Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Satu tahun telah berlalu seperti kedipan mata. Siang itu, atmosfer di salah satu ruangan yang terletak tepat di sebelah auditorium kampus terasa begitu riuh. Di sudut ruangan, Rose sedang sibuk memegang dagu Elena, jemarinya lincah mengoreksi riasan sahabatnya itu dengan kuas makeup.
"Elena, lu mau wisuda atau mau pergi kondangan, sih? Ini lipstik merahnya ketebelan, menor banget!" gerutu Rose gemas sambil menyeka sudut bibir Elena dengan tisu. Elena hanya bisa pasrah sambil mengerucutkan bibirnya.
Vin yang duduk santai di kursi seberang hanya memperhatikan kesibukan kedua gadis itu. "Udah sih, Rose. Mau merah jreng atau ungu sekalian, Elena tetep aja cerewet," komentar Vin asal yang langsung mendapat lirikan tajam dari Elena.
Di dekat pintu, suasana hati Luca justru berbanding terbalik dengan candaan sahabat-sahabatnya. Pemuda manis itu berdiri gelisah, matanya tak lepas dari layar ponsel lamanya. Langkah kakinya mondar-mandir tak tenang, memancarkan guratan kekecewaan yang mendalam.
"Ca, sini napa? Nggak pegel apa kaki lu mondar-mandir dari tadi?" panggil Vin, menepuk kursi kosong di depannya agar Luca mau duduk. "Sini, santai dulu."
"Tunggu, aku mau cari jaringan dulu," sahut Luca, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara. "Dari tadi aku hubungi Kak Brant nggak masuk-masuk."
Luca berbohong demi menutupi rasa sedihnya. Padahal, di layar ponselnya jelas-jelas tertulis status 'Berdering', hanya saja panggilan itu sama sekali tidak diangkat. Di London saat ini baru jam 6 pagi, dan Brant sudah berjanji akan bangun subuh demi melakukan video call untuk melihat Luca memakai toga siang ini. Tapi kenyataannya? Nihil.
"Mungkin jaringan di London lagi gangguan kali, Ca," ucap Rose menenangkan tanpa menoleh, tangannya masih fokus merapikan bedak Elena.
Akhirnya Luca menyerah. Dengan bahu merosot lesu, ia kembali berjalan dan duduk di samping Vin.
"Heh, ini hari baik loh. Lu harus pasang wajah bahagia, ntar tampang lu nggak mirip angel lagi kalau ditekuk gitu," komentar Elena setelah bibirnya selesai dirias.
"Iya, entar aja telepon lagi pas acaranya udah kelar. Siapa tahu sinyalnya udah bagus," tambah Vin.
Luca hanya berdehem pelan, memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa getir di bibirnya. Dadanya terasa sesak oleh rasa kecewa. Tepat saat itu, ponsel Elena bergetar kencang. Sebuah notifikasi grup masuk; seluruh calon wisudawan diperintahkan untuk segera memasuki auditorium karena prosesi wisuda akan segera dimulai. Mereka berempat pun segera bangkit dan bergegas keluar menuju ruang acara.
Auditorium kampus tampak megah dengan dekorasi formal dan riuh tepuk tangan keluarga yang hadir. Di dalam ruangan yang dingin itu, ketegangan mulai merayap. Elena dan Rose berulang kali menarik napas dalam-dalam, merapikan toga mereka karena gugup menjelang nama mereka dipanggil ke atas panggung. Sementara Vin, seperti biasa, tampak diam dan santai bersandar di kursinya.
Di antara barisan bangku, Luca menjadi yang paling sunyi. Matanya masih sesekali melirik layar ponsel yang ia sembunyikan di balik jubah toganya, berharap ada satu saja pesan balasan dari chat yang ia kirim sejak pagi tadi. Namun, layarnya tetap gelap.
Di barisan kursi penonton, Ibu Lana dan Lea duduk berdampingan menyaksikan jalannya acara. Lea yang sejak tadi memperhatikan barisan para wisudawan, menyenggol lengan mamanya pelan.
"Ma, kok di hari seperti ini Luca pelit banget sih senyumnya?" bisik Lea datar, memperhatikan raut wajah abangnya dari kejauhan yang tampak kurang bersemangat. Ibu Lana hanya menghela napas maklum, tahu betul siapa yang sedang ditunggu oleh putra manisnya itu.
Hingga akhirnya, suara protokol menggema melalui pengeras suara.
"Selanjutnya... Luca Stellan."
Luca tersentak, mengulum senyum terbaiknya, lalu melangkah ke atas panggung untuk pemindahan tali toga. Di tengah gemuruh tepuk tangan, Luca berhasil menyelesaikan babak perkuliahan dalam hidupnya.
