Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bergerak di Atas Papan Catur—9
Setelah kesepakatan gila itu terucap dari bibir Danny, Aletha tidak membuang waktu untuk memperpanjang drama malam ini. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah mundur satu langkah dengan senyuman anggun yang tetap terpatri di wajah cantiknya.
"Kalau begitu, kesepakatan selesai, Mr. Danny Atonio," ucap Aletha santai, merapikan tali tas Chanel-nya.
Namun, sebelum Danny sempat membalas, Aletha tiba-tiba maju satu langkah dengan gerakan kilat yang tak terduga. Ia berjinjit sedikit, menumpu satu tangannya di bahu tegap Danny, lalu—cup.
Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi kanan Danny, meninggalkan sensasi hangat sekaligus menggelitik di perutnya.
"Sebagai salam perkenalan calon istri," bisik Aletha di dekat telinga Danny dengan nada menggoda, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar dengan tawa renyah yang tertahan.
Di tempatnya berdiri, tubuh tegap Danny mendadak kaku. Sang CEO Dirgantara Group yang terkenal kejam dan tidak tersentuh itu benar-benar nge-freeze di tempat. Sentuhan tiba-tiba itu seperti menyengat sistem sarafnya, membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Ia menyentuh pipinya yang masih terasa hangat, menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup dengan pandangan tak percaya.
Aletha menuruni anak tangga pualam dengan langkah riang. Namun begitu sampai di lobi utama lantai bawah, daun pintu besar mansion terbuka. Sosok Papa Michael dan Mama Dominic melangkah masuk, tampak baru saja pulang dari acara jamuan mereka.
Langkah Aletha terhenti, dan Ia tersenyum sangat ramah, membungkuk sedikit penuh hormat.
Papa Michael dan Mama Dominic sempat terkejut melihat ada gadis cantik di dalam rumah mereka malam-malam begini. Namun, ingatan Papa Michael langsung bekerja cepat saat mengenali garis wajah akrab di hadapannya.
"Eh, Aletha ya? Anaknya Pak Adinata yang yang punya bisnis migas itu, kan?" tanya Papa Michael, wajah tegasnya langsung berubah menjadi senyuman hangat.
"Iya, Om. Saya Aletha," jawab Aletha manis. Dengan gerakan yang sangat sopan dan penuh tata krama, ia mendekat lalu menyalami tangan Papa Michael dan Mama Dominic bergantian.
Mama Dominic langsung berbinar senang. Tatapan matanya yang tadi lelah karena menghadiri pesta perjamuan, kini berubah menjadi penuh selidik sekaligus kekaguman melihat keanggunan Aletha yang begitu alami. "Aduh, cantik dan sopan sekali kamu, Nak."
Di atas tangga, Danny akhirnya berhasil menguasai diri dari rasa syoknya. Ia berjalan tergesa-numun-tetap-tenang menuruni tangga untuk menyusul Aletha, masih dengan kemeja hitam yang kancing teratasnya terbuka.
Melihat putranya turun, Papa Michael melirik jam dinding raksasa yang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. "Aletha, ini sudah larut malam sekali. Bahaya anak perempuan nyetir sendirian di Jakarta jam segini. Kamu nggak mau menginap saja di sini?"
Aletha tersenyum canggung, mencoba menolak dengan halus agar tidak terlihat terlalu gampangan. "Ah, terima kasih banyak atas tawarannya, Om. Tapi sepertinya tidak usah, rumah saya tidak terlalu jauh kok dari—"
"Iya, menginap saja, Nak. Kamar tamu di sini banyak yang kosong dan sudah rapi," potong Mama Dominic ikut memaksa, memegang tangan Aletha dengan erat seolah tidak mau kehilangan calon menantu idamannya.
Sebelum Aletha sempat mencari alasan lain, Danny yang baru saja sampai di dekat mereka tiba-tiba memotong pembicaraan. Sebuah seringai tipis yang menantang terukir di wajah tegas sang CEO.
"Ayolah, Sayang," ucap Danny dengan nada suara yang sengaja dibuat berat dan penuh perhatian, matanya menatap Aletha dengan binar jenaka. "Aku sudah bilang tadi di atas untuk menginap saja, kan? Jangan keras kepala."
Sayang? Aletha sempat tersentak di dalam hatinya. Ia menatap Danny yang kini berdiri di sampingnya dengan pasokan kepercayaan diri yang sudah kembali seratus persen. Di balik senyum manis yang dipasang Aletha untuk merespons Danny, batinnya bergejolak dipenuhi adrenalin yang membakar. Sialan, dia pinter juga manfaatin situasi, pikir Aletha licik. Oke, fix. Ini emang lawan yang paling pas buat gue!
Aletha akhirnya mengangguk perlahan, menoleh ke arah Mama Dominic dengan ekspresi wajah yang tampak pasrah. "Yaudah, Tante... kalau dipaksa begini, Aletha ikut kata Danny aja, Aletha menginap malam ini."
"Nah, gitu dong! Bagus, Danny, jagain calon istrimu," ucap Mama Dominic senang bukan main.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Aletha untuk berubah pikiran lagi, Danny tiba-tiba meraih jemari lentik Aletha, menggandeng tangan gadis itu dengan erat dan posesif. "Kalau begitu, kami ke atas dulu, Mah, Pah. Aletha butuh istirahat."
Danny langsung menarik lembut tangan Aletha, membimbingnya kembali menaiki tangga menuju kamarnya—bukan ke kamar tamu.
