NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Ruangan di Bawah Tanah

Tangga kayu itu berderit pelan saat Wira turun ke bawah.

Udara di ruang bawah rumah singgah terasa jauh lebih dingin daripada di atas. Lembap, berdebu, dan membawa bau tanah tua yang lama tertutup. Wira menahan napas sebentar saat kedua kakinya menyentuh lantai tanah yang padat. Di belakangnya, Panca turun dengan gerutuan kecil, lalu Jaya menyusul. Ki Rangga paling akhir, menutup kembali papan lantai di atas mereka hingga cahaya dari atas hanya tersisa sebagai garis tipis yang sempit.

Kegelapan langsung menelan mereka.

Raden Seta menyalakan lampu kecil yang tadi ia bawa dari atas. Cahaya kekuningannya menyingkap ruangan bawah tanah yang tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk berdiri dan bergerak. Dindingnya tersusun dari batu tua yang diselipkan tanah liat, sementara di sisi kanan tampak lorong pendek yang mengarah entah ke mana. Di sudut ada rak kayu lapuk, beberapa tempayan kosong, dan peti-peti tua yang sudah tertutup debu tebal.

Wira memandang sekeliling dengan dada masih berdebar. Tempat itu terasa seperti sisa dari masa yang sengaja dikubur. Tidak nyaman, tetapi jelas pernah dipakai untuk menyembunyikan sesuatu yang penting.

Panca mengusap lengannya. “Aku tidak suka ruang bawah tanah.”

“Kalau begitu kau terlambat mengatakan itu,” gumam Jaya.

Panca mendengus kecil. “Kau selalu punya cara membuat suasana makin buruk.”

“Karena suasana memang buruk.”

Ki Rangga mengangkat tangan, menyuruh mereka diam. Di atas, suara gedoran pintu terdengar lebih keras. Ada orang yang memaksa masuk, lalu disusul suara perintah yang terburu-buru. Mereka belum menemukan jalan turun, tetapi itu hanya soal waktu.

Raden Seta menatap lorong pendek di kanan. “Lewat sini.”

Wira mengikuti arah pandangnya. “Ke mana?”

“Keluar di belakang lereng. Tapi sebelumnya kita harus ambil sesuatu.”

Ki Rangga menoleh tajam. “Apa?”

Raden Seta tidak menjawab segera. Ia menyalakan lampu lebih dekat ke dinding kiri, lalu menyingkap sebuah pintu kayu kecil yang nyaris tersembunyi di balik rak lapuk. Pintu itu sangat rendah, mungkin dulunya hanya bisa dibuka jika orang tahu persis tempatnya. Raden Seta berjongkok dan menekan bagian tertentu pada bingkai. Setelah bunyi klik pelan terdengar, pintu kecil itu terbuka ke dalam.

Di baliknya ada rongga sempit.

Dan di dalam rongga itu tergeletak sebuah gulungan kain tua, dibungkus rapat dan diikat dengan tali hitam yang sudah mulai rapuh.

Wira memandang benda itu tanpa berkedip.

“Ini?” tanyanya.

Raden Seta mengangguk. “Yang seharusnya diserahkan saat waktunya tiba.”

Panca langsung menatap Wira. “Kenapa semuanya selalu muncul sebagai benda yang dibungkus?”

Wira tidak menjawab. Ia hanya merasa dadanya mengencang. Raden Seta mengulurkan gulungan kain itu, tetapi kali ini ia tidak langsung menyerahkannya kepada Wira. Ia memandang Ki Rangga lebih dulu, seolah meminta persetujuan diam-diam.

Ki Rangga mengamati gulungan itu dengan sorot mata tajam. “Apa isinya?”

“Peta lama,” jawab Raden Seta. “Atau lebih tepatnya, petunjuk yang disembunyikan di dalam peta.”

Jaya langsung mengerutkan dahi. “Petunjuk menuju tempat yang tadi kau sebut?”

“Ya.”

Wira menatapnya. “Tempat yang menyimpan alasan kenapa aku diburu?”

Raden Seta mengangguk singkat.