Begitu acara penutupan selesai dan pintu auditorium dibuka, aula langsung dipenuhi tangis haru dan pelukan hangat. Begitu melihat sosok sang mama di antara kerumunan, Luca langsung berlari dan memeluk erat tubuh sang mama.
Luca menangis sesenggukan di bahu mamanya. Itu adalah tangisan bahagia karena ia akhirnya berhasil menamatkan kuliahnya berkat kerja keras sang mama dan perjuangannya sendiri. Namun di sisi lain, tangisan itu juga menjadi pelampiasan rasa sesak karena kekasihnya sama sekali tidak ada kabar di hari spesial ini.
"Selamat ya, Sayang... putra manisnya Mama. Sukses terus ke depannya," ucap Ibu Lana lembut, mengecup kening Luca dengan penuh rasa bangga.
"Iya, makasih banyak, Ma..." bisik Luca dengan suara serak.
Lea melangkah mendekat, menatap abangnya dengan ekspresi datar andalannya, namun binar matanya memancarkan ketulusan. "Selamat, Ca. Lu udah selesai kuliah dan sekarang udah punya kerjaan sendiri juga," ucap Lea, membuka lengannya memberi selamat.
Luca langsung menyambut adiknya dan memeluknya erat. "Makasih, Adikku tersayang!"
Meskipun terlihat risih dan kaku, Lea tetap membiarkan kakaknya memeluknya erat selama beberapa detik sebelum akhirnya berbisik, "Tapi ingat, bagi-bagi uang buat gue nanti. Lu kan kerja di luar, sedangkan kerjaan di rumah sekarang gue yang handle semua, tau."
Mendengar gerutuan itu, tangis Luca langsung pecah menjadi tawa renyah. Ibu Lana pun ikut tertawa, menyadari anak perempuannya diam-diam menyimpan beban berat sebagai 'ART dadakan' di rumah keluarga kecil mereka.
Setelah berpamitan dan berpelukan hangat dengan Rose, Elena, dan Vin, Luca melambaikan tangan. Dengan hati yang sedikit lebih ringan berkat kehadiran keluarganya.
•
Sore menjelang malam, suasana berganti menjadi kerlip lampu kota yang syahdu. Luca dan teman-temannya berkumpul di sebuah kafe estetik di tepi pantai. Posisi kafe itu sangat indah; menghadap langsung ke laut lepas, sementara di seberangnya, siluet gedung-gedung tinggi kota mulai menyala, memantulkan cahaya gemerlap di atas permukaan air. Tak hanya berempat, mereka juga mengajak Clay, Rey, dan Jack. Sekalian reuni kecil-kecilan, pikir mereka.
Di salah satu meja panjang, obrolan seru tentang acara wisuda siang tadi sudah bergulir. Jack terlihat beberapa kali membisikkan kata maaf pada Rose karena tidak bisa hadir siang tadi akibat urusan pekerjaan. Luca yang duduk di dekat mereka hanya diam memperhatikan interaksi manis itu. Ada rasa senang melihat sahabatnya bahagia, namun di sudut hatinya yang lain, ada rasa iri yang merayap sunyi. Sampai detik ini, Brant... Ah, sudahlah. Luca menggeleng pelan, berusaha menyuntikkan pikiran positif ke kepalanya.
"Halo semuanya! Adek-adek yang baru wisuda, selamat ya!" suara lantang Rey memecah lamunan Luca. Rey dan Clay baru saja tiba dengan keceriaan mereka yang seperti biasa.
Mereka berdua menjabat tangan Rose satu per satu. "Cie, yang udah lulus, bentar lagi siap merit nih kayaknya," goda Clay sambil melirik Jack yang langsung terkekeh.
Rey beralih menepuk bahu Vin. "Hei Vin, selamat ya! Baru ketemu lagi kita. Btw, gue masih jomlo lho," canda Rey, mencoba mencairkan suasana.
"Hmm, makasih," balas Vin sedatar biasanya.
"Eh, ada Neng Luca juga yang makin beautiful aja nih. Selamat ya, Ca! Udah lulus, makin terkenal lagi sekarang," puji Clay yang selama ini memang menjadi komentator setia di setiap postingan modeling Luca.
"Makasih banyak Kak Rey, Kak Clay," sahut Luca dengan senyum sopan.
"Pesan makanan dulu sana, kalian berdua. Kita tinggal nunggu pesanan datang nih," sela Jack pada Rey dan Clay.
"Gue minum aja, Rey. Kopi pahit ya," sahut Clay saat Rey berjalan menuju meja kasir. Setelah Rey pergi, Clay mengedarkan pandangan. "Nggak lengkap ya, jadi kangen Brant gue."
