⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebiasaan Baru
Malam itu, setelah mereka selesai menikmati makan malam dengan suasana yang hangat dan menyenangkan, mereka pun kembali pulang menuju apartemen. Sesampainya di sana, Valencia yang merasa lelah seharian bekerja dan pikirannya yang penuh dengan berbagai hal, segera berjalan menuju kamar tidur untuk beristirahat dan melepas penat. Sebelum ia membaringkan tubuhnya, ia menoleh ke arah kedua pria yang masih setia mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Kalian tidak ingin pulang dan istirahat di tempat masing-masing?" tanya Valencia dengan nada lemas namun lembut.
"Tidak," jawab Zyro dan Ansel serempak dan tegas, tanpa ragu sedikitpun.
"Hhhhh... Terserahlah pada kalian saja kalau begitu," desah Valencia pasrah sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka yang keras kepala.
Ia lalu duduk di pinggir tempat tidur, menatap tajam ke arah mereka berdua dan mengingatkan dengan nada serius. "Tapi ingat ya... Jika kalian ingin tidur di sini, besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat ke kediaman orang tuaku. Kalau salah satu dari kalian ada yang membuat kekacauan atau bertindak keterlaluan, aku pastikan aku akan membatalkan rencana kita untuk pergi besok. Aku serius soal ini," ancamnya tegas agar mereka menjaga sikap.
"Baiklah, aku mengerti, Sayang. Kami akan bersikap baik dan tenang," jawab Zyro lembut sambil tersenyum menenangkan.
Tak lama kemudian, Zyro segera naik ke atas tempat tidur dan berbaring tepat di sisi kiri Valencia. Tidak lama berselang, Ansel pun ikut naik dan berbaring di sisi kanan Valencia, membuat wanita itu terkurung rapat di tengah-tengah di antara kedua pria yang dicintainya.
Zyro mendekatkan wajahnya perlahan, lalu mencium bibir Valencia dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ciuman itu terasa hangat dan membuat hati Valencia berdebar kencang. Namun Zyro tidak berniat untuk melanjutkannya lebih jauh, ia hanya menciumnya dengan lembut sesaat saja. Di sela-sela sentuhan bibirnya, ia berbisik pelan, "Hanya sebentar saja, tak akan lebih dari ini, Valen. Istirahatlah," ucapnya menenangkan sebelum melepaskan ciumannya.
Sementara itu, di sisi lainnya, tangan Ansel perlahan bergerak menyentuh bagian dada Valencia. Tangannya dengan lihai dan lembut menyibakkan sedikit pakaian yang menutupi tubuh wanita itu. Ia mengeluarkan puncak lembut di balik kain itu, hingga puncak itu menyembul menonjol karena tertekan oleh ujung bajunya yang agak sempit.
"Mmp... Ansel..." keluh Valencia pelan, wajahnya mulai terasa panas.
Ansel tersenyum nakal namun matanya menatap Valencia dengan tatapan lembut. "Aku pun tak akan melakukannya lebih dari ini, Valen. Aku hanya ingin memelukmu dan tidur sambil meny*su, lalu aku juga akan tidur," bisiknya lembut.
"Shhh... Kalian ini bagaimana sih... Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak kalau kelakuan kalian seperti ini terus-terusan?" keluh Valencia dengan nada setengah marah namun sebenarnya ia tidak sungguh-sungguh marah, hatinya justru terasa nyaman dan disayang sepenuhnya.
"Lama-kelamaan kamu pasti akan terbiasa, Valen... Kita akan selalu bersama seperti ini mulai sekarang dan selamanya," jawab Zyro santai sambil tersenyum jahil namun menawan.
Setelah puas mencium bibir dan wajah Valencia, Zyro mengambil bantalnya dan memindahkannya, lalu memposisikan kepalanya di sela-sela kedua kaki lentik Valencia. Dengan gerakan tangan yang lembut dan hati-hati, perlahan ia melepaskan kain segitiga yang menutupi bagian paling pribadi milik Valencia.
"Zyro!!" seru Valencia kaget dan malu, wajahnya memerah merona indah.
"Tenanglah, Sayang... Aku juga hanya akan tidur di sini saja, tidak akan melakukan hal yang buruk padamu," jawab Zyro santai seolah hal itu adalah hal yang biasa saja baginya.
Hela napas berat terdengar jelas dari mulut Valencia. Tubuhnya mulai terasa panas dan kaku karena posisi serta sentuhan mereka berdua. Zyro mengangkat salah satu kaki Valencia dan meletakkannya di atas bahu serta tubuhnya. Wajahnya kini berada tepat di depan lembah paling dalam milik wanita itu. Tanpa ragu sedikitpun, ia mulai menghisap lembut puncak kecil di sana, menghisap dan menyedotnya dengan ritme yang perlahan namun membuat kepala Valencia serasa berputar.
