NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXII

  Keesokan paginya, setelah bermalam di sebuah penginapan, Luna kembali melanjutkan perjalanannya. Saat hendak pergi, tiba-tiba tanpa sengaja ia berpapasan dengan Haoran yang seolah sudah menunggunya di sana. Haoran segera berjalan mendekati Luna, wajahnya tampak cerah seolah senang bisa bertemu dengan Luna kembali.

"Hei, bagaimana kabarmu?" sapa Haoran sambil tersenyum lembut menatap Luna.

Namun, alih-alih membalas sapaan itu, raut wajah Luna berubah menjadi marah. Ia menatap tajam ke arah Haoran. "Apa kau sengaja mengikutiku?" tanyanya dengan nada ketus dan kasar.

Haoran tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia justru menjawab dengan tenang, "Tentu saja. Aku sudah mengikuti mu sejak kau diam-diam meninggalkan rumahmu itu."

Luna menghela napas, rasa kesalnya semakin memuncak. "Apa kau tidak punya hal lain yang harus dilakukan selain terus menerus mengikutiku ke mana pun aku pergi?"

Haoran tersenyum tipis, lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mulai sekarang, di mana pun kau berada, aku akan terus mengikuti mu. Itu sudah menjadi keputusanku."

"Kau sebenarnya menginginkan apa dariku?" tanya Luna, berusaha mencari tahu tujuan sebenarnya laki-laki di hadapannya ini.

Haoran mendadak terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara yang rendah namun tegas, "Kapan kau mau menikah?"

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, Luna sedikit terkejut, namun dengan perasaan kesal yang masih meluap, ia menjawab asal, "Besok!"

"Baiklah," jawab Haoran langsung mengiyakan tanpa ragu sedikit pun. "Kalau begitu, besok kita akan menikah."

Haoran mengulurkan tangannya, berniat menggandeng tangan Luna, namun dengan cepat tangan itu ditepisnya Luna dengan kasar.

"Jangan bersikap keras kepala," ucap Haoran, nada bicaranya berubah sedikit lebih serius namun masih menyisakan kelembutan. Ia menatap Luna, tatapannya dingin namun penuh perasaan. "Jadilah istriku."

Tanpa menunggu perlawanan lebih lanjut, Haoran menarik tangan Luna agar tetap berada di sisinya. Luna yang merasa terdesak, dengan kukunya menggores tangan Haoran hingga kulitnya lecet dan sedikit berdarah. Meski sedikit perih, Haoran sama sekali tidak melepaskan genggamannya. Ia tetap menggandeng tangan Luna dan membawanya menuju kereta kuda, lalu mengajaknya pergi dari tempat itu menuju kediamannya.

Di dalam kereta kuda, mereka duduk berhadapan. Luna hanya diam, memalingkan wajah dengan sikap dingin. Sementara itu, Haoran terus menatap wajahnya, pipinya memerah dan matanya bersinar, terlihat jelas bahwa ia begitu tergila-gila pada Luna.

Di Kediaman Pangeran

  Sesampainya di kediaman mewah miliknya, Pangeran Haoran turun lebih dulu dan mengulurkan tangannya kembali untuk membantu Luna turun. Namun lagi-lagi Luna menepis tangan itu dan turun sendiri.

"Aku bisa turun sendiri," ucapnya ketus.

"Baiklah," jawab Haoran santai, lalu membiarkan Luna berjalan mendahuluinya.

Kedatangan mereka disambut oleh para pelayan dan pengawal yang berjajar rapi di halaman kediaman itu. Pangeran Haoran melangkah maju, lalu memperkenalkan Luna dengan suara lantang.

"Dengarkan semuanya!! Mulai hari ini, dia adalah calon Istriku. Kalian semua harus menghormati dan memperlakukannya dengan sebaik mungkin, sama seperti kalian memperlakukanku." tegas Pangeran Haoran.

Para pelayan dan pengawal serentak membungkuk memberi hormat. Luna hanya menatap dingin ke arah Pangeran Haoran, seolah tidak peduli dengan pengumuman itu. Saat ia hendak berjalan pergi menjauh, Pangeran Haoran kembali menahan lengannya.

"Ingat, ini adalah kediaman Pangeran. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun di sini," ucap Haoran pelan di dekat telinganya. "Masalah pernikahan kita besok, aku sendiri yang akan membicarakannya langsung dengan Kaisar dan Permaisuri."

