Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kultivasi di Era Hunter
Di dalam ruangan medis VVIP yang berdinding tungsten dan kaca anti-radiasi itu, udara terasa berhenti mengalir.
Semua mata tertuju pada sang tuan muda. Wu Xuan berdiri di samping ranjang dengan postur santai.
Bu Yue, gadis kecil yang masih terbaring lemah dengan wajah berlinang air mata itu, menatap Wu Xuan dengan mata membulat. "A-Apa aku memang bisa sembuh, Kakak...?"
Wu Xuan menatapnya dengan kelembutan yang sangat terukur. "Tentu saja. Tapi mulai saat ini, kau harus menuruti setiap kata-kataku tanpa ragu. Bahkan jika rasanya aneh, bahkan jika kau takut. Kau hanya boleh mendengarkan suaraku. Bisa?"
Gadis kecil itu terdiam sejenak. Insting murninya sebagai seorang anak merasakan bahwa pemuda di depannya ini bukanlah orang jahat, meski auranya terasa sangat aneh. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bu Yue menganggukkan kepalanya perlahan.
"Bu Yue... Bu Yue janji akan dengar kata Kakak."
"Bagus," ucap Wu Xuan.
Seketika, senyum lembut di wajahnya menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin dan rasional. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah dokter kepala yang masih berdiri kaku di sudut ruangan.
"Kau," tunjuk Wu Xuan pada dokter berseragam hazmat itu. "Buka semua alat dari tubuhnya. Cabut dan singkirkan semua kabel yang menempel di kulitnya. Sekarang."
Mata sang dokter tua nyaris melompat keluar dari rongganya. "T-Tuan Muda! Itu akan membahayakan anak ini! Jika saya mencabut selang pemompa itu, sirkulasi mana liar di dalam tubuhnya tidak akan memiliki saluran pembuangan! Jantungnya akan meledak dalam waktu kurang dari lima menit!"
Wu Xuan tidak berteriak, ia juga tidak mengulangi perintahnya. Ia hanya menatap dokter itu dengan pandangan kosong yang terasa seperti jurang tak berdasar.
"Lakukan." suara Wu Xuan mengalir pelan, sedingin pecahan es.
Sang dokter gemetar hebat. Ia menoleh ke arah Wu Yuena dan Wu Jiang, berharap sepasang pilar kemanusiaan itu akan menghentikan tindakan bunuh diri ini.
Namun, Wu Jiang hanya melipat tangannya di depan dada, wajahnya sama kakunya dengan patung dewa perang. "Dengarkan dia, Dokter? Lakukan apa yang dia perintahkan."
Dokter tua itu menelan ludah dan segera bergerak dengan panik. Dibantu oleh beberapa staf medis yang juga ketakutan setengah mati, mereka mencabut semua jarum infus, selang pembuangan, dan elektroda dari tubuh Bu Yue.
Suara dengungan mesin-mesin canggih di ruangan itu mendadak mati. Layar-layar monitor berubah menjadi hitam.
Kini, di atas ranjang kristal tersebut, Bu Yue hanya berbaring sendirian, terlihat jauh lebih kecil dan rapuh tanpa penyokong kehidupan mekanis yang selama ini mengikatnya. Kulitnya yang sepucat pualam mulai memancarkan pendar biru yang tidak stabil. Mana liar di dalam tubuhnya mulai memberontak karena kehilangan saluran pembuangan.
Wu Xuan tidak membuang waktu sedetik pun. Ia mengulurkan tangannya, mengambil sebuah jarum emas baru dari kotak sterilisasi yang tertinggal di atas nampan medis.
Ia kembali menunduk, memfokuskan seluruh atensinya pada Bu Yue.
"Gadis kecil, dengarkan Kakak baik-baik," ucap Wu Xuan, suaranya kini kembali berubah, menggunakan nada bariton yang sangat menenangkan, sebuah teknik psikologis untuk menekan kepanikan di alam bawah sadar sang anak.
