Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 bara di bawah tanah dan cawan penderitaan
Matahari perlahan tenggelam di balik punggung Gunung Awan, menyisakan semburat merah darah yang menyapu langit sore. Di dalam gubuk reotnya, Lin Chen duduk diam layaknya patung batu. Selama berjam-jam, dia memutar *Napas Karang Esensi*, menstabilkan kondisinya dan memastikan luka di bahu kirinya tidak bertambah parah.
Malam tiba membawa udara dingin yang menusuk tulang. Lin Chen membuka matanya. Kegelapan merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu, memberinya sinyal bahwa waktu yang dinanti telah tiba. Pasar Gelap pelataran luar sekte tidak pernah beroperasi di siang hari. Tempat itu adalah dunia bayangan, surga bagi para pelanggar aturan dan tikus-tikus sekte yang mencari keuntungan di luar pengawasan para Tetua.
Berbekal peta kulit domba rampasan dari Wang Ke dan lima keping perak di saku, pemuda itu mulai bersiap. Berjalan dengan wajah aslinya ke tempat seperti itu sama saja dengan menggantungkan papan nama bertuliskan "mangsa empuk" di leher. Lin Chen mengais sisa abu dari tungku api kecil di sudut ruangan, mencampurnya dengan sedikit air, lalu mengoleskan lumpur hitam tersebut ke seluruh wajah, leher, dan punggung tangannya. Rambutnya yang sedikit panjang diikat asal-asalan ke belakang. Dia merobek sisa tikar jerami yang hancur, merangkainya menjadi sebuah tudung kepala kasar yang menutupi sebagian besar wajahnya.
Kini, penampilannya sama persis dengan puluhan pemulung atau murid buangan yang kehilangan akal sehat di pinggiran sekte. Tidak ada yang akan menaruh curiga pada sosok compang-camping seperti ini.
Lin Chen menyelinap keluar dari gubuk. Berbekal ingatan tajam dari peta yang telah dia hafal di luar kepala, kakinya melangkah menghindari rute patroli malam. Tujuannya adalah sebuah sumur kering di belakang area pemakaman sekte luar—pintu masuk rahasia yang tertera pada peta.
Tiba di lokasi, aroma tanah basah dan daun busuk langsung menyengat hidung. Lin Chen meraih tali tambang berlumut yang tersembunyi di balik semak belukar, lalu menurunkan tubuhnya ke dalam sumur gelap tersebut. Kedalamannya mencapai puluhan meter. Otot lengan kanannya menegang menahan beban, sementara lengan kirinya dibiarkan pasif demi menjaga jahitan keropeng di bahunya.
Di dasar sumur, sebuah terowongan sempit menganga. Lin Chen menyusuri lorong batu yang lembap itu selama hampir setengah jam. Tidak ada suara selain tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua. Semakin jauh dia melangkah, udara terasa semakin pengap, bercampur dengan aroma dupa murah, karat, dan bau keringat manusia.
Sebuah cahaya hijau temaram muncul di ujung lorong. Saat melangkah keluar, pemandangan mencengangkan menyambutnya.
Sebuah gua bawah tanah berukuran raksasa membentang luas. Ratusan tenda kumuh dan lapak beralaskan kain lusuh digelar berjejer tak beraturan. Obor-obor dengan api berwarna hijau—berasal dari pembakaran lemak hewan iblis tingkat rendah—menerangi area tersebut, memberikan nuansa kematian pada wajah setiap orang yang lewat. Puluhan kultivator berjubah gelap hilir mudik, saling berbisik, bertransaksi, atau sekadar memata-matai satu sama lain. Inilah Pasar Gelap, tempat di mana nyawa bisa dibeli dan artefak berdarah dicuci menjadi bersih.
Mata Lin Chen memindai sekitar dengan sangat hati-hati. Aura di tempat ini sangat berbahaya. Beberapa sosok yang bersandar di dinding gua memancarkan fluktuasi Qi setingkat Tahap Kondensasi Qi tingkat empat atau lima. Jika terjadi keributan, dirinya tidak akan bisa bertahan lebih dari tiga tarikan napas.
Saat dia mulai melangkah masuk untuk mencari bahan *Bubur Penguat Otot*, layar cahaya biru transparan berkedip di retinanya.