Tanpa menunggu jawaban, Luna melepaskan lengannya dan berjalan pergi meninggalkan Pangeran Haoran yang masih berdiri di tempatnya. Pangeran Haoran kemudian memanggil salah satu pelayan yang berdiri di dekat sana.

"Antar dia ke kamar utama dan pastikan segala kebutuhannya," perintah Pangeran Haoran.

Setelah melihat Luna dibawa masuk oleh pelayan, Pangeran Haoran pun bergegas menaiki kudanya. Ia harus segera pergi ke istana untuk menemui Kaisar dan Permaisuri, untuk membicarakan rencana pernikahannya itu.

Di Kerajaan Barat

  Sesampainya di istana, Pangeran Haoran langsung menuju ruang pertemuan tempat Kaisar dan Permaisuri biasanya berada. Ia datang dengan tujuan utama untuk membicarakan rencana pernikahannya dengan Luna.

Melihat putranya yang baru pulang setelah sekian lama pergi, Permaisuri menyapanya dengan nada lembut namun sedikit nada kecewa.

"Ada apa, anakku? Akhirnya kau ingat juga untuk pulang," ucap Permaisuri sambil menatap Pangeran Haoran.

Pangeran Haoran menundukkan kepalanya sejenak sebagai tanda hormat, lalu menatap kedua orang tuanya dengan pandangan yang serius dan tegas.

"Ayah, Ibu... Aku ingin menikah dengan Luna." ucap Haoran langsung pada intinya.

Kaisar dan Permaisuri sedikit terkejut mendengar pernyataan itu. Mereka saling berpandangan, lalu Kaisar mulai melontarkan berbagai pertanyaan yang menjadi standart bagi seorang Pangeran yang akan menikah.

"Luna? Siapa wanita itu? Apakah dia seorang Tuan Putri? Darimana dia? Bagaimana latar belakangnya? Dan apa kelebihannya sehingga kau berani membicarakan pernikahan ini secara tiba-tiba?" tanya Kaisar bertubi-tubi.

Namun, Haoran menjawab semua pertanyaan itu dengan nada yang datar dan singkat, seolah-olah hal itu sama sekali tidak penting baginya.

"Aku tidak peduli apakah dia seorang Tuan Putri, anak pejabat, penjahat atau siapa pun itu. Aku mencintainya, dan aku akan menikah dengannya. Itu saja," jawab Pangeran Haoran tegas.

Mendengar jawaban dari Pangeran Haoran yang seenaknya itu, wajah Kaisar seketika memerah menahan amarah. Ia berdiri dari kursinya dan menatap tajam kearah putranya itu.

"Kau ini seorang Pangeran! Bagaimana mungkin kau memilih calon istri tanpa memikirkan kedudukan mu dan kepentingan kerajaan ini? Pernikahanmu bukan hanya urusanmu sendiri, tapi juga menjadi urusan negeri ini!" bentak Kaisar dengan suara marah.

Permaisuri segera berusaha menenangkan suaminya, lalu menoleh ke arah Pangeran Haoran berharap putranya itu mau bernegosiasi. Namun, Pangeran Haoran tetap berdiri tegak dengan pendiriannya.

"Aku sudah mengambil keputusan, Ayah. Hanya Luna yang akan menjadi istriku." ucap Pangeran Haoran tanpa rasa takut.

Kemarahan Kaisar semakin memuncak. Kaisar kembali melontarkan pertanyaan yang penuh keraguan.

"Wanita seperti apa yang ingin kau bawa ke istana ini? Apakah dia bisa menjadi panutan bagi rakyat kita? Apakah dia mampu memberikan penerus bagi keturunan kerajaan ini? Kau pikir menjadi istri seorang Pangeran itu, tidak memiliki tugas apapun?"

Pangeran Haoran tetap menjawab dengan tenang, meskipun ia tau kata-katanya akan kembali memancing kemarahan ayahnya.

"Luna tidak perlu menjadi panutan bagi siapapun, Ayah. Dia cukup menjadi dirinya sendiri, dan aku sama sekali tidak akan memaksanya. Mengenai penerus kerajaan ini... aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Jika Luna ingin memiliki anak, maka kami akan memilikinya. Namun jika dia tidak menginginkannya, aku pun tidak akan memaksa."

