Awalnya, kisah ini adalah tentang janji dua hati untuk membangun masa depan yang indah bersama. Namun takdir berputar kejam ketika rahasia dan ambisi besar keluarga mulai terungkap. Kini, perjuangan mereka berubah arah. Di persimpangan jalan yang perih, Brant dan Luca dipaksa mempertaruhkan perasaan dan kisah cinta mereka demi melindungi keluarga masing-masing. Ketika kesetiaan diuji, akankah cinta mereka bertahan, atau justru menjadi korban yang paling tragis?
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Dentuman musik EDM di pub premium itu tak mampu mengusir kekacauan di kepala Brant. Masih di hari yang sama, dengan dasi longgar dan kemeja kusut, ia duduk tumbang akibat mabuk berat. Leo yang menemaninya hanya bisa mendesah berat; ia tahu masalah kali ini jauh lebih mengerikan setelah mengetahui kebenarannya.
Tadi saat makan siang, kabar buruk dari kantor menghantam: saham atas nama Junior Willey melonjak drastis, mengancam akan mengambil alih perusahaan anak cabang. Ambisi menyelamatkan aset itu membuat Brant tenggelam dalam dokumen dan telanjur mengabaikan Luca. Begitu tersadar, Brant langsung meraih ponsel untuk menghubunginya. Namun yang Brant dapati adalah satu pesan dari Luca yang membuatnya panik dan bergegas memacu mobilnya ke sana, tapi ia hanya mendapati rumah yang kosong. Luca bahkan mengabaikan semua panggilan telepon darinya. Rasa bersalah dan tekanan bisnis itulah yang resmi meruntuhkan pertahanan Brant malam ini.
"Papa gue... sadis banget, Leo," racau Brant tiba-tiba, suaranya berat dan serak khas orang mabuk. Tubuhnya merosot, bersandar lelah pada sofa kulit. "Dia udah nipu gue... dia nipu nyokap gue..."
"Iya, aku mengerti, Brant. Tenang dulu," sahut Leo, mencoba menahan tubuh bosnya itu agar tidak terjatuh.
"Dan karena dia juga..." Brant terkekeh sumbang, sebuah tawa penuh kepedihan, "...pacar gue pergi."
Pacar?
Leo baru tau, rumah kosong yang mereka datangi dengan terburu-buru tadi ternyata adalah rumah kekasih Brant. Ia tidak menyangka bahwa pria sedingin Brant bisa sehancur ini hanya karena ditinggal pergi.
"Bangsat! Sialan!" geram Brant tertahan. Tangannya mencengkeram tepi meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih, meluapkan amarah yang campur aduk dengan rasa frustrasi.
"Brant, kita harus kembali ke apartemen sekarang. Lo udah mabuk parah," ucap Leo tegas, mencoba menarik lengan Brant.
Mendengar itu, Brant tiba-tiba mendongak. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman miris yang terlihat asing di wajah tegasnya—sebelum kemudian kepalanya kembali terantuk, terkapar pasrah di atas meja.
"Biasanya... Luca yang bakal datang dan bawa gue pulang..." gumam Brant teramat pelan."Gue jauh-jauh kemari... mau ketemu lu, Ca. Tapi... malah gue abaikan lu, ya? Maaf, Ca... maaf..."
Leo hanya terdiam, mengamati setiap racauan yang keluar dari bibir pria itu. Brant terlalu mabuk dan dirinya pun terlalu lelah sepanjang hari itu. Leo memutuskan untuk segera membawa Brant pulang.
Setelah menyelesaikan seluruh tagihan minuman, dengan susah payah Leo memapah tubuh kekar Brant keluar dari pub, membawanya kembali ke apartemen untuk beristirahat.
