Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 runtuhnya langit awan putih dan bayangan hitam di kota raja
*Tingkatan Kultivasi Benua Surgawi:*
*Pengumpulan Qi (Qi Condensation)* - Menyerap energi alam ke meridian.
*Pembentukan Fondasi (Foundation Establishment)* - Memadatkan qi menjadi bentuk cair, membangun inti Dantian.
*Inti Emas (Golden Core)* - Membentuk kristal qi padat di Dantian, memungkinkan manipulasi elemen tingkat tinggi dan penerbangan tanpa artefak.
*Jiwa Baru (Nascent Soul)* - Menciptakan proyeksi jiwa yang dapat hidup di luar tubuh fisik.
*Domain Bumi (Earth Realm)* - Menguasai hukum alam di sekitar, menciptakan wilayah absolut (Domain).
*Kaisar Langit (Heavenly Emperor)* - Menyatu dengan hukum Dao, eksistensi setara dewa.
Lembah Ngarai Besi seakan menahan napas saat pedang cahaya raksasa milik Pendeta Bai He berbenturan dengan telapak tangan kosong Cang Qixuan.
Kekuatan Inti Emas tahap awal bertabrakan dengan Pembentukan Fondasi tahap akhir yang disokong oleh metode purba *Seni Menelan Langit*.
*BLAAARRR!*
Gelombang kejut dari ledakan spiritual itu menyapu seluruh lembah. Salju di sekitar mereka langsung menguap. Meja-meja perjamuan hancur berkeping-keping, menerbangkan hidangan mewah bercampur koin emas yang berserakan. Ribuan murid sekte dan prajurit Naga Hitam terlempar mundur hingga puluhan langkah, beberapa bahkan memuntahkan darah karena tidak mampu menahan tekanan udara.
Di pusat ledakan, Pendeta Bai He membelalakkan matanya yang keriput. Pedang pusakanya yang dialiri qi Inti Emas murni... tidak mampu menembus kulit telapak tangan pemuda di depannya.
Lebih buruk lagi, pusaran hitam kemerahan di telapak tangan Qixuan tidak hanya menahan tebasannya, melainkan menyedot energi pedang tersebut layaknya pusaran air raksasa di tengah laut.
"Menelan Langit: Kematian Tiga Elemen," bisik Qixuan datar.
Api Inti Bumi, Air Kegelapan (Yin), dan elemen Bumi yang telah dipadatkan secara brutal di dalam Dantiannya merambat cepat melalui bilah pedang sang pendeta. Tiga energi ekstrem yang saling bertentangan itu merobek qi pelindung Bai He dalam sekejap mata.
*KRETAK!*
Pedang pusaka sekte tingkat Bumi itu retak, lalu hancur menjadi debu spiritual di udara.
Bai He menjerit tertahan. Hawa panas yang melelehkan tulang dan hawa dingin yang membekukan jiwa masuk bersamaan ke dalam lengannya, mengoyak meridian utamanya secara langsung. Ia terlempar mundur, menghantam dinding tebing dengan keras hingga tubuhnya terbenam beberapa inci ke dalam batu.
Pemimpin sekte yang diagungkan itu kini batuk darah, zirah bangau putihnya robek compang-camping, terbakar dan membeku di saat yang bersamaan. Inti Emas di Dantiannya bergetar tidak stabil, nyaris retak.
"Guru!" Jian Wushuang menjerit histeris. Ia mencoba melesat maju, namun Wakil Jenderal Leng Yue sudah lebih dulu berada di depannya. Pedang es perak Leng Yue melesat cepat, langsung menggores leher Jian Wushuang, memaksanya berhenti jika tidak ingin kepalanya terpisah dari badannya.
Hening.
Ribuan murid Sekte Awan Putih yang tadinya sibuk memungut emas atau bersiap bertarung kini membeku total. Pemimpin mereka, ahli Inti Emas, dikalahkan hanya dalam satu gebrakan oleh pemuda yang dikabarkan tidak memiliki meridian!
Qixuan menurunkan tangannya, sedikit mengibaskan debu dari jubah emasnya. Napasnya sedikit memburu. Menghancurkan tebasan Inti Emas secara langsung memang menguras sepertiga cadangan energinya. Namun, pertunjukan kekuatan absolut itu diperlukan untuk menghancurkan moral pasukan sekte secara permanen.
Ia berjalan perlahan menghampiri Pendeta Bai He yang masih tersungkur. Hong Lian mengikuti di belakangnya sambil menyanggul palu raksasanya di bahu, tersenyum mengejek ke arah para pendekar yang ketakutan.
