Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Pedang Patah.
Bab 8. Pedang Patah.
Setibanya di gedung Aula Bela Diri, Wang Fei pun langsung melapor kepada petugas yang merupakan seorang pria paruh baya bernama Tetua Mu Jinhai.
"Salam, Tetua Mu. Nama saya Wang Fei, seorang murid pelayan yang telah berhasil menembus ranah Penempaan Tubuh level 7," ucapnya sambil menangkupkan tangan dan membungkukkan badan.
"Hmm... benarkah? Kalau begitu keluarkan auramu. Biarkan aku memeriksanya."
Seketika, tanpa ragu Wang Fei langsung melepaskan basis kultivasinya. Dengan suara "WUSH!", aura dari ranah Penempaan Tubuh level 7 tahap awal pun memancar keluar.
Aura itu bahkan sangat stabil, kokoh, dan sangat pekat. Yang lebih mengejutkan lagi, aura tersebut hampir setara dengan aura Penempaan Tubuh level 8 tahap awal.
"Hmm... bibit yang bagus," puji orang tua itu dengan puas.
Sebagai seorang tetua yang sudah berada di sekte ini selama bertahun-tahun, sangat jarang baginya untuk memuji seseorang. Itu karena penilaiannya terhadap seseorang cukup tinggi, dan saat ini Wang Fei benar-benar masuk dalam kategori pemuda yang mendapatkan pujiannya.
Namun meskipun demikian, itu hanya di dalam hati. Sementara di permukaan, ekspresinya tetap datar dan acuh tak acuh.
"Baiklah. Kau lulus. Sesuai dengan aturan sekte, kau bisa masuk ke lantai pertama untuk mengambil senjata dan teknik bela diri tingkat dasar yang kau inginkan... pergilah," ucapnya sambil melambaikan tangan.
"Murid mengerti."
Setelah membungkuk sekali lagi, Wang Fei pun segera melangkah masuk ke lantai satu. Saat pandangannya menyapu sekitar, binar kagum langsung terpancar dari matanya.
Di lantai satu ini, berbagai macam senjata tersusun sangat rapi di rak-rak besar. Sebagian lagi digantung di dinding. Saat matanya menelisik lebih jauh, dia menemukan berbagai macam senjata seperti pedang, tombak, panah, tongkat, cambuk, golok, kapak, dan lain sebagainya.
Lantai pertama tersekat menjadi dua bagian, di mana bagian pertama khusus untuk senjata dan bagian kedua khusus untuk buku teknik bela diri.
Dengan tegas Wang Fei segera masuk ke ruang senjata. Sebenarnya, di dalam cincin ruang miliknya sudah ada pedang hitam. Namun setelah diteliti melalui ingatan Jie Fang, ternyata itu adalah senjata tingkat Bumi atau juga bisa disebut senjata bintang 4.
Perlu diketahui, tingkatan senjata dibagi menjadi sembilan tingkat.
Di antaranya adalah Kuning, Perak, Hitam, Bumi, Langit, Raja, Surga, Kaisar, dan terakhir Dewa.
Di Benua Yangjun ini, senjata tertinggi hanyalah tingkat Raja. Mengenai tingkat Surga, Kaisar, apalagi Dewa, hampir semua kultivator di benua itu tidak pernah melihatnya.
Jadi, setelah berpikir sejenak, Wang Fei memilih untuk tetap rendah hati. Memiliki senjata tingkat tinggi memang luar biasa, tetapi itu juga seperti pedang bermata dua. Ibarat memegang kentang panas, jika tidak diimbangi dengan kekuatan yang cukup, senjata itu justru bisa berubah menjadi ancaman yang membahayakan nyawanya karena diperebutkan orang lain.
Kembali ke saat ini.
Mengenai dirinya yang bisa mendapatkan senjata tingkat dasar atau setara dengan bintang 1 membuatnya sangat bersyukur, karena hal itu bisa menyelamatkannya dari banyak masalah.
Setelah mengamati sekitar, matanya tertuju pada sebuah pedang patah di salah satu sudut. Daripada disebut pedang patah, kini benda itu lebih pantas disebut pedang pendek. Seluruh bilahnya berwarna merah gelap. Panjangnya bahkan tidak sampai setengah meter, mungkin hanya sekitar 45 sentimeter saja.
Yang paling menarik adalah dia merasakan energi gelap di dalam dantiannya bergetar seolah sedang menyambut teman lama yang begitu akrab.
"Apakah pedang patah itu memiliki keistimewaan tertentu?" monolog Wang Fei sambil merenung.
