sih. Ini kalau pake seragam cheer yang kemaren Luca pake, mampus deh... bisa tawuran cowok-cowok cuma buat liatin dia."

​Brant cuma melirik sekilas, lalu membuang muka. "Biasa aja."

​"Biasa aja mata lo?!" Rey sewot. "Ini mah berlian, Brant! Kalau Luca kan imut-imut gemes, kalau yang ini mah... hot parah. Gue aja yang liat fotonya udah deg-degan, gimana kalau ketemu langsung?"

​Jack yang dari tadi dengerin cuma bisa ketawa receh sambil nyomot gorengan di meja. Dia ngelirik Brant yang sok-sokan cuek tapi tangannya sebenernya ngeremas kunci mobilnya dengan kencang.

​"Inget ya, Brant," sahut Jack sambil nyengir penuh arti. "Gue nemu yang spek dewa kayak gini buat gantiin posisi Luca biar lo nggak emosi lagi tiap latihan. Tapi inget, Bos... jangan sampe lo malah kecantol ya. Inget 'Malaikat Kecil' lo yang baru aja kabur gara-gara lo zolimin."

​"Najis," umpat Brant kasar. "Nggak usah bahas yang nggak penting. Gue cuma mau tim beres, itu doang."

​"Halah, bacot! Palingan ntar malem lo juga yang kelimpungan nyariin dia," ledek Rey. "Eh, tapi serius ya, ini si Vania emang cakep banget sih. Apa gue aja yang deketin ya? Mumpung gue lagi jomblo dan dompet lagi kering, siapa tahu dia mau traktir gue."

​"Mimpi lo ketinggian, bangsat!" Clay ngeplak kepala Rey. "Spek begini mana mau sama modelan kayak lo yang akhir bulan aja minta traktir temen!"

​Brant cuma dengerin mereka sambil natap lurus ke depan. Pikirannya beneran nggak fokus ke foto Vania yang dipuji-puji temennya. Dia malah kepikiran, tadi boba-nya Luca belum abis, dia pasti masih lapar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!