"Pendeta Tua," Qixuan berjongkok di depan Bai He, menatap mata tua yang kini dipenuhi kengerian tersebut. "Kau melihat Inti Emasmu sebagai puncak kultivasi. Namun di mataku, itu hanyalah batu baterai kecil yang rentan meledak."
"K-Kau... kau bukan manusia," rintih Bai He, darah terus menetes dari sudut bibirnya. "Teknik apa yang kau gunakan? Ini... ini ilmu iblis!"
"Apapun namanya, teknik ini memastikanku berdiri sementara kau merangkak di tanah," Qixuan berdiri, menatap ribuan murid sekte yang gemetar.
"Dengar baik-baik, anak-anak anjing sekte!" suara Qixuan menggema, dingin dan tanpa belas kasihan. "Kalian datang kemari untuk memenggal kepalaku demi reputasi kosong dan perintah seorang kaisar yang sedang sekarat. Sekarang, pemimpin kalian telah kalah. Ekspedisi kalian telah gagal. Aku bisa saja menyuruh seratus ribu prajuritku untuk membantai kalian semua di lembah ini hingga tak tersisa sehelai rambut pun."
Para murid sekte mundur selangkah, wajah mereka pucat pasi. Beberapa dari mereka mulai menjatuhkan pedang.
"T-Tuan Muda Cang! Ampuni kami! Kami hanya mengikuti perintah tetua!" ratap seorang murid yang sudah kehilangan keberaniannya.
"Namun, membunuh kalian tidak menghasilkan emas," Qixuan tersenyum miring, senyum pedagang licik yang jauh lebih mengerikan daripada iblis pencabut nyawa. "Oleh karena itu, aku akan memberikan kalian tawaran keselamatan. Aku akan membebaskan kalian pergi dari utara, asalkan..."
Qixuan memberi isyarat kepada Lin Sanniang. Informan Jaring Bayangan itu melangkah maju membawa setumpuk gulungan perkamen yang baru saja dicetak. Ia melemparkan gulungan-gulungan itu ke tengah kerumunan murid sekte.
"...asalkan setiap dari kalian menandatangani Surat Hutang Darah pada Kamar Dagang Katak Emas."
"Surat hutang?" Bai He membelalak tak percaya.
"Benar. Kalian telah merusak pemandangan utara dan menyia-nyiakan waktu berhargaku. Setiap murid biasa harus menandatangani hutang sebesar sepuluh ribu tael emas. Murid elit seratus ribu. Dan untuk Pendeta Bai He... sepuluh juta tael emas," Qixuan mengumumkan dengan nada tanpa dosa.
"Sepuluh juta?!" Bai He nyaris pingsan. Jumlah itu cukup untuk membiayai pengeluaran sektenya selama dua abad! "Ini perampokan terang-terangan! Sekte Pedang Awan Putih tidak akan pernah membayar sepeser pun padamu!"
"Bagus. Jika sekte kalian menolak membayar saat aku menagihnya minggu depan, aku akan mencetak surat hutang ini dan menyebarkannya ke seluruh dunia persilatan. Aku akan menyewa seluruh jaringan pembunuh bayaran tingkat Inti Emas untuk memburu setiap murid yang mengenakan jubah putih. Aku akan membeli setiap pedagang beras untuk menolak melayani sekte kalian. Singkat kata, Pendeta... aku akan membangkrutkan sekte sucimu hingga kalian harus menjual pedang pusaka kalian di pasar loak."
Kekejaman Qixuan bukan pada tebasan pedangnya, melainkan pada pemahaman mutlaknya tentang kehancuran sistemik. Ia tidak membunuh mereka, ia memenjarakan masa depan mereka di bawah tumpukan hutang dan tekanan sosial.
Para murid, dihadapkan pada ancaman kematian instan di lembah itu atau sekadar menandatangani kertas, bergegas memungut gulungan tersebut dan menorehkan cap jempol darah mereka. Kehormatan sebagai pembela jalan kebenaran telah dibuang jauh-jauh, digantikan oleh keputusasaan manusia fana.
Hanya dalam waktu satu jam, Ekspedisi Jalan Kebenaran yang dikirim untuk menghancurkan utara telah diubah menjadi sapi perah raksasa bagi kekayaan Tuan Muda Cang. Mereka berbalik arah dan pulang dengan menyeret langkah, dipimpin oleh Bai He yang harus ditandu karena luka dalam parah, meninggalkan sebagian kecil murid (termasuk Jian Wushuang) yang ditahan sebagai jaminan (sandera) jika sekte menolak membayar cicilan pertama.
