Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Terik Matahari dan Rahasia di Ruang UKS
Matahari Yogyakerto siang ini rasanya seperti ada lima. Panasnya menyengat sampai ke ubun-ubun, membakar aspal lapangan basket SMA Taruna Citra yang seakan ikut mendidih. Di tengah lapangan yang terasa bagaikan wajan raksasa itu, Rama Arsya Anta berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya. Pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan hari ini benar-benar menjelma menjadi siksaan neraka buat cowok itu. Pak Yanto, guru olahraga berbadan gempal yang hobi berteriak menggunakan toa merahnya, baru saja menyuruh anak-anak cowok kelas XII IPA 1 berlari mengelilingi lapangan sebanyak tujuh putaran sebagai pemanasan.
Bagi Rama dalam kondisi normal, tujuh putaran mengelilingi lapangan basket hanyalah pemanasan sepele. Badannya sudah terbiasa digembleng untuk memacu motor dalam kecepatan tinggi, menahan hantaman angin malam yang membekukan tulang, dan sesekali adu ketangkasan fisik dengan berandal jalanan saat terjadi perselisihan wilayah. Tapi masalahnya, hari ini fisiknya sedang memprotes keras. Sisa kurang tidur karena balapan maut di lintasan pegunungan semalam, ditambah pagi buta harus berdiri mengantre bubur ayam demi majikan dadakannya, sukses membuat badannya terasa seperti rongsokan besi berkarat. Kepalanya terasa pening luar biasa, pandangannya mulai dihiasi bintik-bintik hitam yang menari-nari, dan napasnya memburu tak karuan.
"Woy, Ram! Lo kenapa? Pucet banget muka lo," tegur Dika yang berlari menyejajarkan langkah di sebelahnya, napas temannya itu sama-sama terdengar berat. "Tumben lo loyo begini. Biasanya lo yang paling semangat kalau disuruh Pak Yanto lari keliling lapangan. Belum sarapan lo?"
Rama hanya bisa mengangguk pelan sambil terus memaksakan kakinya untuk melangkah maju. "Gue... nggak apa-apa. Cuma kurang minum aja kayaknya."
Tentu saja itu bohong besar. Rusuk kirinya yang memar karena jatuh bergulingan dari motor beberapa hari lalu kembali berdenyut ngilu setiap kali dia mengambil napas panjang. Ditambah lagi, kaus olahraga sekolah yang menempel ketat di badannya yang berkeringat membuat aliran udaranya semakin sesak. Dia harus berusaha sekuat tenaga menjaga image anak teladannya agar tidak runtuh di sini. Masa iya seorang Ketua Klub Sains yang selalu menjadi juara paralel dan anak emas guru-guru tumbang begitu saja hanya karena lari pemanasan? Apa kata bapaknya di rumah kalau sampai ada laporan dari wali kelas yang masuk ke telinganya?
Di pinggir lapangan, tepat di bawah pohon beringin rindang yang sejuk, anak-anak perempuan sedang asyik duduk lesehan sambil mengipasi diri mereka menggunakan buku catatan karena giliran penilaian mereka sudah selesai sedari tadi. Di antara kerumunan siswi yang sedang asyik bergosip itu, mata Rama menangkap sesosok cewek berjilbab ungu yang sedang duduk santai bersandar ke batang pohon sambil menyedot susu kotak rasa stroberi. Nayla. Cewek itu tidak ikut bergabung dengan gosip teman-temannya, matanya justru menatap lurus ke arah Rama yang sedang bersusah payah di tengah lapangan.
Dari kejauhan, Nayla menaikkan sebelah alisnya, dan sebuah senyum mengejek yang sangat khas mulai terukir di bibirnya. Dari gerak bibirnya yang pelan, Rama bisa membaca dengan sangat jelas ejaan kalimat yang diucapkan cewek itu tanpa suara. "Ba-bu pa-yah."
Urat di pelipis Rama langsung berkedut keras. Sialan. Harga dirinya sebagai pemimpin The Ghost rasanya seperti sedang diinjak-injak dan dilindas ban truk. Didorong oleh rasa gengsi laki-laki yang menjulang tinggi menembus atmosfer, Rama memaksakan diri untuk menambah kecepatan larinya. Dia ingin membuktikan kepada gadis cerewet itu bahwa dia bukan cowok lemah yang gampang tumbang. Tapi sayangnya, ego yang tinggi tidak selalu sejalan dengan kondisi fisik yang sudah mencapai batas.
Tepat di putaran keenam, dunia Rama tiba-tiba berputar seratus delapan puluh derajat. Pandangannya menggelap total, lututnya kehilangan tenaga, dan sedetik kemudian... Bruk!