**[Situasi Pilihan Terdeteksi: Strategi Berbelanja di Pasar Gelap.]**
**[Pilihan 1: Membeli di Paviliun Bayangan Merah. Toko terbesar, barang terjamin.
Harga: 4 Keping Perak.
Risiko: Identitas Anda akan dicatat diam-diam oleh penjaga toko. Anda akan menjadi target perampokan saat keluar.]**
**[Pilihan 2: Membeli dari calo informasi yang berkeliaran di tengah pasar.
Harga: 3 Keping Perak.
Risiko: Calo akan memberikan barang palsu berkadar racun tinggi. Tubuh Anda akan hancur saat mengonsumsinya.]**
**[Pilihan 3: Mengunjungi lapak penjual bangkai hewan di gang paling ujung timur.
Harga: Tergantung negosiasi.
Risiko: Penjual sangat licik. Membutuhkan keahlian observasi tingkat tinggi untuk menemukan barang asli di tumpukan sampah.]**
Lin Chen membaca deretan opsi tersebut dengan tenang. Pilihan pertama terlalu berbahaya untuk kelangsungan hidup jangka panjangnya. Pilihan kedua adalah jebakan maut yang bodoh. Hanya pilihan ketiga yang menyisakan ruang bagi usahanya sendiri tanpa membawa risiko kematian instan.
"Pilihan tiga," batinnya tegas. Layar memudar.
Dia menyusuri gang-gang sempit, menundukkan pandangan agar tidak mengundang kontak mata dengan siapa pun. Semakin ke timur, suasananya semakin sepi dan bau busuk semakin tajam. Bau daging membusuk dan darah kering merajai udara.
Di sudut paling gelap, di bawah cahaya obor yang hampir padam, seorang lelaki tua bungkuk dengan wajah penuh bopeng duduk bersila. Di depannya tergelar terpal kulit berlumuran darah. Di atasnya berserakan berbagai macam organ dalam hewan iblis, tulang belulang, dan beberapa tanaman herbal yang layu.
Lelaki tua itu melirik Lin Chen dari balik kelopak matanya yang keriput. "Mencari sesuatu, anak muda? Lapakku hanya menjual barang sisa, harganya pantas untuk kantong orang-orang sepertimu." Suaranya terdengar seperti gesekan dua bilah besi berkarat.
Lin Chen berjongkok, berpura-pura memeriksa tulang-tulang di depannya. Matanya yang tajam menyisir tumpukan menjijikkan tersebut. Dia membutuhkan empedu ular, idealnya Ular Sisik Besi yang baru mati. Akar ginseng liar juga dibutuhkan, tidak peduli kondisinya sedikit layu asalkan esensinya masih ada.
"Sebuah kantong empedu untuk penawar bisa," ucap Lin Chen parau, menutupi suara aslinya. "Dan sebatang akar penghangat meridian."
Lelaki tua itu terkekeh pelan. Tangannya yang keriput dan kotor merogoh sebuah toples kayu di belakangnya. Dia mengeluarkan sebuah kantong empedu berwarna hijau pekat dan menyodorkannya ke depan Lin Chen.
"Ini empedu Ular Piton Rawa. Sangat beracun, sangat berkhasiat. Untuk ginsengnya..." Dia mengambil sebatang akar kering dari tumpukan. "Ginseng Gunung Berapi berumur sepuluh tahun. Tiga keping perak untuk keduanya. Harga persahabatan."
Mata Lin Chen memicing. Di bawah cahaya remang-remang, dia memfokuskan pandangannya pada kantong empedu itu. Dia telah bertarung melawan ular iblis berhari-hari. Dia tahu betul bau dan tekstur organ makhluk tersebut. Empedu yang disodorkan lelaki tua ini berwarna hijau pucat di bagian bawahnya, tanda bahwa empedu itu telah lama membusuk dan racunnya mulai merusak organ itu sendiri. Jika dia memasukkan benda ini ke dalam buburnya, jalur meridiannya akan terbakar hangus.
Adapun ginsengnya, benda itu tidak memancarkan hawa panas sedikit pun. Itu hanyalah akar pohon persik biasa yang dilumuri bubuk belerang.
