NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Kepompong Menjadi Kupu-Kupu

Waktu tidak pernah berhenti sejenak pun hanya untuk meratapi mereka yang hancur. Bagi Andini, enam bulan pertama setelah malam terkutuk itu menjadi bukti nyata bahwa manusia sanggup bertahan hidup meski jiwanya telah tercabik-cabik.

Malam itu, di tengah guyuran hujan, Tuhan rupanya tidak benar-benar meninggalkan Andini. Sebuah mobil sedan mewah sempat berhenti tepat di depan halte tempatnya menggigil. Pengemudinya adalah Citra, sahabat lama semasa kuliah yang kini sukses menjadi pengusaha di bidang agensi pemasaran digital. Citra yang geram mendengar kemalangan Andini langsung menampungnya di sebuah apartemen kecil miliknya, membantu Andini menata kembali semangat hidupnya dari nol.

Kini, satu tahun telah berlalu.

Di dalam ruang kerja yang elegan dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke panorama gedung pencakar langit Jakarta, seorang wanita berdiri dengan anggun. Ia mengenakan setelan blazer berwarna emerald green yang pas di tubuh, dipadukan dengan celana kulot hitam longgar yang memberikan kesan jenjang dan berkelas. Di kepalanya, tersemat hijab pashmina sutra hitam yang ditata sangat rapi, simpel, namun elegan, membingkai wajah yang memancarkan aura ketenangan.

Penampilannya hari ini membuktikan bahwa wanita muslimah bisa terlihat sangat profesional, mandiri, dan modern di dunia bisnis tanpa harus kehilangan identitas kesalihannya. Wanita itu adalah Andini. Bukan lagi Andini yang berpakaian daster kusam, melainkan sosok yang kini menjadi pusat perhatian karena kecerdasan dan wibawanya.

"Bu Andini, ini laporan keuangan triwulan kedua dari lini fashion muslim premium kita, Nadir Label," seorang asisten masuk dengan sikap sangat hormat sambil menyerahkan sebuah tablet digital.

Andini menerima tablet itu, jemarinya yang lentik menggeser layar dengan cekatan. "Bagus, Sarah. Kenaikan omzet kita mencapai empat puluh persen setelah live streaming dan kampanye digital bulan lalu. Pastikan stok untuk bahan sutra premium aman untuk bulan depan."

"Baik, Bu. Oh ya, sore ini ada jadwal pertemuan dengan perwakilan vendor tekstil baru yang ingin mengajukan proposal kerja sama di kafe Grand Hyatt," tambah Sarah.

"Sebutkan namanya."

"Pratama Jaya Tekstil, Bu. Pemiliknya bernama Reno Pratama."

Gerakan tangan Andini terhenti seketika. Reno Pratama. Nama itu meluncur dari mulut asistennya seperti sebuah melodi usang yang sudah lama tidak ia dengar. Di balik hijabnya yang anggun, Andini menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan arti.

Ah, Reno. Ternyata dunia sekecil ini, atau caraku mendaki memang terlalu cepat hingga kita sudah berada di level yang sama lagi? batin Andini.

"Baik, Sarah. Kosongkan jadwalku sore ini. Aku sendiri yang akan menemui vendor itu," ujar Andini dengan nada suara yang sangat tenang, namun matanya berkilat tajam.

Pukul empat sore, suasana Kafe Grand Hyatt tampak elegan dan tenang. Reno duduk di salah satu meja sudut dengan setelan jas yang tampak sedikit kusut di bagian lengan. Wajah pria itu tidak secerah satu tahun lalu. Ada kerutan halus di dahinya dan gurat kelelahan yang mendalam.

Bisnis tekstil peninggalan ayahnya sedang berada di ujung tanduk karena salah urus. Ia sangat membutuhkan kontrak kerja sama dengan Nadir Label—merek fashion muslim yang sedang viral dan merajai pasar digital—untuk menyelamatkan perusahaannya dari kebangkrutan.

"Mana sih CEO-nya? Sudah lewat sepuluh menit. Sok sibuk sekali," gerutu Ratna, ibu Reno, yang bersikeras ikut sore itu. Di sampingnya, Siska duduk sambil menggendong seorang bayi laki-laki berusia beberapa bulan yang sedang merengek.

"Ibu, tolong diam. Nadir Label ini perusahaan besar. Kalau kita tidak dapat kontrak ini, bulan depan kita tidak bisa bayar cicilan rumah!" bisik Reno dengan nada frustrasi.

"Ih, Mas Reno kok malah memarahi Ibu? Ini anak kamu juga menangis terus dari tadi, pusing tahu! Makanya cari uang yang benar, jangan bikin kami susah," sahut Siska dengan nada ketus dan manja yang egois. Hubungan mereka tidak lagi manis sejak ekonomi Reno merosot dan Siska terbukti tidak bisa mengurus rumah tangga dengan benar.

