Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Bertengkar.
"Dimana dokternya, Om??Jill harus punya anak. Kalau Jill nggak punya anak, Om akan tinggalkan Jill, perusahaan itu.. Uang Jill????"
"Besok kita bicarakan ini lagi, tenagamu belum pulih. Kamu butuh istirahat." Kata Bang Reigar sambil menggandeng tangan Jilly.
Dengan kasar Jilly menarik tangannya. "Nggak mau, Jill mau tanya dulu ke dokter."
Bang Reigar menarik tangan Jilly sedikit kasar. Selain lelah fisik, mentalnya pun serasa terus di uji.
"Apakah kejadian hari ini belum cukup memberimu pelajaran????" Bentak Bang Reigar. "Kau tau berapa banyak orang yang sudah saya makin saya injak karena kamu celaka????"
Jill melirik Bang Reigar dengan ekor matanya. Ia ingin memastikan bahwa suaminya itu masih bisa di tenangkan.
"Kamu lihat mahakarya hasil arahanmu..!! Pipa air retak, kursi patah, seisi rumah berserakan, gorden jadi keset, kamar sebelah catnya belang. Sebenarnya ada apa setelah saya tinggal tadi????" Imbuh Bang Reigar kemudian menatap mata Jilly dengan tajam. "Sekarang masuk, kepala saya sudah pusing..!!!"
Mendengar nada tinggi Bang Reigar, Jilly mendadak gelisah tapi ia juga takut jika Bang Reigar pergi meninggalkannya. Jujur dalam hatinya masih takut jika keluarganya membahas tentang perusahaan yang sama sekali tidak ia kuasai ilmunya.
"Jill yang pusing, Jill yang kena pukul. Kenapa jadi Om????? Itu juga tugas Om sebagai bodyguard Jill, kan????"
"Nantang betul kau, ya???? Apa pernah terpikir di kepalamu, jika saya tidak datang, bukan hanya tendangan yang kau dapatkan. Kau pun bisa di apa-apakan laki-laki b*****t itu. Sebo*ohnya kau, seharusnya bisa kau pertimbangkan hal sepele seperti itu."
Jill kesal, ia mengambil uang dari sebuah kantong dalam lemari hias lalu menyerahkannya pada Bang Reigar. "Ini uang untuk bayar Om jadi bodyguard."
Kemarahan Bang Reigar mendadak memuncak mendengar jawaban Jilly. Ia menepak uang tersebut lalu menghantam lemari kaca di belakang jilly.
pyyrrr..
Suaranya begitu mengagetkan Jilly ia tersudut di lemari kaca tersebut. Tubuhnya gemetar melihat Bang Reigar terus menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Jika kehormatan istri saya hilang, uangmu tidak akan bisa membeli harga diri dengan cara apapun. Bisakah kamu menghargai saya sedikit saja????? Saya tidak ikhlas tu*uhmu di jamah pria lain..!!!!"
"Aaaaaaaa..!!!!" Jilly terpekik kaget. Kali ini Jilly melihat sisi lain dari Bang Reigar. Pria itu nampak begitu menakutkan jika sedang marah.
"Berapa uang yang kamu punya sampai berani membayar saya??????" Bentak Bang Reigar sekali lagi.
Jilly dua kali lipat kaget mendengar nada tinggi Bang Reigar. Ia merasa uangnya sama sekali tidak berguna dan tidak bisa menggunakan uangnya.
Akhirnya Air mata Bang Reigar tumpah juga, mengalir deras di pipi tegasnya. Pandangannya kini terasa sangat sedih, penuh kepedihan yang mendalam saat menatap wajah pucat istrinya.
"Kita menikah karena terpaksa, haruskah sikapmu seolah Jill ini istrimu sungguhan?" Tanya Jill bingung dengan sikap Bang Reigar padanya.
"Apa kau bilang??"
Melihat reaksi suaminya, Jilly menelan ludah dengan kasar. Pikirannya tak karuan karena terlalu takut.
"Adakah kepura-puraan saat saya ijab qabul?? Tuhan mengirimkanmu padaku. Kamu satu‑satunya hal suci, satu‑satunya kebanggaan, satu‑satunya milik saya yang paling berharga di antara apapun yang saya punya." Jawab Bang Reigar tulus.
"Bagaimana kalau Jill tidak suci??? Bagaimana kalau hati dan niat Jill tidak sama denganmu??? Bagaimana kalau Jill hanya ingin menyelamatkan harta dan wajah Jill dari rasa malu dan tidak pernah cinta sama kamu, Om Reigar????" Pekik Jilly frustasi.
Tatap mata Bang Reigar masih belum beralih dari Jilly. "Abang tidak tau kenapa ada kata jatuh cinta. Mungkin karena saat Tuhan menuntun Abang melabuhkan perasaan pada lawan jenisnya itu terasa sangat sakit. Jawabanmu itu cukup ampuh untuk membunuh Abang secara perlahan." Ucap Bang Reigar tegas. "Yang kamu bilang terpaksa itu, adalah keseriusan saya. Letnan Satu Rihia Jordan Herfal Reigar.. tak pernah main-main dalam berjanji, apalagi di hadapan Tuhan, untuk menjagamu."
Bibir Jilly serasa terkunci, harap banyak kata yang bisa terucap, tapi mulutnya kelu. Ia tidak cinta tapi menangis sejadi‑jadinya. Jilly menghambur dan memeluk dengan sekuat tenaga meski tubuhnya masih terasa sakit. Ia menyadari kebodohannya yang luar biasa. Ia yang merasa paling tersakiti, ternyata suaminya jauh lebih tersakiti oleh kelancangannya sendiri. Baru kali ini ia melihat suaminya yang garang sampai menangis.
Bang Reigar balas membelai rambut sang istri dengan tangannya yang kasar namun penuh kasih sayang. Ia lalu mengecup puncak kepala Jilly begitu dalam.
Untuk sejenak mereka larut dalam suasana dan terhanyut dalam rasa. Perlahan wajah keduanya saling mendekat, bibir pun saling mengecup hingga Bang Reigar mendominasi bi*ir mereka untuk saling beradu. Semua terasa damai mengisi kesunyian.
Sebagai seorang pria yang sudah pernah merasakan hangatnya tubuh seorang wanita tentu Bang Reigar menginginkan hal yang lebih. Di saat yang sama, Jilly tidak paham akan perasaannya, takut namun tak kuasa menolak saat Bang Reigar mengangkat kedua pahanya di pinggang.
Tapi saat merasakan Jilly merintih sakit pada memar di perutnya, Bang Reigar menyudahi semua. "Istirahatlah..!! Hati-hati jalan ke kamar. Banyak pecahan kaca..!!" Ia menurunkan Jilly, membiarkan gadis kecilnya itu pergi.
Jilly menggigit bibirnya dengan wajah memerah lalu menuju kamarnya.
Setelah Jilly pergi, Bang Reigar membersihkan sisa kekacauan yang baru saja terjadi. Namun bayang Jilly tak begitu saja hilang. Setelah semua beres, Bang Reigar menuju kamar mandi dan langsung mengguyur dirinya dengan air dingin, sedingin es khas daerah pegunungan, berharap agar batinnya yang tengah panas bisa tenang.
"Aku tau, aku jatuh cinta. Cinta pada gadis kecil pilihanku yang setiap saat setiap waktu menguji kesabaran."
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