Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENINDASAN
Kemenangan kecil di bawah sinar rembulan malam itu ternyata hanyalah ketenangan semu sebelum badai yang sesungguhnya menghantam. Fang Han—jiwa Li Jun yang masih tertatih menyesuaikan diri—menghabiskan malamnya dengan duduk bersila di atas dipan kayu yang keras. Ia mencoba memahami aliran energi aneh yang berdenyut di dalam nadinya, sebuah kekuatan yang terasa seperti api namun sedingin es, sisa-sisa dari kemampuan misteriusnya yang entah bagaimana muncul secara tiba-tiba. Namun, kelelahan mental dari dunia sebelumnya, di mana ia mati tertimbun salju dan puing, digabungkan dengan trauma fisik tubuh barunya, membuat ia terlelap dalam kegelisahan yang mencekam. Dalam tidurnya, ia melihat wajah-wajah dingin para tuan muda di kediaman Jenderal Agung, tertawa saat mereka memukulnya. Ia terbangun dengan peluh dingin yang membanjiri keningnya.
Fajar belum benar-benar pecah, dan embun masih memeluk dedaunan hijau di sekitar Desa Qinghe, ketika suara derap kaki kuda yang berat dan teriakan kasar membelah kesunyian pagi. Suara itu bukan sekadar gangguan, melainkan proklamasi kekerasan yang akan segera terjadi.
"KELUAR KAU, SAMPAH KLAN FANG! JANGAN SEMBUNYI DI BALIK PINTU KAYU BUSUKMU ITU!"
Suara itu menggelegar, dibarengi bunyi kayu pagar yang patah terinjak kaki kuda. Fang Han tersentak bangun, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Di ruang tengah, Paman Fang Zhou sudah berdiri tegak dengan pedang tua yang sedikit berkarat di tangannya. Wajah sang paman pucat pasi, namun matanya memancarkan keberanian seorang prajurit lama yang siap mati demi kehormatan keluarganya.
"Han-er, tetap di belakangku. Jangan tunjukkan wajahmu kecuali aku yang memintanya," bisik Fang Zhou.
Suaranya berat, penuh beban perlindungan yang menyesakkan dada, seolah ia sedang memikul seluruh berat gunung di pundaknya. Fang Han melihat tangan pamannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena usia dan luka lama yang belum sembuh benar.
Ketika mereka melangkah keluar, halaman rumah mereka yang sederhana sudah dikepung oleh belasan pria berseragam pengawal kota yang bersenjata lengkap. Cahaya matahari yang masih malu-malu memantul di ujung tombak mereka. Di tengah-tengah mereka, duduk di atas kuda jantan yang gagah, adalah Zhao Chen. Wajahnya yang kemarin pucat karena ketakutan kini penuh dengan kemarahan yang meluap-luap, seolah harga dirinya yang terluka hanya bisa dibasuh dengan darah. Di sampingnya, Lin Meili berdiri dengan gaun barunya yang mencolok, menatap Fang Han dengan pandangan merendahkan, seolah-olah ia sedang melihat serangga menjijikkan yang sebentar lagi akan diinjak hingga hancur berkeping-keping.
Namun, yang paling menakutkan adalah pria bertubuh raksasa di sebelah Zhao Chen. Pria itu mengenakan zirah berat yang penuh goresan pertempuran dan membawa kapak besar yang berkilau dingin. Namanya Kapten Iron, seorang praktisi bela diri tahap Pondasi Dasar yang terkenal kejam dan tak kenal ampun di wilayah Prefektur ini.
"Paman Fang Zhou, prajurit tua yang sudah karatan dan hampir menjadi debu," Zhao Chen memulai dengan nada mengejek yang tajam, memutar-mutar cambuk di tangannya.
"Aku datang untuk menagih janji yang terhina. Karena keponakanmu yang gila ini telah berani menyerangku kemarin, aku memutuskan bahwa hutang perlindungan kalian tidak lagi tiga kali lipat... tapi sepuluh kali lipat! Atau, jika kau ingin cara yang lebih murah dan cepat, serahkan tangan kanan keponakanmu ini sebagai gantinya."
Paman Fang Zhou maju satu langkah, menutupi tubuh Fang Han sepenuhnya dengan punggungnya yang lebar.
"Tuan Muda Zhao, anak ini hanya membela diri dari penghinaan yang kau lontarkan. Jangan gunakan kekuasaan ayahmu untuk menindas rakyat kecil yang tidak berdaya. Ingatlah, kekuasaan yang digunakan untuk menindas adalah pinjaman dari langit yang suatu saat akan ditagih dengan bunga yang menyakitkan. Jika kau menginginkan sesuatu, ambil nyawaku, tapi jangan sentuh dia!"
Fang Han merasakan tenggorokannya tercekat. Ia ingat di kehidupan lamanya, tidak ada yang pernah berdiri di depannya seperti ini. Ia selalu menjadi yang pertama dipukul, yang pertama dikorbankan.
"Paman, jangan merendahkan dirimu di depan anjing-anjing ini... aku tidak tahan melihatnya," Fang Han mencoba menarik lengan pamannya, hatinya perih melihat seorang pria tua yang jujur harus mengemis demi nyawanya kepada seorang pemuda ingusan yang sombong.
"Diam, Han-er! Tutup mulutmu sekarang juga!" bentak Fang Zhou pelan namun tegas tanpa menoleh.
"Kau adalah satu-satunya harapan dan darah terakhir keluarga ini. Kau harus hidup, meski aku harus menjadi abu untuk menghangatkan jalanmu."
Lin Meili tertawa, sebuah tawa melengking yang terdengar sangat asing dan menyakitkan bagi telinga Fang Han. Tawa itu membunuh sisa-sisa kenangan manis yang mungkin pernah ada di dalam memori Fang Han yang asli.