Reno hendak membalas ucapan Siska, namun langkah kaki yang berirama konsisten dari arah pintu masuk kafe membuat perhatiannya teralihkan.

Seorang wanita muslimah berjalan masuk, diikuti oleh dua orang pengawal berbadan tegap dan seorang asisten di belakangnya. Kehadiran wanita itu langsung mencuri perhatian seisi kafe karena auranya yang begitu anggun, menutup aurat dengan sempurna, namun memancarkan pesona kelas atas.

Reno terbelalak. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama beberapa detik. Matanya melebar, menatap tidak percaya pada sosok yang kini berjalan lurus ke arah mejanya.

"An-Andini?!" pekik Reno, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia refleks berdiri dari kursinya.

Ratna dan Siska ikut menoleh. Keduanya langsung membeku dengan mulut terperangah. Wanita di depan mereka tampak seperti pengusaha sukses yang sangat terhormat, sangat jauh berbeda dengan "istri mandul" yang mereka usir secara hina setahun yang lalu.

Andini menghentikan langkahnya di depan meja mereka. Ia tidak menatap mereka dengan kemarahan atau dendam yang meledak-ledak. Sebagai wanita yang paham agama, ia menjaga sikapnya tetap tenang dan bermartabat. Ia menatap mereka dengan tatapan datar, seolah-olah sedang melihat sekumpulan orang asing yang tidak penting.

"Selamat sore, Pak Reno Pratama," suara Andini terdengar begitu merdu namun sangat formal dan berjarak. "Saya Andini, CEO dan pemilik tunggal dari Nadir Label."

Reno menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering. "Ndin... kamu... bagaimana bisa? Kamu pemilik Nadir Label?"

"Kenapa? Apa menurutmu seorang wanita yang dulu kamu sebut hanya menumpang hidup tidak akan bisa memiliki perusahaan sendiri?" Andini melirik kursi kosong di depannya, namun ia memilih untuk tetap berdiri, enggan merendahkan dirinya untuk duduk bersama mereka.

Ratna, yang menyadari posisi tawar mereka kini berada di bawah Andini, langsung mengubah ekspresi wajahnya yang semula angkuh menjadi sok manis yang menjijikkan. "Oh, Andini... menantuku yang salihah! Ibu tahu kamu anak yang hebat. Masa lalu itu kan cuma salah paham, Ndin. Reno waktu itu cuma khilaf..."

Andini mengangkat satu tangannya ke udara, sebuah isyarat tegas yang langsung membungkam ucapan Ratna.

"Maaf, Bu Ratna. Hubungan kita sudah selesai sejak malam di mana Ibu membuang pakaian saya ke lantai," kata Andini dengan senyuman elegan yang justru terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.

Andini kemudian mengalihkan pandangannya pada Siska yang tampak salah tingkah dan terus menyembunyikan wajahnya di balik tubuh bayinya. Tatapan Andini sempat tertuju pada bayi laki-laki tersebut selama beberapa detik. Sebagai wanita yang teliti, ada kilatan aneh di mata Andini saat memperhatikan fitur wajah sang bayi yang sama sekali tidak mirip Reno, sebelum akhirnya ia kembali menatap mantan suaminya.

"Pak Reno, saya datang ke sini atas nama profesionalitas. Namun, setelah melihat kualitas dan kepribadian perwakilan dari Pratama Jaya Tekstil hari ini..." Andini sengaja menggantung kalimatnya, membuat Reno berkeringat dingin menanti kelanjutannya.

"Tolong, Ndin... demi masa lalu kita. Perusahaanku butuh proyek ini," bisik Reno, membuang seluruh harga dirinya di depan mantan istrinya.

Andini tersenyum sinis di balik ketenangannya. "Maaf, bisnis saya terlalu berharga untuk bekerja sama dengan pria yang tidak bisa memegang komitmen dan janji. Proposal Anda... saya tolak."

"Andini!" Reno mencoba meraih tangan Andini, namun dua pengawal Andini dengan sigap langsung maju menghalangi Reno dengan tatapan mengancam.

Andini memundurkan langkahnya, merapikan blazernya yang sama sekali tidak tersentuh. "Ah, ya. Sebagai mantan istri yang pernah mengabdi, aku punya satu hadiah kecil untukmu, Reno. Anggap saja ini sebagai balasan atas hadiah ulang tahun pernikahan kita setahun lalu."

Andini memberi kode pada Sarah. Asistennya itu segera maju dan meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja, tepat di depan Reno.

"Apa ini?" tanya Reno dengan tangan bergetar.

"Bukalah di rumah saat kamu sedang santai bersama istri barumu dan ibumu," ujar Andini misterius. "Isi di dalam map itu akan menjawab semua doa-doa kesombonganmu selama ini tentang... penerus takhta keluarga Pratama."

Tanpa menunggu jawaban dari Reno, Andini berbalik dan melangkah pergi dengan anggun. Langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi hitam terdengar mantap, menandakan bahwa babak pertama dari pembalasan elegannya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!