Yang tidak dia ketahui adalah pedang itu sudah lama tidak memancarkan aura agresif seperti sekarang. Biasanya pedang tersebut selalu tenang dan tidak menunjukkan pergerakan mencolok apa pun. Namun kali ini berbeda. Aura dingin dan haus darah menguar menekan seluruh ruangan, menjadikan tempat itu dipenuhi niat membunuh yang mencekam.
Anehnya, Wang Fei sendiri justru tetap tenang.
Ini dikarenakan pada saat itu kekuatan menelan dari dantian batunya langsung aktif. Selain itu, niat membunuh dari ribuan jiwa pendendam di dalam tubuhnya secara otomatis ikut bertabrakan dan mengimbangi keganasan yang dipancarkan pedang patah tersebut. Hasilnya, kekuatan itu berhasil dinetralkan dan Wang Fei tidak merasakan dampak apa pun darinya.
Untungnya, saat itu lantai pertama hanya ada dirinya seorang diri. Jika ada orang lain, bisa dipastikan orang tersebut akan pingsan dan gemetar hebat karena tidak tahan terhadap tekanan niat membunuh yang dikeluarkan pedang patah itu.
Tetua Mu yang berada di luar ruangan sedikit mengerutkan kening. Detik berikutnya, senyum penuh ketertarikan terukir di bibirnya.
"Hehehe... sungguh menarik. Aku tidak menyangka bocah kecil itu mampu menahan niat membunuh dari pedang patah. Benar-benar bibit yang tidak biasa."
Sebenarnya, ada rahasia tersembunyi di balik sejarah pedang patah itu.
Pada masanya ketika masih utuh, pedang tersebut adalah milik seorang kultivator jalan kebenaran yang membantai ratusan hingga ribuan iblis dalam perang besar pasca era kekacauan.
Pedang itu bukanlah pedang biasa, melainkan pedang spiritual tingkat Hitam atau senjata bintang 3 yang telah menciptakan kesadarannya sendiri.
Karena terlalu banyak musuh yang ditebas, niat membunuh yang terkandung di dalamnya menjadi semakin pekat. Namun naas, rekan yang paling dipercayainya justru menusuknya dari belakang. Meskipun berhasil melawan dan membunuh lawannya, pada akhirnya kultivator tersebut tetap tumbang dan pedang di genggamannya patah menjadi dua bagian.
Bagian lainnya tidak mungkin disambungkan kembali karena telah hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Konon menurut cerita, sejak saat itu pedang tersebut seperti kehilangan jiwa dan tertidur dalam dendam pemilik sebelumnya.
Kini, setelah tahun demi tahun berlalu, senjata itu berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Entah bagaimana ceritanya, pedang itu akhirnya berhasil didapatkan oleh pemimpin sekte dan ditempatkan di lantai satu.
Sebelumnya, pedang tersebut pernah ditempatkan di lantai empat dan disejajarkan dengan beberapa senjata tingkat Bumi yang langka. Namun karena bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang mampu menjalin resonansi dengannya, senjata itu mulai terlupakan.
Pada tahun-tahun berikutnya, statusnya pun diturunkan ke lantai pertama dan dikategorikan sebagai senjata bintang 1.
Tidak banyak tetua yang mengetahui cerita ini, tetapi Tetua Mu kebetulan adalah salah satu dari mereka.
Kembali ke Wang Fei.
"Sepertinya senjata ini cukup bagus. Beratnya lumayan dan aku juga sangat nyaman dengan aura akrab yang dipancarkannya," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Jika ada orang lain yang mendengarnya, pasti orang itu akan membelalakkan mata, menggigil ketakutan, dan menganggap Wang Fei telah kehilangan akal.
Perlu diketahui bahwa aura gelap itu sebenarnya adalah manifestasi dari niat membunuh yang selama ini terkubur di dalam pedang. Namun sekarang, kehadiran Wang Fei yang diselimuti aura gelap dari ribuan jiwa pendendam mampu membangkitkan gairah perang yang selama ini tertidur di dalam pedang patah tersebut.
Jika sebelumnya dia menyimpan senjata itu di dalam cincin ruang, kali ini berbeda. Pedang itu diselipkan di pinggangnya. Setelah itu, dia segera masuk ke ruangan lain untuk memilih satu set teknik bela diri tingkat dasar sesuai aturan sekte.
Setelah mengecek sebentar, dia pun menemukan sebuah teknik yang sangat cocok untuk dirinya. Teknik tersebut bernama Teknik Pedang Terbang. Teknik ini cukup sederhana, tetapi sangat menuntut kekuatan mental dan pengerahan kekuatan jiwa yang besar.
Kebetulan, kedua aspek itu dimilikinya.
