Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: RAPAT DEWAN BENCANA
Hening yang biasanya menyelimuti ruang tengah paviliun itu kini menguap, berganti atmosfer yang terasa sesak dan berat layaknya cairan merkuri. Di sekeliling meja bundar dari kayu mahoni, tiga wanita dengan kekuatan penghancur setara senjata pemusnah massal duduk bersila.
Reynarda mematung dengan postur ksatria yang sempurna. Di seberangnya, Elysia mengambang beberapa sentimeter di atas kursi, memejamkan mata sembari menyelami keheningan. Sementara itu, Valeria tampak bersandar malas di sofa dengan kaki menyilang, jemarinya sibuk memutar-mutar belati bayangan dengan lihai.
Di tengah ketegangan tersebut, Axel berdiri menghadap sebuah papan tulis sihir yang biasa digunakan untuk evaluasi taruna.
"Host, Nona Ksatria Suci di sebelah kiri Anda sedang menatap leher Anda dengan pupil yang melebar dua puluh persen. Dia sama sekali tidak menyimak ucapan Anda; dia sedang berfantasi."
Suara AI yang sarkas berdengung di dalam kepala Axel. Pemuda itu hanya bisa berdehem pelan, mencoba mengabaikan komentar tersebut, lalu mengetuk papan tulis dengan spidol sihir.
"Bisa minta perhatiannya sebentar?" ucap Axel tegas.
Seketika, tiga pasang mata yang mematikan itu langsung tertuju padanya dengan kepatuhan yang luar biasa.
"Aku mengumpulkan kalian bertiga malam ini bukan untuk membahas jadwal rotasi," Axel membuka pembicaraan sembari menatap mereka satu per satu. "Aku punya teori. Penurunan kewarasan kalian yang terjadi hampir bersamaan ini... bukanlah kebetulan, apalagi sekadar kelelahan biasa."
Reynarda mengernyit. "Maksudmu ada yang menyabotase mental kami, Axel? Siapa yang cukup berani dan memiliki kekuatan sebesar itu?"
"Itulah yang ingin kucari tahu," jawab Axel. "Aku memang tidak paham soal sihir, tapi aku mengerti pola. Nalar logis mengatakan bahwa merusak pikiran pilar pelindung kekaisaran, penyihir terkuat, dan penguasa dunia bawah secara bersamaan adalah strategi untuk melumpuhkan pertahanan benua ini dari dalam."
Valeria berhenti memutar belatinya. Mata merah gelapnya menyipit tajam. "Jika ada yang berani menanamkan parasit di kepalaku, aku akan memastikan ususnya kujadikan tali jemuran. Tapi pertanyaannya, bagaimana caranya? Aku tidak pernah membiarkan penyusup mendekatiku."
"Tanyakan pada mereka tentang barang peninggalan atau hadiah yang mereka terima tepat sebelum gejala suara bising itu dimulai, Host," instruksi AI di kepala Axel. "Parasit jiwa membutuhkan media fisik untuk berakar."
Axel mengangguk pelan, seolah sedang berpikir sendiri. "Coba ingat-ingat. Apakah ada benda asing, artefak, atau hadiah yang kalian terima—bahkan dari orang kepercayaan—tepat sebelum sakit kepala dan halusinasi kalian dimulai?"
Ruangan itu hening sejenak. Elysia menjadi yang pertama membuka mata.
"Satu bulan yang lalu," suara sang peri terdengar dingin bak kristal es. "Dewan Tetua Menara Sihir memberiku sebuah jepit rambut dari kristal Aetherium kuno. Mereka bilang itu untuk membantuku fokus. Sejak aku memakainya, suara elemen alam berubah menjadi jeritan yang menyiksa."
Reynarda tersentak, wajahnya sedikit memucat. "Lencana Emas Kedamaian... dari Uskup Agung Kekaisaran. Diberikan padaku setelah kampanye penaklukan wilayah utara. Kepalaku mulai dipenuhi bisikan gelap sejak lencana itu disematkan di zirahku."
Valeria mendecih kasar, aura bayangannya meletup-letup menahan amarah. "Ajudan kepercayaanku, yang sudah kubunuh bulan lalu karena berkhianat. Sebelum dia mati, dia memberiku sebuah cincin pelindung kutukan. Sialan. Cincin itu yang memicu paranoiaku."
"Bawa benda-benda itu ke atas meja. Sekarang," perintah Axel.
Ketiga wanita itu tidak membantah. Elysia mengeluarkan jepit rambut cantiknya dari dimensi saku. Reynarda melepas lencana emasnya. Valeria melemparkan sebuah cincin perak berukir tengkorak ke atas meja. Axel menatap ketiga benda yang tampaknya tidak memiliki hubungan satu sama lain tersebut.