"Lihatlah drama picisan ini! Fang Han, kau lihat sendiri betapa menyedihkannya dirimu? Bahkan untuk sekadar bernapas pun kau harus bersembunyi di balik punggung seorang pria cacat yang sudah bau tanah. Apakah kau tidak punya rasa malu? Jika kau masih punya setetes saja harga diri, berlututlah sekarang juga dan akui bahwa kau adalah pecundang yang tidak berguna bagi siapa pun!"
Fang Han merasakan amarahnya mendidih. Ia melangkah maju, melewati perlindungan pamannya meskipun Fang Zhou mencoba menahannya. Ia memejamkan mata sejenak, memanggil kembali energi misterius yang ia rasakan kemarin—kemampuan untuk membengkokkan kenyataan sesuai kehendaknya. Ia menatap mata Zhao Chen, mencoba membayangkan ruang di sekitar pria itu membeku dan hancur seperti kaca yang dipukul palu.
Namun, kali ini takdir berkata lain. Kapten Iron, sang pengawal raksasa, mendengus dingin seolah menyadari ada riak energi yang tidak biasa. Ia melepaskan aura membunuh yang sangat pekat, sebuah tekanan spiritual dari seorang praktisi Pondasi Dasar. Tekanan itu menghantam Fang Han seperti hantaman palu raksasa yang jatuh dari langit, langsung menghancurkan konsentrasinya.
"UHUK!"
Fang Han jatuh berlutut, darah segar merembes dari sudut bibirnya yang pecah. Paru-parunya terasa terjepit hebat, setiap napas terasa seperti menghirup pecahan kaca. Kekuatan misteriusnya yang belum stabil itu hancur berantakan di bawah tekanan mental praktisi bela diri yang sesungguhnya. Ia menyadari satu kenyataan pahit: kemarin ia menang hanya karena Zhao Chen adalah seorang pengecut yang tidak waspada. Di hadapan kekuatan yang nyata dan terasah, trik kecilnya hanyalah debu yang tertiup angin.
"Kau pikir teknik sihir jalananmu bisa bekerja dua kali di hadapanku? Di dunia ini, hanya ada satu hukum yang berlaku: yang kuat memangsa yang lemah, dan kau, bocah, hanyalah rumput yang ditakdirkan untuk diinjak!" Kapten Iron melompat turun dari kudanya, setiap langkah beratnya membuat tanah bergetar hebat.
Tanpa peringatan, ia mencengkeram leher Paman Fang Zhou dengan satu tangan dan mengangkatnya ke udara seolah-olah sang paman hanyalah boneka kain yang ringan. Kaki Fang Zhou menendang-nendang di udara, tangannya mencoba melepaskan cengkeraman baja itu.
"TIDAK! LEPASKAN DIA, KAU BAJINGAN!" teriak Fang Han, mencoba bangkit dengan sisa tenaganya yang compang-camping.
Namun, sebelum ia bisa berdiri, Zhao Chen turun dari kuda dan mendaratkan tendangan keras tepat ke wajah Fang Han hingga ia tersungkur kembali ke tanah yang berlumpur. Dunianya berputar, rasa asin darah memenuhi mulutnya.
"Lihat ini, Meili," kata Zhao Chen sambil menginjak kepala Fang Han ke dalam lumpur hitam yang becek, menekan telinganya ke tanah yang dingin.
"Inilah pahlawanmu. Inilah orang yang kau tangisi di masa lalu. Dia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri dari kakiku, apalagi melindungimu di atas ranjang kemewahan yang aku berikan."
"Dia bukan siapa-siapaku lagi. Dia hanya kotoran yang menghalangi jalanku menuju puncak. Buang saja dia ke sungai jika kau bosan menginjaknya, Tuan Muda," Meili meludah ke samping dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah semua waktu yang mereka habiskan bersama hanyalah kesalahan yang ingin ia hapus.
Di bawah injakan kaki Zhao Chen, Fang Han melihat pamannya tercekik, wajahnya membiru kekurangan oksigen. Pedang tua pamannya jatuh di lumpur, tak berdaya. Namun, di tengah penderitaan yang luar biasa itu, mata Fang Zhou tetap menatap Fang Han dengan penuh kasih sayang dan duka, seolah berkata lewat tatapan mata yang meredup, "Larilah... jangan pedulikan prajurit tua yang sudah gagal ini."
Air mata Fang Han bercampur dengan lumpur dan darah. Rasa benci yang mendalam mulai membakar jiwanya, sebuah kebencian yang belum pernah ia rasakan bahkan saat ia menjadi pelayan di Kota Terlarang. Namun di balik kebencian itu, lahir sebuah kesadaran yang sangat jernih dan menyakitkan. Kesadaran bahwa kebaikan tanpa kekuatan adalah sebuah tragedi.
"Aku terlalu lemah," batin Fang Han dengan penuh kepahitan.
"Dunia ini bukan tentang siapa yang paling jujur atau siapa yang paling baik hatinya. Dunia ini tentang siapa yang memiliki kepalan tangan paling besar. Di dunia sebelumnya, aku adalah pelayan karena nasib yang malang. Di sini, aku adalah mangsa karena aku lemah dan tidak berdaya."
"Zhao Chen... dengarkan aku baik-baik," suara Fang Han keluar dari sela giginya yang berdarah, terdengar seperti geraman serigala yang terluka dan sedang menanti saat untuk menggigit tenggorokan lawannya.
"Kau bisa menghinaku. Kau bisa menginjak wajahku hingga hancur ke dalam tanah ini. Tapi jika kau menyentuh sehelai rambut pamanku lagi... aku bersumpah, bahkan jika aku harus merangkak keluar dari neraka terdalam, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu dengan tangan kosong ini."