Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
(9) Alden dan Langit
Langit berkali-kali menghela nafas mendengar penuturan kedua orang tuanya.
Setelah tadi membuka google untuk baca-baca seputar perkuliahan, ia duduk malam hari membicarakan perihal pembahasan di BK.
Ezhar dan Orlin menyarankannya perihal minat jurusan kuliah perlahan saja, tidak usah terburu, yang penting persiapannya dulu.
Lagipula perlahan Langit pasti akan menemukan minat kuliahnya di bidang apa.
Masih ada sekitar 10 bulan lagi.
Saat ini mereka lebih menekankankannya untuk fokus pada pelajaran dan rajin belajar.
Tidak banyak main lagi. Lebih mempersiapkan ujian sekolah dan ujian masuk kuliah.
"Langit banyak tinggalnya Pa, Ma. Kalau belajar sendiri pusing. Gak paham."
"Les saja ya? Papa carikan les yang bagus."
"Habis pulang sekolah?" Ia menatap ragu Ezhar. Pria itu memberi anggukan.
"Biasanya sampai sore. Baru pulang jam
Enam."
Langit menghela nafas. Jika boleh dia ingin menolak. Tapi mau tidak mau dia harus lebih fokus saat ini. Dia tatap lama-lama wajah orang tuanya. Rasanya tidak bisa jika dia membuat kecewa keduanya.
Lagipula kalau bukan dari sekarang kapan lagi dia mulai fokus dalam belajar.
Bagaimanapun dia ingin kuliah dan jadi orang sukses.
"Ya udah deh," angguknya kemudian.
"Kalau les, kakak Langit jangan bolos ya?"
Orlin mewanti-wanti anak gadisnya agar tidak melakukan hal sama, bolos program tahfidz, jadinya gak jalan.
Langit nyengir. Ia memamerkan jarinya. "Sekali-kali boleh kan Ma?"
"Gak ada sekali-kali. Kecuali sakit."
Ia cemberut. Ezhar mengelus rambut hitam legamnya yang sebahu. "Sayang, gak lama kok. Mendekat mau ujian. Lagipula ini kan demi masa depan Langit. Memangnya mau cuman lihat teman senang rayain kelulusan aja? Terus temannya kuliah, tapi Langit enggak. Mau?"
Ia menggeleng.
"Gak apa capek sekarang dulu ya? Entar Langit bakal nikmati prosesnya. Papa mama gak nuntut Langit harus dapat nilai tinggi, gak nuntut masuk jurusan bagus di universitas terbaik. Kami hanya ingin Langit berusaha dulu. Apapun hasilnya itu yang terbaik."
Ia diam sesaat. Keduanya tersenyum padanya bersama harapan yang bisa Langit lihat. Setiap orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya. Kepalanya mengangguk. Ia ingin ini menjadi bentuk baktinya. Selama ini dia udah sering membuat kecewa dengan tingkahnya. Beruntungnya Langit punya orang tua yang mendidiknya dengan baik, tidak langsung marah ataupun memukul.
"Biar makin semangat mama sering deh masak makanan kesukaan Kak Langit," Orlin mensupport.
"Papa juga bakal kasih hadiah tiap bulan kalau Kak Langit berusaha dulu."
Senyumnya merekah. "Kalau khilaf gak apa sekali-kali? Kan susah ubah kebiasan papa, mama," ia memelas. Lagi serius aja, dia udah gatal pengen jahil.
Apalagi nanti ia akan berusaha.
Sebenarnya dia tidak yakin bisa jadi anak baik di sekolah. Abis jahil sifat dasarnya. Punya sindrom malas lagi.
"Asal batas wajar."
"Kalau bisa perlahan ya diubah sayang."
"Siap!" Ia hormat dengan senang. "Oh iya. Langit mau kasih sesuatu, tapi jangan marah ya mama papa?" Ia melihat ekspresi keduanya yang penasaran.
"Kakak Langit kena panggil orang tua lagi?" tebak Orlin tepat sasaran. Putrinya menampilkan deretan gigi yang rapi. Orlin menghela nafas.
"Gak apa-apa ya Ma. Semakin mama papa sering ke sekolah, semakin banyak kenalannya. Jadi punya banyak teman deh," kekehnya. Orlin memutar bola matanya, Ezhar geleng-geleng kepala.
