NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: KEMENANGAN SEMU

07:11:05

Vero membuka mata.

Dunia melambat. Suara bising kereta, obrolan penumpang, derit roda besi—semuanya terdengar jauh dan tidak relevan.

Di kepalanya, hanya ada satu daftar tugas. Daftar yang ditulis dengan darahnya sendiri.

 * Ambil gunting.

 * Lumpuhkan tangan kiri (pisau).

 * Patahkan jari kanan (pemicu).

 * Amankan pinggang belakang (pistol).

 * Potong kabel Hitam.

Vero bangkit. Gerakannya bukan lagi panik atau terburu-buru. Gerakannya cair dan presisi, seperti penari yang sudah melatih koreografinya ribuan kali.

Dia berjalan ke ujung gerbong. Ibu perajut itu baru saja hendak mengambil benang.

Vero tidak menyambar gunting itu dengan kasar kali ini. Dia membungkuk sedikit, tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya—dan berbisik, "Pinjam sebentar, Bu. Untuk menyelamatkan nyawa Ibu."

Sebelum si Ibu sempat bingung, gunting itu sudah berpindah tangan. Vero menyelipkannya di lengan kemeja, menyembunyikan ujung tajamnya.

Dia melangkah ke pintu penyambung gerbong. Dia menghitung detik dalam kepalanya.

Tiga... Dua... Satu.

Dia membuka pintu dengan tenang.

Pria Jaket Hitam di Gerbong 4 sedang menunduk, mengecek jam tangannya.

Vero tidak berlari. Berlari menarik perhatian. Berlari membuat target waspada.

Vero berjalan santai, seolah dia hanyalah penumpang yang mencari toilet atau kursi kosong. Dia melewati barisan kursi, semakin dekat, semakin dekat.

Jarak dua meter.

Pria Jaket Hitam itu mendongak. Instingnya bekerja.

"Hai," sapa Vero datar.

Sebelum pria itu sempat memproses siapa Vero, Vero sudah bergerak.

Bukan serangan frontal.

Vero menendang tulang kering kaki kanan pria itu sekuat tenaga.

Krak!

"ARGH!" Pria itu melolong, tubuhnya refleks membungkuk ke depan karena sakit.

Posisi sempurna.

Vero menangkap pergelangan tangan kiri pria itu—tangan pisau—dan memuntirnya ke belakang punggung hingga terdengar bunyi pop pada sendi bahu. Pisau lipat itu jatuh bahkan sebelum sempat ditarik.

Tangan kanan pria itu bergerak panik ke saku jaket luar. Pemicu.

Vero sudah mengantisipasinya. Dia menghantamkan siku kanannya tepat ke pelipis pria itu. Hantaman keras yang membuat mata berkunang-kunang dan orientasi hilang.

Vero merogoh saku jaket itu, menarik tangan si pria keluar bersama dengan pemicunya, lalu meremas jari-jari pria itu sekuat tenaga di sekeliling pemicu—menahannya agar tombol tidak tertekan.

"Lepaskan!" jerit pria itu.

"Diam," desis Vero.

Dia membanting pria itu ke lantai gerbong, menindih punggungnya dengan lutut.

Tangan kiri Vero meraba pinggang belakang pria itu. Dia merasakan dinginnya logam.

Glock 19.

Vero menarik pistol itu. Dia mengokangnya dengan satu gerakan cepat, lalu menempelkan laras dingin itu ke belakang kepala si Pria Jaket Hitam.

"Satu gerakan lagi," bisik Vero di telinga pria itu, "dan isi kepalamu akan menghiasi lantai ini sebelum bommu meledak."

Gerbong menjadi sunyi senyap. Penumpang yang tadinya mau berteriak histeris, kini membeku melihat pistol di tangan Vero. Ketakutan di wajah mereka bukan lagi pada bom yang tak terlihat, tapi pada "orang gila bersenjata" yang baru saja melumpuhkan penumpang lain.