Keesokan paginya, tirai hitam dunia malam itu seolah ditutup rapat. Setelah membersihkan diri dan sarapan secukupnya, Brant melangkah keluar dari apartemen menuju perusahaan anak cabang dengan setelan jas formal yang sempurna. Ia kembali menjadi sosok atasan yang dingin, tajam, dan profesional. Tidak ada bahasan, tidak ada ungkitan, seolah kerancuan dan air mata di pub semalam hanyalah mimpi. Brant tahu ia harus fokus pada tujuannya.
Di ruang rapat utama, suasana terasa mencekam. Di sana sudah berkumpul beberapa petinggi setia dan seorang Analisis Keuangan Senior sekaligus Konsultan Hukum Kepercayaan Ibu Brant—Pak Kusuma. Mereka mengadakan pertemuan dadakan yang sangat rahasia.
Brant duduk di kursi utama, menumpu kedua tangannya di atas meja dengan tatapan mengintimidasi. "Jadi, katakan pada saya. Di mana letak kelemahan kita hingga posisi dan kepemilikan saham di perusahaan ini bisa terancam?"
Pak Kusuma menghela napas berat, membuka sebuah berkas tebal di hadapan Brant. "Ini masalah pergerakan pasar, Tuan Muda Brant. Lonjakan saham atas nama Junior Willey dipicu oleh lini bisnis baru mereka di sektor kosmetik dan fashion. Penjualan produk mereka meledak di pasaran selama beberapa bulan ini, mencetak keuntungan yang luar biasa besar."
Leo yang berdiri di samping Brant ikut mengernyit. "Bagaimana bisa produk baru mereka langsung meledak dalam waktu sesingkat itu?"
"Mereka menggunakan strategi pemasaran yang sangat masif, Pak Leo," jelas Pak Kusuma. "Pihak Junior Willey mengontrak seorang bintang baru untuk menjadi ikon utama produk mereka. Pengaruh bintang itu luar biasa di mata publik. Setiap produk yang ia sentuh langsung habis terjual dalam hitungan jam."
Mendengar penjelasan itu, Brant hanya mendengus dingin. Ia sama sekali tidak ambil pusing dengan siapa sosok bintang yang dimaksud. Baginya, itu hanyalah detail kecil tak penting dalam urusan marketing. Fokus utamanya hanya satu.
"Saya tidak peduli siapa bintang sialan itu," potong Brant kejam. "Yang saya butuhkan adalah cara untuk memotong aliran dana mereka dan mempertahankan aset. Bagaimana menghentikannya?"
Pak Kusuma menggeleng lemah, wajah paruh bayanya menyiratkan keputusasaan. "Sulit, Tuan Muda. Posisi kita sudah terlalu lemah untuk bangkit dalam waktu singkat. Berdasarkan data historis yang saya temukan, investasi dan pergerakan saham atas nama Junior Willey ini ternyata sengaja dibiarkan tumbuh subur oleh Tuan Lodrik sendiri sejak beberapa tahun lalu. Ayah Anda sudah menyiapkan karpet merah ini sejak lama untuk Junior."
Aura dingin yang menguar dari tubuhnya membuat seisi ruangan seketika membeku. Rahangnya mengeras rapat. Ayahnya memang berniat menyingkirkan dirinya dan sang ibu demi anak simpanan itu.
"Sengaja dibiarkan, ya?" desis Brant, senyum sinis tersungging di bibirnya. Matanya berkilat penuh dendam. "Papa pikir dia bisa memberikan semua milikku begitu saja? Tidak akan pernah."
Brant berdiri dari kursinya, memancing perhatian penuh dari semua orang di ruangan. "Cari tahu celah hukum dari kontrak lini bisnis itu. Jika kita tidak bisa menghentikan penjualannya, kita potong jalur distribusinya. Aku tidak akan membiarkan satu sen pun aset jatuh ke tangan mereka."
Rapat itu ditutup dengan ketegangan yang memuncak. Brant tetaplah sang predator yang menolak untuk kalah. Dalam diam dia akan mencari tau, siapa sosok "bintang" yang sedang membantu menghancurkan bisnisnya demi melawan sang ayah.