"Tiga keping perak untuk sebongkah empedu busuk dan akar persik palsu?" Lin Chen mendengus dingin. Dia berdiri perlahan, memasukkan tangannya ke dalam jubah. "Aku tidak datang ke sini untuk dihina oleh penipu kelas teri."
Lin Chen mengalirkan sedikit Qi ke tangannya, membiarkan aura pembunuhan yang dia kumpulkan dari pertarungan mematikan di tebing merembes keluar. Dia tidak kuat, aura orang yang baru saja lolos dari maut memiliki ketajaman tersendiri.
Wajah lelaki tua itu sedikit berubah. Dia bisa merasakan hawa dingin dari pemuda berpakaian kumuh di depannya ini. Orang yang datang ke gang sepi ini biasanya memiliki dua kemungkinan: mangsa yang mudah ditipu, atau serigala gila yang putus asa.
"Tenang, Saudara. Matamu cukup tajam," kekeh lelaki tua itu, mencoba mencairkan suasana. Dia membuang empedu dan akar palsu itu kembali ke tumpukan. Kali ini, dia membuka sebuah kotak besi kecil yang terkunci rapat dari balik jubahnya.
Sebuah kantong empedu berwarna merah kehitaman yang masih berdenyut pelan diletakkan di atas terpal. Bersamaan dengan itu, sebatang akar ginseng seukuran kelingking yang kotor oleh tanah kering namun memancarkan aroma herbal yang kental turut disajikan.
"Empedu Ular Sisik Besi berumur tiga tahun, baru dibedah pagi ini. Dan Ginseng Liar Akar Hitam berumur lima tahun. Empat keping perak. Tidak kurang satu koin tembaga pun." Lelaki tua itu menatap tajam, menantang Lin Chen untuk menawar.
Lin Chen memeriksa kedua barang itu. Kualitasnya memang jauh dari kata sempurna, esensi di dalamnya asli dan sesuai dengan resep dari Sistem. Mengingat dia hanya memiliki lima keping perak, menghabiskan empat keping sekaligus adalah pukulan telak. Setidaknya dia mendapatkan barang yang benar tanpa mengundang masalah besar.
"Sepakat," jawab Lin Chen singkat. Dia melempar empat keping perak ke atas terpal. Tanpa membuang waktu, tangannya menyambar empedu dan ginseng tersebut, memasukkannya ke dalam saku dalam jubahnya, lalu berbalik pergi meninggalkan gang itu secepat bayangan.
Satu masalah tersisa: Beras Roh kualitas rendah.
Pasar Gelap tidak menjual bahan pokok semacam itu karena keuntungannya terlalu kecil. Lin Chen harus mencarinya di tempat lain. Waktu terus berjalan menuju tengah malam. Dia harus segera kembali.
Keluar dari sumur kering, Lin Chen mengambil rute memutar menuju dapur logistik pelataran luar sekte. Tempat ini tidak dijaga ketat pada jam-jam begini, hanya ada beberapa juru masak magang yang bertugas membuang sampah.
Lin Chen bersembunyi di balik tumpukan tong kayu bekas. Dia memperhatikan seorang pemuda gemuk berseragam koki yang sedang merokok pipa dengan santai di dekat pintu belakang. Itu adalah Zhu Biao, asisten dapur yang terkenal sangat serakah.
Memastikan sekeliling aman, Lin Chen melangkah keluar dari bayangan. Tudung kepalanya masih menutupi sebagian besar wajahnya.
Zhu Biao terkejut, tangannya nyaris menjatuhkan pipanya. "Siapa kau?! Berani sekali menyelinap ke dapur—"
Sebelum Zhu Biao berteriak memanggil penjaga, sebuah kepingan perak mengkilap melayang di udara, ditangkap dengan gesit oleh tangan Lin Chen tepat di depan wajah sang koki. Pendar cahaya perak itu seketika membungkam mulut Zhu Biao.
"Satu keping perak terakhir," bisik Lin Chen dengan suara parau yang disamarkan. "Bawakan aku dua genggam Beras Roh kelas rendah. Jangan banyak bertanya, jangan buat suara. Jika kau menolak, aku akan mencari koki lain yang lebih pintar."