"Gak gitu juga konsepnya kak Langit. Coba kasih mama suratnya." Orlin mengadahkan tangan. Langit mengambil surat itu di sela buku atas meja.
"Lusa ya?" Ezhar mendongak setelah membaca surat itu bersama Orlin.
Langit memberi anggukan.
"Sekalian menyampaikan beberapa kenakalan Qanita Langit Zoe. Bolos pelajaran olah raga, ambil curi mangga di pohon sekolah, kerjain satu kelas pakai ular mainan, telat masuk kelas dan tidak bikin tugas." Orlin melihat kalimat di belakang kertas itu.
Langit membulatkan matanya. Loh kok ditulis sama Buk Ratna sih? dumelnya.
Tatapan keduanya seketika menatapnya penuh peringatan. "Kak Langit ini baru awal agustus." Ezhar berdecak.
"Hehe." Langit memberikan cengiran. Kakinya mundur perlahan. Ia menunjuk jam di dinding. "Udah jam 10 papa, mama. Bobok dulu ya? Daah." Ia berlari naik kemudian.
"Iya, asal hafalan jangan lupa ya sayang," teriak Ezhar membuat Langit yang udah di tangga cemberut. Pria itu tertawa.
Orlin menatap suaminya. "Orlin heran Mas. Anak kita kok bisa bandel banget gitu ya?"
Ezhar terkekeh. Ia merangkul istrinya hingga Orlin bersandar nyaman di dada bidang itu. "Lupa? Kan kamu yang izinin sejak di kandungan."
"Hah? Kapan Orlin gitu?" bingungnya mendongak.
"Waktu itu di sofa. Kamu tiba-tiba manja dan peluk Mas. Di sofa kamu gigit tangan Mas karena gak nurutin mau kamu yang make up in wajah Mas. Kamu bilang gak apa-apa nakal. Yang penting sholehah dan good looking." Ezhar mencoba mengingatkan istrinya
Orlin diam sesaat lalu dia baru ingat. Ia nyengir. "Padahal Orlin bercanda kok Mas."
"Kata adalah doa sayangku." Ezhar mencubit pipi Orlin.
"Hehe maaf ya Mas? Khilaf khilaf. Untung zaman hamil si kembar terus Ibra gak gini."
"Iya, alhamdulillah-nya yang agak beda cuman anak pertama kita."
Orlin terkekeh.
"Lagipula waktu hamil Langit, kamu kan banyak tingkahnya. Random, suka jahil sama Mas. Ya nurun sama anak kita." Gemasnya mencium puncak kepala Orlin yang hanya dapat tertawa akan sikapnya.
"Iya juga sih."
"Kalau kamu tahu, nih mirip banget sama Langit kalau lagi nyengir gini."
"Itu baru anak Orlin Mas."
Ezhar tertawa. "Anak-anak udah tidur semua kan?"
"Udah. Kenapa?"
Ezhar menyeringai.
Orlin yang paham langsung menarik pria itu keluar dari ruang keluarga. Saatnya pacaran.
***
Hari ini Langit berusaha menfokuskan diri pada pelajaran saat guru menerangkan.
Namun untuk belajar serius itu tidak segampang yang dia harapkan.
Pukul sembilan pagi. Mata pelajaran matematika. Guru sedang menerangkan materi quartil, desil, simpangan baku. Kepalanya langsung berat saat mendengar
penjelasan guru.
Ucapan guru itu bagai dongeng yang buatnya mengantuk. Di tambah lagi dia yang duduk dekat jendela terbuka, angin sepoi-sepoi yang sejuk kian memanjakan matanya untuk segera terlelap.
Langit menghela nafas. Ternyata berat banget niat mau serius belajar. Apalagi
Matematika. Dia seketika ingin kabur ke luar kelas. Namun niat itu dia kubur keras. Tidak tidak. Dia harus menahan diri.
Dua menit hingga lima menit. Berusaha ia perhatikan papan tulis. Tapi setelahnya Langit mengangkat buku cetaknya. Matanya kian mengantuk. Ia melirik guru di depan lalu merebahkan kepalanya dibalik buku.