"Selesai dengan damai," Qixuan meregangkan tubuhnya, menatap kerumunan yang menjauh. Ia menoleh pada Leng Yue. "Wakil Jenderal, bersihkan tempat ini. Pastikan tawanan ditempatkan di kandang serigala yang telah dibersihkan."
"Siap, Tuan Muda," Leng Yue membungkuk singkat, lalu segera meneriakkan perintah kepada para kapten.
"Tuan Muda," Lin Sanniang melangkah mendekat, memberikan sebuah tabung pesan rahasia bersegel naga hitam. "Pesan kilat dari Mo Chen di ibukota. Situasi di Istana Naga Langit semakin tidak terkendali."
Qixuan membuka segel tersebut. Saat membaca baris demi baris pesan itu, senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi gelap yang sangat serius.
*"Kaisar Yan Wudi kritis. Racun dingin telah mencapai meridian jantung. Pangeran Mahkota Yan Hao telah kembali dari pengasingannya di sekte atas dan mengambil kendali sementara militer istana. Putri Yan Ling diduga telah mencuri Sisa Pil Dewa dari perbendaharaan leluhur untuk menyembuhkan Kaisar. Dan yang terburuk... Mo Chen melaporkan aktivitas 'Bayangan Mawar Merah' di sekitar kediaman Nyonya Besar Yue Xinyi."*
"Bayangan Mawar Merah?" Hong Lian yang ikut membaca dari balik bahu Qixuan mengernyit. "Bukankah itu organisasi pembunuh rahasia yang melayani Pangeran Mahkota? Mereka terkenal menggunakan kutukan darah jarak jauh."
Qixuan meremas pesan tersebut hingga menjadi debu. Matanya memancarkan niat membunuh yang murni, berbeda dengan arogansi santai yang biasa ia tunjukkan. Selama ini ia bermain di area politik dan ekonomi, membiarkan keluarganya menjadi umpan yang aman karena ia yakin Kaisar tidak berani menyerang terang-terangan. Namun kini, Pangeran Mahkota yang bodoh dan kejam ikut campur, menargetkan ibunya.
Itu adalah garis batas mutlak yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun.
"Sanniang, siapkan Bahtera Awan Emas. Kita kembali ke Jinling sekarang juga," perintah Qixuan dingin. "Leng Yue, Hong Lian, kalian tetap di sini. Jika Suku Barbar mencoba menyerang lagi selama ketidakhadiranku, jangan bertahan. Bakar hutan perbatasan mereka. Jangan tinggalkan rumput hidup dalam radius lima puluh li."
"Dimengerti, Panglima," Leng Yue menyentuh dada kirinya dengan hormat.
"Berikan aku daftar kepala mereka saat kau kembali," Hong Lian menyeringai buas.
Hanya butuh setengah jam bagi Bahtera Awan Emas untuk lepas landas kembali, membelah langit malam menuju selatan, meninggalkan utara yang kini sepenuhnya berada dalam cengkeraman sang Naga Bayangan.
Tiga hari kemudian. Ibukota Jinling.
Suasana ibukota terasa mencekam. Jalan-jalan utama dijaga ketat oleh Pengawal Kekaisaran berbaju zirah merah tua—pasukan khusus Pangeran Mahkota Yan Hao. Jam malam diberlakukan secara ketat. Rakyat jelata mengunci pintu mereka, menyadari bahwa badai perebutan takhta sedang bergejolak di dalam dinding istana.
Di dalam Kediaman Cang, udara terasa sangat tegang. Formasi Gaib tingkat Bumi yang dipasang Qixuan beberapa bulan lalu terus aktif, menyelubungi seluruh manor dalam kabut ilusi.
Di halaman belakang, Nyonya Besar Yue Xinyi sedang merawat anggrek spiritual di pot kecilnya. Wajahnya pucat dan matanya cekung. Kekhawatiran pada putranya yang berada di utara dan suaminya (mertuanya) yang terus berakting sakit parah di dalam kamar perlahan menggerogoti kesehatannya.
Mo Chen berdiri seperti bayangan di balik pilar pendopo, matanya menyapu setiap sudut halaman dengan kewaspadaan tingkat Inti Emas—tingkatan yang berhasil ia capai berkat pil penembus batas yang diberikan Qixuan secara diam-diam sebulan lalu.
Tiba-tiba, kelopak anggrek spiritual di tangan Nyonya Yue berubah warna menjadi hitam pekat dan layu seketika.
"Eh?" Nyonya Yue tersentak pelan.