Mata Zhu Biao berbinar penuh keserakahan. Beras roh kelas rendah adalah bahan makanan standar, tidak ada yang akan menyadari jika hilang dua atau tiga genggam. Satu keping perak adalah harga yang sangat fantastis untuk jumlah sekecil itu.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Zhu Biao merampas koin perak itu, berlari kecil ke dalam dapur, dan kembali dalam hitungan detik membawa sebuah kantong kain kecil yang menggembung. Dia melemparkannya ke arah Lin Chen.
"Urusan kita selesai," dengus Zhu Biao pelan sambil memasukkan koinnya ke dalam sepatu.
Lin Chen menangkap kantong itu, merasakan butiran beras berenergi di dalamnya. Ketiga bahan utama akhirnya terkumpul. Hartanya benar-benar telah kembali ke titik nol, keberhasilannya meracik bubur ini akan menentukan apakah dia hidup untuk melihat matahari esok hari sebagai kultivator, atau mati membusuk sebagai pecundang.
Kembali ke gubuk reotnya, Lin Chen langsung mengunci pintu dan menutupi semua celah dinding dengan sisa-sisa kain agar tidak ada cahaya atau aroma yang bocor ke luar.
Dia mengeluarkan sebuah tungku tanah liat tua yang retak di bagian pinggirnya. Tungku ini dulunya digunakan untuk merebus air. Lin Chen menyalakan api kecil menggunakan batu pemantik, menambahkan beberapa potong kayu kering yang telah dia kumpulkan sebelumnya.
Dia menuangkan air bersih, menunggu hingga mendidih, lalu memasukkan Beras Roh. Beras itu tidak seperti beras biasa; butirannya sekeras kerikil, membutuhkan waktu lama untuk menjadi lunak.
Resep Bubur Penguat Otot menuntut urutan yang presisi. Tidak ada bantuan otomatis dari sistem yang membuat proses ini instan. Lin Chen harus memotong Ginseng Liar Akar Hitam menjadi irisan setipis kertas menggunakan pisau belati berkarat miliknya, memastikannya larut bersama beras.
Setelah air rebusan berubah warna menjadi keruh kecokelatan dan mengeluarkan aroma tanah yang kuat, tibalah tahap paling krusial. Lin Chen mengambil kantong empedu Ular Sisik Besi. Tangannya sedikit gemetar. Empedu ini mengandung elemen Yin yang sangat keras dan sedikit racun bawaan. Jika tidak diolah dengan benar, efeknya bisa berbalik menyerang meridian.
Mengikuti panduan resep di kepalanya, Lin Chen mengalirkan sejumlah kecil Qi ke ujung pisaunya. Dengan gerakan cepat, dia mengiris tipis kantong empedu tersebut tepat di atas tungku yang mendidih. Cairan kental berwarna merah kehitaman menetes perlahan.
*Cesss!*
Asap kelabu seketika mengepul dari dalam tungku. Bau menyengat yang sangat luar biasa—campuran antara darah mentah, besi berkarat, dan kepahitan yang menusuk hidung—memenuhi ruangan sempit itu. Mata Lin Chen berair menahan perihnya asap tersebut. Dia menggunakan sendok kayu panjang untuk mengaduk bubur yang perlahan berubah warna menjadi hitam pekat, menyerupai lumpur rawa yang mendidih.
Api harus dijaga agar tetap stabil. Terlalu besar, esensi herbalnya akan menguap. Terlalu kecil, empedu ularnya tidak akan matang dan racunnya akan bertahan. Selama satu jam penuh, Lin Chen memfokuskan seluruh konsentrasinya pada nyala api dan pusaran bubur tersebut. Keringat bercucuran membasahi pakaiannya, menahan rasa sakit di bahu kirinya yang mulai meronta akibat posisi duduk yang kaku.
Tepat saat gelembung terakhir meletup dengan suara berat, layar biru kembali muncul.
**[Bubur Penguat Otot (Kualitas Biasa) berhasil diracik.]**
**[Tingkat Keberhasilan Pemurnian Esensi: 72%. Aman untuk dikonsumsi.]**
Lin Chen menghembuskan napas panjang. Kakinya terasa lemas. Dia telah berhasil.
Tanpa membuang waktu membiarkannya dingin, Lin Chen mengangkat tungku tanah liat itu dengan kedua tangan yang dibalut kain. Dia memandangi cairan kental berwarna hitam di dalamnya. Benda ini tidak terlihat seperti makanan, lebih mirip racun maut yang siap mencabut nyawa.
