NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10: Di Bawah Bayang-Bayang Masa Lalu

Malam itu, suasana di rumah besar itu terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Setelah kepergian Nara yang berlari menaiki tangga tadi siang, Arkan seolah kehilangan seluruh semangatnya. Ia berdiri diam di halaman, menatap pintu kamar yang tertutup rapat di lantai atas dengan rasa bersalah yang membelenggu erat dada. Di sampingnya, Kirana tersenyum puas, merasa telah memenangkan pertarungan kekuasaan yang baru saja dimulainya.

"Ayo masuk, Arkan. Sudah sore, nanti masuk angin," ajak Kirana lembut sambil menarik lengan Arkan pelan, berusaha mengalihkan perhatian pria itu sepenuhnya padanya.

Arkan menurut saja, namun langkah kakinya terasa berat sekali. Ia mengikuti Kirana masuk ke dalam rumah, tapi pikirannya tetap tertinggal di atas sana, bersama gadis yang sedang menangis sendirian di balik pintu terkunci itu.

Sepanjang malam itu, Kirana terus berusaha mendekatkan diri. Ia bercerita banyak hal tentang kehidupannya di luar negeri, tentang betapa beratnya perpisahan mereka dulu, dan tentang rencana indah yang ingin ia wujudkan bersama Arkan mulai sekarang. Ia bertingkah seolah dialah nyonya rumah yang sah, berjalan ke sana kemari dengan percaya diri, menyentuh barang-barang milik Arkan dengan keakraban yang begitu dalam, dan menempatkan dirinya tepat di sisi Arkan di mana pun pria itu berada.

Arkan mendengarkan, sesekali menjawab singkat dan tersenyum kaku. Di satu sisi, melihat Kirana kembali ada di hadapannya seharusnya menjadi hal paling membahagiakan. Wanita yang ia tunggu, wanita yang ia cintai, wanita yang menjadi alasan ia bertahan selama bertahun-tahun... kini ada di sini. Namun mengapa hatinya justru terasa makin kosong? Mengapa setiap kali ia mendengar suara tawa renyah Kirana, telinganya justru mencari suara lembut dan tenang milik Nara?

Makan malam pun disajikan. Bu Inah meletakkan hidangan di meja dengan rapi dan hormat, namun raut wajahnya terlihat sedih dan cemas. Bu Inah sering melirik ke arah tangga, berharap Nara akan turun, namun sosok itu tak kunjung muncul.

"Bu Inah, panggil Nyonya Nara ke sini," perintah Arkan pelan, tak sanggup bersuara keras. "Bilang saya minta dia makan bersama."

Belum sempat Bu Inah menjawab, Kirana sudah menyahut cepat dengan nada manja namun tajam.

"Ah, biarkan saja dia di kamar, Arkan. Dia kan orangnya pendiam dan suka menyendiri, katanya tadi siang. Lagipula, kan lebih enak kalau kita makan berdua saja, seperti dulu. Sudah lama kita tidak punya waktu berdua, kan?" Kirana menatap Arkan dengan pandangan memohon, tangannya mengusap punggung tangan Arkan di atas meja dengan mesra. "Aku banyak banget hal yang mau dibicarakan sama kamu, hal yang rahasia, hal yang cuma kita berdua yang tahu."

Arkan menatap Kirana lekat-lekat. Ia tahu Kirana sengaja melakukannya. Ia tahu Kirana berusaha mengucilkan Nara, membuat gadis itu merasa tak berhak ada di ruang yang sama dengan mereka. Tapi Arkan bingung. Di satu sisi ia ingin Nara ada di sini, di sisi lain ia tak mau membuat Kirana marah atau cemburu berlebihan yang nanti malah berujung keributan. Ia terjebak di antara dua kewajiban: kewajiban pada masa lalu dan kewajiban pada kenyataan.

Akhirnya Arkan menghela napas pasrah. Ia mengangguk pelan pada Bu Inah, memberi isyarat untuk tidak memanggil Nara. "Biarkan saja, Bu. Mungkin dia sedang tidak enak badan."

Bu Inah menunduk menyembunyikan kekecewaannya. "Baik, Tuan."

Di lantai atas, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Nara duduk bersandar di belakang pintu. Ia mendengar segalanya. Ia mendengar tawa Kirana yang terdengar begitu bahagia, ia mendengar suara Arkan yang pasrah, dan ia mendengar namanya yang disebut lalu diabaikan begitu saja.

Air matanya sudah kering. Dadanya sudah mati rasa. Sejak tadi siang, ia hanya menangis, menangis, dan menangis, sampai rasanya tak ada lagi air mata yang tersisa. Ia tahu posisinya sekarang. Ia bukan lagi sekadar istri kontrak, ia kini menjadi orang asing yang keberadaannya mulai mengganggu kebahagiaan dua sejoli yang telah lama terpisah.

