Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh ke Kolam
Melihat tatapan mata yang dingin itu membuat Pia ketakutan sedikit, dan tersentak mundur dari tempatnya. Namun, seketika dia teringat dia sudah dua puluh tahun dan sudah lama menghadapi orang seperti Lucas.
"Hem... Tuan, tangan mu terluka ya, sini aku tiup. Katanya kalau di tiup pasti sembuh," ujar Pia mencoba mengalihkan perhatian dengan meniup tangan Lucas yang menunjukkan keloid di tangannya yang seperti telah lama sembuh.
"Apakah ini sakit?" kata Pia dengan mata berkaca-kaca.
Lucas tidak perduli dan malah menepis tangan Pia dengan dingin. Lucas kemudian menaikkan satu kakinya ke kaki lainnya dan mulai bersantai kembali tanpa memperdulikan Pia.
"Kau ingin kue ini?" tanya Lucas dengan dingin.
"Ehmmm..." angguk Pia singkat.
"Kalau begitu ambilah," ujar Lucas kemudian melemparkan kue itu ke kolam teratai.
Pia nampak memejamkan kedua matanya dan merasa bingung harus mengambil kue itu atau bertahan dengan perut lapar, tapi Pia tidak tahu seberapa dalam kolam teratai yang ada di depannya itu.
Pia ingin mencoba, "Ah, sudah lah yang penting mati dalam keadaan kenyang," gumamnya dalam hati.
Tanpa aba-aba Pia berlari dengan kaki kecil, demi mendapatkan sepotong kue yang tak seberapa itu. Beberapa Ajudan Lucas nampak ingin menghampiri Pia karena terkejut dan juga khawatir serta sedikit memiliki sisi manusiawi.
Namun, Lucas menahan mereka dengan mengangkat tangannya, agar mereka tidak bergerak. Dia ingin melihat bagaimana Pia mendapatkan makanan itu.
Pia tanpa basa-basi menyeburkan diri pada kolam teratai yang ternyata tidak dangkal sama sekali. Sebelum menyentuh kue yang telah masuk kedalam air itu, dia sudah hampir tenggelam.
Ternyata air kolam itu lebih dalam dari apa yang Pia duga. Tanpa kemampuan renang yang memadai dan juga tubuhnya yang kecil, membuat tubuhnya tenggelam dengan perlahan.
Tangan dan kakinya meronta-ronta tanpa arah, mencari sesuatu untuk dijangkau.
Dari mulut kini mulai mengeluarkan gelembung udara dan matanya masih terpaku pada kue yang mulai mengabur sebab kesulitan bernafas.
Beberapa Ajudan sudah siap untuk melompat, namun Lucas hanya melihatnya dengan dingin dan tanpa ekspresi.
Dan ketika Pia benar-benar hampir hilang di dalam air, Lucas perlahan mengangkat tangannya dengan datar.
"Bantu dia,"
"Aku tidak ingin seseorang mati di kolam ku,"
Sesudah mendengar titah, dua Ajudannya terjun kedalam kolam, kemudian menarik tubuh Pia yang sudah tak sadarkan diri keluar dari dalam air.
Mereka memberikan pertolongan pertama hingga Pia terbatuk dan mengeluarkan air dari paru-parunya.
Setelah melihat Pia sudah selamat dengan masih terbatuk, Lucas memalingkan wajahnya dari Pia kemudian berdiri dari duduknya. Tanpa melihat ke arah Pia lagi, Lucas meninggalkan tempat itu dan berkata dengan nada yang dingin.
"Bawa dia kembali ke villa, dan pastikan dia tidak berkeliaran di sekitar ku, aku tidak suka tungau kecil mengusik hidup ku," tegas Lucas sembari melirik tajam pada Pia, kemudian pergi dari sana.
Pia pun menatap sinis ke arah Lucas yang tidak perduli padanya, bahkan sekedar handuk usang saja dia tidak akan memberikannya. Pia kemudian menatap ke arah dua Ajudan Lucas.
"Om, boleh tidak ya, aku ambil kue, aku lapar sekali belum makan dari tadi. Kalau tidak diizinkan oleh Tuan Muda itu, tidak apa-apa," ucap Pia dengan memelas.
