NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEKACAUAN DI KELAS KITAB KUNING

Bagi Mentari, hari ketiga di Pesantren Al-Hidayah adalah puncak dari segala kejenuhannya. Tidak ada sinyal internet yang lancar, tidak ada kopi kekinian, dan yang paling parah: tidak ada satu pun orang yang memperlakukannya seperti ratu—kecuali Bondan yang sesekali memuji merk tasnya.

Namun, pagi itu ada yang berbeda. Bondan terlihat sibuk luar biasa di depan cermin kecil yang retak di pojok kamar.

"Tari! Cepetan dong dandan yang cantik tapi tetep syar'i! Hari ini jadwal kelas Kitab Kuning tingkat menengah, dan tebak siapa yang ngajar?!" Bondan bertanya dengan nada melengking penuh semangat.

"Kakek-kakek yang suka batuk itu?" jawab Mentari asal sambil mengoleskan *lip tint* tipis agar bibirnya tetap terlihat merah alami meski harus bangun subuh.

"Bukan! Gus Zikri! Beliau gantiin Kyai yang lagi ada pertemuan ulama," Bondan memekik kegirangan. "Ini kesempatan emas, Tari! Biasanya kelas Gus Zikri itu eksklusif banget, cuma santri senior. Tapi karena ini kelas umum, kita bisa ikut!"

Mata Mentari langsung berbinar licik. "Gus Kulkas itu ngajar? Oke, gue ikut. Gue mau liat, seberapa kuat dia jaga pandangan kalau gue duduk paling depan."

Aula tempat pengajian sudah penuh sesak. Aroma minyak kayu gaharu dan wangi deterjen murah dari baju santri menyeruak. Mentari, dengan langkah percaya diri, menyerobot antrean. Ia mengenakan mukena berwarna soft pink berbahan sutra yang terlihat sangat kontras dengan mukena putih kusam santri lainnya.

"Heh, Minggir! Gue mau duduk di situ," Mentari menunjuk spot tepat di depan meja kecil tempat Gus Zikri akan mengajar.

"Tapi Mbak, ini tempatnya Mbak Hafizah, dia biasanya duduk sini buat nyatet," protes seorang santriwati kecil.

"Hafizah bisa duduk di belakang gue. Udah sana, geser!" Mentari duduk dengan anggun, meski cara duduknya masih terlihat kaku karena ia tidak terbiasa bersila lama.

Fahma datang belakangan, membawa buku tulis yang masih kosong. Ia duduk di samping Mentari, lalu menatap langit-langit aula. "Eh... kita mau nonton film apa ya di sini?"

Bondan menepuk dahi Fahma. "Fahma! Kita mau ngaji, bukan nonton bioskop! Itu meja di depan buat Gus Zikri, bukan buat naruh *popcorn*!"

Fahma hanya ber-oh ria, lalu kembali melamun. Sementara itu, Hafizah duduk di belakang Mentari sambil menghela napas panjang. "Mentari, niatnya diluruskan. Kita di sini untuk cari ilmu, bukan cari perhatian."

"Diem deh, Ustadzah gadungan. Gue punya misi sendiri," bisik Mentari pedas.

Suasana seketika senyap saat Gus Zikri melangkah masuk. Ia mengenakan jubah abu-abu tua dan peci hitam yang senada. Di tangannya, ia mendekap kitab tebal dengan sampul kulit. Langkahnya tenang, dan kepalanya tetap menunduk sedikit, hanya sesekali mendongak untuk melihat jalan.

Saat ia duduk di kursinya, Mentari sengaja memajukan duduknya hingga hanya berjarak dua meter dari meja Gus Zikri. Ia sengaja sedikit melonggarkan ikatan mukenanya agar helaian rambut pirangnya terlihat sedikit, lalu berpose menopang dagu dengan gaya paling manis.

Zikri berdeham. Suaranya yang rendah menggema melalui mikrofon. "Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh."

"Waalaikumsalam..." jawab para santriwati serempak, termasuk Bondan yang menjawab paling keras.

Zikri mulai membuka kitabnya. "Hari ini kita akan membahas tentang Adabun Nisa (Adab Wanita). Bagaimana seorang wanita muslimah menjaga kehormatannya..."

Selama penjelasan, Zikri benar-benar tidak melirik ke arah depan. Ia menatap kitab, atau menatap ke arah tembok belakang aula jika sedang menjelaskan tanpa membaca.

Mentari mulai gerah. *Gue udah secantik ini, dia bahkan nggak lirik sedikit pun?*

Mentari mulai beraksi. Ia menjatuhkan pulpennya dengan sengaja hingga menggelinding ke dekat kaki meja Gus Zikri.

"Aduh, pulpen aku jatuh..." Mentari bersuara dengan nada manja yang dibuat-buat.

Zikri berhenti bicara sesaat. Ia melihat pulpen itu di lantai, tapi ia tidak mengambilnya. Ia justru memberi kode pada Fahma yang duduk di dekat Mentari.