Suara debuk yang lumayan keras terdengar saat tubuh jangkung Rama menghantam kerasnya aspal lapangan. Kepanikan langsung pecah seketika. Anak-anak cowok yang sedang berlari kontan mengerem langkah mereka secara mendadak, sementara anak-anak cewek di pinggir lapangan menjerit kaget. Pak Yanto langsung meniup peluitnya keras-keras berulang kali sambil berlari tergopoh-gopoh menghampiri Rama yang terkapar.
"Rama! Astaga, kamu kenapa?!" Pak Yanto menepuk-nepuk pipi Rama yang setengah sadar dan basah oleh keringat dingin. Dika dan beberapa siswa lainnya langsung mengerubungi, bingung dan panik tidak tahu harus melakukan apa.
Di tengah keributan yang menyesakkan itu, sebuah suara perempuan yang lantang dan tegas memecah kepanikan. "Minggir! Kasih dia udara buat napas, jangan pada ngerubungin rapat begini!"
Nayla menerobos kerumunan teman-teman sekelasnya tanpa ragu. Dia langsung berlutut di sebelah Rama, menatap wajah cowok itu yang sudah pucat pasi bagaikan kertas. Nayla menoleh dan menatap Pak Yanto dengan sorot mata meyakinkan. "Pak, biar saya yang bawa Rama ke UKS sekarang. Kayaknya dia dehidrasi berat dan kepanasan. Kalau dibiarin di sini makin sesak napasnya."
"Eh, oh, iya, iya benar. Dika, kamu bantu angkat Rama ke UKS bareng Nayla!" perintah Pak Yanto yang terlihat kelabakan melihat anak emas sekolahnya pingsan.
"Nggak usah repot-repot, Pak. Biar Dika lanjut ambil nilai olahraga aja. Saya kuat kok memapah dia sendiri. Ayo, Ram, bangun pelan-pelan," kata Nayla sambil menarik lengan Rama ke atas bahunya, memberikan isyarat lewat cubitan kecil dan tersembunyi di pinggang cowok itu supaya dia mau bekerja sama.
Dengan sisa kesadaran dan tenaga yang ada, Rama menuruti tarikan itu. Dia merangkul bahu Nayla perlahan, menumpukan sebagian berat badannya ke tubuh cewek yang jauh lebih mungil darinya tersebut. Saat jarak mereka sedekat ini, aroma wangi stroberi bercampur melati yang lembut langsung menyerbak memasuki indra penciumannya, entah bagaimana berhasil membuat rasa pusing yang berputar-putar di kepalanya sedikit mereda. Mereka berdua berjalan tertatih-tatih meninggalkan area lapangan yang terik, diiringi oleh tatapan bingung dan khawatir dari seisi kelas XII IPA 1.
Begitu pintu ruang UKS yang dingin karena embusan AC ditutup rapat, Nayla langsung melepaskan rangkulan Rama dan membiarkan cowok itu ambruk merebahkan diri di atas kasur berseprai putih bersih. Beruntung UKS sedang kosong melompong; petugas PMR yang mendapat jadwal jaga biasanya malah asyik nongkrong di kantin jika jam pelajaran sedang kosong.
"Lo itu kalau tahu fisik lagi rongsok nggak usah sok jagoan pamer lari cepat, ngerti nggak sih?" omel Nayla seketika, namun tangannya dengan cekatan mengambil sebotol minyak kayu putih dan menuangkan teh manis hangat dari termos yang selalu tersedia di meja perawat ke dalam gelas plastik. "Makan tuh gengsi. Bos geng motor kebanggaan Wana Asri yang ditakutin preman, malah tumbang pas lari keliling lapangan basket anak SMA. Kalau teman berandal lo yang namanya Galang itu tahu, bisa diketawain habis-habisan lo tujuh hari tujuh malam."
Rama memejamkan matanya, menikmati sensasi dingin yang menyentuh kulitnya yang serasa direbus. "Bawel lo. Gue cuma... pusing dikit."
"Pusing dikit apanya? Bibir lo pucet banget udah kayak mayat hidup nyasar," Nayla menarik kursi kecil dan duduk di samping kasur, menyodorkan teh hangat itu tepat ke depan mulut Rama. "Nih, minum cepat. Jangan sampai lo mati di ruang UKS sekolah, repot urusannya gue harus bikin pengumuman lowongan nyari babu baru."
Dengan enggan dan sisa tenaga, Rama bangkit perlahan, menyandarkan punggungnya ke bantal beralas plastik, dan menerima gelas itu. Sentuhan tidak sengaja yang terjadi antara jari tangannya yang sedingin es dan jari Nayla yang hangat membuat dada Rama tiba-tiba berdesir aneh. Dia buru-buru meneguk teh manis itu perlahan untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang mendadak muncul.