"Mas... tenang Mas..." suara gemetar seorang bapak di kursi dekat jendela.

Vero mengabaikannya. Dia masih menekan kepala pria itu ke lantai.

Tangan kanannya—yang masih memegang gunting curian—terulur ke arah tas hijau yang tergeletak di samping mereka.

Ritsleting ditarik.

Kabel-kabel terlihat.

Merah. Biru. Kuning. Hitam.

Vero tidak ragu sedetik pun. Dia tidak berdoa. Dia tidak berharap. Dia tahu.

Gunting memotong kabel Hitam.

Ceték.

Lampu indikator di sirkuit bom itu berkedip sekali... lalu mati total.

Suara dengung halus dari mesin bom itu berhenti.

Vero menghembuskan napas yang dia tahan sejak bangun tidur tadi.

Selesai.

Dia menarik pemicu manual dari tangan si pelaku yang sudah lemas, lalu melemparkannya jauh-jauh ke ujung gerbong.

Vero berdiri perlahan, masih menodongkan pistol ke arah Pria Jaket Hitam yang mengerang kesakitan di lantai.

"Bangun," perintah Vero. "Duduk di kursi itu. Tangan di atas kepala."

Pria itu menurut, menyeret kakinya yang sakit, wajahnya babak belur. Dia duduk di kursi prioritas, menatap Vero dengan campuran rasa sakit dan... geli?

Vero melirik jam tangannya.

07:15.

Masih ada 45 menit sebelum pukul 08:00.

Vero menoleh ke arah penumpang lain. "Semuanya, dengarkan! Ada bom di tas itu. Saya baru saja mematikannya. Jangan ada yang mendekat! Panggil polisi di stasiun berikutnya!"

Beberapa penumpang mengangguk panik, segera mengeluarkan ponsel untuk menelepon polisi.

Vero kembali menatap Pria Jaket Hitam itu.

"Siapa kau?" tanya Vero. "Siapa yang menyuruhmu?"

Pria itu menyeka darah dari sudut bibirnya. Dia tersenyum miring. "Kau... kau tahu cara mematikannya. Kabel Hitam. Bagaimana kau tahu? Itu kabel jebakan bagi kebanyakan orang."

"Aku menebak," bohong Vero. "Kau tidak secerdas itu."

"Menebak..." pria itu terkekeh pelan. "Kau bergerak seperti sudah tahu langkahku. Kau tahu pisauku. Kau tahu pistolku." Matanya menyipit. "Kau sudah pernah ke sini sebelumnya, ya?"

Vero tidak menjawab. Dia menjaga jarak aman, pistol tetap terarah stabil.

Menit demi menit berlalu.

Kereta terus melaju. Stasiun Cikini terlewat. Stasiun Gondangdia terlewat.

Polisi belum bisa masuk karena kereta sedang melaju. Rencananya adalah menyergap di Stasiun Gambir atau Stasiun Pusat (Jakarta Kota).

07:30.

07:45.

07:55.

Ketegangan di gerbong itu begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau. Vero tidak menurunkan senjatanya sedetik pun. Lengannya mulai pegal, tapi dia tidak peduli.

"Sebentar lagi," batin Vero. "Lima menit lagi. Kalau lewat jam 8 dan tidak ada ledakan, loop ini selesai. Aku bebas."

Pria Jaket Hitam itu menatap jam digital di dinding gerbong.

Dia mulai bersenandung pelan. Lagu anak-anak yang menyeramkan.

"Tik tik tik bunyi hujan..."

"Diam!" bentak Vero.

"Kau pikir kau menang, Pahlawan?" tanya pria itu lembut.

"Bommu mati. Senjatamu padaku. Kau kalah," jawab Vero.

"Benar. Bom itu mati," kata pria itu, menekankan kata 'itu'.

Jantung Vero berdesir. "Maksudmu apa?"

