NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Oksigen yang Menipis

Aroma detergen yang tajam bercampur dengan uap panas dari mesin pencuci piring otomatis memenuhi ruang loker mahasiswi. Udara di sana terasa lembap, membawa sisa-sisa aroma kaldu dan mentega yang menempel di seragam para calon koki.

Kiandra menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan oksigen sebelum ia benar-benar terjun ke medan perang hari ini.

Denting pelan terdengar saat ia menutup pintu loker besinya. Di dalam sana, ia baru saja menyimpan segala bentuk kekacauan mental yang ia bawa dari apartemen Rue de Rivoli.

Bayangan Enzo Romano yang semalam melahap nasi goreng buatannya dengan gaya angkuh namun lahap, masih menempel di benaknya.

"Dia itu sebenarnya manusia atau bunglon, sih?" batin Kiandra sambil merapikan kerah apronnya.

Semalam, pria itu terlihat hampir... manusiawi. Hanya hampir. Karena ucapan terakhirnya tentang "jangan jatuh cinta" benar-benar merusak segala bentuk simpati kecil yang sempat tumbuh di hati Kiandra. Penilaiannya tentang Enzo bergeser satu milimeter ke arah positif, namun sisanya masih dipenuhi rasa kesal yang menggumpal.

Mei Ling muncul dari balik barisan loker, sedang sibuk mengoleskan lipstik merah cerah sambil menatap cermin kecil di tangannya. Ia melirik Kiandra dari pantulan kaca, lalu mengernyitkan dahi.

"Ki, wajahmu pucat banget. Kamu beneran oke?" tanya Mei Ling, suaranya bergema di antara deretan loker abu-abu.

Kiandra memaksakan senyum tipis, jemarinya sibuk merapikan kunciran rambutnya. "Cuma kurang tidur, Mei. Paris ternyata berisik kalau malam."

Berisik karena suara jantungku sendiri setiap kali mendengar langkah kaki Enzo di lorong apartemen! Kiandra menjerit dalam hati. Setiap kali lantai kayu di luar kamarnya berderit, ia merasa seperti sedang menunggu monster muncul dari balik kegelapan.

Pintu ruang loker terbuka dengan sentakan yang penuh gaya. Diya Kapoor melangkah masuk seolah-olah ruangan lembap ini adalah panggung catwalk di Paris Fashion Week. Ia menenteng tas kosmetik mahal, dan seketika itu juga, aroma parfum oud yang berat dan mewah langsung mendominasi ruangan, mengalahkan bau detergen.

"Lupakan soal tidur, Darling," ucap Diya sambil meletakkan tasnya di bangku kayu.

"Hari ini jadwal praktik Hollandaise. Siapkan mental kalian. Aku dengar dari senior, Chef Romano bakal lebih galak dari biasanya kalau sudah bicara soal saus telur."

Adele Moreau, yang sedari tadi berdiri diam di sudut sambil merapikan apronnya dengan gerakan lembut, tampak sedikit gemetar. Wajahnya yang mungil terlihat semakin pucat.

"Aku dengar dia pernah membuat mahasiswi senior pingsan karena kritiknya yang terlalu tajam," bisik Adele, suaranya nyaris hilang ditelan kebisingan ruangan.

Juliette Laurent, yang sedang bersandar di loker sambil melipat tangan dengan elegan, hanya menanggapi dengan wajah tenang.

"Dia tidak kejam, Adele. Dia hanya perfeksionis," ujar Juliette dengan nada datar namun pasti. "Standarnya adalah Michelin, bukan masakan rumahan yang bisa dimaafkan kalau sedikit keasinan."

Rombongan mahasiswi itu mulai bergerak keluar, meninggalkan ruang loker menuju Ruang Teater Kelas. Kiandra berjalan di tengah, merasa seperti prajurit yang sedang menuju garis depan tanpa senjata yang memadai.

***

Ruang Teater Kelas sudah mulai terisi. Jaxson Cole sudah duduk di barisan tengah, sedang memutar-mutar pisau pairing dengan lincah seolah benda tajam itu adalah mainan plastik. Ia tertawa lebar saat melihat Kiandra masuk.

"Yo, Kiandra! Siap kena semprot Tuhan Dapur lagi hari ini?" seru Jaxson, suaranya menggelegar di ruangan yang mulai sunyi.