Jalan kultivasi adalah menelan rasa sakit dan mengubahnya menjadi kekuatan. Lin Chen memejamkan mata, mendekatkan pinggiran tungku ke bibirnya, dan meminum isi bubur tersebut dalam tegukan-tegukan besar yang menyiksa.
Suapan pertama terasa bagai menelan bongkahan lahar pijar. Rasa pahit yang tidak terlukiskan meledak di langit-langit mulutnya, merobek tenggorokannya dengan sensasi panas yang membakar. Rasa amis darah membuat isi perutnya bergejolak hebat, menuntut untuk memuntahkan cairan laknat itu kembali.
Lin Chen membekap mulutnya sendiri dengan punggung tangan, memaksa sisa bubur itu tertelan habis. Matanya membelalak lebar, urat-urat hijau menonjol di lehernya. Penderitaan baru saja dimulai.
Begitu ramuan itu mencapai perutnya, sebuah ledakan energi seketika terjadi. Energi liar yang sangat kasar, perpaduan dari panasnya ginseng dan dinginnya empedu, meletus menyebar ke seluruh aliran darahnya.
*Bruk!*
Lin Chen jatuh berlutut di tanah. Dia memegangi dadanya, merasa seolah ada ribuan semut api yang menggerogoti organ dalamnya. Otot-otot tubuhnya mengejang hebat di luar kendali. Tulang-tulangnya berderit merintih.
Ini adalah efek dari Bubur Penguat Otot. Ramuan ini tidak sekadar memberikan energi spiritual murni; tujuannya adalah menghancurkan serat otot yang lemah secara paksa dan memaksanya membangun kembali dengan kepadatan yang jauh lebih tinggi. Proses perobekan jaringan otot inilah yang membawa rasa sakit mendekati batas kegilaan.
"Napas... Karang... Esensi..." erang Lin Chen di antara kertakan giginya. Darah segar kembali menetes dari sudut bibirnya yang tergigit.
Dia memaksa kesadarannya yang hampir pudar untuk mulai memutar metode kultivasinya. *Napas Karang Esensi* bangkit merespons energi liar tersebut. Tidak seperti teknik biasa yang mencoba menenangkan energi, teknik kuno ini justru menelan energi kasar itu, mencampurnya dengan rasa sakit, dan menggunakannya sebagai palu godam untuk memukul dinding kemacetan kultivasinya.
Gelombang energi panas mengalir menuju meridian lengannya, merobek lapisan otot tipis, mengisinya dengan Qi, dan memadatkannya seketika. Proses yang sama terjadi pada otot dada, perut, punggung, dan kakinya.
Setiap detik terasa seperti siksaan abadi di neraka berlapis paku. Bahu kirinya yang sebelumnya bergeser kini berdenyut memanas. Energi dari bubur tersebut secara brutal menjebol bekuan darah di sekitar sendi, memulihkan jaringan ikat yang robek dengan kecepatan yang tidak wajar. Rasa gatal dan ngilu menyatu menjadi sensasi yang nyaris membuat Lin Chen kehilangan kewarasan.
Pusaran Qi di dalam Dantiannya kini berputar gila-gilaan. Dari seukuran kerikil kecil, perlahan membengkak menjadi seukuran kelereng, menyedot seluruh sisa energi herbal yang belum terekstraksi. Dinding kemacetan yang telah menahannya di Tahap Kondensasi Qi tingkat pertama selama dua tahun mulai menunjukkan retakan.
"Hancur... HANCURLAH!" Lin Chen meraung dalam hati, mendorong seluruh sisa kesadaran spiritualnya ke titik pusat Dantian.
Energi meledak seperti ombak raksasa yang menghantam bendungan rapuh.
*BOOM!*
Sebuah suara teredam bergema di dalam tubuhnya. Kemacetan itu hancur berkeping-keping. Aliran Qi yang awalnya tipis seperti benang kini melebar menjadi seukuran sedotan, mengalir deras membanjiri jalur meridian utamanya. Kapasitas energi di dalam Dantiannya membesar dua kali lipat.