Perlu diketahui, saat ini secara keseluruhan kekuatan jiwa Wang Fei setara dengan ranah Raja. Meskipun dengan ranahnya saat ini dia belum bisa melepaskan seluruh kekuatan tersebut, namun dengan basis kultivasinya sekarang, kekuatan jiwanya masih setara dengan seorang kultivator di ranah Pembentukan Inti.
Sungguh kekuatan jiwa yang sangat luar biasa.
"Baiklah, aku memilih ini saja," ujarnya mantap.
Singkat cerita, akhirnya dia pun keluar dari lantai satu.
Saat berhadapan kembali dengan Tetua Mu, Wang Fei membungkuk hormat.
"Salam, Tetua Mu. Murid ini sudah memilih. Untuk senjata, aku memilih pedang patah ini, dan untuk teknik bela diri, aku memilih Teknik Pedang Terbang."
Mendengar itu, sekilas mata Tetua Mu bersinar terang. Dia membatin,
"Sungguh menarik. Teknik Pedang Terbang ini bukanlah teknik biasa. Apakah anak ini juga memiliki kekuatan mental dan jiwa yang besar?"
"Apa kau yakin ingin memilih Teknik Pedang Terbang ini? Meskipun tampak sederhana, teknik ini sangat menguras kekuatan mental dan jiwa. Bagaimana kalau begini... karena sikapmu cukup sopan, aku akan memberikan pengecualian. Kau bisa kembali masuk ke lantai satu dan menukarnya dengan teknik bela diri lain," kata pria paruh baya itu.
Sebenarnya, pertanyaan tersebut adalah sebuah ujian. Lebih tepatnya, dia sangat penasaran dengan jawaban yang akan diberikan pemuda di hadapannya.
Mendengar itu, Wang Fei yang telah memantapkan tekadnya menggeleng dan menolak dengan sopan.
"Terima kasih atas perhatian Tetua, tetapi pilihan murid ini sudah bulat. Teknik Pedang Terbang adalah teknik yang menurut murid ini sangat cocok untuk dipelajari."
"Oh... begitukah? Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan salinan teknik ini kepadamu. Ingat, jangan pernah mengajarkan teknik ini kepada siapa pun, atau kau akan mendapatkan hukuman tegas dari sekte," kata Tetua Mu memperingatkan.
"Baik, Tetua. Murid mengerti."
Setelah beberapa saat, gulungan itu pun berhasil disalin. Dengan gerakan santai, Tetua Mu memberikannya kepada Wang Fei.
"Oh ya, anak muda... tadi siapa namamu? Aku lupa," kata Tetua Mu karena merasa pemuda di depannya sangat menarik.
Mendengar itu, Wang Fei sedikit terkejut, tetapi dia segera menjawab tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Nama murid ini adalah Wang Fei," ucapnya.
"Wang Fei, kah? Baiklah, aku akan mengingatnya. Kamu bisa pergi sekarang," kata pria paruh baya itu sambil melambaikan tangan.
"Baik, Tetua. Murid ini pamit undur diri."
Setelah Wang Fei pergi, seulas senyum tipis terukir di bibir Mu Jinhai.
"Aku menjadi semakin penasaran dengan identitas anak ini. Aura jiwanya menunjukkan warna yang berbeda-beda. Di saat yang sama, ada energi gelap mengerikan yang tersembunyi di dalamnya. Namun... yang lebih mengejutkan lagi adalah hatinya masih tetap teguh, murni, dan sama sekali tidak terpengaruh oleh energi gelap tersebut. Hehe... nampaknya dunia kultivasi akan segera berubah. Haist... menjadi muda memang sangat menyenangkan," ucapnya sambil menghela napas, kemudian bersandar di kursi kayu goyang miliknya.
Di dalam Hutan Kabut.
Seorang pemuda sedang bertarung sengit melawan lima Serigala Angin. Dialah Wang Fei.
Tepat satu jam setelah memasuki Hutan Kabut, dia bertemu dengan segerombolan Serigala Angin yang menatapnya dengan tatapan lapar dan niat membunuh mengerikan.
Alih-alih takut, Wang Fei justru menjadi sangat bersemangat.
Pedang patah yang berada di pinggangnya langsung dicabut. Saat energi spiritual dialirkan, elemen api di dalam tubuhnya segera bangkit. Ketika dioperasikan hingga batas ekstrem, api tersebut langsung berkobar dengan warna biru yang menakutkan.
Lalu, dengan Langkah Petir, pergelangan tangannya bergerak lincah dan mulai menebas dengan kecepatan tinggi.
"SLASH! SLASH! SLASH!"
Dalam satu gerakan saja, lima ekor Serigala Angin langsung tumbang dengan mudah.
izin iklan ya guys aku baru up butuh bantuan teman2 buat baca novel ku
utk itu saya uplaus satu vote