NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 : Salju pertama

“Apa aku perlu gunakan cara ku untuk menghentikan niat mu bersama ku?”

Rei merunduk perlahan. Jarak di antara mereka terkikis habis hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Alin tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan saat wajah pria itu mengunci seluruh ruang geraknya.

“Lakukan,” bisik Rei rendah, suaranya parau namun mengancam. “Dan kau akan melihat bagaimana aku menaklukkanmu dengan keji.”

Alin tercekat. Jantungnya berdentum liar, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia memalingkan wajah sedikit ke samping, berusaha menghindari tatapan Rei yang membakar, meski ia tak bisa lari dari deru napas pria itu yang menerpa kulitnya. Rei bergeming—ia tidak akan menciumnya, tidak sebelum wanita itu menyerah dan memberikan izin.

“Ada apa mencariku?” tanya Alin, suaranya agak bergetar saat ia mencoba meredam kegugupan yang membuncah.

“Aku ada pertemuan di kota Bingdu, selama dua hari.”

“Lalu? Apa hubungannya dengan ku?”

“Ikutlah dengan ku. Aku sudah—-“

“Aku rasa bahasa ku cukup jelas, atau aku perlu gunakan bahasa negara ku sini?” Sela Alin.

Alih-alih marah, seringai tipis terukir jelas di wajah Rei. Ia menyukai sifat Alin yang bebas tanpa rasa takut padanya.

“Yuchen.” Panggil Rei tanpa melepas tatapannya dari wanita itu.

“Ya, Yang Mulia.” Jawab Yuchen membuka pintu ruang itu, terlihat keadaan dimana sang Pangeran masih berdiri di hadapan Alin tanpa mengalihkan pandangannya.

“Siapkan keperluan Dokter Yi,” perintah Rei, senyumnya kini terlihat penuh kemenangan di depan wajah Alin yang menegang. “Kita berangkat sekarang.”

Yuchen tak menjawab. Hanya sebuah anggukan patuh melangkah mundur untuk melaksana perintah tuannya.

Alin mendorong dada Rei dengan seluruh tenaga yang ia punya. Kali ini, pria itu membiarkan dirinya mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Alin untuk menghirup oksigen yang sedari tadi terasa menipis.

“Rei… aku masih memiliki pekerjaan,” ujarnya tegas dan kebingungan akan sikap memaksa pria itu, “dan aku tidak setuju untuk pergi ke kota mana pun bersamamu!" seru Alin.

“Aku tidak bodoh Alin. Jadwal mu libur dengan kesibukan yang sudah kau lakukan untuk menghindar dariku sebelumnya,” balas Rei yang kini mengenakan mantelnya, “Dan mengenai persetujuanmu... aku tidak ingat pernah memintanya. Aku hanya memberitahumu."

“Kau pikir dengan terbiasa memberikan tihta dapat mengatur hidup orang lain?” Geramnya.

Rei menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Alin dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, namun ada percikan obsesi di sana. Ia melangkah mendekat lagi, membuat Alin mundur hingga punggungnya membentur pinggiran meja.

"Aku tidak mengatur hidup orang lain, Alin," bisik Rei sambil menumpukan kedua tangannya di meja, mengurung tubuh Alin didalamnya. "Aku hanya memastikan bahwa apa yang menjadi milikku tetap berada dalam jangkauan penglihatanku."

"Aku bukan milikmu," desis Alin tepat di depan wajahnya.

"Belum," koreksi Rei dengan senyum tipis yang mematikan. "Dan aku bisa sedikit bersabar sampai kau dengan sukarela berdiri disisiku tanpa paksaan.”

Sebelum Alin sempat membalas, pintu kembali diketuk. Suara Yuchen terdengar dari luar.

"Yang Mulia, semua sudah siap.”

Rei menjauh, memberi sedikit jarak diantara mereka dan perlahan menggenggam tangan Alin, tidak terlalu kuat untuk menyakiti, tapi cukup tegas untuk menunjukkan bahwa tidak ada jalan keluar.

"Ayo, Dokter Yi. Setidaknya aku butuh dokter dalam perjalanan ku. Kau akan ku bayar jika itu tidak membebani mu.” Senyumnya halus mengerti keengganan Alin.

Alin hanya bisa mengikuti langkah lebar Rei dengan hati yang mendidih. Ia bersumpah, jika pria ini berpikir perjalanan ke Bingdu akan berjalan mulus sesuai rencananya, Rei telah salah besar. Ia akan memastikan Pangeran arogan ini menyesal telah membawanya ikut serta.

...****************...

Pukul 02.00 malam.

Sedan hitam itu membelah jalanan aspal yang mulai licin karena salju. Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kulit mahal, tensi antara kedua penumpangnya jauh lebih panas daripada sistem penghangat mobil tersebut.