Senyumnya terbit.
Enak sekali.
Matanya menutup perlahan. "Entar Pa, Ma. Khilaf dulu di awal," ucapnya membatin lalu terlelap.
"Jadi nilai simpang quartilnya 8.375." Buk Rini mencoret-coret papan tulis di bagian bawah setelah di atasnya penuh coretan angka-angka contoh soal.
"Sudah paham kan cara mencarinya?"
Pandangan Buk Rini menyapu seisi kelas. Para siswa siswinya memberi anggukan.
Menyadari siswinya Langit yang sudah merebahkan kepalanya membuatnya berkacak pinggang.
"Bina."
"Iya Buk?"
"Bangunkan Langit."
Bina sontak menoleh pada sahabatnya itu.
Dia menghela nafas melihat kelakuan Langit yang tidak berubah. Ia colek lengan Langit.
Semua mata juga menatap Langit. Tidak terkecuali Bumi yang melipat tangannya dan menyandarkan punggung di sandaran kursi.
"Langit, bangun," bisik Bina.
"Heum." Hanya gumaman. Bina melihat Buk Rini yang berkacak pinggang di depan.
"Ngit, bangun, parah sih lo!" bisiknya kini sedikit mengguncang. Tapi Qanita Langit Zoe, suka susah dibangunkan sekalinya tidur.
"Aduh Buk Rini ke sini Ngit." Ia khawatir Buk Rini sudah berjalan ke meja mereka membawa pengaris dan gelas.
Buk Rini mengangkat tangannya ke udara.
Selanjutnya beliau menunduk lalu mendentingkan penggaris dan kaca hingga terdengar suara berisik.
"Kebakaran kebakaran!!"
Serunya keras. "Langit kebakaran!"
Gadis yang nyenyak dalam tidurnya itu sontak refleks terbangun kaget. Ia berdiri
Cepat dan melihat sekeliling. Gelak tawa memenuhi seisi kelas.
"Ya Allah, mana apinya? Loh kok gak ada api?" herannya melihat sekeliling. Malah tawa temannya dan tatapan peringatan Buk Rini yang kini siap memarahinya.
Tersadar, Langit menatap papan teringat. Ia memberikan cengirannya.
"Enak tidurnya Langit?" Beliau melipat tangan.
"Baru bentar kok buk hehe." Ia berdiri kikuk.
"Paham saya menerangkan apa tadi?"
Langit menampikan deretan giginya.
Jawaban akan pertanyaan itu. "Makanya Langit jangan tidur terus. Kamu mau jadi apa sih di masa depan?"
"Iya Buk."
"Kamu gak capek ya dimarahin terus? Gak ada kapoknya. Yang kamu butuhkan di masa depan itu kemampuan kamu. Bukan hanya soal wajah."
"Iya Buk."
"Kedepannya kalu kanu gak berubah juga.
Gak usah masuk di kelas saya."
Langit mengigit bibirnya. Kalau sudah dibilang gini sih dia jadi takut.
"Duduk dan perhatikan saya. Abis ini saya kasih kamu tugas dua soal. Kumpul sebelum bel masuk abis istirahat." Langit hanya dapat memberi anggukan lemah. Pelajaran kembali dilanjutkan. Ia hanya menghela nafas dan coba memperhatikan. Tapi ia sulit paham.
Colekan di lengannya membuat Langit menoleh sesaat. Alden yang duduk di belakangnya menyerahkan kertas. Langit lekas mengambilnya dan membukanya diam-diam kala di rasa aman.
Gak apa. Nanti gue bantu.
Hanya kalimat itu namun membuatnya tersenyum senang. Langit menoleh dan memberi anggukan seraya berujar makasih secara berbisik.
Hal itu juga tidak lepas dari pandangan Bumi yang ternyata juga tengah memperhatikan Langit usai dimarahi.
***
"Si Langit mana?"
Bumi menanyai Bina karena datang
Sendiri. Iya dia tahu sih pastinya Langit akan mengerjakan tugas yang dikasih Buk Rini dalam waktu bentar.
"Lah lo gak dengar dia dikasih tugas?"
"Iya tahu. Kirain dia gak bakal kerjain."
