menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Pagi itu suasana rumah Shinta sudah cukup ramai. Aroma nasi goreng buatan ibunya memenuhi ruang makan kecil di dekat dapur. Matahari bahkan belum terlalu tinggi, tetapi Shinta sudah sibuk berdiri di depan cermin ruang tamu sambil merapikan rambutnya. Sesekali dia memutar badan, memperhatikan pakaian formal yang baru dibelinya minggu lalu. Kemeja putih dengan blazer krem dan rok hitam selutut membuatnya terlihat jauh lebih dewasa.
Hari pertama kerja.
Sesuatu yang dulu selalu dia bayangkan akan terasa menegangkan justru membuatnya cukup bersemangat. Bukan karena mimpi besar tentang karier atau cita-cita menjadi wanita sukses seperti di drama-drama televisi yang terlalu rajin menjual khayalan. Shinta hanya memikirkan satu hal sederhana.
Gaji pertama.
“Baru hari pertama sudah memikirkan gaji saja,” ujar ibunya sambil tertawa kecil dari meja makan.
Shinta langsung berjalan mendekat lalu memeluk wanita itu dari belakang.
“Karena uang itu penyemangat hidup, Bu.”
Ibunya menggeleng pelan. “Kamu ini memang tidak berubah.”
“Kalau nanti sudah gajian, Ibu mau apa?” tanya Shinta sambil duduk di kursi makan.
Ibunya tampak berpikir sebentar. Namun akhirnya hanya tersenyum lembut.
“Ibu cuma ingin kamu betah bekerja.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
“Permintaan terlalu sederhana.”
Ibunya menatap putrinya cukup lama sebelum kembali bicara pelan.
“Kalau bisa… Ibu juga berharap kamu bertemu orang baik.”
Shinta langsung mendesah panjang sambil mengambil segelas teh hangat.
“Nah, mulai lagi.”
“Kamu kan tidak mungkin sendiri terus.”
“Kenapa tidak?” sahut Shinta santai. “Pria itu tidak penting sekarang. Yang penting cari uang, hidup tenang, makan enak, terus bahagia.”
Ibunya terkekeh mendengar jawaban itu.
“Kamu bicara seperti orang yang sudah kapok.”
Shinta hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Kapok memang kata yang cukup tepat. Putus cinta ternyata bukan cuma soal sedih beberapa minggu sambil mendengarkan lagu galau tengah malam seperti manusia-manusia menyedihkan di media sosial. Kadang setelah hubungan selesai, yang tertinggal justru rasa malas untuk memulai semuanya lagi dari awal.
Dari ruang depan terdengar suara ayahnya.
“Shinta! Berangkat sekarang kalau tidak mau terlambat!”
“Iya, Yah!”
Shinta segera berdiri lalu mengambil tas kerjanya. Sebelum pergi dia mencium tangan ibunya terlebih dahulu.
“Doakan anakmu sukses dan cepat kaya.”
Ibunya tertawa kecil. “Hati-hati di jalan.”
Begitu keluar rumah, ayahnya sudah duduk di dalam mobil sambil menunggu. Pria itu mengenakan kemeja proyek berwarna biru tua dengan helm kerja di kursi sampingnya.
Shinta masuk ke mobil sambil mengembuskan napas lega.
“Untung Ayah masih baik mau mengantar.”
“Ayah hanya tidak tega melihat anak sendiri naik angkutan umum di hari pertama kerja.”
“Padahal nanti pulangnya tetap naik angkutan umum.”
Ayahnya tertawa kecil lalu mulai menjalankan mobil.
Perjalanan menuju kantor cukup ramai. Jalanan pagi dipenuhi motor dan mobil para pekerja yang mengejar waktu. Kota memang selalu sibuk sejak matahari muncul. Semua orang seperti berlomba mencari uang demi bertahan hidup. Sebuah sistem luar biasa yang membuat manusia rela bangun pagi, terkena macet, dimarahi atasan, lalu mengulanginya lagi setiap hari.
Di tengah perjalanan Shinta menoleh ke arah ayahnya.
“Nanti pulang Ayah jemput lagi?”
Ayahnya menggeleng pelan.
“Tidak bisa. Ayah harus mengawasi pembangunan gudang sampai malam.”
“Oh…”
“Kamu tidak apa-apa pulang sendiri?”
Shinta mengangguk santai.