"Tuh, ada kekasihnya Kak Brant di sini," sahut Elena spontan.
Luca yang sejak tadi lebih banyak melamun langsung tersentak kaget mendengar nama kekasihnya disebut. Ia menatap Elena dengan bingung. "Kenapa, El?"
"Lu yang kenapa, Ca? Gue bilang lu kekasihnya Brant, lu malah kaget planga-plongo gitu," ujar Elena heran.
Jack yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Luca yang tidak fokus ikut bersuara. "Calon pemimpin perusahaan besar pasti sibuk banget sekarang, maklumi aja."
"Kak Brant sibuk tapi tetap sering telepon Luca. Nggak kayak Kakak, kalau aku nggak telepon duluan, bisa-bisa seharian kita diam-diaman," sambung Rose, mengerucutkan bibirnya ke arah Jack. Meja itu pun dipenuhi tawa mendengar curhatan Rose yang blak-blakan.
Clay diam-diam menatap Luca. Sepanjang obrolan, pemuda manis itu tidak banyak bicara. Matanya bahkan menangkap basah jemari Luca yang berulang kali menekan layar ponsel, mencoba menghubungi seseorang yang diyakininya adalah Brant.
Tak lama, Rey kembali membawa minumannya dan langsung duduk di bangku kosong sebelah Luca. "Gue barusan telepon Brant, mau pamer acara ngumpul kita. Tapi nggak diangkat-angkat lagi. Sombong banget itu calon CEO," gerutu Rey santai. "Coba lu yang telepon, Ca. Siapa tahu kalau lu yang panggil langsung diangkat."
Luca menatap ponsel di tangannya dengan ragu. "Kak Brant nggak ada kabar dari tadi pagi sampai sekarang, Kak," ucap Luca, lalu melirik Vin sekilas. "Tersambung, tapi nggak diangkat juga. Nggak tahu kenapa," akhirnya Luca jujur.
"Dia lagi kerja..." ucap Vin.
"...dia lagi makan siang mungkin," sambung Clay di saat yang bersamaan.
Bukannya memicu tawa karena ucapan mereka yang saling tabrakan, suasana di meja itu mendadak berubah menjadi canggung. Jawaban serempak dari Vin dan Clay terkesan terlalu dipaksakan, seolah mereka hanya ingin menghibur Luca agar tidak tenggelam dalam kesedihan.
"Iya, Kak Brant pasti lagi di tempat kerja. Di sana kan sudah siang, pasti lagi jam makan," sahut Luca dengan senyuman. Ia tahu teman-temannya sedang berusaha menjaga perasaannya.
Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Suasana kembali mencair seiring mereka menikmati hidangan dan mengobrolkan kegiatan masing-masing. Jack menceritakan proyek kantorannya yang menyita waktu, Rey sibuk membahas bisnis vape yang sedang ia rintis, dan Clay memamerkan usaha barunya di bidang kaus sablon custom. Luca pun ikut membagikan pengalamannya di dunia pemotretan yang kini makin padat.
Waktu bergulir cepat hingga jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Mereka akhirnya harus berpisah. Malam itu, Luca pulang diantar oleh Clay menggunakan mobilnya.
Di dalam kabin mobil yang sunyi, Luca hanya menatap lurus ke jendela luar, memperhatikan lampu-lampu jalanan yang berkelebat cepat.
"Brant udah ngasih selamat buat lu, Ca?" tanya Clay memecah keheningan, hanya untuk memastikan karena mengingat ucapan Luca di kafe tadi.
Luca menggeleng pelan. Ia memutar tubuhnya, memperlihatkan layar ponselnya ke hadapan Clay. Di sana terpampang deretan riwayat panggilan keluar hari ini—puluhan panggilan, dan tidak ada satu pun yang tersambung atau direspons. Luca tertawa miris, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan.
"Pekerjaan sebanyak apa ya, Kak, sampai seharian penuh nggak bisa membuat Kak Brant lihat handphonenya? Sekali aja..." bisik Luca lirih.
Tiba-tiba, seolah menjawab keluhannya, ponsel di genggaman Luca bergetar kencang. Nama 'Brant' berkedip di layar. Luca langsung menggeser tombol hijau dengan cepat. Namun, saat ponsel itu menempel di telinganya, mulutnya mendadak terasa kelu untuk bersuara. Ada rasa bahagia yang membuncah, namun terkubur oleh rasa kecewa yang teramat besar. Hari ini hampir selesai, dan dia baru mengingatku sekarang? batin Luca perih.
"Ca? Halo, Ca? Lo bisa dengar suara gue nggak?" suara Brant terdengar di seberang sana.