Tanpa banyak bicara lagi, Ki Rangga memberi isyarat agar gulungan itu dibuka. Raden Seta mengurai tali hitam dengan hati-hati, lalu membuka kain tua itu di atas lantai tanah. Di dalamnya terdapat lembar kulit tipis yang telah menguning, dengan garis-garis tinta yang sebagian pudar. Peta itu tidak lengkap pada pandangan pertama, tetapi ada simbol-simbol kecil di tepi yang masih cukup jelas.

Wira menunduk. Di salah satu sudut peta, ia melihat tanda yang mirip dengan ukiran pada lempeng kayunya.

Jantungnya berdebar lebih cepat. “Itu sama.”

“Benar,” kata Raden Seta. “Benda yang kau bawa adalah salah satu kunci penentu arah.”

Panca mengernyit. “Masih belum lengkap. Lalu bagaimana kita membacanya?”

Raden Seta menunjuk bagian tengah peta. “Lihat garis itu. Dan lihat tiga tanda di sekelilingnya. Kalau dua kunci disatukan, salah satu tanda akan sejajar dengan titik di barat laut.”

Wira mengikuti arah jari itu. Meski peta sudah tua, ia masih bisa melihat bahwa ada jalur yang mengarah ke tempat berbukit, melewati jalur lama dan hutan batu. Namun ada satu titik yang diberi tanda lebih tebal daripada yang lain.

Ki Rangga ikut membungkuk. “Ini bukan peta biasa.”

“Memang bukan,” jawab Raden Seta. “Ini dibuat untuk orang yang sudah tahu sebagian rute. Tujuannya bukan menunjukkan jalan dari awal, tapi mengarahkan pada titik tersembunyi.”

Wira menatap semua garis itu. “Jadi kita ke bukit?”

“Bukan sekadar bukit,” jawab Raden Seta. “Ada bangunan lama di sisi lereng. Sudah tidak dipakai lama. Dari luar tampak seperti reruntuhan biasa. Tapi di bawahnya ada ruang tertutup.”

Panca menyipit. “Kau bilang ada ruang tertutup, dan itu tempat yang penting?”

Raden Seta mengangguk. “Tempat itu dipakai untuk menyimpan sesuatu yang tidak boleh ditemukan sembarang orang.”

Wira menatapnya lama. “Dan ibuku tahu tempat itu?”

“Ya.”

“Lalu kenapa dia tidak langsung membawaku ke sana?”

Raden Seta diam cukup lama, lalu menjawab, “Karena kalau dia melakukannya, orang-orang yang memburunya akan tahu arah lebih cepat.”

Wira menahan napas. Itu masuk akal, tapi tetap membuat dadanya perih. Berarti ibunya benar-benar berusaha menyusun langkah demi langkah, bukan hanya kabur. Ia sedang menahan waktu, menunda kejaran, sambil berharap suatu hari Wira akan sampai pada titik ini. Entah dengan cara apa, ia akhirnya mengerti itu.

Di atas, bunyi keras kembali terdengar. Kali ini lebih dekat. Lantai rumah singgah di atas mereka bergetar pelan.

Ki Rangga langsung berdiri. “Mereka sudah masuk.”

Jaya menatap lorong. “Kita harus bergerak.”

Raden Seta menggulung kembali peta itu, lalu menyerahkannya kepada Ki Rangga. “Simpan. Kau yang paling bisa menjaganya.”

Ki Rangga menerimanya tanpa komentar. Wira melihatnya memasukkan gulungan itu ke balik kain di pinggang, dekat senjata kecil yang dibawanya. Kemudian gurunya menatap Wira.

“Kau siap?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi Wira tahu maknanya lebih dalam dari sekadar siap berlari. Siap mengetahui apa yang selama ini disembunyikan? Siap melihat kemungkinan bahwa ibunya benar-benar menempatkan dirinya di tengah sesuatu yang sangat berbahaya? Siap menerima bahwa hidupnya sudah berubah sejak lama, hanya saja ia baru menyadarinya sekarang?

Wira menghela napas pendek. “Kalau bilang belum, apa kita bisa berhenti?”