**Tahap Kondensasi Qi Tingkat Kedua.**
Lin Chen ambruk telungkup di lantai gubuknya, dadanya naik turun dengan liar. Sekujur tubuhnya dilumuri keringat hitam kental yang berbau sangat busuk—kotoran dan racun mematikan yang berhasil didorong keluar dari dalam pori-porinya selama proses pemecahan batas.
Gubuk kecil itu sunyi, hanya diisi oleh suara napas pemuda yang putus-putus.
Malam berangsur berganti fajar. Sinar matahari pagi kembali mengintip melalui celah dinding kayu, menyoroti sosok yang tergeletak lemah di lantai.
Berjam-jam kemudian, Lin Chen perlahan menggerakkan jari-jarinya. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menopang tubuh, berusaha duduk. Seketika, dia merasakan sebuah perubahan drastis yang membuat napasnya tertahan.
Tubuhnya terasa aneh. Perasaan berat dan lelah yang selama ini selalu membebani langkahnya telah menghilang sama sekali.
Lin Chen mengepalkan tinju kanannya. Suara derit persendiannya beresonansi dengan kekuatan baru. Kulitnya, meskipun ditutupi oleh lapisan kotoran hitam, terasa jauh lebih kencang. Otot-otot lengannya yang dulunya kurus kini tampak lebih padat dan terdefinisi dengan jelas.
Dia menggerakkan bahu kirinya memutar. Tidak ada rasa sakit. Luka di perutnya telah menutup sepenuhnya, hanya menyisakan bekas luka tipis kemerahan. Bubur Penguat Otot tidak berbohong, khasiatnya dalam merestorasi dan menguatkan fisik sungguh menakjubkan bagi seorang kultivator tingkat rendah.
Lebih dari sekadar kekuatan fisik, indranya menjadi jauh lebih tajam. Dia bisa mendengar suara gemerisik daun pinus jatuh di luar gubuknya, serta samar-samar detak jantung serangga di bawah tanah. Aliran Qi di dalam tubuhnya mengalir mulus, merespons kehendaknya dalam hitungan detik.
Ini adalah kekuatan Tahap Kondensasi Qi tingkat kedua. Jaraknya hanya terpaut satu tingkat dari Zhao Feng, perbedaan kekuatan fisik dan ketahanan tubuhnya telah melonjak secara eksponensial berkat fondasi *Napas Karang Esensi*.
Lin Chen berdiri, menyadari betapa menyengat bau tubuhnya sendiri. Kotoran hitam dari pembuangan meridian ini lebih bau daripada mayat yang membusuk.
Dia melangkah menuju sudut ruangan, mengambil sebuah tong kayu berisi sisa air hujan, dan menyiramkannya ke seluruh tubuh. Air sedingin es itu terasa menyegarkan, membersihkan kotoran dan lumpur penyamaran dari kulitnya.
Menatap bayangannya di permukaan air genangan sisa siraman, Lin Chen melihat sorot matanya yang berubah. Tidak ada lagi keputusasaan atau ketakutan seorang murid pecundang. Pupil matanya memancarkan ketenangan setajam bilah pedang es.
Langkah pertama menuju pembalasan dendam telah tercapai. Dia tidak lagi memedulikan nasib menyedihkan yang ditawarkan dunia ini kepadanya. Jika langit memberikan jalan yang sempit dan berduri, dia akan menginjak duri tersebut dan menjadikannya anak tangga.
Sistem Pilihan Takdir telah membuka gerbang, sisanya adalah seberapa jauh kakinya berani melangkah menembus neraka.
Lin Chen mengenakan pakaian sekte abu-abunya yang telah dicuci bersih, mengikat tali pinggangnya dengan erat. Hari ini adalah jadwal pembagian tugas bulanan di pelataran luar. Zhao Feng pasti akan berada di sana. Pria itu akan terkejut melihat hantu yang seharusnya membusuk di dasar Jurang Penyesalan kini kembali berdiri menantang cahaya matahari.
"Zhao Feng," gumam Lin Chen pelan, kepalan tangannya mengeras. "Kita lihat seberapa berharga nyawamu hari ini."
Melangkah keluar dari gubuk, Lin Chen menyambut angin pagi dengan postur tegak sempurna, meninggalkan bayang-bayang kelemahan di belakangnya untuk selamanya. Perjalanan menembus batas Tiga Alam resmi dimulai.