•
•
•
Di sebuah kamar hotel yang nyaman, Luca sedang sibuk di depan ring light. Setelah seharian menemani sang ibu menjalani sesi terapi yang melelahkan di rumah sakit kota itu, pemuda itu langsung beralih profesional. Ia merekam beberapa video promosi produk skincare dengan senyum manisnya yang khas, lalu mengunggahnya ke akun media sosial miliknya.
Begitu tombol upload selesai diproses, Luca langsung menoleh ke arah ibunya yang sedang sibuk mempersiapkan obat-obatan di atas meja kecil.
"Aku tampan kan, Ma?" tanya Luca dengan nada manja seraya mendekatkan layar ponselnya ke arah Ibunya.
Ibu Lana menoleh, lalu tersenyum lembut menatap wajah putranya di layar. "Manis dan lucu sekali anak Mama di sini. Pasti banyak yang suka."
"Iya, Ma, banyak banget!" sahut Luca bangga, matanya berbinar. " bahkan kata Kak Citra, sejak aku yang jadi brand ambassador-nya, produk ini semakin laris manis di pasaran lho."
"Hmm, bagus dong, sayang," jawab ibunya hangat, ikut bahagia melihat putranya bisa mandiri.
Tepat saat itu, ponsel Luca bergetar di atas kasur. Nama Citra tertera di layarnya. Luca segera menggeser tombol hijau.
"Ya, selamat sore, Kak Citra," sapa Luca ramah.
"Halo, Ca. Kamu lagi nggak sibuk, kan?" tanya Citra di seberang telepon. Suaranya terdengar sangat bersemangat.
"Enggak, Kak. Baru aja balik ke hotel setelah anterin Mama berobat tadi," jawab Luca.
"Oh, syukurlah. Gini, Ca... ada kabar gembira banget buat kamu! Pihak perusahaan pemilik produk sangat mengapresiasi kerja keras kamu selama ini. Awalnya kan kontrak kamu cuma buat uji coba enam bulan, tapi ternyata efek yang kamu bawa luar biasa! Penjualan mereka meledak melampaui target. Jadi, mereka mau memperpanjang kontrak kamu jangka panjang, dan tentu saja... tarif pembayaran untuk kamu dinaikkan jauh lebih tinggi! Gimana, Ca? Kamu bersedia?"
Luca tertegun sejenak. Matanya melebar karena terkejut sekaligus senang. Ia menatap ke arah sang mama, dan Ibu Lana yang mendengar samar-samar percakapan itu langsung mengangguk penuh dukungan.
"Iya, Kak, aku mau banget. Mama juga ijinin kok," jawab Luca antusias.
"Bagus! Tapi masalahnya, Ca, penandatanganan kontrak barunya harus besok pagi banget, langsung di gedung pusat perusahaannya. Kamu bisa, kan?"
Senyum di wajah Luca perlahan memudar. Matanya bergerak menatap sang ibu yang masih harus berobat di kota ini. Bagaimana dengan Mama? batin Luca dilema.
Melihat keraguan di mata putranya, Ibu Lana menggenggam tangan Luca lembut. "Kamu boleh pulang duluan malam ini, Ca. Ini peluang sukses untuk masa depanmu. Mama akan baik-baik saja di sini"
Meski hatinya berat dan dilingkupi rasa ragu, Luca akhirnya mengangguk patuh pada ibunya. "Baik, Kak Citra. Besok pagi aku sudah ada di sana."
"Oke, Ca! Sampai ketemu besok pagi ya. Salam buat Mamamu, semoga cepat sembuh."
Sambungan telepon itu terputus. Luca menatap layar ponselnya dan teringat sesuatu. Besok pagi... waktunya bertepatan dengan hari dan jam keberangkatan Brant kembali ke London. Luca tidak pernah lupa ucapan Brant tempo hari.
"Ma... benar nggak apa-apa Luca tinggalin?" tanya Luca sekali lagi, memastikan.