Nara berjalan perlahan menuju meja rias, mengambil selembar kertas dan pena. Tangannya gemetar saat mulai menuliskan kata-kata. Ia harus menyelesaikan ini. Ia harus memperjelas posisinya, agar Arkan tidak lagi bingung, agar Arkan tidak lagi merasa bersalah. Karena ia sadar, semakin lama ia bertahan di sini, semakin besar rasa sakit yang akan ia terima, dan semakin besar pula masalah yang akan timbul bagi Arkan dan Kirana.

"Mas Arkan,

Maaf kalau kehadiran saya selama ini hanya menambah beban dan kebingungan di hidup Mas. Saya sudah paham betul sekarang. Kepulangan Mbak Kirana adalah jawaban dari segala pertanyaan di hati Mas, dan juga jawaban atas posisi saya di sini.

Saya tidak akan menunggu waktu dua tahun itu habis, Mas. Mulai besok, saya akan pulang ke rumah Ayah. Kontrak ini bisa kita akhiri lebih awal, saya tidak akan menuntut apa pun, saya tidak akan minta pembagian harta, dan saya tidak akan mengganggu kalian berdua lagi.

Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah pernah bersikap baik, meski hanya sesaat. Terima kasih sudah pernah membiarkan saya merasakan bagaimana rasanya tinggal di rumah ini, bagaimana rasanya dianggap ada, walau cuma mimpi sebentar.

Bahagiakan Mbak Kirana. Dia wanita yang Mas cintai, wanita yang menunggu Mas, wanita yang berhak mendampingi Mas selamanya. Dan saya... saya akan kembali menjadi Nara yang dulu, gadis biasa yang tidak punya apa-apa, dan tidak berhak atas apa-apa dari Mas.

Selamat tinggal, Mas Arkan. Semoga Mas dan Mbak Kirana bahagia selamanya.

Nara."

Setelah selesai menulis, Nara melipat surat itu rapi. Ia mengemasi sedikit barang-barang miliknya, hanya baju-baju dan barang pribadi yang dibawanya saat pertama kali datang ke sini. Ia tidak mau membawa apa pun yang dibelikan Arkan atau yang ada di rumah ini. Semuanya akan ia tinggalkan.

Di bawah sana, makan malam pun selesai. Kirana masih enggan pulang. Ia meminta diantar berkeliling rumah, masuk ke ruang kerja Arkan, menyentuh setiap benda, melihat setiap foto, seolah ingin menanamkan jejak dirinya di setiap sudut ruangan itu, menghapus jejak keberadaan Nara yang tak pernah terlihat namun terasa ada.

"Arkan, aku ingin menginap di sini saja malam ini ya?" pinta Kirana tiba-tiba, berhenti tepat di depan pintu kamar utama milik Arkan. Matanya menatap menggoda namun penuh kepastian. "Kan ini rumahmu, rumah kita. Aku sudah tidak mau menginap di hotel atau rumah kerabat. Aku mau tidur di sampingmu, seperti dulu kita rencanakan."

Arkan terdiam. Ia menatap pintu kamarnya sendiri, lalu menoleh ke arah tangga tempat kamar Nara berada. Jantungnya berdegup kencang karena rasa tidak enak hati yang luar biasa.

"Kirana... itu kamar saya. Dan... Nara ada di sini. Dia istri sah saya, walau kontrak. Tidak pantas kalau kamu menginap di kamar saya, apalagi di rumah ini saat dia ada," tolak Arkan pelan, berusaha tetap menjaga batasan.

Wajah Kirana seketika berubah masam. Ia melipat tangannya di dada, menatap Arkan dengan mata berkilat marah dan kecewa.

"Jadi begitu ya? Demi dia, kamu malah mengusir aku? Demi wanita asing yang cuma numpang hidup di sini, kamu tega menolak aku yang sudah menunggumu lima tahun lebih? Arkan, katakan jujur... apa perasaanmu berubah? Apa kamu mulai suka sama dia? Apa dia lebih penting daripada janji kita?"

Air mata mulai menggenang di mata Kirana, jurus andalannya yang selalu ampuh meluluhkan hati Arkan.

"Kalau begitu... kalau aku sudah tidak ada tempat di hatimu dan di rumahmu... lebih baik aku pergi saja. Aku pulang ke luar negeri lagi. Aku tidak butuh dikasihani, Arkan. Aku pergi saja!"

Kirana berbalik badan hendak berlari keluar, pura-pura ingin pergi selamanya.

Insting Arkan langsung bekerja. Rasa bersalah, rasa takut kehilangan, dan rasa kewajiban pada janji masa lalu kembali menguasai akal sehatnya. Ia langsung menangkap lengan Kirana, menahan wanita itu agar tidak pergi.

