Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anakku Tidak Meninggal 03
"Anakku, dimana anakku! Arghhhh!!!"
Laras terbangun dari tidurnya dan berteriak sejadi-jadinya. Dia bermimpi, lebih tepatnya adalah bayangan kepedihan yang dialaminya. Dimana hal tersebut ternyata bersemayam di alam bawah sadarnya
Sudah satu bulan berlalu, tapi Laras masih terpuruk. Dia masih menangis kencang. Tubuhnya mengurus, wajahnya kusut dan dia seperti kehilangan akal.
Beberapa tetangga terkadang memeriksa ke rumah Laras, memastikan bahwa wanita itu masih baik-baik saja.
Diantara mereka juga ada yang mengirimi makanan untuk Laras. Ya Laras masih beruntung karena memiliki tetangga yang baik.
Tinggal di rumah dan lingkungan itu selama menikah dengan Reza, Laras termasuk mudah beradaptasi dengan para tetangga. Dia diterima dengan sangat baik di sana.
Sebuah lingkungan perumahan, namun rasa kekeluargaan begitu tinggi. Meski, Laras sedikit heran, pasalnya di tempat itu tak ada yang mengenal Reza.
Menurut cerita tetangga, rumah itu memang dibeli beberapa bulan sebelum Laras dan Reza datang. Jadi Laras berpikir bahwa Reza pun juga baru menempati rumah itu.
Dia masih ingat sekali bagaimana dia dan Reza datang ke rumah itu. Rumah yang tidak besar tapi sangat nyaman.
"Mas, kok semuanya seperti sudah disiapkan? Rumah ini seperti sudah lama ditempati," begitulah ucapan Laras ketika menginjakkan kakinya di rumah tersebut.
"Iya memang, ini sudah ku siapkan sejak lama. Hanya saja tidak pernah ditempati karena menunggu ratu yang cocok untuk menempatinya. Dan sekarang, aku sudah mendapatkan ratu itu." Ucapan Reza sungguh manis membuat Laras melayang. Dan memang seperti itulah Reza yang selalu membuat Laras seperti diratukan.
Tapi kini tidak lagi, semua tak ada. Senyuman, tawa bercanda dan sikap manis, semua hilang bak ditelan bumi. Yang ada hanya kelam, sendu dan sendiri.
Arghhhhh!!!
Laras kembali berteriak. Seorang tetangga yang baru saja melintas di depan rumah langsung menghampiri karena mendengar teriakan tersebut. Dia mengetuk pintu rumah Laras sedikit lebih keras dari biasanya.
"Ras, Laras. Kamu lagi apa? Ras ... Laras, buka pintunya, Neng!"
Wanita yang merupakan tetangga paling dekat dengan Laras itu terlihat panik. Dia hendak membuka pintunya ketika tak jua mendapat sahutan dari Laras, namun ternyata kali ini pintu rumah itu dikunci.
Dugh dugh dugh
"Laras, jangan berbuat sesuatu yang nekat, Nak!" pekik Ratna dari luar. Kecemasannya semakin besar.
Karena takut ada sesuatu yang buruk, dan saat ini isi pikiran Ratna juga sudah tidak karuan, ia pun memilih untuk berlari pulang ke rumahnya untuk memanggil suaminya.
Pasangan suami istri berusia sekitar 40 tahunan itu bergerak cepat. Hendrik, nama suami dari Ratna langsung mencari linggis dan Ratna menyiapkan mobil. Entahlah, Ratna merasa dia harus sudah menyiapkan mobil untuk berjaga di depan rumah wanita yang sudah setahun ini menjadi tetangganya.
"Mas, dobrak aja," ucap Ratna kepada suaminya.
"Bu Ratna ada apa ini?"
"Iya Bu, kok Pah Hendrik bawa-bawa linggis?"
Beberapa tetangga keluar saat melihat Hendrik dan Ratna yang nampak panik. Tentu saja mereka juga mendengar suara Ratna yang berteriak.
"Ini ibu-ibu, tadi saya denger suara Laras. Dia berteriak keras banget. Saya takut kalau Laras kenapa-napa. Ibu-ibu kan tahu, sejak Laras melahirkan dan anaknya meninggal, dia jadi murung. Suaminya juga nggak kelihatan."
Tetangga yang lain mengangguk paham. Mereka pun akhirnya ikut membantu Ratna berjaga di depan rumah dan bersiap masuk setelah Hendrik berhasil membobol pintu.
Dugh dugh
Brak
Ratna dan dua ibu lainnya berlari masuk saat pintu berhasil didobrak. Mereka seketika berteriak histeris melihat kondisi Laras yang sama sekali idak pernah terbayangkan.