"Gak lah. Langit nakal gitu tapi dia tanggung jawab kalau dikasih hukuman."
Bumi membenarkan. Yang Bina katakan benar. Begitu-begitu Langit sangat bertanggung jawab akan apa yang dia perbuat.
"Dia belajar di mana?"
"Perpus katanya."
Bumi memberi anggukan. Dia melirik teman-teman. Hanya ada Hugo dan Liam. Alden tadi bilang dia tidak makan dulu dan diam di kelas.
Bumi menghabiskan makannya dengan cepat. Setelah selesai ia lekas berdiri dan menaruh uangnya di atas meja.
"Bayarin dulu. Gue cabut."
"Ke mana Bum?"
Bumi yang sudah berdiri menatap Liam. "Toilet," ujarnya lalu pergi. Aslinya kakinya melangkah menuju lantai satu dekat lapangan
Upacara. Di mana perpustakaan berada.
Memasuki ruangan yang penuh buku itu dan sangat hening, ia celingukan mencari sosok Langit. Di bagian letak meja bersusun untuk duduk tidak ada. Ia mengambil asal buku dan berjalan masuk lebih jauh.
Perpustakaan sekolah mereka cukup besar dan luas. Memiliki banyak rak dengam buku yang lengkap.
Meja untuk belajar juga banyak. Baik ketika awal masuk dengan bentuk lingkaran dan bagian belakang memanjang.
"Gitu ya caranya?" Suara Langit terdengar. Bumi yang berjalan di antara rak melangkah maju dan mengintip dari balik buku
Di sana dia dapati Langit bersama seorang cowok. Karena membelakangi, ia tidak bisa melihat dengan jelas. Keduanya duduk berdampingan. Tatapan Langit pada buku yang dicoret laki-laki di sampingnya. Sedang tatapan cowok itu menatap Langit.
Bumi merasa tidak asing akan gestur dan gaya rambut laki-laki di sebelah Langit tersebut.
"Gimana? Mudah dipahami kan?"
Suata itu ... Alden?
Langit di tempatnya tersenyum lebar. Ia mengangguk-angguk senang. "Gue kira susah banget. Ternyata gak sesusah yang gue bayangkan ya?"
"Gak kok. Matematika itu menyenangkan. Asal kita perhatikan dan kerjakan contoh soal. Pasti bisa. Kalaupun enggak paham, kamu bisa tanya lagi sama buk Rini. Beliau gak keberatan kok nerangin lagi." Alden bicara panjang lebar untuk pertama kalinya. Ia menatap mata Langit.
Bumi heran. Kenapa Alden mau repot mengajari Langit? Toh selama ini temannya itu sangat cuek dam tidak peduli.
"Hem. Gue dari dulu lihat angka udah pusing, makanya nyasar IPS," kekehnya. "Otak gue agak lemot. Kalau penjelasan Buk Rini gue kurang ngerti. Beda sama Alden."
"Gue bisa kapan aja kalau lo tanya tentang materi."
"Memang boleh?"
"Hm. Kenapa enggak?"
"Seriusan?"
"Iya Langit. Gue pasti bantu."
"Asiik!" Bagai anak kecil Langit
Menggoyangkan tangannya ke udara senang.
Alden menarik kedua sudut bibirnya
"Coba salin dulu biar gak keburu bel."
Langit memberi anggukan. Walaupun pada akhirnya Alden yang mengerjakan, tapi dia sudah paham langkahnya. Jadi kalau Buk Rini tanyapun dia bisa jawab.
"Gue penasaran deh otak lo dibuat dari apa sih? Keren banget." Langit memuji di sela menyalin tugasnya.
"Gak ada. Sama kayak lo."
"Beda deh kapasitas otak kita. Apa jangan-jangan saat hamil mama lo makan buku yang direndam ke air ya?"
Alden tertawa lepas akan kalimat polos Langit. Tawa yang membuat Langit mengerjap dan Bumi di tempatnya yang kian merasa aneh.
Tidak pernah seorang Alden tertawa lepas seperti itu pada perempuan.
Kenapa ia kurang suka melihat keduanya?
Mereka sebelumnya tidak akrab atau bahkan tidak saling sapa.
Sejak kapan?