Detik berikutnya, sebuah benang merah tipis yang tak kasat mata melesat dari balik tembok formasi, menembus kabut ilusi, dan langsung mengincar dada Nyonya Yue. Itu bukan senjata fisik, melainkan jarum qi beracun yang disebut Kutukan Mawar Merah.
*TRANG!*
Pedang hitam Mo Chen menebas udara di depan Nyonya Yue. Bunyi benturan antara baja spiritual dan jarum qi menghasilkan percikan api merah di udara. Mo Chen terdorong mundur setengah langkah. Kutukan darah itu sangat padat, diluncurkan oleh ahli Inti Emas tahap menengah dari luar formasi!
"Nyonya Besar, mundurlah ke ruang bawah tanah!" teriak Mo Chen, auranya meledak keluar melindungi wanita tersebut.
Dari luar tembok halaman, terdengar suara tawa melengking yang mengerikan.
"Hahaha! Formasi penipu ini mungkin bisa menahan prajurit fana, tapi tidak bisa menahan ciuman darah dari Mawar Merah!"
Tiga sosok berpakaian jubah merah ketat dengan topeng kain bermotif mawar berduri melompat melewati tembok. Mereka melayang di udara, membuktikan bahwa ketiganya adalah ahli tingkat Inti Emas. Pangeran Mahkota benar-benar menggunakan kartu truf terkuatnya untuk menculik ibu Qixuan sebagai sandera.
"Serahkan wanita itu, Anjing Pengawal. Kami akan memberimu kematian yang bersih," desis salah satu pembunuh bertopeng, tangannya mengumpulkan bola qi darah yang memancarkan bau amis yang menyengat.
Mo Chen tidak menjawab. Matanya setajam elang. Ia tahu ia tidak bisa melawan tiga ahli Inti Emas sendirian, apalagi harus melindungi Nyonya Yue. Namun, tuannya belum kembali, dan ia bersumpah untuk melindungi nyawa wanita ini meski harus membakar jiwanya sendiri.
"Kau harus melangkah melangkahi mayatku," Mo Chen memutar pedangnya, bersiap meluncurkan serangan pamungkas yang membakar nyawanya sendiri.
Namun, tepat sebelum Mo Chen melesat, langit sore di atas Kediaman Cang tiba-tiba menjadi gelap gulita. Awan-awan putih tersapu habis, digantikan oleh bayangan raksasa yang menutupi setengah distrik barat ibukota.
Ketiga pembunuh Mawar Merah itu mendongak secara naluriah.
Dari atas langit, sebuah suara yang sangat familier dan mengandung kemarahan absolut menggema seperti guntur kemurkaan dewa.
"Berani sekali kalian menyentuh satu helai rambut ibuku... aku akan mencabut urat nadi kalian dan menjadikannya senar kecapi malam ini juga!"
*BLARR!*
Sebuah meteor emas melesat turun dari geladak Bahtera Awan Emas yang baru saja tiba. Bukan meteor, melainkan Qixuan sendiri yang melompat dari ketinggian dengan kecepatan penuh.
Ia mendarat tepat di tengah-tengah halaman, di antara Mo Chen dan ketiga pembunuh tersebut. Lantai batu bata hancur lebur, menciptakan kawah selebar sepuluh meter. Debu mengepul tebal.
Saat debu itu mereda, sosok Qixuan terlihat perlahan berdiri tegak. Wajah tampannya tak lagi memancarkan arogansi santai atau tawa bodoh. Wajah itu kini dingin, keras, dan penuh dengan kebiadaban murni. Sembilan pusaran di dalam tubuhnya meraung bersamaan, memancarkan qi tiga elemen (Bumi, Yin, dan Yang) yang saling berbenturan namun berpadu secara mengerikan.
Meskipun secara teknis ia baru mencapai Pembentukan Fondasi tahap akhir, intensitas dan kepadatan energinya telah jauh melampaui batas kewajaran manusia, mendekati ranah awal Inti Emas.
Ketiga pembunuh Mawar Merah mundur selangkah, kaget merasakan tekanan yang luar biasa dari pemuda yang dikabarkan cacat meridian tersebut.
"Cang Qixuan?!" teriak salah satu pembunuh. "Informasi dari istana keliru! Dia adalah ahli bela diri!"
"Tidak peduli seberapa kuat dia, dia baru di tingkat Pembentukan Fondasi! Kita bertiga ahli Inti Emas! Bunuh dia, lalu seret ibunya!" komando pemimpin pembunuh.