Kedua Ajudan itu saling melirik seolah mengatakan, ada yang tidak beres dengan Nona Sophia. Sebab setiap bulan Sophia mendapatkan jatah belanja bulanan dari rumah utama, tapi kenapa Nona Sophia tidak punya baju yang layak dan makanan.
"Om kalau tidak boleh, tidak papa Om, Pia sudah biasa kok menahan lapar," ujar Sophia memiringkan kepalanya sedikit, melihat kedua Ajudan itu melamun.
"Memangnya Nona Sophia tidak dimasakkan Bibi?" tanya salah satu Ajudan.
"Bibi, aku tidak ada yang seperti itu, ada Mama yang suka marah-marah," ucap Sophia memegang dagunya.
"Mama?... bukannya istri Tuan sudah lama meninggal karena melahirkan Nona," bisik salah satu Ajudan pada temannya.
Ajudan itu langsung menepuk punggung temannya itu, seolah mengatakan tidak boleh membahas di hadapan Nona Sophia.
Ajudan itu kemudian tersenyum ke arah Sophia, "Nona, sepertinya Tuan tidak akan menyentuhnya lagi, Anda boleh ambil sepuasnya," jawab Ajudan itu mengambilkan kue yang berada di atas piring keramik itu.
Sophia langsung mengenggam dan memeluknya dengan erat melihat satu persatu kue yang diberikan Ajudan Lucas dengan gembira.
Sophia kemudian menoleh pada wajah Ajudan Lucas, "Terima kasih Om, aku akan menghematnya," ujar Sophia tersenyum simpul.
Jidat kedua Ajudan itu terlihat berkerut dan saling menatap merasa iba dengan anak Tuan mereka, meskipun begitu mereka tak dapat berbuat banyak sebab Tuan mereka yang memiliki hati sekeras batu.
"Iya Nona, kalau begitu ayo kita kembali ke Villa," ujar Ajudan Lucas mengulurkan tangannya di hadapan Sophia.
Dan dengan senang hati, Sophia meraih tangan itu meskipun harus kembali ke tempat yang menyeramkan itu. Dia harus menerima karena tempat satu-satunya dia bisa berteduh hanya tempat itu.
Tidak berselang lama akhirnya mereka sampai di depan Villa itu. Kedua Ajudan itu melihat ke sekelilingnya, tempat itu jauh dari kata layak. Halaman tidak dibersihkan bahkan tembok villa terdapat banyak jamur hitam, seakan kediaman para Ajudan lebih layak dibanding tempat Sophia.
"Apa kita laporkan saja pada Tuan?" tanya temannya.
"Memang Tuan akan mendengar kita, nanti malah kita yang kena masalah. Yang penting Nona Sophia sudah kita antar pulang, tugas kita selesai," sahut Ajudan yang menggandeng Sophia.
"Kau ada benar juga," jawab temannya itu sembari memegang bibirnya seolah telah salah bicara.
"Terima kasih ya, Om-om semua, Pia masuk dulu. Jangan lupa berak ya nanti biar sehat," ujar Sophia melambaikan tangannya dan tersenyum simpul tanpa ada beban.
Kedua Ajudan itu menyipitkan matanya sebab perkataan terakhir Sophia yang nyeleneh, "Ah, kasihan sekali Nona padahal dia lucu,"
"Sudahlah, ayo kita pergi," ujar temannya itu merangkul leher sang Ajudan, kemudian meninggalkan villa itu.
Di sisi lain, pengasuh sudah menunggunya di dalam dengan tatapan merah membara. Sedangkan Sophia tak sempat lagi menyembunyikan kue-kue nya dan hanya beberapa yang telah melewati tenggorokannya.
Sophia menelan ludah kasar, matanya terbelalak melihat Linda telah siap dengan kemoceng di tangannya, "Kemana saja kamu anak sialan? orang tuanya saja sudah bikin sial," ujar Linda mencoba menyebutkan Ibu Sophia.
"Ctar..."
Cambuk Linda membuat kue-kue di tangan Sophia berjatuhan di lantai. Sophia memandangi kue-kue itu dengan berkaca-kaca. Padahal baru saja dia bisa merasakan apa itu kenyang, tapi semua langsung jatuh di hadapan nya dengan keadaan menyedihkan.