NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 TAMU DARI BANK SUKA

Pagi itu suasana Workshop Konveksi Berkah Gang Seng tampak lebih sibuk dari biasanya.

Pesanan seragam sekolah yang datang bertubi-tubi membuat belasan mesin jahit komputerisasi bekerja tanpa henti. Suara dengung mesin bercampur dengan obrolan para pekerja yang saling berkoordinasi.

Di sudut ruangan, Rian sedang memeriksa kualitas jahitan sambil mencatat hasil produksi ke dalam buku besar.

"Yang ini masih kurang rapi di bagian kerahnya. Ulang lagi ya," ucapnya kepada salah satu pekerja baru.

"Siap, Kak Rian."

Sementara itu, Abdul baru saja selesai memeriksa laporan keuangan bulanan ketika sebuah mobil sedan berwarna silver perlahan berhenti di depan workshop.

Abdul mengangkat alis.

Ia tidak mengenali kendaraan itu.

Dua orang turun dari dalam mobil.

Seorang pria sekitar empat puluh tahun mengenakan kemeja putih rapi dan seorang wanita muda berpakaian formal dengan map dokumen di tangannya.

Mereka berjalan menuju pintu masuk workshop.

"Selamat pagi. Apakah kami bisa bertemu dengan Pak Abdul?" tanya pria tersebut dengan ramah.

Abdul berdiri.

"Saya Abdul."

Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan.

"Perkenalkan, saya Hendra."

"Dan ini rekan saya, Bu Siska."

"Kami dari Bank Suka."

Seketika jantung Abdul berdetak sedikit lebih cepat.

Namun wajahnya tetap tenang.

"Oh, silakan duduk dulu."

 

Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk di ruang tamu kecil workshop.

Bu Siska membuka map dokumennya.

Sedangkan Pak Hendra tersenyum sopan.

"Pak Abdul tidak perlu tegang."

"Kedatangan kami bukan karena ada masalah."

Abdul tersenyum kecil.

"Syukurlah."

Pak Hendra tertawa ringan.

"Justru sebaliknya."

"Bank kami sedang melakukan program peningkatan layanan untuk nasabah prioritas."

"Kebetulan rekening Pak Abdul termasuk salah satu yang berkembang sangat cepat."

Abdul mengangguk pelan.

Di dalam hati ia mulai memahami arah pembicaraan ini.

"Jadi maksud Bapak?"

Pak Hendra mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam elegan.

"Kami ingin menawarkan status Nasabah Prioritas Bank Suka."

Dengan status itu Abdul akan mendapatkan berbagai fasilitas.

Antrian khusus.

Layanan konsultasi keuangan.

Pendamping pribadi.

Dan berbagai keuntungan lainnya.

Semuanya terdengar normal.

Sangat normal.

Terlalu normal.

Namun semakin normal pembicaraan ini, semakin membuat Abdul waspada.

Karena ia tahu alasan sebenarnya mereka datang bukan sekadar menawarkan layanan premium.

Mereka sedang mengamatinya.

Hanya saja mereka melakukannya dengan cara yang sangat halus.

 

Setelah berbincang hampir setengah jam, Pak Hendra akhirnya menutup mapnya.

"Kalau boleh jujur, Pak Abdul."

"Saya pribadi cukup kagum."

Abdul tersenyum.

"Kagum kenapa?"

"Karena dalam waktu kurang dari setahun, usaha Bapak berkembang sangat pesat."

Pak Hendra melirik ke arah workshop.

"Jarang ada pengusaha muda yang bisa menciptakan lapangan kerja sebanyak ini."

Abdul hanya tertawa kecil.

"Alhamdulillah."

Ia sengaja memberikan jawaban sederhana.

Tidak terlalu banyak.

Tidak terlalu sedikit.

Pak Hendra mengangguk.

Lalu mereka pun berpamitan.

 

Namun setelah mobil sedan itu pergi, Abdul tidak langsung kembali bekerja.

Ia berdiri di depan workshop sambil memperhatikan kendaraan tersebut menghilang di tikungan jalan.

Jaka mendekat.

"Itu siapa?"

"Orang bank."

Jaka langsung melotot.

"Hah?"

"Mau nagih utang?"

Abdul tertawa.

"Gak."

"Mereka cuma nawarin layanan prioritas."

"Oh."

Jaka menghela napas lega.

"Soalnya tadi aku kira ada masalah."

Abdul tersenyum tipis.

Masalah memang belum ada.

Tapi instingnya mengatakan sesuatu.

Bank mulai memperhatikannya lebih serius.

 

Sementara itu...

Di kantor pusat Bank Suka.

Pak Hendra dan Bu Siska baru saja kembali dari kunjungan mereka.