Ketiganya langsung melesat maju dari tiga arah berbeda. Formasi mematikan Segitiga Mawar Darah dikerahkan. Ratusan jarum qi darah yang dipadatkan melesat bagai badai dari ujung jari mereka, mengunci setiap ruang gerak Qixuan.
Qixuan tidak menghindar. Ia hanya mengangkat kepala, matanya yang berwarna biru-emas menyala terang.
"Mo Chen, tutup mata ibuku," perintah Qixuan pelan.
Mo Chen segera berbalik dan menutup mata Nyonya Yue yang masih syok.
Begitu pandangan ibunya tertutup, Qixuan melepaskan kekangan pada kultivasi setannya.
"Seni Menelan Langit, Teknik Pembantai... Teratai Lahar Kegelapan!"
Qixuan menghantamkan kedua telapak tangannya ke tanah. Pusaran elemen Bumi menyedot ribuan jarum darah itu masuk ke dalam tanah, lalu memadukannya dengan Api Inti Bumi dan Air Kegelapan Yin.
Permukaan tanah halaman Kediaman Cang seketika mendidih. Pilar-pilar lahar berwarna hitam legam—perpaduan magma dan es purba—meletus dari bawah telapak kaki ketiga pembunuh tersebut.
"Apa in—" jeritan pemimpin pembunuh terpotong sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya.
Pilar lahar hitam itu menghantam mereka dari bawah, menembus qi pelindung Inti Emas mereka seperti pisau panas memotong mentega. Api itu tidak membakar kulit mereka, melainkan membekukan dan merebus organ dalam mereka secara bersamaan.
Dalam hitungan detik, tubuh ketiga pembunuh bayaran tingkat tinggi yang ditakuti seluruh kekaisaran itu hancur menjadi debu es hitam yang tertiup angin sore, tidak meninggalkan setetes pun darah atau sisa tulang.
Pemuda bertopeng sutra ini telah menghapus keberadaan mereka dari dunia fana dengan satu teknik brutal.
Qixuan berdiri perlahan dari posisi jongkoknya. Ia menghela napas panjang, menekan kembali energi liarnya ke dalam Dantian agar tidak menghancurkan sisa halaman rumahnya. Auranya perlahan mereda, kembali menjadi tenang.
Ia berbalik menatap Mo Chen dan ibunya yang masih gemetar di belakang pengawal itu.
"Ibu," panggil Qixuan lembut, suaranya sangat kontras dengan monster yang baru saja melakukan pembantaian tadi. Ia merapikan jubahnya yang kotor dan melangkah mendekati Nyonya Yue dengan senyum penyesalan. "Maafkan Xuan'er karena pulang sedikit berisik. Ibu tidak terluka?"
Nyonya Yue Xinyi perlahan menyingkirkan tangan Mo Chen dari wajahnya. Ia menatap kawah yang berasap di halaman, lalu menatap putranya yang selalu ia anggap tak berguna. Air mata menggenang di pelupuk mata sang ibu, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan yang meluap.
"Xuan'er... kau... kultivasimu..." suara Nyonya Yue tercekat.
Qixuan menggenggam kedua tangan ibunya yang dingin. "Rahasia besar, Ibu. Anggap saja Xuan'er tiba-tiba bermimpi disinari dewa saat tidur di perbatasan."
Setelah menenangkan ibunya dan menyuruh pelayan membawanya ke dalam manor, Qixuan berbalik. Wajahnya kembali membeku. Ia menatap Nyonya Su Liyin yang baru saja turun dari bahtera bersama Lin Sanniang.
"Liyin," suara Qixuan bergetar oleh amarah yang tertahan. "Istana benar-benar telah kehabisan kesabaranku. Mereka mengincar ibuku. Berarti, permainan petak umpet ini sudah selesai."
Su Liyin membungkuk dalam. "Apa perintah Anda, Tuan Muda?"
"Aktifkan seluruh bidak emas kita di dalam ibukota. Bekukan setiap transaksi gandum, air, dan persenjataan untuk Istana Kekaisaran mulai malam ini. Tarik semua uang yang dipinjamkan Kamar Dagang Katak Emas kepada para menteri istana."
Qixuan menatap ke arah pusat kota, di mana bayangan Istana Naga Langit menjulang sombong di bawah langit sore.
"Malam ini, Jaring Bayangan tidak akan lagi bersembunyi di bawah tanah. Malam ini, kita akan mencekik Pangeran Mahkota dan Kaisar Yan Wudi tepat di atas takhta emas mereka. Biarkan ibukota melihat siapa penguasa sejati Benua Timur."