"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Vaelor vs Zagred II
Kecepatan teleportasi Vaelor sulit diikuti Zagred. Keduanya bertukar serangan, namun sihir Vaelor jauh lebih kuat dibandingkan Zagred.
"Bloodlust membuatmu seratus kali lebih kuat, tetapi apakah kau mengetahui efek sampingnya?" Zagred yang dipaksa ke posisi bertahan, menciptakan dinding tanah sebagai pelindungnya.
DUUUAAARRR!!!
Vaelor tidak memberikan celah, melepaskan ayunan tombak kegelapan yang menghancurkan dinding tanah milik Zagred.
"Kuakui kau sangat kuat, Zagred. Aku terlalu percaya diri, maka dari itu kau harus mati ditanganku!" ucap Vaelor yang melesat kedepan dengan kecepatan tinggi.
Zagred menciptakan tombak yang memancarkan energi sihir pekat. Bukan hanya elemen petir saja, melainkan tombaknya itu memiliki kekuatan lima elemen dan sihir gravitasi.
Setiap benturan antara elemen kegelapan Vaelor dan petir Zagred menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan pilar-pilar batu yang tersisa di sekeliling mereka. Kecepatan permainan tombak Vaelor begitu ekstrem hingga menciptakan ilusi lingkaran hitam yang mengurung Zagred di tengah-tengah badai tebasan.
"Selesai sudah, Zagred!" suara Vaelor terdengar ganda dari segala arah.
Zagred tersenyum tipis, kemudian gravitasi disekitarnya menjadi berat dan mengarah ke satu titik yaitu Vaelor.
"Jangan sombong dulu, Vaelor. Apakah kau melihat mataku telah padam sepenuhnya?" Zagred mengingatkan agar Vaelor tidak terlalu meremehkan dirinya.
BOOOMMMM!!!
Tubuh Vaelor untuk yang kedua kalinya terhempas ketanah. Kali ini Vaelor dapat melawannya, tidak seperti sebelumnya. Namun Zagred tidak membiarkan Vaelor bertindak lebih jauh lagi.
"Dibandingkan dirimu, mendiang Ayahmu lebih mahir menggunakan Bloodlust hingga dapat mengalahkanku!" ujar Zagred yang membuat Vaelor terpancing amarahnya.
Vaelor melompat mundur ke dalam satu-satunya bayangan besar yang tersisa di bawah puing aula. Ia merentangkan kedua tangannya. Seluruh elemen kegelapan murni di area tersebut tersedot masuk ke dalam bilah tombaknya, membentuk sebuah tombak bayangan raksasa yang pekat, padat, dan memiliki daya hancur gravitasi mutlak.
"Sudah kuduga kau memang dapat menggunakan itu..." Zagred kembali terlihat lega melihat kemampuan Vaelor berkembang pesat.
"Sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi tentang masa depan kerajaan ini. Aku percaya kau dan Eldrin memiliki pandangan yang berbeda..." bisik Zagred lirih saat melihat Vaelor menatapnya penuh kebencian.
Vaelor melesat maju dengan kecepatan tertingginya, menusukkan tombak kegelapan tersebut langsung ke arah jantung Mahaguru Zagred tanpa bisa terlihat oleh mata.
Zagred tahu ia tidak bisa menghindar lagi. Dengan tatapan mata yang penuh pengorbanan, ia menancapkan tombaknya sendiri ke dadanya, untuk memicu teknik terlarang lima elemen.
Tubuh Zagred mendadak bersinar seterang matahari, bersiap meledakkan seluruh mananya untuk membawa Vaelor mati bersamanya.
"Vaelor, kau tumbuh dengan sangat baik. Aku harap kau tetap seperti ini dan tidak beruba." Zagred tersenyum saat tombak Vaelor menembus jantungnya.
Tidak seperti Edwin yang memiliki lima jantung, Zagred memiliki keabadian dan tidak akan mati sebelum kepalanya dipenggal.
"Kau tidak akan bisa membunuhku jika kau tidak memenggal kepalaku. Berbeda dengan Raja Edwin yang memiliki lima jantung, aku abadi tetapi kelemahanku disini," ujar Zagred sambil menunjuk lehernya sendiri.
Vaelor berdecak kesal dan menatap Zagred penuh kebencian. Tombaknya mengayun hendak memotong kepala Zagred, namun saat menyentuh lehernya tombak itu berhenti.
Vaelor menatap Zagred dalam. Bayangan masa lalu pecah saat melihat wajah Zagred yang tersenyum hangat kepadanya.
"Wajah itu lagi... Kenapa saat itu kau membunuh Ayahku? Bukankah kalian berteman?!" teriak Vaelor kepada Zagred yang tidak memberikan perlawanan.
"Vaelor... Aku tidak ingin kau mengetahui kebenarannya, tetapi apa yang dikatakan Raja Edwin itu benar apa adanya..." Zagred berjalan kedepan dengan langkah terhuyung dan telapak tangannya menyentuh kepala Vaelor lembut.