"Ukhti yang di sampingnya, tolong ambilkan pulpen temanmu," ucap Zikri tanpa melihat Mentari.

Fahma berkedip. "Pulpen siapa, Gus? Ini punya saya ada di telinga." Fahma memang suka menyelipkan pulpen di telinganya dan lupa di mana benda itu berada.

"Itu, Fahma! Di bawah!" bisik Bondan gemas sambil menyenggol rusuk Fahma.

Fahma akhirnya mengambil pulpen itu dan memberikannya pada Mentari. "Nih, Mbak. Lain kali jangan dibuang-buang ya, sayang pulpennya."

Mentari mendengus kesal. Rencana pertama gagal total.

Tidak menyerah, Mentari mengangkat tangannya tinggi-tinggi saat sesi tanya jawab dibuka.

"Ya, ada pertanyaan?" tanya Zikri, masih menatap ke arah kitabnya.

"Gus, saya mau nanya," Mentari berdiri, membuat seluruh aula menoleh padanya. "Kalau ada wanita yang cantik banget, seleranya tinggi, manja, tapi dia pengen tobat... terus dia naksir sama cowok yang dingin banget kayak kulkas, itu hukumnya gimana menurut kitab yang Gus pegang itu? Apa si cowok bakal masuk neraka kalau nyuekin niat baik si cewek?"

Suasana aula mendadak riuh dengan bisik-bisik. Bondan menutup wajahnya karena malu, Hafizah sibuk beristighfar, sementara Fahma bertanya pada Bondan, "Siapa yang dingin? Di sini kan panas?"

Zikri terdiam cukup lama. Ia meletakkan pulpennya, jemarinya mengetuk meja pelan. Untuk pertama kalinya, ia sedikit mendongak, tapi bukan menatap mata Mentari, melainkan menatap kening atau area di atas kepala Mentari.

"Dalam Islam," suara Zikri terdengar lebih tegas, "Niat baik harus dibarengi dengan cara yang baik. Jika seorang wanita ingin bertobat, ia tidak melakukannya untuk mendapatkan perhatian makhluk, tapi untuk mendapatkan ampunan Sang Khalik."

Zikri menjeda kalimatnya, suaranya melunak namun menusuk. "Dan mengenai pria yang 'dingin' itu... mungkin dia bukan dingin. Dia hanya sedang menjaga hatinya agar tidak jatuh pada fitnah yang belum halal baginya. Hukum menyukai lawan jenis adalah fitrah, tapi cara mengungkapkannya haruslah mulia, bukan dengan cara yang merendahkan harga diri wanita itu sendiri."

Mentari tertegun. Kalimat "merendahkan harga diri wanita itu sendiri" terasa seperti panah yang menghujam jantungnya. Di kelab malam, ia merasa berharga karena dikejar banyak pria. Tapi di sini, di depan pria bersarung ini, ia merasa sangat kecil dan tak berarti.

Setelah pengajian selesai, Mentari lari keluar aula lebih dulu. Ia tidak memedulikan panggilan Bondan atau nasihat Hafizah. Ia berlari menuju taman belakang pesantren yang sepi, duduk di bawah pohon mangga besar, dan menangis sesenggukan.

Ia merasa dipermalukan. Ia merasa egonya dihancurkan berkeping-keping.

"Gue cuma mau dia liat gue... hiks... emang gue sejelek itu ya di mata dia?" Mentari menghapus air matanya kasar, membuat eyeliner -nya luntur.

Tiba-tiba, sebuah sapu tangan berwarna biru tua bersih terjatuh di pangkuannya. Mentari tersentak dan mendongak. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya bayangan seseorang yang baru saja berlalu dari balik tembok.

Namun, ia mengenali aroma yang tertinggal. Aroma minyak kayu gaharu yang sangat khas.

Di pojok sapu tangan itu, ada sulaman huruf **'Z'**.

Mentari memeluk sapu tangan itu. Di tengah isak tangisnya, ia merasakan debaran jantung yang berbeda. Bukan debaran karena tantangan, melainkan debaran karena sesuatu yang lebih dalam.

"Tari... oh, Tari! Kamu di mana?" suara Fahma terdengar dari kejauhan.

"Hah? Itu siapa yang nangis? Kayak suara kucing kejepit," gumam Fahma saat ia akhirnya menemukan Mentari.

Bondan dan Hafizah menyusul di belakang. Mereka melihat Mentari memegang sapu tangan biru. Bondan, dengan radar "ganteng"-nya yang tajam, langsung mengenali benda itu.

"Tunggu... itu kan sapu tangan Gus Zikri?! Sumpah, Tari! Lo dapet dari mana?!" Bondan histeris.

Hafizah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti. "Mungkin itu cara Gus Zikri bicara, tanpa harus mengeluarkan kata-kata."

Mentari hanya diam, menatap sapu tangan di tangannya. Babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar gadis bar-bar yang ingin menaklukkan pria, tapi seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa ada cara yang lebih indah untuk dicintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!