"Mundur tiga langkah, Host. Dan suruh Nona Peri untuk menghancurkan cangkang ilusi dari benda-benda itu. Saya mendeteksi radiasi kutukan kuno tingkat tinggi."
"Elysia, bisakah kau memecahkan sihir pelindung pada ketiga benda ini tanpa merusaknya?" Axel memundurkan langkahnya demi keselamatan.
Elysia mengangguk pelan. Tangan putihnya terulur ke atas meja. Dengan satu jentikan jari yang elegan, gelombang mana murni menyapu ketiga benda tersebut.
KRAAAK!
Cangkang ilusi yang selama ini menutupi artefak-artefak itu pecah. Seketika, aura hitam pekat yang menjijikkan dan berbau busuk menguar dari ketiganya. Di tengah jepit rambut, lencana, dan cincin itu, masing-masing terdapat sebuah mata merah kecil yang berdenyut-denyut seperti makhluk hidup, menatap tajam ke sekeliling ruangan.
"Parasit Jiwa Mata Merah," desis Elysia, aura hijau membunuh langsung meledak dari tubuhnya. "Ini adalah sihir hitam terlarang dari Sekte Dewa Kuno."
Reynarda langsung menghunuskan pedangnya, tidak sudi benda suci gereja dikotori oleh sihir sekte sesat. Dengan satu tebasan ringan yang dilapisi cahaya keemasan, ketiga benda itu hancur berkeping-keping. Suara jeritan melengking yang mengerikan terdengar sejenak sebelum parasit-parasit itu hangus terbakar menjadi abu.
Begitu parasit itu hancur, Reynarda, Elysia, dan Valeria secara serentak membuang napas lega. Rasa berat yang selama berbulan-bulan mengganjal di sudut pikiran mereka mendadak terangkat sepenuhnya. Axel melirik panel sistemnya. Angka kewarasan mereka bertiga langsung melompat drastis menembus angka delapan puluh persen dan perlahan terus naik.
"Selamat, Host," puji AI dengan nada sarkas yang khas. "Anda baru saja menyembuhkan mereka dari sumber penyakitnya. Sayangnya, tindakan heroik Anda ini memiliki efek samping."
"Efek samping apa?" batin Axel.
Axel mendongak dan menatap ketiga wanita itu. Mereka bertiga kini menatap Axel dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya mereka bergantung pada Axel seperti orang sakit yang membutuhkan obat, kini tatapan mereka dipenuhi oleh pemujaan mutlak, rasa hormat, dan cinta obsesif yang mengakar jauh lebih dalam dari sekadar ketergantungan.
Axel adalah pria yang menemukan akar penderitaan mereka. Pria yang menyelamatkan mereka dari konspirasi yang ditanamkan oleh orang-orang terdekat. Di mata Reynarda, Axel adalah satu-satunya kebenaran suci yang tersisa. Di mata Elysia, Axel adalah dewa yang membawakan kedamaian. Di mata Valeria, Axel adalah raja sejati yang harus dilindungi dari seluruh dunia.
Valeria berdiri lebih dulu. Sang Ratu Dunia Bawah itu berjalan menghampiri Axel, lalu berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam sebuah gestur kesetiaan tertinggi.
"Uskup Agung Kekaisaran, Dewan Tetua Menara Sihir, dan sisa-sisa pengkhianat di Dunia Bawah," ucap Valeria dengan suara mematikan. "Mereka semua telah bersekongkol untuk menghancurkan kami."
Reynarda melangkah maju dan berdiri di sisi kanan Axel, pedangnya tertancap di lantai. "Dan karena kau telah menggagalkan rencana mereka, mereka pasti akan segera menyadari anomali ini. Mereka akan mengincarmu, Axel."
Elysia melayang turun, mendarat di sisi kiri Axel dengan akar-akar berduri yang mulai merambat di dinding ruangan. "Maka kita tidak akan menunggu mereka datang."
Ketiga wanita mematikan itu menatap ke arah pintu paviliun yang menembus kegelapan malam, menyatukan kekuatan mereka untuk pertama kalinya dalam sejarah.
"Mulai malam ini," deklarasi Reynarda, suaranya sedingin baja yang baru ditempa. "Siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambut saja dari asisten pribadiku... akan menghadapi perisai kekaisaran, badai elemen, dan bayangan kematian secara bersamaan."
Axel menelan ludah, berdiri kaku di tengah-tengah tiga bos terakhir dari game kehidupan ini.
"Tuh, kan. Saya sudah bilang, Host," AI terkekeh di dalam kepalanya. "Anda baru saja merakit sel teroris paling mematikan di dunia. Semoga beruntung mengendalikan mereka besok pagi."