“Tenang saja. Aku sudah besar.”
Ayahnya melirik sebentar lalu tersenyum kecil.
“Kadang Ayah lupa kalau anak kecil yang dulu suka menangis karena tidak dibelikan es krim sekarang sudah kerja.”
Shinta tertawa kecil.
“Itu karena dulu Ayah pelit.”
“Ayah mendidik.”
“Bahasa orang tua kalau tidak mau disalahkan.”
Mobil akhirnya memasuki area gedung PT Dhamar. Bangunannya cukup besar dengan dominasi warna putih dan biru. Logo perusahaan terpampang jelas di bagian depan. Perusahaan itu bergerak di bidang makanan dan minuman ringan yang produknya cukup terkenal di beberapa kota besar.
Shinta turun sambil menatap gedung itu cukup lama.
Ada rasa gugup yang mulai muncul.
Ayahnya membuka kaca mobil sedikit.
“Semangat.”
Shinta mengangguk lalu tersenyum.
“Makasih, Yah.”
Setelah mobil ayahnya pergi, Shinta langsung menarik napas panjang sebelum berjalan masuk ke dalam gedung. Pendingin ruangan langsung terasa begitu pintu otomatis terbuka. Beberapa pegawai terlihat sibuk berjalan membawa dokumen dan laptop.
Shinta mendekati meja satpam di dekat lobi.
“Permisi, Pak. Saya pegawai baru. Mau bertemu Pak Radit.”
Satpam itu segera melihat daftar di meja.
“Nama?”
“Shinta Aprilia.”
Satpam itu mengangguk lalu mengambil telepon kantor.
“Selamat pagi, Pak. Pegawai baru pemasaran atas nama Shinta sudah datang.”
Beberapa detik kemudian dia kembali menatap Shinta.
“Silakan ke lantai dua, Mbak. Pak Radit sudah menunggu.”
“Terima kasih, Pak.”
Shinta langsung menuju lift. Tangannya sempat merapikan blazer beberapa kali karena gugup. Dia mencoba terlihat tenang walaupun jantungnya berdetak cukup cepat.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dua, seorang pria berusia sekitar empat puluhan sudah berdiri sambil tersenyum ramah.
“Shinta?”
“Iya, Pak.”
“Saya Radit.”
Pria itu menjabat tangannya dengan hangat.
“Selamat datang di tim marketing PT Dhamar.”
“Terima kasih, Pak.”
Pak Radit terlihat cukup ramah dan santai. Berbeda dari bayangan Shinta tentang manajer pemasaran yang biasanya galak dan suka bicara dengan nada tinggi seperti bos-bos di sinetron murahan yang entah kenapa selalu merasa hidupnya paling berat.
“Kamu tidak usah terlalu tegang,” ujar Pak Radit sambil berjalan memasuki area kantor. “Di sini santai, tapi tetap profesional.”
Shinta mengangguk cepat.
“Saya akan berusaha bekerja dengan baik, Pak.”
“Bagus. Saya suka pegawai yang semangat.”
Area marketing cukup luas. Deretan meja kerja tersusun rapi dengan beberapa pegawai yang sibuk mengetik di depan komputer. Ada yang sedang berdiskusi, ada juga yang terlihat fokus menatap layar laptop sambil meminum kopi.
Pak Radit bertepuk tangan pelan.
“Teman-teman, sebentar.”
Beberapa pegawai langsung menoleh.
“Kita kedatangan anggota baru.”
Shinta berdiri sedikit kikuk di samping Pak Radit.
“Perkenalkan, ini Shinta Aprilia. Mulai hari ini bergabung di tim marketing.”
Beberapa orang langsung menyambut ramah.
“Selamat datang.”
“Halo, Shinta.”
“Semangat kerja bareng kita.”
Shinta tersenyum sambil sedikit membungkuk sopan.
Namun senyum itu perlahan menghilang saat matanya menangkap satu sosok di sudut ruangan.
Pria itu duduk santai sambil menatap layar laptopnya. Kemeja hitam dengan lengan digulung membuat penampilannya terlihat rapi tetapi santai. Rambutnya sedikit lebih pendek dibanding terakhir kali Shinta melihatnya.
Andika.
Shinta langsung membeku beberapa detik.
Rasanya seperti ditampar kenyataan mendadak.
Dari sekian banyak perusahaan di kota ini, kenapa harus tempat ini?