Panca langsung menjawab, “Tidak.”

Jaya menambahkan, “Jelas tidak.”

Wira mengernyit. “Kalau begitu, ya.”

Ki Rangga mengangguk kecil. “Bagus.”

Raden Seta memimpin mereka masuk ke lorong sempit di kanan. Lorong itu rendah dan agak miring, sehingga mereka harus menunduk hampir sepanjang jalan. Dinding batunya lembap, dan di beberapa bagian terlihat bekas tangan tua atau jejak alat yang pernah dipakai untuk menggali lebih dalam. Wira berjalan di tengah, diapit Panca di belakang dan Ki Rangga di depan. Di depan sekali, Raden Seta membawa lampu kecil sambil bergerak hati-hati.

Di belakang mereka, suara di atas makin kacau.

Ada teriakan.

Ada benturan kayu.

Lalu suara seseorang memerintah, sangat tegas, “Cari jalan bawah!”

Wira menoleh sekilas, tetapi lorong sudah terlalu gelap di belakang. Ia hanya bisa mendengar gema langkah yang berpencar. Mereka tidak punya banyak waktu.

Lorong itu berakhir pada sebuah pintu batu setengah tertutup. Raden Seta mendorong dengan tenaga penuh, dan pintu itu bergeser pelan dengan suara berat. Udara yang lebih dingin menyambar wajah mereka. Di balik pintu, terbuka ruang yang lebih besar daripada lorong tadi. Ruangan itu bundar, dengan beberapa tiang batu dan dinding penuh bekas ukiran lama. Di tengah ruangan ada meja batu rendah, namun permukaannya kosong.

Wira memandang ruangan itu dengan rasa tak percaya. Tempat ini tidak seperti ruang simpan biasa. Ini terasa seperti ruang pertemuan lama. Atau mungkin ruang untuk membaca sesuatu yang penting.

Raden Seta menatap sekeliling lalu berkata, “Kita sampai.”

Panca mengedarkan pandangannya. “Ini seperti tempat upacara.”

“Bisa jadi pernah dipakai untuk itu,” jawab Jaya.

Ki Rangga mendekati meja batu dan menyapu debu di permukaannya. Di tengah meja tampak ukiran bulat, hampir sama dengan bentuk lempeng kayu milik Wira. Ia menoleh pada Wira. “Ke sini.”

Wira maju perlahan. Jantungnya berdetak sangat keras sehingga ia merasa suara itu bisa terdengar oleh orang di luar. Ia menaruh lempeng kayu di atas meja batu. Terdengar bunyi kecil saat kayu menyentuh permukaan batu. Tidak terjadi apa-apa selama beberapa detik. Wira menahan napas.

Lalu Raden Seta mengeluarkan keping logam yang tadi ditemukan di rumah singgah. Ia meletakkannya di sisi lempeng kayu, menyambung pada garis ukiran di permukaan meja. Keduanya hampir pas. Hampir. Masih ada satu sisi yang belum sempurna.

Panca menatapnya. “Masih kurang.”

Raden Seta menatap Wira. “Karena satu lagi belum ditemukan.”

Wira menelan ludah. “Dan kalau ditemukan?”

“Barulah meja ini akan terbuka.”

Seakan menjawab ucapannya, dari atas terdengar suara keras yang sangat dekat. Kayu patah. Orang-orang berhasil menemukan jalan turun.

Ki Rangga langsung berdiri tegak. “Tidak punya waktu lagi.”

Jaya menoleh ke pintu batu. “Kalau mereka masuk dari lorong belakang, kita bisa terjebak.”

Raden Seta mengangguk cepat. “Ada satu jalur lain.”

Wira langsung menatapnya. “Di mana?”

Raden Seta menunjuk ke sisi timur ruangan. Di sana ada dinding batu yang tampak biasa saja, namun jika diperhatikan, susunan batunya sedikit berbeda. “Di balik dinding itu ada celah. Kecil, tapi cukup untuk keluar satu per satu.”

Panca mendecak. “Kenapa semua jalan keluar dibuat kecil?”

