NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Umpan dan Benteng

Suasana di ruang makan yang tadinya tegang mulai sedikit mencair saat hidangan utama disajikan. Meski begitu, bagi Andini, atmosfer di meja panjang itu tetap saja terasa hambar. Karina, gadis lulusan Oxford yang dibawa oleh Tante Sofia, dengan sengaja memilih posisi duduk tepat di hadapan Farhan.

Sepanjang jamuan makan malam, Tante Sofia terus mendominasi percakapan. Ia berulang kali menyelipkan istilah-istilah bisnis internasional dan membahas perkembangan properti global di London, seolah sengaja ingin menenggelamkan keberadaan Andini.

"Karina ini sering sekali membantu pameran properti berskala internasional waktu masih di London, Farhan. Jadi, kalau kamu butuh asisten ahli atau rekan diskusi untuk proyek superblok baru Al-Fatih Group di kawasan CBD, Karina adalah orang yang paling tepat," ujar Tante Sofia sembari melirik Andini dengan senyuman merendahkan. "Yah... hitung-hitung supaya teman diskusimu selevel dan nyambung, tidak cuma paham urusan kain dan baju saja."

Mendengar sindiran yang begitu terang-terangan, Ibu Maryam nyaris menegur adiknya. Namun, sentuhan lembut dari Andini di bawah meja menahannya. Andini tersenyum tenang ke arah ibu mertuanya, memberi isyarat bahwa ia mampu menghadapi situasi ini sendiri.

Karina pun ikut menimpali dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin. "Ah, Tante Sofia tidak boleh bicara begitu. Bisnis fashion muslim seperti yang dijalani Kak Andini juga bagus, kok, meskipun skalanya masih lokal dan UMKM. Tapi kalau Kak Andini butuh tips cara scale up bisnis ke pasar Eropa lewat jaringan saya di London, saya pasti akan bantu dengan senang hati."

Andini meletakkan sendoknya dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang. Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain, lalu menatap Karina dengan pandangan teduh namun penuh wibawa layaknya seorang CEO sejati.

"Terima kasih atas tawarannya, Karina," suara Andini mengalun merdu, memecah keangkuhan di meja makan. "Namun, sepertinya data yang kamu miliki agak terlambat. Bulan lalu, Nadir Label baru saja menandatangani kerja sama dengan salah satu department store terbesar di Paris dan London untuk membuka gerai fisik kami di sana. Skala kami mungkin berawal dari lokal, tapi visi kami sudah melampaui apa yang kamu bayangkan."

Andini menjeda kalimatnya sejenak, melemparkan senyuman tipis ke arah Tante Sofia yang mendadak tertegun. "Dan soal bisnis properti... Mas Farhan selalu melibatkan saya dalam setiap analisis studi kelayakan proyek Al-Fatih Group. Bagi kami, nadi bisnis yang sukses bukan sekadar soal teori dari luar negeri, melainkan pemahaman ekosistem pasar lokal yang matang. Bukankah begitu, Mas?"

Farhan menatap istrinya dengan binar mata yang dipenuhi rasa kagum dan bangga. Ia langsung menggenggam tangan Andini di atas meja, sengaja menunjukkannya di hadapan Tante Sofia dan Karina.

"Benar sekali, Sayang. Tanpa masukan dan intuisi bisnis darimu, proyek superblok kemarin tidak akan mungkin mencapai target dalam waktu tiga bulan," sahut Farhan tegas, memperkuat posisi Andini sebagai sosok yang tidak tergoyahkan.

Wajah Karina seketika berubah pias, sementara Tante Sofia hanya bisa mendengus kesal sambil memotong daging steak di piringnya dengan kasar. Umpan yang mereka tebar malam itu mentah seketika di tangan Andini.

Setelah acara makan malam usai dan para tamu mulai berpamitan, Farhan dan Andini berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di pelataran luas rumah Menteng. Di dalam dekapan Andini, Baby Nadir menggeliat kecil sebelum kembali terlelap.

"Maafkan Tante Sofia, ya, Ndin. Mulutnya sejak dulu memang tajam dan suka merendahkan orang lain," ujar Ibu Maryam yang ikut mengantar mereka sampai ke depan pintu mobil dengan raut wajah tidak enak hati.

Andini mencium tangan ibu mertuanya dengan penuh kasih. "Tidak apa-apa, Ibu. Andini sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati. Andini justru bersyukur karena memiliki Ibu dan Mas Farhan yang selalu menjadi pelindung kami."

"Kamu menantu Ibu yang paling membanggakan, Ndin. Sudah, kalian pulanglah, ini sudah larut malam. Kasihan Nadir kalau kena angin malam terlalu lama," kata Ibu Maryam tulus.

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, keheningan malam terasa begitu menenangkan. Farhan sesekali melirik ke arah istrinya yang sedang menatap jalanan kota Jakarta dari balik jendela.

"Kamu hebat sekali tadi di meja makan, Sayang," bisik Farhan lembut. Tangan kirinya meraih jemari Andini, sementara tangan kanannya tetap fokus pada kemudi.

Andini menoleh dan tersenyum kecil. "Aku hanya belajar dari masa lalu, Mas. Dulu, aku selalu diam saat diinjak-injak karena mengira itu adalah bentuk kepatuhan. Tapi sekarang aku tahu, menjaga kehormatan diri sendiri dan suami adalah bagian dari ibadah. Aku tidak akan membiarkan siapa pun meremehkan pernikahan yang sudah kita bangun dengan air mata dan rida Allah."

Farhan mempererat genggamannya, lalu mengecup punggung tangan Andini dengan takzim. "Aku berjanji, Ndin... selama hayat masih dikandung badan, tidak akan ada satu orang pun, termasuk keluarga besarku, yang boleh merendahkanmu lagi."

Namun, di balik ketenangan malam itu, Andini menyadari satu hal dari tatapan mata Karina sebelum mereka berpisah tadi. Gadis itu tidak tampak seperti orang yang akan menyerah begitu saja. Di dunia bisnis kelas atas, ambisi sering kali mengaburkan akal sehat dan urat malu. Andini tahu, ini barulah awal dari ujian kedewasaan rumah tangga mereka, dan ia harus bersiap mengokohkan bentengnya lebih kuat lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!