"Kakak akan menyentuh beberapa titik di tubuhmu. Jika kau merasakan sakit di titik itu, kau harus memberitahuku dengan cepat. Jangan ditahan. Mengerti?"
Bu Yue mengangguk pelan, napasnya mulai sedikit memburu saat mana biru merambat ke arah lehernya.
"Ini tidak akan sesakit sebelumnya," lanjut Wu Xuan, ujung jarinya yang panjang dan presisi mulai meraba titik-titik meridian di lengan dan bahu gadis itu. "Tapi saat rasa sakit itu datang, kau harus menahannya sebentar. Jangan membayangkan rasa sakit itu sebagai api yang panas dan membakar. Pejamkan matamu... dan bayangkan itu adalah aliran air sungai yang sejuk. Air yang mengalir tenang di dalam dirimu."
Bu Yue memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengikuti instruksi aneh tersebut.
"Apa kau mengerti, gadis kecil? Jika belum mengerti, akan Kakak jelaskan perlahan sambil kita mengobatimu," bisik Wu Xuan.
"Bu Yue... mengerti... air dingin... bukan api..." gumam gadis kecil itu, bibirnya mulai bergetar menahan tekanan mana yang semakin liar di dadanya.
Wu Xuan memulai eksekusinya. Dengan gerakan yang sangat cepat namun tidak meninggalkan jejak kekerasan sedikit pun, jari telunjuk dan tengahnya menekan beberapa titik krusial di jalur saraf Bu Yue.
"Sakit?" tanya Wu Xuan.
Bu Yue menggeleng.
Wu Xuan memindahkan tekanannya ke bagian bawah rusuk. "Di sini?"
Bu Yue kembali menggeleng, meski wajahnya semakin memucat.
Roda gigi analisis di otak Wu Xuan berputar. "Jalur distribusi luarnya normal. Penyumbatan murni terjadi di pusat reaktor dan katup sirkulasinya."
Tangan Wu Xuan berpindah, menekan titik spesifik di dekat pangkal bahu kiri dan tepat di atas area jantung.
Tiba-tiba, Bu Yue menjerit tertahan, tubuhnya menegang keras. "S-Sakit, Kakak! Di situ sakit sekali!"
Tanpa ragu sedetik pun, Wu Xuan memutar jarum emas di tangannya dan menusukkannya langsung ke titik di bahu, diikuti satu jarum lagi yang ia ambil dengan kecepatan kilat, menembus titik tepat di atas jantung.
Srat! Srat!
Bukan erangan kesakitan yang keluar dari mulut Bu Yue, melainkan sebuah tarikan napas panjang yang terasa sangat melegakan. Pendar biru yang tadinya membakar pembuluh darah di sekitar jantungnya tiba-tiba berhenti bergejolak, seolah tertahan oleh bendungan tak kasat mata yang baru saja dibangun oleh dua jarum emas tersebut.
Di dalam keheningan otaknya, tawa sarkastis sang jenius bergema.
"Sangat primitif," bisik Wu Xuan, menilai tatanan biologis dunia baru ini. "Mereka mengandalkan mesin pemompa seharga jutaan dolar hanya untuk membuang energi, padahal tubuh manusia adalah wadah yang dirancang untuk beradaptasi. Jika pipanya tersumbat, jangan hancurkan airnya, perlebar saja salurannya."
Wu Xuan menundukkan wajahnya mendekati telinga Bu Yue.
"Sekarang, buka matamu dan dengarkan baik-baik," perintah Wu Xuan. Saat Bu Yue membuka matanya, ia melihat jari Wu Xuan menunjuk lurus ke arah perut bagian bawahnya, tepat dua inci di bawah pusarnya.