"Diam, Jax. Aku lagi nggak mau bercanda," sahut Kiandra pendek. Ia memilih duduk di barisan depan, mencoba membangun benteng pertahanan mentalnya.

Di barisan paling depan, seorang pria berambut cokelat muda dengan postur tegap duduk dengan punggung sangat lurus. Louis Barbier. Ia menoleh sedikit saat Kiandra duduk tak jauh darinya, memberikan anggukan formal yang terasa sangat kaku dan berjarak.

"Selamat pagi," ucap Louis dengan aksen Prancis yang sangat kental dan aristokrat. "Semoga stasiun kerja kalian tidak sekacau kemarin."

Mei Ling menyikut lengan Kiandra, lalu berbisik sangat pelan. "Itu Louis. Anak bangsawan yang merasa pisaunya terbuat dari perak murni. Abaikan saja keangkuhannya, dia memang merasa paling hebat karena keluarganya punya kastel di Bordeaux."

Kiandra hanya mengangguk, tidak terlalu peduli pada Louis atau kastelnya. Perhatiannya teralihkan saat pintu kayu besar di depan kelas terbuka.

Duk... duk... duk...

Suara langkah sepatu pantofel yang berat dan ritmis itu memecah kebisingan kelas dalam sekejap. Seluruh mahasiswa mendadak tegak, seolah-olah ada arus listrik yang baru saja dialirkan ke kursi mereka.

Enzo Romano melangkah masuk. Seragam Chef-nya putih tanpa noda sedikit pun, kancingnya tertutup rapat hingga ke leher, memberikan kesan tertutup dan tidak tersentuh. Wajahnya sedingin es kutub, tidak ada lagi sisa-sisa pria yang semalam meminta nasi goreng dengan nada provokatif.

Ia berhenti di tengah podium, tidak menyapa, tidak tersenyum. Mata hazel-nya yang tajam memindai seluruh kelas dengan pandangan predator yang sedang mencari titik lemah mangsanya.

"Hollandaise," suara Enzo berat, menggema di ruangan yang kini hampa suara. "Lima menit untuk persiapan stasiun kerja kalian. Jika aku melihat ada setetes air di kuning telur kalian, silakan keluar dari dapurku saat itu juga."

Seluruh mahasiswa bergerak panik. Suara denting wadah stainless steel dan gesekan langkah kaki memenuhi ruangan. Kiandra mengambil telur dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mencoba fokus, namun kehadiran Enzo yang mulai berkeliling dapur terasa seperti beban fisik yang menekan bahunya.

Enzo berjalan melewati barisan stasiun kerja dengan tangan di belakang punggung. Matanya yang jeli memindai setiap gerakan tangan mahasiswa. Ia berhenti sejenak di meja Louis Barbier.

Louis bekerja dengan sangat teknis, gerakannya bersih dan penuh percaya diri. Enzo mengamati sejenak, lalu memberikan anggukan tipis tanpa kata. Itu adalah pujian tertinggi yang bisa diberikan oleh seorang Enzo Romano.

Kiandra mulai mengocok kuning telur di atas bain-marie. Uap panas mulai naik, membuat wajahnya berkeringat dan beberapa helai rambutnya menempel di dahi. Ia mencoba menjaga ritme, memastikan suhunya tidak terlalu panas agar telurnya tidak matang menjadi orak-arik.

Tiba-tiba, atmosfer di sekitar Kiandra mendadak terasa hampa oksigen. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sampingnya. Aroma maskulin yang familiar itu menyerbu indra penciumannya, membuat konsentrasinya goyah.

"Teknik mengocokmu... amatir," suara Enzo tajam, menusuk tepat di samping telinga Kiandra.

"Kamu terlalu takut pada panas, atau kamu terlalu takut padaku, Mademoiselle Zanitha?"

Kiandra menggigit bibir bawahnya, mencoba tetap tenang. "Aku sedang mencoba menstabilkan suhunya, Monsieur."

Tanpa peringatan, Enzo menyambar pengocok whisk dari tangan Kiandra dengan kasar. Ia menunjukkan gerakan memutar yang sangat cepat, bertenaga, namun tetap terkontrol.

"Saus ini butuh keberanian. Kamu pengecut di dapur," desis Enzo, matanya menatap tajam ke dalam mangkuk Kiandra. "Hasilnya? Sausmu pecah. Ini sampah."