"Iya, sayang. Kamu nggak usah khawatirkan Mama. Sana, kamu harus segera bersiap-siap dan berangkat," desak Ibu Lana dengan senyum menenangkan.
Malam itu juga, Luca menempuh perjalanan pulang selama 4 jam kembali ke kotanya. Sepanjang jalan, dadanya sesak oleh badai emosi: senang atas kariernya, sedih karena harus meninggalkan ibunya, dan dilema hebat memikirkan Brant. Begitu tiba di rumahnya yang sepi, Luca langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang. Pikiran pemuda itu melayang; seharusnya malam ini menjadi malam perpisahan mereka, persis seperti saat dulu Brant pertama kali pergi meninggalkannya. Namun malam ini, mereka bahkan tidak bertukar kabar. Dalam pelukan kerinduan yang menyakitkan, Luca akhirnya terlelap karena kelelahan.
Keesokan paginya, Luca sudah tampil sangat rapi dan wangi. Namun saat keluar kamar, ia mendapati Lea sudah berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Padahal, Luca berniat ingin menebeng sarapan adiknya.
Tak berselang lama, Citra kembali menelepon. "Ca, sudah siap?"
"Iya, Kak. Ini tinggal jalan," jawab Luca.
"Aku udah di jalan, ca.Tunggu di sana ya. Aku jemput aja biar bareng."
"Wah, iya Kak, makasih." Luca menutup telepon lalu duduk di teras depan rumahnya, menunggu kedatangan mobil Citra.
Sementara itu, di kantornya Brant sudah berada di dalam ruang kerja kantor. Pria itu sedang mengumpulkan beberapa arsip dan dokumen penting yang harus ia bawa ke London sebelum berangkat.
Sepasang matanya fokus membaca lembar demi lembar berkas di tangannya, namun fokus itu hanyalah topeng. Pikirannya kacau. Rasa rindu yang teramat dalam dan penyesalan yang membakar dada kembali menghantam pertahanannya. Brant menurunkan pandangan ke arah jam tangannya. Satu setengah jam lagi dia harus sudah berada di bandara.
"Luca... lo di mana sih?" desis Brant frustrasi, menyugar rambutnya dengan kasar.
Pertahanannya dan amarah kemarin telah menguap, digantikan oleh rasa haus yang luar biasa untuk melihat wajah pemuda itu, setidaknya sekali saja sebelum ia pergi jauh. Urusan perusahaan sangat penting, namun Luca juga memiliki ruang yang sama penting di dalam hatinya. Brant tidak mau menyerah begitu saja.
Sambil mendekap erat seluruh berkas penting itu, Brant melangkah lebar menuju mobilnya. Sebelum melaju, ia mengirim pesan singkat kepada Leo: “Tunggu gue langsung di bandara.” Brant memacu mobilnya membelah jalanan kota, menuju satu-satunya tempat yang ia tuju: rumah Luca.
Ironisnya takdir terjadi di sini. Hanya berselang lima belas menit setelah mobil Brant meninggalkan area gedung, sebuah mobil sedan putih milik Citra perlahan berhenti tepat di depan lobi gedung mewah tersebut.
Citra dan Luca keluar bersamaan dari dalam mobil. Luca melangkah turun, lalu menghentikan langkahnya sejenak. Kepalanya mendongak, menatap gedung pencakar langit yang menjulang megah di hadapannya. Ini adalah pertama kalinya Luca datang dan melihat langsung pusat dari perusahaan kosmetik raksasa yang telah menaikkan namanya dan menghasilkan uang. Ada rasa bangga yang membuncah di dadanya.
Namun, binar di mata Luca seketika meredup saat sepasang matanya membaca logo besar berlapis emas yang bertengger angkuh di atas gedung: WILLEY GROUP.
Willey...