"Tarik energi yang terasa seperti air di dadamu itu," tuntun Wu Xuan, membimbing aliran energi gadis itu dengan instruksi verbal. "Jangan biarkan ia menumpuk di jantungmu. Arahkan ia turun. Dorong air itu ke perutmu. Taruh semuanya di sini."
Wu Yuena yang sedari tadi menahan napas, mengerutkan keningnya. Sebagai Healer, ia tahu betul anatomi Awakening. Menyimpan mana di perut adalah konsep yang tidak pernah ada. Jantung adalah pusat segalanya dan itu adalah panduan dari Tower Semesta. Menyimpan energi di tempat yang tidak memiliki organ pengolah mana sama saja dengan membiarkan energi itu mengendap menjadi racun mematikan.
Tapi ia tidak menyela. Instingnya mengatakan bahwa putranya sedang melakukan sesuatu yang melampaui pemahaman sains modern.
Bu Yue, yang tidak tahu apa-apa tentang teori medis atau aturan hunter, hanya melakukan apa yang diperintahkan. Ia polos, dan kepolosannya adalah kunci utamanya. Menggunakan imajinasinya, ia memvisualisasikan rasa sesak di dadanya sebagai air, lalu perlahan "memaksa" air itu mengalir turun ke arah perutnya.
Detik berikutnya, sebuah fenomena yang tidak masuk akal terjadi.
Pendar biru yang berkumpul di jantung gadis itu perlahan meredup, lalu beralih turun, menciptakan sebuah titik cahaya biru yang sangat terang dan stabil tepat di bawah pusarnya. Energi itu tidak meledak. Energi itu tidak menjadi racun. Energi itu... menetap dengan damai, berputar membentuk sebuah pusaran kecil yang harmonis.
Melihat hal itu, mata hitam kecoklatan Wu Xuan berkilat tajam. Sebuah kepuasan memenuhi logikanya.
"Bagus," bisik sang tiran dengan senyum kemenangan yang tak terlihat oleh siapa pun. "Hipotesisku terbukti sempurna. Itu berarti... meskipun nama dan sifat dasarnya berbeda, pada intinya, Mana bisa digunakan dan dimanipulasi persis seperti Qi."
Dunia ini tidak pernah mengenal konsep Dantian. Mereka hanya tahu memompa jantung hingga meledak untuk mengeluarkan energi kasar. Hari ini, di dalam ruang medis bawah tanah ini, Wu Xuan baru saja mengajarkan sesuatu yang akan memutarbalikkan seluruh fondasi kekuatan umat manusia.
Ia mengajarkan kultivasi.
"Kau melakukannya dengan sangat baik, gadis kecil," puji Wu Xuan dengan tulus, suaranya sangat lembut.
Ia kemudian menarik kedua jarum emas itu dengan satu sentakan cepat tanpa rasa sakit.
"Sekarang, bangun dan duduklah," perintah Wu Xuan.
Bu Yue, yang tadinya divonis tidak akan bisa bangun dari ranjang tanpa mesin penyokong, perlahan mengangkat punggungnya. Tubuhnya terasa luar biasa ringan. Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa terbakar. Ia duduk di atas ranjang kristal, memandang tangan mungilnya sendiri dengan rasa tidak percaya.
"Duduk bersila," instruksi Wu Xuan, memposisikan kaki gadis itu ke dalam postur meditasi dasar. "Tutup matamu. Bernapaslah perlahan. Setiap kali kau menarik napas, ambil sisa air di jantungmu, dan setiap kali kau membuang napas, simpan air itu di pusarmu. Jangan berhenti sampai dadamu terasa benar-benar nyaman."
Setelah memastikan Bu Yue masuk ke dalam ritme napas yang teratur, Wu Xuan menegakkan tubuhnya.
Senyum lembut di wajahnya lenyap seketika, menguap bagaikan embun yang tersapu badai. Ia memutar tubuhnya, menatap kerumunan orang di belakangnya—mulai dari Butong, dokter kepala, Xu Xin, hingga kedua orang tuanya.