"Ya Allah, Laras. Nak, kenapa kamu kayak gini."
"Buk, minggir. Biar Bapak yang gendong Laras ke mobil. Ibu cepetan lari dulu buat mangku Laras."
Hendrik mengambil alih, sedangkan Ratna dan dua tetangga lainnya berlari ke luar rumah. Air mata Ratna masih terus menggenang melihat kondisi Laras yang begitu memprihatinkan.
Tubuh Laras tergeletak, darah mengalir deras dari pergelangan tangan wanita muda itu. Hanya dengan sekali lihat sudah bisa ditebak bahwa Laras mencoba mengakhiri nyawanya sendiri.
"Ibu-ibu, saya mohon jangan sampai cerita ini keluar ya. Saya mohon dengan sangat. Saat ini Laras dalam kondisi yang terguncang. Kita sebagai saudara sesama manusia, harus menolong anak ini," ucap Ratna kepada dua tetangganya itu.
"Iya Bu Ratna, kami paham kok. Kami akan diam aja, dan nyimpen hal ini rapat-rapat."
"Baik kalau begitu, terimakasih Ibu-ibu. Saya mohon bantuan Ibu-ibu untuk membersihkan rumah Laras."
Dua orang itu mengangguk. Mobil milik Hendrik pun langsung melesat dengan cepat menuju ke rumah sakit. Beruntung jalanan tidak ramai, sehingga mereka bisa sampai di rumah sakit lebih cepat.
"Dokter! Tolong ini dokter!"
Ratna berteriak memanggil dokter di IGD, padahal petugas medis sudah menghampirinya dengan cepat. Tapi Ratna sungguh sangat panik.
"Tenang Ibu, kami akan menangani pasien sesegera mungkin."
"Tolong, tolong Dokter. Jangan sampai Laras kenapa-napa."
Hiks hiks
Tangis Ratna pecah. Laras bukanlah siapa-siapa baginya. Namun dia amat merasa sakit melihat kondisi Laras yang seperti itu.
"Buk, sudah nggak apa-apa. Laras pasti akan baik-baik aja," ucap Hendrik menenangkan istrinya
Ratna mengangguk, dia berdoa dalam hati agar wanita muda itu baik-baik saja.
Melihat Laras mengingatkan pada putrinya yang telah tiada. Tentu saha usia putrinya berada di bawah Laras, tapi Ratna sungguh senang ketika Laras datang sebagai tetangga.
Laras adalah wanita muda yang baik, ramah, dan juga sering tersenyum. Ratna juga sering mengobrol dengan Laras karena keduanya cocok.
Sejak itu, Ratna dan Laras menjadi dekat. Ratna seolah kembali menemukan putrinya di dalam diri Laras. Bahkan anak lelaki Ratna saja sampai bingung, kenapa ibunya itu bisa sangat dekat dengan Laras.
"Sebenarnya apa yang dialami Laras ya, Pak?" Tanya Ratna kepada suaminya.
"Nggak tahu Bu, dan sebaiknya kita nggak perlu mengorek itu. Jika kita mau bantu, ya cukup berikan support tanpa harus tahu apa yang terjadi di dalam rumah orang lain. Bagaimanapun Laras dan Reza bukanlah siapa-siapanya kita."
Ratna sangat paham ucapan Hendrik. Dia mengerti apa maksud dari setiap kata yang terlontar dari mulut suaminya itu.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Laras pun sadar. Apa yang dilakukannya beruntungnya tidak sampai mengancam nyawa. Hendrik dan Ratna sungguh sangat bersukur akan hal tersebut.
"Neng Laras."
"Hiks hiks hiks. Aku salah apa ya Bu Ratna. Mengapa mereka jahat banget sama aku. Mengapa mereka tega membodohi dan juga membohongiku. Bu, anak aku nggak meninggal. Anak aku masih hidup tapi mereka mengambilnya. Aku, aku bahkan nggak sempat untuk ngelihat anak yang aku lahirkan. Mereka mengambilnya Bu, mereka ngambil anak aku sebelum aku melihat dan memeluknya. Jahat, mereka sangat jahat. Hiks hiks hiks."
Jejeeeeng
Ratna dan Hendrik saling pandang. Ini adalah kali pertana Laras bicara setelah sebulan lamanya diam saja.
Jelas Ratna dan Hendrik terkejut dan bingung mendengar pernyataan yang sepotong-potong itu.
Mereka sangat terkejut saat Laras berkata bahwa anaknya tidak meninggal, pasalnya ketika Laras diantarkan pulang oleh pihak rumah sakit, salah satu orang yang mengantarkan itu berkata bahwa anak Laras telah tiada.
"Sebenarnya ada apa ini?" gumam Ratna.
TBC