Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
Sudah seminggu sejak kejadian di bawah hujan itu. Kotak cincin pemberian Arga masih tersimpan rapat di laci terbawah meja rias Aneska. Ia tidak membuangnya, tapi juga tidak sanggup memakainya. Baginya, cincin itu adalah pengingat betapa mudahnya ia dimanipulasi oleh seorang Argani Sebasta.
Hari itu, Aneska pulang kantor dengan perasaan lelah yang luar biasa. Namun, begitu menginjakkan kaki di ruang tamu, ia menemukan pemandangan yang membuatnya jantungnya nyaris copot.
Bukan Arga yang ada di sana, melainkan beberapa botol infus dan aroma obat yang menyengat.
"Mama? Papa kenapa?!" teriak Aneska panik saat melihat Papanya terbaring lemah di sofa panjang dengan kompres di dahi.
Mama Aneska keluar dari kamar dengan wajah pucat. "Papa tiba-tiba tumbang tadi sore, Nes. Darah tingginya naik lagi. Untung tadi..." Mama ragu sejenak, "...untung tadi ada Arga."
Aneska membeku. "Arga? Ngapain dia di sini?"
"Dia tadi mau antar berkas ke Papa, tapi pas lihat Papa pingsan, dia langsung gendong Papa ke mobil, bawa ke RS buat observasi singkat, terus anterin Papa pulang lagi karena Papa nggak mau rawat inap. Dia juga yang panggilin dokter pribadi buat pasang infus di sini."
Aneska terdiam. Rasa kesal yang sudah ia bangun setinggi gunung mendadak goyah. Ia berjalan mendekat ke arah Papanya yang sedang memejamkan mata.
"Pa..." panggil Aneska pelan.
Hendra membuka matanya sedikit, tersenyum lemah. "Anes... jangan galak-galak sama Arga. Dia tadi panik banget, lebih panik dari Mama kamu."
Aneska hanya bisa menggigit bibir. Di satu sisi ia bersyukur, di sisi lain ia merasa "berhutang" pada pria yang paling ingin ia benci.
Malam semakin larut. Aneska duduk di teras depan, mencoba mencari udara segar. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang halus terdengar. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Bukan sedan mewah yang biasanya, tapi sebuah SUV yang lebih sederhana.
Arga turun dari sana. Wajahnya tampak sangat lelah. Kemejanya kusut, dan ia tidak lagi memakai jam tangan mahalnya.
"Saya cuma mau antar obat tambahan yang tadi ketinggalan di apotek," ucap Arga tanpa mendekat, ia meletakkan plastik obat di atas pagar. Ia tahu Aneska masih tidak ingin disentuh.
"Kenapa lo lakuin ini?" tanya Aneska tiba-tiba. Suaranya rendah, terbawa angin malam.
Arga berhenti melangkah kembali ke mobil. Ia menoleh. "Lakuin apa?"
"Semuanya. Pura-pura jadi Gani, jagain Papa gue, padahal lo bisa aja cari cewek lain yang nggak bakal ribetin lo kayak gue. Lo itu Argani Sebasta, semua orang di kota ini tahu siapa lo."
Arga berjalan mendekat, tapi berhenti di jarak dua meter. "Aneska, kamu tahu kenapa saya tetap diam saat kamu manggil saya Gani di kafe itu?"
Aneska tidak menjawab.
"Karena di hari itu, buat pertama kalinya, ada orang yang melihat saya bukan sebagai 'Pewaris Grup Sebasta' atau 'CEO Muda'. Kamu lihat saya sebagai pria biasa yang mungkin punya ban bocor atau hobi main tenis. Kamu bicara jujur ke saya, meskipun itu soal kebencian kamu pada saya sendiri," Arga tersenyum pahit. "Saya egois, Anes. Saya ingin menyimpan tatapan jujur kamu itu lebih lama. Saya takut kalau saya bilang saya Arga, kamu bakal pasang dinding tinggi di antara kita."