“Karena tempat ini memang tidak untuk keramaian,” jawab Raden Seta.

Ki Rangga sudah bergerak ke dinding itu. Dengan bantuan ujung senjata kecil, ia menekan salah satu batu yang menonjol. Bunyi gesekan terdengar, lalu bagian dinding bergeser perlahan, menyingkap celah gelap di belakangnya.

Wira melihat ke dalam. Hanya ada kegelapan dan bau tanah tua. Namun tidak ada pilihan lain.

Di belakang, pintu batu utama mulai bergetar. Suara orang di luar kini jelas terdengar.

“Di sini!”

“Cepat buka!”

Wira memandang Ki Rangga, lalu Jaya, lalu Raden Seta. Semua orang bergerak sekaligus. Panca dipersilakan masuk pertama kali karena tubuhnya paling mudah meloloskan diri lewat celah sempit. Setelah itu Jaya menyusul. Ki Rangga menyuruh Wira bergerak berikutnya.

Wira sempat menoleh ke meja batu sekali lagi. Lempeng kayu dan keping logam masih terbaring di sana. Belum lengkap. Masih ada satu bagian lain, dan perburuan ini belum selesai. Namun ia juga tahu, jika tinggal lebih lama, ia mungkin tidak akan sempat menyelesaikan apa pun.

Ia masuk ke celah gelap itu.

Ruang di balik dinding ternyata bukan sekadar lorong, melainkan jalur turun yang lebih curam menuju tanah miring di luar bangunan. Mereka harus merangkak sebentar, lalu meluncur perlahan melewati tanah yang licin. Wira mencengkeram tepi batu agar tidak tergelincir. Di belakang, ia mendengar suara pintu batu utama dibuka paksa, disusul seruan terkejut dari orang-orang yang masuk ke ruangan kosong.

Jaya bergerak cepat di depan. “Teruskan!”

Ki Rangga menutup jalur dari belakang dengan batu kecil yang tadi dibuka, walau tentu itu tidak akan menahan lama. Mereka tiba di sebuah bukaan kecil yang mengarah ke lereng tanah di luar bangunan. Dari sana, udara malam menyambut mereka dengan dingin yang tajam. Di kejauhan, Wira melihat garis pohon dan bayangan bukit.

Raden Seta keluar terakhir. Begitu tubuhnya menyentuh tanah luar, ia menoleh ke arah bangunan lama itu.

“Kalau mereka menyadari ruang bawahnya,” katanya, “mereka akan tahu kita belum jauh.”

Panca mengusap lututnya yang kotor tanah. “Hebat. Jadi kita masih dikejar.”

“Selalu begitu,” jawab Jaya.

Ki Rangga menatap lereng di depan. “Jalur mana?”

Raden Seta menunjuk ke arah utara. “Naik sedikit, lalu belok ke batu-batu tua. Di sana ada jalan sempit menuju lereng yang lebih tinggi. Kita harus memotong ke sisi timur bukit sebelum fajar.”

Wira mengatur napas. Kaki dan bahunya mulai terasa sangat lelah, tetapi dorongan untuk terus maju lebih besar daripada rasa capek itu. Ia menatap tangan kirinya, lalu lempeng kayu di pinggangnya, lalu peta yang disimpan Ki Rangga. Semua itu terasa seperti bagian dari satu cerita yang belum selesai dibaca.

Di belakang mereka, suara dari dalam rumah singgah mulai ramai lagi. Orang-orang tampaknya sadar bahwa jalur bawah telah dipakai.

Ki Rangga memberi isyarat. “Bergerak.”

Mereka mulai naik menyusuri lereng gelap. Tanahnya terjal dan licin, tetapi masih bisa dilewati. Wira menoleh sekali ke belakang, melihat bangunan tua itu berdiri seperti siluet hitam di bawah langit malam. Tempat itu bukan akhir, melainkan awal dari bagian yang lebih berbahaya.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua pelarian ini dimulai, Wira merasa bahwa ibunya tidak hanya menyembunyikan kebenaran. Ia sedang menuntunnya langsung ke pusatnya.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!