Pria itu mencondongkan tubuh ke depan, mengabaikan laras pistol yang mengarah ke wajahnya.

"Kau pikir satu tas C-4 cukup untuk meruntuhkan Stasiun Pusat? Itu cuma kembang api pembuka. Itu cuma pengalih perhatian agar keamanan sibuk di peron atas."

Mata Vero membelalak.

Tidak.

07:59:30.

"Di mana yang lainnya?" tuntut Vero, menekan ujung pistol ke dahi pria itu. "DI MANA YANG LAINNYA?!"

"Di tempat yang tidak bisa kau jangkau," bisik pria itu sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi yang merah karena darah. "Tik... tok..."

07:59:50.

Kereta mulai melambat, memasuki area Stasiun Pusat.

Vero merasakan dingin yang menusuk tulang. Dia melihat ke luar jendela. Dia melihat peron stasiun yang ramai.

"Katakan!" teriak Vero.

08:00:00.

Hening.

Vero menahan napas.

Satu detik lewat.

Dua detik lewat.

Tidak ada ledakan dari tas hijau itu.

Vero hampir saja menurunkan bahunya karena lega. Mungkin pria ini hanya menggertak.

Tiba-tiba, lantai kereta berguncang hebat.

Bukan dari dalam gerbong. Tapi dari bawah.

BOOM!

Ledakan itu tidak datang dari tas hijau.

Ledakan itu datang dari rel kereta di jalur sebelah, tepat saat kereta berpapasan dengan kereta Kargo yang sedang parkir.

Gerbong Vero terangkat ke udara akibat gelombang kejut yang masif.

Vero terlempar, menghantam langit-langit gerbong.

Pistol terlepas dari tangannya.

Dunia berputar dalam gerakan lambat (slow motion) yang mengerikan.

Vero melihat api oranye yang jauh lebih besar daripada ledakan sebelumnya, melahap gerbong demi gerbong.

Dia melihat Pria Jaket Hitam itu tertawa tanpa suara di tengah kekacauan, sebelum tubuhnya sendiri hancur tertimpa reruntuhan atap stasiun yang rubuh.

"Ada... dua..." batin Vero saat panas membakar kulitnya.

"Bukan satu bom. Dua bom."

Dan dia gagal.

Meski dia melakukan segalanya dengan sempurna. Meski dia menjadi dewa perang dan ahli penjinak bom.

Informasinya tidak lengkap.

Kesadaran Vero memudar seiring dengan rasa sakit yang absolut.

Gagal.

Sentakan kasar.

Vero terbangun.

Mata terbelalak lebar, menatap langit-langit logam yang sama.

Napasnya tercekat.

Bukan karena kaget. Tapi karena putus asa yang mendalam. Rasa lelah yang luar biasa menghantam jiwanya lebih keras daripada kematian fisik manapun.

Dia menangis.

Tanpa suara, air mata mengalir deras di pipinya.

Dia sudah melakukan segalanya. Dia sudah menang. Tapi kematian tetap datang.

"Mas? Mas kenapa nangis?"

Suara wanita tua itu. Lembut. Khawatir.

Vero tidak menjawab. Dia tidak bisa menjawab.

Dia mengangkat tangan kirinya yang gemetar.

07:12:05.

Waktu start mundur lagi.

Dan sekarang dia tahu kebenaran yang mengerikan: Musuhnya bukan hanya satu pria dengan satu tas.

Musuhnya adalah sebuah konspirasi. Jaringan.

Dan dia hanya punya waktu kurang dari 48 menit untuk menemukan bom kedua yang dia tidak tahu bentuknya, lokasinya, atau pelakunya.

Vero menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Di dalam kegelapan telapak tangannya, sebuah tawa gila mulai terbentuk.

"Oke," bisiknya parau. "Oke."

Dia menurunkan tangannya. Air matanya sudah kering, digantikan oleh tatapan mata yang kosong namun tajam setajam silet.

Permainan baru saja naik level.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!