Aneska menatap Arga lamat-lamat. "Tapi Gani itu orang asli, Arga. Dia temennya Miska. Lo mencuri kesempatan orang lain."
"Saya tahu. Dan saya sudah minta maaf pada pria bernama Gani itu melalui Miska. Saya mengganti kerugian waktunya," jawab Arga. "Tapi saya tidak menyesal mencuri kesempatan itu, karena kalau tidak, saya tidak akan tahu kalau kamu suka bubur ayam yang tidak diaduk."
Aneska memalingkan wajah, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. "Papa bilang lo tadi panik banget."
"Siapa yang tidak panik melihat calon ayah mertuanya pingsan?" balas Arga dengan nada sedikit bercanda, mencoba mencairkan suasana.
"Siapa yang bilang lo calon menantu?" cetus Aneska, meski nada bicaranya sudah tidak seketus biasanya.
Arga menarik napas lega. Ia tahu es di hati Aneska mulai mencair, meski perlahan. "Obatnya diminumkan ke Papa setelah makan ya, Nes. Saya pamit dulu."
"Arga," panggil Aneska saat Arga sudah membuka pintu mobil.
"Ya?"
"Makasih. Buat yang tadi... buat Papa."
Arga mengangguk mantap. "Sama-sama. Istirahatlah, Aneska. Kamu terlihat pucat."
......................
Keesokan harinya, Aneska berangkat ke kantor dengan perasaan yang lebih ringan. Namun, sebuah kejutan kembali menantinya. Bukan bunga, bukan makanan, melainkan seorang pria berkaus polo biru yang berdiri canggung di depan mejanya.
"Mbak Aneska?" tanya pria itu.
"Iya, saya sendiri. Siapa ya?"
"Kenalin, gue... Gani. Gani yang asli. Temennya Miska."
Aneska melongo. Jadi ini sosok yang seharusnya ia temui di kafe itu? Pria ini manis, terlihat seperti orang kantoran biasa, sangat berbeda dengan aura dominan Arga.
"Oh! Mas Gani! Maaf banget ya soal kejadian di kafe itu..." ucap Aneska merasa tidak enak.
Gani asli tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya. "Nggak apa-apa, Mbak. Justru gue yang mau makasih. Pak Argani Sebasta nemuin gue langsung. Dia minta maaf karena 'meminjam' identitas gue hari itu. Terus... dia malah kasih gue modal buat buka usaha bengkel yang selama ini gue impikan sebagai kompensasi."
Aneska tertegun. Sampai segitunya?
"Dia bilang ke gue," lanjut Gani asli, "katanya, 'Tolong jangan benci Aneska karena kesalahan saya. Dia gadis paling berharga yang pernah saya temui'. Gila ya, Mbak, Pak Arga itu kelihatannya dingin, tapi kalau udah bucin ternyata serem juga."
Aneska merasakan wajahnya memanas sampai ke telinga. Gani asli pamit setelah memberikan kartu namanya.
Kini Aneska duduk sendirian di kursinya. Semua potongan puzzle mulai menyatu. Arga membohonginya, benar. Tapi Arga juga melakukan segalanya untuk menebus kebohongan itu—bahkan dengan cara yang paling tidak terduga.
Aneska meraih ponselnya. Ia membuka blokir nomor Arga. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengetik pesan singkat.
[Aneska]: Mas Gani... eh, maksud gue Arga. Hari ini gue mau makan bubur ayam di depan kantor. Lo mau nemenin?
Hanya butuh tiga detik sampai balasan masuk.
[Arga]: Saya sampai di sana dalam lima menit. Jangan diaduk, kan?
Aneska tersenyum lebar. Mungkin, perjodohan ini memang sebuah bencana pada awalnya, tapi siapa sangka kalau bencana itu membawa "Gani" palsu yang ternyata adalah cinta aslinya.