Mereka memasuki ruang rapat kecil yang digunakan tim audit khusus.

Seorang pria berkacamata duduk menunggu di sana.

Namanya Arman.

Analis IT yang sejak beberapa minggu terakhir menangani kasus rekening Abdul.

"Gimana hasilnya?" tanya Arman.

Pak Hendra menarik kursi.

"Lumayan menarik."

"Orangnya normal."

"Usahanya nyata."

"Workshop ada."

"Karyawan banyak."

"Pembangunan rumah juga nyata."

Arman mengangguk.

"Itu berarti uangnya memang digunakan."

"Betul."

Pak Hendra menyandarkan tubuhnya.

"Tapi tetap saja."

"Jumlah pemasukan rekeningnya tidak masuk akal."

Ruangan kembali hening.

Bu Siska membuka catatannya.

"Pak Abdul juga terlihat sangat tenang."

"Seolah dia sendiri tidak menganggap uang miliaran itu sesuatu yang aneh."

Kalimat itu membuat Arman mengerutkan dahi.

Justru itulah yang paling membuat mereka bingung.

Jika seseorang tiba-tiba menerima uang miliaran secara misterius, biasanya akan panik.

Takut.

Atau minimal penasaran.

Namun Abdul terlihat biasa saja.

Seolah semua itu adalah bagian normal dari hidupnya.

 

Siang hari.

Abdul kembali mengunjungi lokasi pembangunan panti.

Progres pembangunan berjalan sangat baik.

Kerangka lantai dua mulai terlihat.

Anak-anak panti tampak bersemangat setiap kali melihat bangunan baru mereka tumbuh sedikit demi sedikit.

Doni bahkan sudah memiliki kebiasaan baru.

Setiap sore ia datang membawa buku pelajaran dan duduk di dekat area pembangunan.

"Belajar lagi?"

tanya Abdul.

Doni mengangguk.

"Iya."

"Biar cepet jadi dokter."

Abdul tertawa.

"Rajin banget."

Doni tersenyum malu-malu.

Lalu ia membuka buku matematikanya.

Namun beberapa menit kemudian wajahnya berubah kusut.

"Kak..."

"Hm?"

"Aku gak ngerti soal ini."

Abdul duduk di sampingnya.

Mereka pun menghabiskan hampir satu jam membahas pecahan dan pembagian sederhana.

Ketika akhirnya Doni berhasil menjawab soal dengan benar, wajah bocah itu langsung bersinar.

"Bisa!"

teriaknya girang.

Abdul ikut tersenyum.

Kadang kebahagiaan ternyata sesederhana melihat seorang anak memahami pelajaran yang sebelumnya dianggap mustahil.

 

Malam hari.

Setelah semua aktivitas selesai, Abdul kembali ke rumah.

Hari itu terasa cukup panjang.

Bank datang.

Panti berkembang.

Konveksi makin ramai.

Dan bapaknya kini sudah mampu berjalan beberapa langkah menggunakan tongkat.

Sebelum tidur, Abdul sempat menemani bapaknya duduk di teras.

Mereka memandang langit malam bersama.

Tidak banyak kata yang diucapkan.

Namun keheningan itu terasa nyaman.

Sangat nyaman.

 

Ketika malam semakin larut, Abdul akhirnya tertidur.

Di dalam mimpinya kali ini...

Ia berada di sebuah gedung sekolah yang sangat besar.

Ratusan anak mengenakan seragam baru.

Mereka berjalan masuk kelas sambil tertawa bahagia.

Di tengah halaman sekolah berdiri sebuah papan besar.

Di atas papan itu tertulis:

PROGRAM BEASISWA MASA DEPAN

Dan tepat di bawah tulisan tersebut terdapat angka yang sangat jelas.

Rp80.000.000,00

Angka itu bersinar terang.

Semakin terang.

Semakin terang.

Hingga seluruh dunia mimpi berubah menjadi cahaya keemasan.

 

Pukul 04.50 subuh.

Di dunia nyata.

Ponsel Abdul kembali menyala.

Tulisan sistem muncul perlahan.

[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]

[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Program Beasiswa Pendidikan.]

[Nominal Akumulasi Visual Dalam Mimpi: Rp80.000.000,00.]

[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]

[Proses Berhasil.]

[Pengiriman Dana Sedang Berlangsung...]

Bzzzt...

SMS masuk kembali terkirim.

Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir...

Abdul kembali menerima dana dari mimpinya.

Sementara jauh di kantor pusat Bank Suka...

Sebuah perintah baru diam-diam diterbitkan.

Lakukan pemantauan lanjutan terhadap rekening Abdul.

Tanpa diketahui siapa pun...

Rasa penasaran mereka mulai berubah menjadi obsesi.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!