NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: PUING DAN PENGAMPUNAN

Mansion Winchester di Calveron pagi itu tidak lagi terasa mencekam. Sisa-sisa badai salju semalam menyisakan lapisan putih bersih yang menutupi jejak-jejak perkelahian berdarah di dermaga. Di dalam kamar utama, gue terbangun dengan rasa nyeri di sekujur tubuh. Luka lebam di perut dan sudut bibir gue terasa berdenyut setiap kali gue bergerak.

Gue menoleh ke samping. Tempat tidur itu kosong, tapi bantal di sebelah gue masih ambles, tanda Keano baru saja beranjak. Gue bangkit perlahan, memakai jubah tidur sutra milik Alzena yang terasa terlalu lembut untuk kulit gue yang terbiasa dengan jaket kulit kasar.

Saat gue turun ke lantai bawah, suasana sangat sunyi. Gue menemukan Keano berdiri di ruang makan, menatap jendela besar yang menghadap ke arah pegunungan tempat *Evergreen Sanctuary* dulu berdiri.

"Udah bangun, Bar-bar?" sapanya tanpa menoleh. Dia selalu tau keberadaan gue bahkan tanpa melihat.

"Jangan panggil gue itu di depan pelayan, Keano. Jatuh harga diri gue," gerutu gue sambil duduk di kursi makan.

Keano berbalik, membawakan secangkir kopi hitam dan meletakkannya di depan gue. Dia menarik kursi, duduk tepat di depan gue, lalu menatap luka di wajah gue dengan tatapan yang sulit diartikan. "Wanita semalam... dia cuma pion. Evan sudah menginterogasinya. Dia adalah subjek uji coba Alexander Crowe yang gagal. Dia dijanjikan wajah baru dan kekayaan kalau berhasil menyingkirkanmu."

"Dan soal 'transfer kesadaran' yang dia omongin?" tanya gue serius.

Keano terdiam sejenak. "Tim medis rahasia keluarga sedang memeriksa sisa data di chip yang lo selamatin. Tapi secara logika... apa pun yang terjadi pada lo, entah itu sains atau keajaiban, itu nggak mengubah fakta kalau lo sekarang ada di sini. Bareng gue."

Gue menyesap kopi itu, membiarkan rasa pahitnya menenangkan saraf gue. "Papa Adrian gimana?"

"Dia sudah menyerahkan diri ke dewan tetua Winchester. Dia akan mengasingkan diri di biara tua di utara sebagai penebusan dosa atas apa yang dia lakukan pada panti asuhan itu," suara Keano terdengar berat. "Gue nggak bisa memaafkan dia sepenuhnya, tapi gue nggak bisa memenjarakan ayah gue sendiri."

Gue mengangguk. Gue paham. Di dunia seperti ini, keadilan nggak selalu berbentuk jeruji besi. Kadang-kadang, pengasingan diri dengan rasa bersalah jauh lebih menyiksa.

Siang harinya, Virel datang menemui gue di taman belakang. Dia terlihat jauh lebih tenang sekarang, seolah beban sepuluh tahun tentang "kematian" Arcelia sudah terangkat dari bahunya, meskipun kenyataannya jauh lebih rumit.

"Gue bakal balik ke New Ardent sore ini, Zen," kata Virel. "Gue harus urus pemindahan aset Halim Group yang lo sita kemarin. Dan... soal Ayah."

"Jangan panggil dia Ayah, Kak. Dia nggak pantes," potong gue.

Virel tersenyum pahit. "Iya, gue tau. Aldric bakal dipindahkan ke penjara tingkat tinggi besok. Dia terus-menerus meracau soal 'hantu'. Sepertinya dia bener-bener sudah gila."

"Baguslah. Biar dia hidup di dalam neraka yang dia bikin sendiri," kata gue ketus.

Virel menatap gue lama, lalu dia memeluk gue dengan erat. "Makasih ya, Arcelia... atau Alzena. Siapa pun jiwa yang ada di dalem sini, lo udah selamatin keluarga ini dari kebusukan yang lebih parah. Gue bangga punya adik kayak lo."

Gue membalas pelukannya. Untuk pertama kalinya, gue ngerasa punya kakak beneran. Bukan kakak yang protektif karena kewajiban, tapi kakak yang menghargai gue sebagai manusia.

Sore harinya, kami bersiap kembali ke New Ardent. Saat gue lagi packing barang-barang gue, Keano masuk ke kamar dan menutup pintu. Dia membawa sebuah kotak kecil dari beludru hitam.

"Apalagi ini? Perhiasan lagi?" tanya gue sambil melipat kaos.

"Buka aja," perintahnya singkat.

Gue membukanya. Di dalamnya bukan kalung atau cincin berlian, melainkan sebuah kartu identitas baru dan paspor. Di sana tertulis nama: Arcelia Mirelle Winchester. Bukan Alzena.

Gue tertegun. "Keano... apa maksudnya?"

"Gue sudah urus semuanya secara legal lewat jalur belakang Winchester. Status 'Alzena' akan pelan-pelan kita hapus dari publik. Lo berhak punya nama lo sendiri, identitas lo sendiri. Gue nggak mau lo hidup di bawah bayangan kakak lo selamanya," kata Keano, suaranya sangat tulus.

Gue menatap kartu itu, lalu menatap pria di depan gue. "Tapi kalau gue pake nama ini, orang-orang bakal tau kalau gue si 'anak pembawa sial' yang dibuang itu."

Keano mendekat, memegang pinggang gue dan menarik gue ke dalam pelukannya. "Biarkan mereka tau. Biar mereka tau kalau anak yang mereka buang sekarang adalah orang paling kuat di samping penguasa Winchester. Biar mereka tau kalau mereka salah."

Gue nggak bisa nahan senyum. Sifat sombong gue muncul lagi. "Lo emang paling jago bikin skenario ya, Tuan Winchester."

"Cuma buat istri gue," bisiknya sebelum mencium gue dengan lembut.

Kali ini, ciumannya nggak terasa kayak paksaan atau tuntutan. Ini adalah janji. Janji kalau mulai sekarang, kami nggak akan lagi lari dari masa lalu. Kami akan kembali ke New Ardent, bukan sebagai korban atau boneka keluarga, tapi sebagai penguasa yang baru.

New Ardent – Jam 21:00 WIB

Mobil kami memasuki gerbang kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit menyambut kepulangan kami. New Ardent masih sama, dingin dan angkuh. Tapi kali ini, gue nggak ngerasa asing lagi.

Gue melihat ke arah luar jendela, ke arah gedung Halim Group yang sekarang sudah berganti logo menjadi Winchester. Di sana, di puncak tertinggi kota, gue bakal bangun kerajaan baru gue. Sebagai Arcelia. Hacker yang pernah hidup di jalanan, yang sekarang punya dunia di genggamannya.

"Siap buat besok, Arcelia?" tanya Keano sambil menggenggam tangan gue erat.

Gue menyeringai, mengeluarkan laptop gue dan mulai mengetik perintah di keyboard. "Gue lahir buat ini, Keano. Mari kita bikin New Ardent tau siapa bos barunya."

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!