"Tidak! Kirana, tunggu! Kamu salah paham! Kamu tetap yang paling penting! Kamu jangan pergi lagi, aku mohon..." Arkan menatap Kirana cemas. "Kamu boleh menginap di sini. Kamu boleh tidur di kamar tamu sebelah kamar saya. Jangan pergi, ya? Maafkan aku kalau aku bikin kamu tersinggung."

Kirana tersenyum menang di balik punggung Arkan. Ia memeluk pinggang pria itu erat, menyandarkan kepalanya di dada Arkan. "Terima kasih, Arkan. Aku tahu kamu masih milikku. Aku tahu tidak ada wanita yang bisa menggantikanku."

Di lantai atas, Nara mendengar semua itu lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Ia mendengar permohonan Arkan agar Kirana tidak pergi, ia mendengar persetujuan Arana membiarkan Kirana menginap, dan ia mendengar pernyataan cinta Arkan yang kembali menegaskan bahwa Kirana satu-satunya di hatinya.

Nara mengangguk pelan, air matanya kering seketika. Sudah cukup, batinnya. Sudah jelas semuanya.

Ia menggendong tas kecilnya, memegang erat surat perpisahan itu. Ia menunggu sampai suasana di bawah benar-benar sepi, sampai lampu-lampu di ruang tengah dan ruang kerja dimatikan.

Jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam. Hening menyelimuti rumah itu.

Dengan langkah pelan dan hati-hati, Nara membuka pintu kamarnya. Ia melangkah keluar, menuruni tangga satu per satu. Di lorong bawah, ia melihat Arkan sedang berdiri di depan pintu kamar tamu tempat Kirana menginap, masih berbicara pelan dan lembut dengan wanita itu.

Nara menyembunyikan dirinya di balik tiang besar. Ia menunggu sampai Arkan masuk kembali ke kamarnya sendiri dan menutup pintu.

Saat keheningan kembali menyelimuti, Nara berjalan menuju meja ruang tamu. Ia meletakkan surat perpisahan itu di atas meja kaca yang paling terlihat, tepat di bawah vas bunga kesukaan Arkan.

Ia menatap sekeliling ruangan itu untuk terakhir kalinya. Ruangan tempat ia pertama kali bertemu Arkan, tempat ia mendengar kisah masa lalu Arkan, tempat ia merasakan sedikit kehangatan sebelum akhirnya dihancurkan kembali.

"Terima kasih untuk semuanya, Mas Arkan," bisiknya lirih pada udara kosong.

Nara melangkah keluar, membuka dan menutup pintu utama pelan-pelan agar tidak bersuara. Angin malam yang dingin langsung menyambutnya, membelai wajahnya yang basah oleh air mata yang baru jatuh diam-diam.

Di dalam rumah, Arkan berbaring di kasur besarnya, namun matanya tak bisa terpejam. Ada rasa gelisah yang luar biasa menyeruak di dadanya. Rasanya ada sesuatu yang hilang, rasanya ada sesuatu yang salah. Ia merindukan kehadiran Nara, merindukan suara lembutnya, merindukan sosok yang diam-diam menjadi penenang hatinya.

Arkan bangkit dari tidurnya, tak kuat menahan kegelisahan itu. Ia berniat pergi ke kamar Nara, sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja, sekadar ingin melihat wajah itu sekali lagi sebelum ia tertidur.

Namun saat ia membuka pintu kamarnya dan melangkah ke bawah, matanya tertuju pada selembar kertas putih yang tergeletak sepi di atas meja ruang tamu.

Arkan mendekat, mengambil kertas itu dengan tangan gemetar. Saat ia mulai membaca kata demi kata yang tertulis di sana, darahnya seolah berhenti mengalir. Kakinya lemas seketika, tubuhnya luruh jatuh berlutut di lantai dingin.

"Saya akan pulang ke rumah Ayah. Mulai besok... tidak, mulai malam ini..."

Arkan berlari secepat kilat menaiki tangga, menuju kamar Nara. Ia membuka pintu itu kasar. Kamar itu kosong. Kasurnya rapi tak terpakai. Barang-barang milik Nara hilang semua. Ruangan itu kembali menjadi ruangan kosong dan dingin seperti saat pertama kali ia datangkan Nara ke sini.

"NARA!!" teriak Arkan histeris, suaranya menggema memecah keheningan malam.

Ia berlari kembali ke bawah, berlari keluar rumah, menembus kegelapan malam. Ia mencari ke kanan dan ke kiri, mencari sosok kecil yang biasa duduk di teras itu. Tapi tak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan dan angin malam yang menjawab panggilannya.

Nara pergi. Nara benar-benar pergi.

Dan Arkan sadar terlambat... bahwa di tengah kehadiran wanita yang ia cintai selama bertahun-tahun, di tengah kebahagiaan yang seharusnya utuh itu... ia baru saja kehilangan wanita yang diam-diam telah menjadi pemilik hatinya yang sesungguhnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!