Andika akhirnya mengangkat wajahnya pelan. Tatapan mereka bertemu sesaat.
Dan pria itu hanya terlihat biasa saja.
Tidak gugup.
Tidak terkejut berlebihan.
Tidak juga menunjukkan ekspresi emosional seperti yang diam-diam diharapkan Shinta.
“Shinta?”
Suara Pak Radit membuatnya tersadar.
“Iya, Pak?”
Pak Radit menunjuk ke arah pria itu.
“Nah, itu Andika Rahman. Senior marketing di sini. Nanti kalau ada yang ingin ditanyakan soal pekerjaan bisa tanya dia juga.”
Andika akhirnya berdiri lalu mendekat dengan langkah santai.
“Selamat datang.”
Nada suaranya datar. Sangat normal. Seolah mereka hanya dua orang asing yang baru bertemu.
Shinta menatap pria itu cukup tajam sebelum akhirnya menjawab singkat.
“Terima kasih.”
Beberapa pegawai lain tampak tidak menyadari ketegangan kecil di antara mereka.
Sementara Shinta justru sibuk menahan pikirannya sendiri.
Setahun.
Sudah setahun sejak mereka berpisah.
Dan Andika terlihat baik-baik saja.
Hal itu entah kenapa sangat menyebalkan.
Padahal selama ini Shinta sering membayangkan berbagai kemungkinan buruk tentang mantannya itu. Minimal hidupnya berantakan sedikit kek. Atau wajahnya jadi kusam karena stres. Atau berat badannya naik drastis. Sedikit penderitaan kecil demi menenangkan hati mantan pacar yang ditinggalkan. Hal yang cukup manusiawi sebenarnya. Walaupun tetap terdengar jahat kalau diucapkan keras-keras.
Namun kenyataannya Andika justru terlihat lebih rapi.
Lebih dewasa.
Dan yang paling menyebalkan… lebih tampan.
Manusia memang sering tidak adil. Terutama mantan.
Pak Radit kemudian menunjukkan meja kerja kosong milik Shinta yang ternyata tidak terlalu jauh dari meja Andika.
“Mulai hari ini kamu di sini.”
Shinta menarik napas pelan.
“Baik, Pak.”
“Kalau ada kesulitan langsung bilang saja.”
“Siap.”
Setelah Pak Radit pergi, suasana kembali normal. Beberapa pegawai mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Shinta duduk pelan sambil menyalakan komputer kantornya.
Namun pikirannya tidak tenang.
Sesekali matanya melirik diam-diam ke arah Andika.
Pria itu terlihat fokus bekerja sambil sesekali berbicara dengan rekan lain. Sangat santai. Sangat normal.
Seolah hubungan mereka dulu tidak pernah ada.
Shinta mendecakkan lidah pelan.
Menyebalkan sekali.
Beberapa menit kemudian seorang pegawai wanita mendekat sambil membawa mug.
“Hai, aku Rara.”
Shinta langsung tersenyum ramah.
“Shinta.”
“Kalau butuh bantuan bilang saja. Anak marketing di sini lumayan waras dibanding divisi lain.”
Shinta tertawa kecil.
“Berarti ada yang tidak waras?”
“Banyak.”
Mereka tertawa bersama.
Saat suasana mulai terasa sedikit nyaman, tiba-tiba sebuah map diletakkan di meja Shinta.
Dia mendongak.
Andika berdiri di depannya.
“Data produk untuk dipelajari.”
“Oh…”
“Pak Radit biasanya suka menjelaskan mendadak. Jadi lebih baik kamu baca dulu.”
Shinta menerima map itu pelan.
“Terima kasih.”
Andika hanya mengangguk singkat sebelum kembali ke mejanya.
Shinta memperhatikan punggung pria itu beberapa detik.
Dadanya terasa aneh.
Bukan sedih.
Bukan juga senang.
Hanya… rumit.
Ternyata bertemu mantan memang tidak pernah sesederhana kalimat “sudah move on.” Karena kenyataannya hati manusia bukan tombol lampu yang bisa dimatikan begitu saja. Kadang perasaan lama hanya tertidur, lalu tiba-tiba bangun saat melihat seseorang kembali hadir di depan mata.
Dan pagi pertama kerja Shinta mendadak menjadi jauh lebih melelahkan daripada yang dia bayangkan.