Nama Brant seketika melintas dengan sangat kuat di benaknya. Hantaman rindu yang sejak semalam ia tekan mati-matian, kini kembali bergejolak hebat di dalam dadanya. Apakah kak brant sudah kembali ke london sekarang? Tanya luca dalam hati, menahan sesak.
"Nah, Ca. Ini dia tempatnya. Perusahaan raksasa pemilik produk yang sedang viral itu, dan kamu adalah bintang utamanya," ucap Citra bangga seraya menepuk bahu Luca. "Ayo masuk, jajaran direksi sudah menunggu kita di dalam."
Luca memaksa memberikan sebuah senyuman, ia senang dan sedih di waktu bersamaan. "Iya, Kak. Ayo."
Sementara pria yang sedang dirindukan Luca setengah mati itu baru saja mengerem mobilnya dengan kasar di depan pagar rumah Luca. Brant langsung melompat turun tanpa mematikan mesin mobilnya.
"Ca! Luca!" teriak Brant lantang seraya mengguncang pagar besi rumah itu.
Namun, sepi menyambutnya. Rumah itu tampak kosong melompong. Dengan napas memburu, Brant merogoh sakunya, menekan nomor Luca untuk kesekian puluh kalinya. Namun, yang terdengar hanyalah suara operator otomatis: "Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan..."
Brant menurunkan ponselnya dengan tangan bergetar. Ia masih tak berhenti memanggil nama Luca di depan rumah itu. Hingga ia melirik jam tangan digitalnya yang kini sudah menunjukkan pukul 13:10. Waktunya sudah habis. Jika dia tidak berangkat ke bandara sekarang, dia akan ketinggalan pesawat ke London dan mengacaukan semua rencanannya.
"Sial! Brengsek!" umpat Brant kasar. Ia memukul setir mobilnya meluapkan amarah yang membakar dada.
Brant tak percaya, pertemuan yang sudah ia nantikan selama satu tahun lebih ini harus berakhir seperti ini? Ia merasa sangat kecewa, marah pada keadaan, dan yang terbesar—ia marah pada kebodohannya sendiri.
Dengan berat hati dan perasaan yang hancur, Brant terpaksa menginjak pedal gas dalam-dalam. Meninggalkan rumah itu, meninggalkan cintanya yang tak sempat ia temui, dan melaju kencang menembus jalanan menuju bandara dengan penyesalan yang mengendap dalam di dadanya.
•
•
•
Aroma manis dan gurih dari uap berbagai rasa memenuhi udara di gerai vape milik Rey sore itu. Di sudut konter, Clay dan Jack sedang duduk santai sambil memperhatikan Rey yang sibuk menata stok barang dagangannya.
"Rey, gue bisa ngutang vape yang mahal itu nggak? Apa tuh jenisnya, yang pod mod keluaran terbaru itu?" ucap Clay asal, menunjuk salah satu etalase dengan wajah tanpa dosa.
Rey langsung mendelik tajam, menghentikan aktivitasnya. "Gila lu! Bukannya majuin bisnis teman, malah niat ngancurin dengan ngutang!"
"Tenang, nggak bakal langsung hancur kok. Paling pelan-pelan bangkrut," sahut Clay, tertawa mengejek.
"Doain yang baik kek, teman kampret!" umpat Rey kesal, yang langsung disambut tawa kecil oleh Jack.
Jack yang sejak tadi bersandar pada kursi kemudian menyela, "Eh btw, Brant nggak ada ngajak kita ketemuan gitu? Kata lu dia lagi sini kan, Clay?"
"Iya, dia emang di sini. Tapi orangnya sibuk banget, kan dia bos muda sekarang," jawab Clay seraya bahunya mengedik.
"Palingan juga lagi ngabisin waktu seharian bareng Luca," timpal Rey sambil membersihkan salah satu perangkat vape.
"Iya juga sih. Hampir dua tahun mereka pisah LDR, pasti lepas kangen banget," gumam Jack maklum.