Di lobi bawah, Papa Michael dan Mama Dominic hanya bisa berdiri berdampingan sembari tersenyum-senyum lebar melihat pemandangan langka tersebut. Sepanjang hidup mereka, mereka tidak pernah melihat Danny menggandeng seorang wanita dengan inisiatif sendiri, apalagi sampai membawanya ke kamar pribadi.
Mama Dominic menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dengan wajah berbinar bahagia. "Wah... kayaknya kita bentar lagi mau dapet cucu nih, Pah."
"Iya, Mah. Pilihan Danny kali ini memang tidak salah," sahut Papa Michael sembari terkekeh pelan, ikut merasa lega karena masa depan Dirgantara tampaknya akan segera menemukan titik terang. Sementara di lantai atas, pintu kamar hitam itu kembali tertutup, mengunci dua orang manipulator ulung di dalam satu ruang yang sama.
Cklek. Brak.
Pintu ganda kamar hitam legam itu tertutup rapat, seketika memutus atmosfer hangat dari ruang keluarga di lantai bawah. Begitu kunci otomatis berbunyi bip, keheningan yang intens langsung menguasai ruangan.
Danny melepaskan gandengan tangannya, berniat melangkah menuju sofa untuk menaruh jam tangan mewahnya. Namun, Aletha tidak membiarkan pria itu lepas kendali begitu saja atas situasi ini. Keberanian Danny yang memanggilnya "Sayang" di depan orang tuanya tadi harus dibayar tuntas.
Dengan gerakan yang sangat halus secepat kilat, Aletha melangkah maju menghalangi jalan Danny. Sebelum pria itu sempat menghindar, Aletha menjinjitkan kakinya dan langsung melingkarkan kedua lengan indahnya di leher tegap Danny.
Jarak mereka terkikis habis hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Aroma parfum Scandalwood dari tubuh Aletha kembali menyeruak, menginvasi indra penciuman Danny secara brutal. Aletha mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Danny dengan tatapan menggoda yang sangat mematikan.
"Danny... Danny..." bisik Aletha, suaranya sengaja dibuat rendah dan berirama manja di dekat ceruk leher pria itu. Seringai liciknya terukir begitu dekat. "Sepertinya kamu sudah tidak sabar sekali, ya? Sampai-sampai harus menyeret calon istrimu ke kamar secepat ini?"
Ditembak dari jarak sedekat itu dengan posisi yang sangat intim, pertahanan milik Danny runtuh seketika. Tubuhnya menegang sempurna. Semburat merah tipis yang coba ia tahan mati-matian perlahan muncul di area leher dan telinganya. Napasnya mendadak terasa berat, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Danny Antonio terlihat gugup di hadapan seorang wanita.
Danny buru-buru memegang pergelangan tangan Aletha, mencoba melepaskan kuncian itu dengan sisa-sisa wibawanya yang hampir hilang terbang.
"Aletha, ayolah..." ucap Danny, suaranya sedikit serak dan gugup, membuat egonya terpukul mundur. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan dengan jujur, "Saya tidak sekuat itu untuk menahan godaan kalau posisinya sedekat ini."
Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari mulut pria yang dikenal anti-wanita itu, Aletha merasa egonya terpenuhi dengan sangat puas. Taruhan di kampus rasanya sudah berada di dalam genggamannya. Ia tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang terdengar sangat menghibur.
Aletha akhirnya mengalah. Ia menurunkan kedua tangannya dari leher Danny, lalu melangkah mundur dua langkah sembari mengibaskan rambut panjangnya santai.
"Hahaha, bercanda!" seru Aletha dengan wajah tanpa dosa, seolah baru saja tidak melakukan hal yang bisa membuat jantung pria di depannya copot.
Danny mengembuskan napas lega yang panjang, mengusap tengkuknya yang terasa panas. Ia buru-buru memalingkan wajah, berusaha menetralisir debaran sialan di dadanya yang masih berpacu cepat akibat ulah gadis licik di depannya ini.
"Ehem..." Danny berdeham, mencoba mengembalikan suaranya ke mode tegas seperti biasa. Ia menunjuk ke arah pintu walk-in closet miliknya yang berada di sudut kamar. "Ganti bajumu dengan baju yang sudah pelayan siapkan di dalam. Tidak mungkin kamu tidur mengenakan baju seperti itu."
Aletha melirik dress navynya, lalu mengangguk setuju. "Oke. Makasih, Mr. Danny."
Di dalam ruangan ganti yang super luas milik Danny, Aletha menemukan sebuah pakaian tidur baru yang tampaknya memang baru saja diletakkan oleh pelayan atas perintah Mama Dominic tadi. Pakaian itu adalah setelan piyama satin panjang berwarna navy blue yang sangat lembut.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Aletha melangkah keluar setelah mengganti gaunnya dengan piyama satin panjang tersebut. Piyama itu tampak sedikit kebesaran di tubuh proporsionalnya, namun justru memberikan kesan manis dan menggemaskan yang sangat kontras dengan pembawaan liarnya semalam. Rambut panjangnya kini ia cepol asal ke atas, menyisakan leher jenjangnya yang putih bersih.
Danny yang saat itu sudah mengganti kemejanya dengan kaus rumahan santai berwarna hitam, sempat tertegun sesaat melihat penampilan baru Aletha yang tampak begitu... berbeda. Aletha malam ini terlihat seperti gadis rumahan biasa yang sangat cantik dan polos.
Permainan malam pertama di bawah atap yang sama baru saja dimulai, dan kedua penguasa ego ini tahu kalau tidur di satu ranjang yang sama malam ini tidak akan berjalan dengan mudah.