Clay yang mengerti pergolakan batin Luca langsung sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah ponsel. "Brant! Ini gue, Clay! Gue lagi antar Luca pulang, kita baru aja ngerayain acara kelulusannya dia!" seru Clay agak keras agar suaranya menembus bisingnya jaringan interlokal.
Suasana di seberang telepon mendadak hening sejenak. "Clay... Oh, oke. Makasih banyak, Bro," sahut Brant. Suaranya terdengar sangat canggung dan terbata-bata, tersirat rasa bersalah yang teramat besar karena telah melupakan janji pentingnya. "Ca... nanti gue telepon lu lagi ya. Kalau udah sampai di rumah, kabari gue."
Klik. Sambungan langsung diputus sepihak dari London. Luca hanya bisa menatap diam layar ponselnya yang perlahan kembali menggelap.
"Sudah, Ca. Nanti kalau sampai di rumah, lu kasih tahu Brant. Kalian bicara berdua baik-baik, terus dengar apa penjelasannya dia, ya?" ucap Clay lembut, mencoba menenangkan adek tingkatnya itu.
"Iya, Kak," jawab Luca pelan.
Mobil Clay akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Luca. Setelah Luca turun dan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya, Clay pamit lalu melajukan mobilnya membelah malam.
Begitu tiba di kamar, Luca langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang. Tangannya bergegas membuka ponsel, di mana sebuah pesan singkat dari Brant baru saja masuk—sebuah ucapan selamat wisuda yang terlambat. Namun, pesan itu seketika meruntuhkan seluruh dinding kekecewaannya; rasa rindu Luca mengalahkan segalanya. Ia langsung menekan tombol panggil, yang langsung diangkat oleh Brant.
"Halo, Ca... tolong maafin gue, ya. Please, gue tahu gue salah. Tapi semoga belum terlambat, selamat atas kelulusan lu, Ca. Lu hebat," ucap Brant, suaranya terdengar lelah sebelum menarik napas berat. "Gue minta maaf, ini beneran nggak sengaja."
"Makasih, Kak. Nggak apa-apa, kok, belum terlambat," sahut Luca. Pertahanannya runtuh, ia menangis sesenggukan. Sakit hati, namun rasa sayangnya jauh lebih besar. "Tapi kenapa seharian Kakak nggak lihat handphone? Aku mau pamer atribut wisudaku tadi..."
Di seberang sana, Brant tersenyum getir. "Nanti kirim semua foto dan video lu ke gue, Ca. Bahkan kalau cuma foto bayanganmu pun kirim aja. Gue nggak mau melewatkan satu pun momen berharga lu."
"Ih, Kak Brant aneh," ucap Luca di sela tangis dan tawa kecilnya. "Tapi Kak, jawab dulu, kenapa hari ini susah banget dihubungi?"
Hening sejenak sebelum Brant menjawab pelan, "Gue di rumah sakit, Ca. Mama masuk rumah sakit."
Luca tersentak, rasa bersalah langsung menghantam dadanya. "Hah? Tante Sofia sakit apa, Kak?"
"penyakit jantunynya kambuh, Ca. Gue yang jagain di ruangannya. Gue Maunya video call biar bisa liat lu, tapi Mama lagi istirahat," jelas Brant demi menenangkan kekasihnya.
"Ya ampun... ya udah Kak, nanti kita teleponan lagi aja. Jangan berisik, kasihan Tante lagi istirahat. Kakak juga jangan lupa makan dan istirahat. Semoga Tante cepat sembuh ya," ucap Luca tulus. Setelah Brant mengiyakan, sambungan itu terputus. Luca akhirnya bisa memejamkan mata dengan hati yang jauh lebih lega malam itu.
Namun di London, atmosfernya justru berbanding terbalik. Brant menatap nanar koridor rumah sakit yang dingin. Ia teringat kejadian kemarin malam. Brant memergoki kedua orang tuanya bertengkar hebat di ruang tamu. Hingga penyakit ibunya kambuh dan pingsan.
Kalimat-kalimat tajam mengenai batas kepemilikan perusahaan dan hak ahli waris sempat tertangkap jelas oleh telinga Brant sebelum sang ibu tumbang. Ayahnya bahkan sempat mematung panik sebelum mereka melarikan ibunya ke IGD.
Brant mengepalkan tangannya di saku celana, dipenuhi gejolak tanya yang menyiksa batinnya: Untuk apa mereka bertengkar sehebat itu jika masalahnya hanya tentang ahli waris? Bukankah sejak awal semua aset itu akan jatuh ke tanganku? Sebenarnya... rahasia besar apa lagi yang sedang mereka sembunyikan dariku?