Alin menurunkan kaca jendelanya, rintik salju pertama turun kala itu. Ia tak percaya dapat melihatnya kembali setelah sekian tahun. Rei hanya tersenyum melihat tindakan Alin yang menikmati perjalanannya. Pria itu kembali fokus pada iPad dan jurnalnya. Banyak pekerjaan yang terbuang hanya karena mengejar Alin dimalam itu.

Setengah jam berlalu, Alin melirik Rei yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Otak nya berpikir untuk membuat dirinya menjadi beban pangeran sepanjang jalan.

"Berhenti!" seru Alin tiba-tiba.

Rei, yang sedang fokus pada iPad di tangannya untuk memeriksa laporan pertemuan, tidak mengalihkan pandangan. "Kita sedang di jalan tol, Alin. Tidak bisa berhenti sembarangan."

"Aku mau muntah! Mobil ini terlalu wangi, aku pusing!" Alin mulai membuka kaca jendela, membiarkan angin musim dingin yang ekstrem menusuk masuk dan mengacak-acak tatanan rambut serta dokumen yang dipegang Rei.

Rei menghela napas, jemarinya mengetuk layar dengan tenang sebelum ia memberi perintah lewat interkom pada pengemudi di depan. "Yuchen, cari rest area terdekat. Sekarang."

"Baik, Yang Mulia."

10 menit berlalu.

“Kau yakin baik-baik saja?” Tanya Rei, pria itu menunggu Alin tepat didepan bilik toilet wanita.

Malam sudah larut ia hanya tak ingin Alin bertemu orang aneh.

Alin mengangguk cepat, “Kenapa?”

Rei menahan tawanya dalam senyuman. Wanita itu jelas sedang mengerjainya, rona wajah Alin terlihat segar merona tidak seperti orang yang mabuk perjalanan.

Setelah memaksa berhenti hanya untuk membeli sebotol air mineral yang mereknya harus "spesifik", Alin kembali beraksi begitu mobil melaju lagi.

"Aku lapar. Tapi aku tidak mau makan makanan hambar di kotak ini," Alin mendorong kotak catering premium dari hotel bintang lima ke arah Rei. "Aku mau kue labu yang tadi kulihat di pinggir jalan sebelum masuk tol."

Rei akhirnya meletakkan iPad-nya. Ia menatap Alin dengan sabar, meski urat di pelipisnya sedikit berdenyut. "Kita sudah lewat tiga puluh kilometer dari pintu masuk tol itu, Alin. Aku bisa memesankanmu apa pun begitu kita sampai di Bingdu."

“Ck— ternyata kau tidak bisa memenuhi permintaan sederhana ku, buat apa berbual bisa melakukan segalanya.” Gumam Alin pelan namun dapat terdengar oleh Rei.

Rei terdiam sejenak, menatap tajam Alin yang tampak sangat puas bisa merepotkannya. Bukannya marah, Rei justru mendekatkan posisi duduknya di jok belakang yang luas itu.

"Yuchen," panggil Rei ke arah depan. "Putar balik di pintu tol berikutnya. Ada yang perlu aku beli di rest area awal.”

"Tapi Yang Mulia, jadwal pertemuan dengan Walikota Bingdu—"

"Walikota bisa menunggu," potong Rei dengan suara yang sangat tenang namun tidak menerima bantahan.

Alin sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Rei akan benar-benar memutar balik mobil semewah ini hanya untuk sebuah cake kecilnya.

Keheningan kembali melanda selama beberapa saat, sampai Alin mulai menggeliat tidak nyaman. "Dingin... AC mobil ini terlalu menusuk kaki."

Rei tidak menjawab dengan kata-kata, meletakkan iPadnya dan meraih sebuah remote kecil di pintu mobil, mematikan ventilasi AC di sisi Alin, lalu menarik sebuah selimut cashmere dari bagasi kecil di bawah kursinya.

Tanpa izin, Rei menarik kaki Alin yang memakai sepatu hak tinggi itu dan meletakkannya di atas pangkuannya.

"Apa yang kau lakukan?!" Alin panik, mencoba menarik kakinya kembali.

"Diamlah," gumam Rei sambil mulai memijat pelan punggung kaki Alin yang tegang melalui selimut tebal itu. "Tangan dan kakimu sedingin es. Kalau kau masih ingin merepotkanku dengan permintaan aneh lainnya, setidaknya pastikan tubuhmu tidak jatuh sakit dulu."

Alin terdiam, wajahnya mendadak panas. Ia berniat membuat Rei kesal, tapi kenapa justru ia yang merasa terpojok oleh perhatian pria ini?

"Masih mau cake itu?" tanya Rei, matanya kini menatap Alin dengan binar jenaka yang jarang terlihat.

Alin memalingkan wajah ke arah jendela yang berembun, bergumam pelan. "Jadi... tapi cepat sedikit."

Rei hanya tersenyum tipis, tetap memegangi kaki Alin di pangkuannya, menikmati setiap detik kesabaran yang ia berikan khusus untuk wanita itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!