Seketika suasana menjadi hening. Mendengar jawaban yang begitu mengabaikan tradisi dan kepentingan kerajaan itu, Kaisar bergegas menghampiri Pangeran Haoran.

Plak!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Pangeran Haoran.

"Dasar bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa memiliki anak sepertimu yang sama sekali tidak memikirkan masa depan kerajaan ini dan hanya mengejar cinta yang buta itu? Kau memang sudah terlalu dimanja, hingga kau benar-benar tidak tahu aturan apapun lagi sekarang!" ucap Kaisar dengan suara gemetar karena marah. "Aku sama sekali tidak akan mengizinkanmu menikah dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu! Selama aku masih memegang kekuasaan ini, hal itu tidak akan pernah terjadi!"

Pangeran Haoran menyentuh pipinya yang di tampar itu, lalu menatap ayahnya dengan pandangan yang sama sekali tidak berubah. Tidak ada sedikit pun rasa takut yang terpancar darinya, hanya keteguhan hati yang tak tergoyahkan.

"Baiklah... Jika Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri tidak ingin memberikan restu kalian, aku tidak akan memaksanya. Tapi aku pastikan, besok kami berdua tetap akan menikah. Setuju atau tidak setuju, itu tidak penting. Aku datang ke sini hanya untuk menyampaikan hal ini dan meminta restu dari Ayah dan Ibu saja."

Setelah mengucapkan itu, Pangeran Haoran berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan itu. Kaisar hendak menahannya, namun segera ditahan oleh Permaisuri yang khawatir pertengkaran itu akan semakin memanas. Pangeran Haoran pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya itu.

  Baru saja Pangeran Haoran hendak menaiki kudanya untuk kembali ke kediamannya, beberapa prajurit tiba-tiba menghadang dan menahannya.

"Pangeran, Mohon kembali menghadap Baginda Kaisar. Beliau memerintahkan kami untuk membawa Pangeran kembali kehadapannya," pinta salah satu prajurit itu dengan nada hormat.

"Aku tidak akan kembali! Sampaikan kepada Kaisar bahwa aku sudah tidak memiliki urusan apa pun lagi di sini!" tegas Pangeran Haoran.

Namun, salah satu pengawal kepercayaan Kaisar tiba-tiba berlari mendekat dan menyampaikan kabar yang mendadak itu.

"Tunggu, Pangeran... Baru saja Permaisuri jatuh pingsan setelah Pangeran pergi." ucapnya.

Mendengar kabar itu, hati Pangeran Haoran seketika luluh. Rasa khawatir akan keselamatan ibunya langsung menguasai seluruh pikirannya. Tanpa berpikir panjang, ia segera bergegas masuk kembali ke dalam istana menuju kamar ibunya.

Baru saja ia melangkah masuk, tiba-tiba pintu kamar itu ditutup rapat dan dikunci dari luar. Pangeran Haoran tersentak, dan seketika menyadari bahwa ia telah terjebak. Ia segera menggedor pintu kayu itu dengan keras.

"Buka pintu ini! Kalian yang di luar sana, buka pintunya sekarang juga!" teriak Pangeran Haoran kepada para pelayan dan pengawal yang berdiri berjaga di balik pintu itu.

Namun, mereka semua hanya diam menundukkan kepala, tidak ada yang berani melawan perintah Kaisar.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Kaisar kini berdiri tepat di balik pintu tertutup itu.

"Buka pintunya! Biarkan aku keluar!" ucap Pangeran Haoran sekali lagi dari dalam kamar.

Suara Kaisar terdengar dingin dan penuh ketegasan dari balik dinding. "Dengarkan baik-baik kata-kata Ayahmu ini, Haoran. Kau tidak akan pergi ke manapun, dan kau tidak akan pernah menikahi wanita itu. Hari ini, Ayah akan memberimu 'hadiah' yang mungkin akan membuatmu sadar akan posisi dan kedudukanmu yang sebenarnya."

Kaisar kemudian menoleh ke samping, memberikan perintah tegas kepada para pengawalnya itu.

"Pergilah secepat mungkin ke kediaman Pangeran. Temukan wanita bernama Luna itu... habisi nyawanya, dan bawakan mayatnya ke sini. Aku ingin memperlihatkan kepadanya, agar ia mengerti apa akibat dari menentang aturan kerajaan ini!"

"Siap, laksanakan!" jawab para pengawal itu serentak, lalu mereka segera bergegas pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!