"Hah... Hah... Larilah... Aku tidak dapat mengendalikan tubuhku lebih lama lagi. Sepertinya Noctis menyadari jika diriku berkhianat..." Dengan nafas yang terengah-engah, Vaelor mencoba mempertahankan kesadarannya.
"Apa maksudmu?" Vaelor keras kepada dan tidak menyadari sikap Zagred.
"Bocah bodoh!" teriak Zagred dan memukul wajah Vaelor cukup keras.
"Bentuk sempurna iblis adalah manusia, terutama ketika mereka memilih untuk tidak lagi menggunakan hati dan akal sehatnya..." Zagred menatap Vaelor dalam. Bayangan Vaelor kecil muncul dalam pandangannya.
"Cepat atau lambat, kau akan mengetahuinya. Setelah ini kau harus membantu Eldrin..."
Setelah mengatakan itu, tubuh Zagred dipenuhi mana berwarna hitam yang menyebar ke segala penjuru. Untuk sesaat, Vaelor merasa tubuhnya bergidik ngeri terlebih saat melihat kedua bola mata Zagred memutih keatas dan mulutnya berteriak.
"Apa yang terjadi -" suara Vaelor tercekat, instingnya merasakan bahaya.
Vaelor bergerak dengan kecepatan tinggi menjauh dari lokasi aula pertemuan yang telah menjadi puing-puing bekas pertempuran.
Tanpa menoleh kebelakang, Vaelor memikirkan perkataan Zagred. Banyak pertanyaan didalam kepalanya yang tidak terjawab oleh Zagred.
"Apa yang sebenarnya ingin dia katakan?" bisik Vaelor sambil menolehkan kepalanya kebelakang.
Kedua mata Vaelor melebar saat melihat tubuh Zagred meledak. Gelombang kejut tercipta saat tubuhnya meledak. Mana yang pekat itu membuat ledakan yang jangkauannya sangat luas.
"Pulau ini dalam bahaya!" Vaelor menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan ledakan itu.
Dia menyadari akan banyak orang yang mati jika terkena ledakan tersebut. Vaelor berlari kearah ledakan dan bukannya menjauh.
Kedua tangannya dipenuhi energi sihir saat telapak tangannya menyentuh udara.
"Sial!" Vaelor mengumpat saat ledakan itu terhisap kedalam kedua tangannya.
Langit malam yang gelap itu terlihat sangat terang seperti siang hari saat ledakan itu akan terjadi. Semua orang menatap ke sumber cahaya dan bertanya-tanya apa yang terjadi.
Namun tak lama cahaya terang itu lenyap ditelan kegelapan yang abadi. Tidak ada yang mengetahui pengorbanan Vaelor untuk menghentikan ledakan yang akan menghancurkan Pulau Emberwind.
"Ini sudah cukup... Tidak ada yang perlu mati lagi..." ucap Vaelor terengah-engah. Dirinya dipaksa keluar dari Mode Bloodlust karena mana dalam tubuhnya melemah.
BOOOMMM!!!
Vaelor terdiam saat kedua tangannya meledak dan hancur. Tidak ada penyesalan disana. Vaelor berdiri dengan bangga menatap sisa-sisa bekar pertempurannya dengan Zagred.
Yanh tersisa hanyalah rasa sakit dibadannya dan rasa pedih dihatinya yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Vaelor meneteskan air matanya bukan karena kehilangan kedua tangannya, melainkan menyadari apa yang ingin dikatakan Zagred kepada dirinya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal, kakek tua?!" isak tangis Vaelor pecah.
Saat menyerap ledakan itu kedalam tubuhnya, Vaelor melihat ingatan Zagred untuk sesaat. Ingatan penting yang membuat Vaelor menangis.
Vaelor merasakan mana dalam tubuhnya menipis dan pandangannya melemah. Seketika tubuh Vaelor ambruk dan memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak.
Bukan hanya kehilangan kedua tangannya saja, tulang rusuk Vaelor juga hancur, pundak kirinya hangus hingga memperlihatkan tulang, dan kulit di sekujur tubuhnya melepuh.
Kondisi Vaelor sangat kritis dan ia bisa mati kapan saja. Penduduk Kerajaan Slyph menuduhnya sebagai seorang pemberontak, namun tidak ada yang melihatnya mengorbankan tubuh dan kedua tangannya untuk menyelamatkan Raja Eldrin dan penduduk Pulau Emberwind.
Vaelor telah mengatasi rasa kebencian sejak lama. Ia memegang janjinya kepada mendiang Ayahnya untuk membantu Eldrin dan melindungi kerajaan ini walau harus mengorbankan nyawanya.
"Ayah... Maafkan aku... Sepertinya aku tidak bisa menjadi pengawal Yang Mulia Raja dan penyihir terkuat kerajaan ini..." ucap Vaelor sebelum kesadarannya menjadi gelap.