Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan Alvin
Karena kemarahan Renata, restoran itu terpaksa tutup lebih cepat.
Pecahan kaca berhamburan di lantai, para pengunjung yang belum sempat dilayani terpaksa pulang.
Sedangkan sebagian besar teman-teman Renata berusaha menenangkan perempuan yang kini terduduk lemas dengan sisa-sisa kemarahan.
Dia belum pernah merasa tidak diinginkan seperti sekarang dan ini melukai perasaannya. Hari ini, dia melakukan hal paling memalukan hanya untuk Gavin. Renata, seseorang yang cukup populer yang selalu dipuja-puja lelaki mana pun. Merasa tersaingi oleh perempuan lain dan menunjukkan sifat defensif. Namun sikap dingin dan penolakan dari Gavin adalah batasnya. Walaupun mencintai laki-laki itu, Renata tak mau mengemis. Tapi melihat perhatian Gavin yang berlebihan pada Azalia, itu hal yang berbeda. Belum pernah Renata dipermalukan seperti sekarang. Gavin pergi tanpa menolehnya sedikitpun.
Tanpa dia tahu, Gavin sendiri hampir tak bisa menahan diri dengan sikap Renata pada Azalia malam ini.
Alvin baru masuk saat dia menemukan Gavin duduk manis dan menyesap coffee di sofa kesayangan Azalia.
"Ada apa?" Alvin bahkan belum sempat duduk.
"Bagaimana keadaan Azalia?" Alvin balik bertanya. Gavin menghela napas panjang. Azalia mungkin baik-baik saja, tapi ada hal lain yang mengganjal di hatinya.
Laki-laki itu memijat pelan pelipis dan menatap Adiknya. "Sudah bubar?" tanya Gavin tiba-tiba.
Alvin menggeleng tak yakin.
"Aku pergi tak lama setelah kalian pulang."
Gavin menyandarkan punggungnya. "Soal kejadian tadi, kau sudah memeriksanya?"
Alvin menghela napas panjang, seolah ada beban yang begitu berat dalam pikirannya.
Gavin mengerti.
Gavin benar-benar tak pernah tak setia. Dia tak pernah berkhianat lebih dulu pada setiap perempuan yang dikencaninya. Jika hubungan mereka berakhir, itu pun tak pernah karena kesetiaan. Renata adalah seorang perempuan yang pernah dia ingin ajak menikah. Dia pernah begitu serius dengan perempuan itu. Namun Gavin mulai sanksi dengan perasaannya untuk Renata, seharusnya dia tidak boleh begitu mudah berkhianat dan goyah. Seharusnya dia tidak menyukai dan menginginkan perempuan selain kekasihnya. Dia begitu mudah melupakan keberadaan Renata saat bersama dengan Azalia. Dia merasa begitu menggampangkan cinta dan kesetiaan. Jika dia memang mencintai Renata, harusnya dia bisa menjaga perasaan perempuan itu.
Gavin mulai nyaman dengan keberadaan Azalia di sisinya. Saat Azalia bahagia, dia ikut bahagia dan saat gadis itu sedih atau terluka, hal itu pun menyakiti perasaannya. Mungkin itu perasaan baru, Gavin seolah lupa jika pernikahannya hanya kesepakatan. Kini, baginya perempuan itu adalah istrinya. Perasaan bersalah pada Renata yang dulu selalu menghantui Gavin, seakan menguap karena kejadian hari ini.
Sebuah fakta yang baru diketahui hari ini serasa meremas jantung Alvin. Fakta bahwa Renata tak selembut yang dilihat. Fakta bahwa Gadis itu sangat manipulatif dan pandai berpura-pura.
"Boleh aku kecewa?" lirih Alvin, seolah bertanya pada diri sendiri.
Gavin tertegun, dia sadar bahwa dirinya memang bersalah pada Renata. Namun hati manusia sungguh semudah itu mengalahkan akal. Berapa kali pun dia mengingatkan bahwa sikapnya pada Renata tak adil, yang terpikir hanya sosok istri dan kesehatannya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Saat Azalia bangun pagi ini, dia menemukan catatan yang ditinggalkan oleh Gavin. Abu dan perawat sudah berdiri di depan pintu.
Azalia menuju ke kamar mandi, sedikit bergegas karena sudah agak kesiangan. Dia hampir menggeser pintu walk in closet saat Gavin muncul dari dalam. Laki-laki itu sudah rapi siap berangkat ke kantor. Azalia tersentak karena berpikir tak ada orang di kamar mereka, ia pikir Gavin sudah berangkat sejak tadi. Bola matanya melebar dan mulutnya membuka walaupun tak ada suara yang keluar. Saat Azalia ingat penuturan Gavin di buku catatan hariannya, semburat merah tercipta di pipinya pagi itu dan dia menunduk cepat.
Gadis itu berdiri saja di depan pintu tak bergerak, hingga Gavin mengangkat dagunya. Azalia gelagapan. Dia sudah bersiap-siap untuk meminta maaf pada Gavin, namun tiba-tiba Gavin melesat cepat menjauh.
Azalia belum sempat melangkah, saat tiba-tiba Gavin sudah menyeka hidungnya.
"Aku... "
"Tidak apa-apa." potong Gavin cepat. Dia tahu apa yang ingin Azalia tanyakan.
Jemari kokoh Gavin masih setia menangkup dagu istrinya dan sesekali membelai ringan.
"Aku bantu kau mandi." ujar Gavin tiba-tiba.
Azalia menolak. Tentu dia tidak mau.
Dia tak mengatakan apa pun dan tak menoleh barang sedikit pun. Azalia menuju toilet kemudian mengetuk kepala berkali-kali, berusaha mengusir desir di dada yang masih bisa dirasakannya hingga kini karena tawaran Gavin.
Begitu Azalia masuk toilet. Gavin duduk di kursi dan menopang wajah dengan kedua tangan, menenggelamkan diri dalam ingatan dimana Azalia semakin sering mimisan.
Gavin tak bisa fokus pada apa pun. Tawarannya tadi karena kekhawatiran yang tak bisa ia tekan. Setiap kali melihat darah yang keluar dari hidung istrinya, Dia sangat ketakutan waktu akan merenggut gadis itu darinya.
Gavin berdecak pelan. Kembali kepalanya terasa berat, dia memikirkan tentang Azalia. Gadis itu pasti terkejut mendengar ucapannya tadi.
Gavin meraih ponsel dan menghubungi Dokter Wahyu. Kelibat wajah Azalia yang sedang mimisan mengiris hatinya.
Begitu panggilan terjawab. Gavin langsung bergegas pergi.
pasti ini akhirnya JD mimpi ..iya kannn
apakah mungkin gavin menduda seumur hidup ?
kisah alvin dan renata tidak ada .
TAAAAAMMMMAAATTTTTTT ????!!!!!!
GAK....gak..gak
aku gak bisa terimaaaaaaa 😢😭😭😭😭