Di sisi kanan, Ansel pun melakukan hal yang sama. Ia menundukkan kepalanya dan mulai menyusu lembut pada puncak dada Valencia, memainkannya dengan lembut menggunakan bibir dan lidahnya. Tubuh Valencia yang belum terbiasa dengan perlakuan serentak dari kedua pria yang ia cintai itu, perlahan mulai kehilangan kendali. Kenikmatan yang meluap-luap menjalar dengan cepat ke seluruh urat sarafnya. Akhirnya, tubuhnya menegang sejenak, cairan hangat dan bening menyembur keluar membasahi wajah dan mulut Zyro.
Zyro sama sekali tidak merasa jijik atau menolak, ia malah menerima cairan itu dengan senang hati dan meminumnya seolah itu adalah madu paling manis di dunia. Sementara itu, wajah Valencia kini sudah merah padam menahan rasa malu yang luar biasa besar. Ia tahu benar bahwa kedua kekasihnya itu tidak bermaksud untuk membuatnya tera**sang atau melepaskan hasrat secara sengaja, mereka hanya ingin menyayanginya dan menidurkannya dengan cara mereka sendiri. Namun anehnya, tubuhnya sendiri yang seolah tak mampu menahan rasa nikmat itu hingga ia harus melepaskannya.
Setelah mendapatkan pelepasan dan kepuasannya, tubuh Valencia perlahan menjadi lemas dan rileks. Rasa kantuk yang tadi sempat hilang karena rasa malu dan nikmat, kini datang kembali menyergapnya dengan cepat. Ia mencoba sekuat tenaga untuk mulai membiasakan diri dengan perilaku kedua kekasihnya yang begitu intim dan penuh kasih sayang itu. Dalam posisi yang saling berdekatan dan saling memeluk erat, akhirnya mereka bertiga pun tertidur lelap hingga keesokan paginya.
Suara alarm berbunyi mendayung menunjukkan waktu pukul 5 pagi., membangunkan pendengaran valencia. Perlahan-lahan kesadaran Valencia kembali, matanya terbuka dan ia mulai sadar dari tidur nyenyak nya. Namun, baru saja ia sadar sepenuhnya, ia langsung merasakan sensasi yang sangat asing dan membuatnya tersentak kaget.
Ia bisa merasakan dengan jelas ada bibir dan lidah yang masih sibuk bergerak lembut di puncak dadanya, sementara di bagian bawahnya pun ada hal yang sama terjadi—mulut seseorang masih menempel dan terus mengisap lembut bagian paling sensitif miliknya. Rupanya, sepanjang malam dan hingga pagi menjelang, posisi mereka tidak berubah sedikitpun. Kedua pria itu tertidur pulas masih tetap berada di posisi semula, terus menyayanginya dengan cara mereka bahkan saat mereka sedang tertidur pulas.
Wajah Valencia seketika memerah padam menahan rasa malu dan getaran nikmat yang mulai menjalar lagi ke seluruh tubuhnya. Ia menepuk-nepuk tubuh mereka berdua yang masih pulas di posisinya masing-masing.
"Ansel... Zyro... Bangun! Cepat bangun, ini sudah pagi," seru Valencia dengan suara yang masih terdengar serak namun sedikit meninggi karena kaget dan malu.
Melihat mereka tidak juga bergerak dan malah semakin asyik, Valencia mulai mengancam dengan nada tegas. "Hei, dengar tidak sih? Kalau kalian tidak segera bangun, awas ya... Aku berangkat sendiri nanti! Biar aku saja yang pergi ke rumah orang tuaku, kalian di sini saja," ancamnya setengah bercanda namun terdengar serius.
Barulah kemudian, Ansel dan Zyro perlahan mengangkat kepala mereka. Mereka tampak masih mengantuk dan malas beranjak, wajah mereka terlihat begitu berat untuk membuka mata sepenuhnya. Dengan gerakan yang lambat dan malas, mereka pun akhirnya bangkit dari posisi semula, duduk di atas tempat tidur sambil mengucek mata yang masih berat.
Valencia segera turun dari tempat tidur, ia menatap tajam ke arah Ansel yang masih menguap lebar. Ia teringat kejadian kemarin di mana Ansel hanya mengganti baju tapi tidak membersihkan tubuhnya dengan benar.
"Ansel! Kau langsung mandi sekarang! Jangan cuma ganti baju saja seperti kemarin ya, kemarin kau tidak mandi? Aku tahu betul kelakuanmu itu," tegur Valencia dengan nada mengingatkan namun tegas.
Ia lalu mendekat ke arah Ansel dan menatapnya lekat-lekat seolah tidak percaya. "Awas saja kalau sampai kau tidak mandi bersih-bersih hari ini! Aku akan mengawasi mu, jadi jangan harap kau bisa curang lagi. Cepat masuk kamar mandi sekarang!" perintahnya tegas sambil menunjuk pintu kamar mandi.
Ansel hanya tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu dengan langkah malas ia pun berjalan menuju kamar mandi karena takut benar-benar ditinggal pergi oleh Valencia.