"Makasih," gumam Rama pelan, nyaris tak terdengar karena tenggelam oleh suara dengungan mesin AC.
"Apa? Coba agak keras ngomongnya, hidung gue mampet nih jadi nggak denger," goda Nayla sambil tersenyum jahil. Cewek itu menumpukan dagunya di atas kedua tangannya yang terlipat di tepi kasur, menatap manik mata Rama lekat-lekat tanpa berkedip.
"Gue bilang makasih, budeg!" ketus Rama, wajahnya kontan berubah memerah. Jelas bukan karena efek kepanasan lagi, melainkan karena salah tingkah ditatap seintens itu oleh gadis di depannya. "Dan lo nggak usah bawa-bawa atau nyebut nama Galang sembarangan di sini. Ini kawasan sekolah, bahaya kalau ada guru atau anak OSIS yang nggak sengaja dengar."
Nayla terkekeh renyah mendengar kepanikan Rama. Dia mengambil selembar tisu dari kotak di meja, dan tanpa ragu-ragu sedikit pun, mengelap keringat dingin yang masih menempel di dahi dan pelipis Rama. Gerakan dadakan dan luwes itu sukses membuat napas Rama kembali tercekat di tenggorokan. Jarak wajah mereka dekat sekali, sampai-sampai Rama bisa melihat dengan jelas pantulan wajahnya sendiri di sepasang mata bulat milik gadis itu. Di luar sana, suara peluit Pak Yanto masih sayup-sayup terdengar, tapi di dalam ruangan sempit ini, dunia seolah menghentikan rotasinya hanya untuk mereka berdua.
"Lo bener-bener harus ngurangin jadwal nongkrong malam lo yang nggak jelas itu, Ram," ucap Nayla, kali ini nada suaranya jauh lebih lembut dan serius, tidak ada lagi nada nyinyir atau mengejek seperti biasanya. "Gue nggak peduli seberat apa alasan lo buat berontak dari tuntutan bokap lo di rumah. Tapi kalau caranya malah ngerusak badan lo sendiri pelan-pelan, pelarian lo itu namanya kebodohan tingkat dewa."
Rama terdiam membisu. Rentetan kata-kata dari Nayla menampar egonya dengan telak, langsung menembus ke relung hatinya yang paling dalam. Dia menundukkan kepala, memandangi pantulan teh yang tersisa di dasar gelas. "Gue nggak punya cara lain buat napas, Nay. Di atas aspal jalanan, cuma di situ satu-satunya tempat gue ngerasa bener-bener hidup. Cuma di situ gue ngerasa megang kendali penuh atas diri gue sendiri, tanpa ada yang dikte gue harus dapat nilai seratus."
"Lo punya kendali mutlak atas diri lo di mana pun lo berada, asal lo punya nyali buat ngadepinnya," balas Nayla mantap. "Lo cuma belum nemuin alasan yang cukup kuat aja buat ngelawan rasa takut lo sendiri."
Sebelum Rama sempat mencerna kalimat tajam itu dan menjawabnya, tiba-tiba ponsel yang berada di saku celana olahraganya bergetar hebat tiada henti. Ada panggilan masuk yang mendesak. Rama mengambil benda pipih itu dan melirik layarnya dengan kening berkerut. Panggilan dari nomor khusus. Itu pasti Galang.
Rama buru-buru menolak panggilan tersebut dan mengubah modenya menjadi senyap agar tidak mengundang kecurigaan. Namun baru sedetik diletakkan di atas kasur, layar ponsel itu kembali menyala menampilkan sebuah pesan singkat.
Galang: Bos, lo lagi jam kosong kan? Gue sama Bagas lagi nangkring di warung Mang Dimas depan gerbang sekolah lo nih. Si Tora ternyata nggak terima kalah balapan semalam. Tadi pagi anak buahnya nyari ribut di daerah kita. Dia nantangin kita buat adu mekanik sekalian selesain urusan di gudang rongsokan daerah utara sore ini juga. Lo cabut aja sekarang, anak-anak butuh arahan lo.
Membaca deretan pesan itu, rahang Rama kembali mengeras seketika. Rentetan masalah seolah tidak pernah mau memberikan dia waktu jeda untuk sekadar bernapas lega. Jika dia nekat membolos dan kabur dari sekolah sekarang, urusannya akan sangat panjang dengan guru bimbingan konseling, dan yang paling mengerikan, pihak sekolah pasti akan menghubungi ayahnya. Tapi jika dia mengabaikan pesan itu dan membiarkan Galang menghadapi Kobra Besi sendirian, nyawa teman-temannya yang akan menjadi taruhannya. Tora dikenal sangat licik, menghalalkan segala cara, dan tidak pernah bermain bersih.