Kiandra tertegun. Ia melihat sausnya yang mulai memisahkan diri antara lemak dan protein.

Enzo mengangkat mangkuk stainless steel milik Kiandra tinggi-tinggi, lalu dengan gerakan tanpa perasaan, ia menuangkan seluruh isinya ke tempat sampah di depan stasiun kerja Kiandra. Suara saus yang jatuh ke dalam plastik sampah itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan kelas yang mendadak mencekam.

Seluruh kelas terdiam. Mei Ling menahan napas, Diya memalingkan wajah, tidak tega melihat pemandangan itu. Kiandra mematung. Matanya mulai memanas, bibirnya bergetar hebat menahan malu yang luar biasa di depan teman-temannya.

"Dia jahat banget. Dia benar-benar monster," batin Kiandra merana.

Enzo menatap Kiandra dengan mata hazel yang dingin, seolah-olah kejadian semalam tidak pernah terjadi. "Ulangi dari awal. Dan jangan buat aku membuang bahan makanan lagi karena ketololanmu."

Kiandra menunduk dalam, tangannya meremas pinggiran meja marmer yang dingin. Setetes air mata nyaris jatuh ke lantai, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia tidak boleh menangis di depan pria ini. Tidak akan pernah.

***

Kelas berakhir satu jam kemudian dengan suasana yang masih terasa berat. Enzo meminta Kiandra untuk tetap tinggal di dapur sementara mahasiswa lain mulai merapikan alat-alat mereka.

Kiandra masih berdiri di stasiun kerjanya, membersihkan sisa-sisa saus yang tumpah dengan gerakan lambat. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Malu, marah, dan lelah bercampur menjadi satu.

Mei Ling, Diya, Adele, Juliette, dan Jaxson datang mendekat sebelum mereka keluar. Mereka memberikan tatapan simpati.

"Sabar ya, Kiandra. Dia memang monster kalau sudah di dapur," bisik Jaxson sambil menepuk bahu Kiandra pelan.

"Ambil positifnya, Ki," Juliette menimpali dengan nada bijak. "Enzo mungkin mau kamu berkembang pesat karena dia melihat potensimu. Dia tidak akan membuang-buang energi untuk mengkritik orang yang tidak punya bakat."

Louis Barbier melewati Kiandra, memberikan tatapan simpati yang justru terasa merendahkan. "Mungkin kuliner Prancis memang bukan untuk semua orang, Kiandra. Ada standar yang tidak bisa dipaksakan."

Kiandra hanya bisa mengangguk lemah, tidak punya tenaga untuk membalas.

"Kami tunggu di kantin ya, Ki?" Mei Ling memastikan sekali lagi. Kiandra mengangguk pelan.

Begitu teman-temannya pergi dan pintu dapur tertutup rapat, suasana mendadak sunyi. Hanya ada suara dengung mesin pendingin. Enzo Romano berjalan mendekat, berhenti tepat di depan meja Kiandra yang sudah bersih.

Ia menatap Kiandra yang masih menunduk, tidak berani menatap matanya.

"Apa kamu marah?" tanya Enzo, suaranya kini jauh lebih rendah, tidak ada lagi nada tajam seperti saat di depan kelas tadi.

Kiandra menggeleng pelan, meski air matanya kembali menggenang di pelupuk mata. Ia merasa sangat kecil di hadapan pria ini.

"Dalam dunia chef, hal seperti ini lumrah," Enzo berujar sambil melipat tangan di dada. "Kamu perlu mental baja, dan ini adalah bagian dari pembentukan itu. Jika kamu hancur hanya karena satu mangkuk saus yang dibuang, kamu tidak akan bertahan di industri ini."

Enzo mulai melangkah menuju pintu keluar. Namun, tepat saat ia berada di samping Kiandra, ia berhenti. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik sangat rendah hingga napas hangatnya menyentuh daun telinga Kiandra.

"Jujur, nasi gorengmu semalam jauh lebih enak daripada sampah yang kamu buat tadi. Sampai jumpa di rumah, Piccola."

Enzo melangkah pergi tanpa beban, meninggalkan Kiandra yang membeku dengan pengocok telur masih di tangan. Rasa panas di pipinya kini bukan lagi karena malu, tapi karena debaran jantung yang meledak tiba-tiba, menghantam dadanya dengan kekuatan yang menakutkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!