Clay yang sedang asyik memainkan ponselnya tiba-tiba menegakkan punggung saat sebuah notifikasi lewat di beranda media sosialnya. Itu adalah unggahan video terbaru dari Luca. Melihat kolom komentar yang bergerak cepat, Clay langsung bersemangat. "Eh, tunggu. Gue coba tanya langsung sama Luca. Ini dia lagi aktif bales-balesin komentar netizen nih."
Dengan lincah, jemari Clay mengetik di kolom komentar publik Luca: “Hai Ca, makin kiyut aja! Skincare-nya emang top abis.”
Tak puas sampai di situ, Clay langsung beralih ke ruang obrolan pribadi (DM) untuk menjahili Luca.
“Suruh Brant tuh borong yang banyak, biar aura bos mudanya makin bersinar. Btw, Brant mana, Ca? Lagi bareng lo, kan?” tulis Clay.
Tak butuh waktu lama, ponsel Clay bergetar. Sebuah balasan masuk dari Luca. Namun, begitu membaca isinya, senyum jenaka di wajah Clay seketika luntur.
Luca: “Aku nggak ketemu Kak Brant samsek, Kak Clay... 😢
Luca: “Orangnya udah balik lagi ke London.”
Clay mengernyit, tidak percaya.
Clay: “Yang bener lo, Ca? Jangan bercanda.”
Luca: “Sumpah, Kak Clay. Aku nggak bohong.”
Clay langsung keluar dari ruang chat dengan wajah melongo. Ia menatap Jack dan Rey bergantian dengan ekspresi syok. "Eh... gila. Bayangin, Luca ternyata nggak ketemu sama sekali selama Brant di sini. Terus, kata Luca... si Brant sekarang udah balik ke London."
Rey yang sedang memegang botol liquid langsung mendengus meremehkan. "Mana ada pasangan bucin kayak mereka bisa nahan diri buat nggak ketemu? Pasti Luca lagi bercanda itu mah."
"Iya, paling mereka lagi asyik kangen-kangenan, makanya sengaja pasang alibi begitu biar nggak diganggu kita," tambah Jack ikut tidak percaya.
Clay hanya menghela napas, memutuskan untuk tidak memperpanjang perdebatan meski hatinya sedikit sangsi. "Udah ah, biarin aja urusan pasangan itu"
Clay kembali menatap Rey dengan mata berbinar penuh harap. "Tapi Rey, gue beneran lho... masa nggak bisa ngutang dulu satu paket vape sama isinya? Pelit amat ama temen."
"Lu ya, dibilang enggak bisa, ya enggak bisa! Maksa amat!" semprot Rey.
"Panjar setengah dulu deh om, boleh ya?" tawar Clay lagi, memasang wajah memelas.
Rey mengembuskan napas pasrah. Menghadapi kekehan dan desakan Clay yang keras kepala memang selalu menguras energi. "Ya udah, ambil! Cepetan sebelum gue berubah pikiran!" ucap Rey ketus.
Melihat Clay bersorak menangas, Jack baru saja hendak membuka suara untuk ikut menawar, namun Rey dengan sigap langsung memotong jalan dengan telunjuk terancung ke arah Jack.
"Dan buat lu, Jack... lu harus bayar cash! Lu kan udah kerja, gaji lu besar. Beda ama nih anak," ucap Rey ketus sambil menunjuk Clay yang sedang cengengesan. "Si Clay mah seneng banget nganggur, ngabisin duit orang tua pula!"
Jack langsung meledak dalam tawa mendengar ocehan jujur yang keluar dari mulut Rey. Suasana di dalam gerai kecil itu seketika dipenuhi oleh riuh tawa dari ketiga sahabat tersebut, menutup sore hari itu dengan kehangatan pertemanan yang tulus—sementara di tempat lain, london menjadi sunyi siang hari itu. Brant tampak duduk bersandar di ruang kerjanya dengan tatapan yang kosong. Mengabaikan semua pekerjaan yang menanti untuk di selesaikan.