Nayla yang memiliki insting tajam, langsung menyipitkan mata begitu melihat perubahan ekstrem pada raut wajah Rama. "Dari teman-teman berandal jalanan lo itu ya? Ada musibah apa lagi sekarang?"
Rama menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan sebelah tangan. "Gue harus cabut dari sekolah sekarang juga. Anak-anak The Ghost butuh gue buat mimpin mereka sore ini."
"Lo gila ya?!" omel Nayla refleks, suaranya kembali meninggi memarahi cowok di depannya. "Badan lo masih setengah mati lemas begini mau sok jadi pahlawan kesiangan?! Gue baru aja repot-repot buang tenaga nyeret badan raksasa lo ke sini biar lo nggak pingsan dijemur matahari siang bolong, sekarang lo malah mau keluyuran nyari mati beneran?"
Rama mengabaikan omelan itu. Dia turun dari kasur UKS, menginjakkan kakinya yang masih terasa sedikit bergetar ke lantai, dan membetulkan posisi seragam olahraganya dengan tergesa-gesa. "Gue nggak ada pilihan lain, Nay. Kalau gue nggak datang, teman-teman gue bisa habis dikeroyok. Tolong... tolong bantu izinin gue ke Pak Yanto atau guru piket. Bilang aja gue maag akut atau sakit perut parah dan harus dijemput pulang."
"Nggak mau. Gue nggak bakal sudi ngebantu lo buat nyetor nyawa sia-sia," tolak Nayla tegas, melangkah maju dan merentangkan tangannya untuk menghalangi jalan Rama menuju pintu keluar.
Rama menunduk menatap cewek berjilbab ungu di hadapannya itu dengan pandangan frustrasi. Dulu, di dunianya, tidak ada satu orang pun yang berani membantah keputusannya apalagi sampai menghalangi langkahnya secara fisik. Tapi cewek ini jelas makhluk dari planet lain. Dia rela pasang badan hanya untuk mencegahnya berbuat nekat. Rama melangkah maju perlahan, memangkas jarak di antara mereka sampai ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan. Nayla terpaksa sedikit mendongakkan kepalanya, namun matanya tetap menatap Rama dengan tajam dan penuh keberanian tanpa gentar sedikit pun.
"Nayla, please," suara Rama memberat, memohon dengan nada lirih yang belum pernah dia gunakan kepada siapa pun sebelumnya. Kedua tangannya refleks terangkat, menggenggam lembut kedua pundak gadis itu. "Gue janji bakal pulang dengan keadaan utuh dan baik-baik aja. Tapi gue mohon sama lo, bantu gue kabur sekali ini aja. Gue janji bakal utang budi seumur hidup sama lo."
Tatapan mata Nayla bergetar pelan saat melihat kesungguhan dan keputusasaan yang bercampur aduk di sepasang manik mata Rama. Dia menggigit bibir bawahnya, terjebak dalam dilema yang luar biasa memusingkan. Di satu sisi dia ingin mencegah cowok bodoh ini celaka, tapi di sisi lain dia tahu bahwa mengurungnya di sini tidak akan menyelesaikan masalah utamanya. Akhirnya, cewek itu membuang napas kasar lewat mulut dan menepis kedua tangan Rama dari pundaknya.
"Oke, fine! Gue bakal bantu lo ngarang bebas buat alasan ke guru piket," ketus Nayla sambil membuang muka ke arah jendela, berpura-pura kesal luar biasa walau sebenarnya hatinya sedang diselimuti rasa cemas yang mendalam. "Tapi ingat baik-baik ya, Babu! Kalau lo sampai pulang tinggal nama doang, gue bakal datang ke acara tahlilan lo cuma buat nagih utang siomay yang belum lo bayar!"
Rama tersenyum tipis mendengar ancaman konyol itu. Sebuah senyuman tulus yang lagi-lagi membuat ritme jantung Nayla berantakan dan berdetak di luar kendali. "Pasti. Lo tunggu gue besok pagi di gazebo biasa."
Dengan langkah panjang dan cepat, Rama membalikkan badan, menyelinap keluar melalui pintu belakang UKS yang langsung tembus ke area parkiran rahasia sekolah. Dia melesat pergi, meninggalkan Nayla yang masih berdiri mematung di tempatnya sambil tanpa sadar memegangi dadanya sendiri yang berdebar kencang. Di dalam kesunyian ruang UKS itu, Nayla menundukkan kepala, diam-diam memanjatkan sebuah doa singkat. Sebuah doa keselamatan yang khusus dia tujukan untuk seorang berandal aspal yang pelan-pelan, tanpa permisi, mulai mencuri ruang di hatinya.