Ekspresi Wu Xuan saat ini adalah perwujudan murni dari seorang tiran yang tidak mentolerir gangguan. Matanya memancarkan otoritas yang sangat dingin.
"Semuanya, keluar," perintah Wu Xuan. Nada suaranya tenang, namun tekanannya membuat udara di ruangan itu terasa seperti berubah menjadi besi padat.
Dokter kepala kembali membelalakkan matanya. "K-Keluar?! Tapi Tuan Muda, pasien masih dalam tahap observasi kritis! Jika terjadi lonjakan—"
"Keluarlah," potong Wu Xuan, matanya mengunci mata dokter tua itu hingga pria tersebut merasa nyawanya baru saja dicabut sejenak.
Wu Xuan lalu mengalihkan pandangannya pada orang tuanya.
"Pa, Ma, bawa mereka semua keluar dari ruangan ini. Dan kunci pintunya dari luar," ucap Wu Xuan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut dan hormat, namun intruksinya tetap.
Ia melakukan ini bukan karena arogansi kosong. Dalam hukum kultivasi, apa yang sedang dilakukan oleh gadis kecil ini adalah proses yang sangat sakral dan mematikan: Pembentukan Dantian pertama. Di tahap kritis ini, subjek harus berada dalam keadaan mental yang sepenuhnya kosong dan stabil.
Ketidakstabilan emosional di sekitarnya—seperti rasa takut dokter yang berlebihan, aura intimidasi Wu Jiang, atau bahkan rasa gembira dan cemas dari Butong—bisa beresonansi dengan dantian gadis itu, memicu fluktuasi yang akan membakar sarafnya dari dalam.
Wu Yuena, yang memiliki kepekaan spiritual tingkat tinggi, bisa merasakan resonansi aneh dari tubuh gadis kecil itu. Ia mengangguk mengerti.
"Ayo keluar," ucap Wu Yuena sambil menarik lengan suaminya. "Xuan'er tahu apa yang dia lakukan. Kita tidak boleh mengganggunya."
Wu Jiang menatap putranya sejenak, lalu tersenyum tipis penuh kebanggaan. Ia berbalik dan memberi isyarat tangan. "Kosongkan ruangan."
Staf medis dan Xu Xin segera bergerak keluar menuju pintu berlapis baja.
Di sudut ruangan, Butong tidak langsung pergi. Pria berbadan besar itu berjalan mendekat dengan langkah gemetar. Sebelum Wu Xuan sempat menghentikannya, Butong menjatuhkan dirinya, berlutut dengan kedua kaki menyentuh lantai titanium yang dingin. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, dahi kasarnya bersentuhan dengan lantai.
"Tuan Muda..." suara Butong serak dan basah oleh air mata. "Saya tidak tahu sihir apa yang Anda gunakan... tapi Anda telah menyelamatkan dunia saya. Nyawa saya—"
"Simpan air matamu dan hentikan drama murahan ini," potong Wu Xuan dengan nada dingin yang realistis. Ia menatap Butong tanpa sedikit pun rasa simpati atau heroisme klise. Ia tidak melakukan ini untuk dipuja. Ia melakukan ini untuk menguji teorinya dan mendapatkan katalis energinya.
Wu Xuan membalikkan badannya, menatap kembali ke arah Bu Yue yang sedang bernapas teratur, meninggalkan Butong yang masih berlutut di belakangnya.
"Tunggulah di luar," ucap Wu Xuan tanpa menoleh lagi, nada suaranya mengalir tenang, memberikan sebuah kepastian yang tak terbantahkan. "Putrimu akan selamat."
Pintu baja tebal itu berdeser menutup dengan suara mekanis yang berat.
CLANG!
Ruangan VVIP itu kini terkunci rapat, mengisolasi Wu Xuan dan subjek eksperimen kecilnya dari dunia.
Bersambung...