Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3—Mendapatkan Kemampuan Aneh
Besoknya, di tempat brifing toko Naufal malam hari.
"Aku sudah dengar dari atasanmu, Naufal. Targetmu bulan ini kurang dua belas juta atau lima unit, Naufal! Kalau sampai jam operasional toko tutup kamu tidak bisa menjual satu pun, silahkan kembalikan seragam mu dari sini dan keluarlah!”
Suara itu datar, namun dingin menusuk, berasal dari pria tua yang berusia sekitar lima puluh tahunan. Naufal hanya bisa menunduk di depan meja manajer toko. Di sampingnya, Andre tersenyum sinis, memutar-mutar kunci mobil barunya di jari telunjuk.
"Sudah kubilang, Pak. Anak SMK ingusan seperti dia memang tidak cocok di sini. Mentalnya mental kerupuk," cibir Andre tanpa saring. “Harusnya saat penempatan kemarin, bapak jangan terima dia disini, biarlah dia ditempatkan oleh perusahaan brand hpnya di tempat lain.”
Naufal mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Ia kira ini semua gara-gara siapa? Setiap dia mendapatkan customer, Andre selalu datang merusuh merebut pelanggannya, merebut stok miliknya, bahkan pelanggan janjian dia pun direbut pula.
Padahal itu termasuk seri flagship tinggi, sekali jual seharga belasan juta dan direbut oleh senior kaparat ini.
"Tapi Pak, kemarin ada pelanggan yang mau ambil dua unit R 14, tapi Kak Andre merebut user saya—-”
BRAK!
"Kamu berani memfitnah saya?!" Andre membentak, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari hidung Naufal. “Emang kamu ada bukti.”
“Bukti cukup jelas, pak … dia bilang stok r-14 disini gak ada.”
“Kenyataan memang gak ada.”
“Ada, kak … kan aku udah ambil jauh-jauh dari pusat!”
“Itu kelamaan, makanya aku setir ke brandku … A-56 juga lebih bagus dari seri r-14 milikmu.”
Manajer itu mengibaskan tangan, tidak peduli. "Sudah, sudah! Jangan buat keributan! keluar! Selesaikan target mu atau angkat kaki, siap-siap untuk dipecat Naufal.”
Naufal mengepal tangan erat, wajah emosi keluar. Ia butuh uang sekarang, jangan bercanda kalau dia keluar siapa yang menafkahi orang rumah.
Ia berjalan keluar ruangan dengan bahu merosot. Di lantai toko yang megah dengan lampu-lampu LED berkilauan, ia merasa seperti debu. Padahal, ia butuh pekerjaan ini. Ibunya baru saja keluar dari rumah sakit dan tabungannya nyaris nol.
Waktu sudah semakin larut malam, belum ada pelanggan masuk ke toko. Naufal menghela napas, toko setengah jam lagi sudah mau tutup, Andre bahkan sudah siap-siap untuk melepaskan hp demo—display yang terpasang di meja, sembari membawa kunci dan tempat khusus hp demo.
Andre menatap Naufal yang berdiri mematung di toko ini, lalu tertawa sinis. “Hahaha, belum jualan ya, Naufal? Kasihan sekali! Ya, mau jualan pun mustahil … habisnya itu 12 juta! itu bukan angka yang bisa dituntaskan satu malam … manajer juga jahat sekali.”
Naufal menggeram kesal. “Kak, kalau saja kakak tidak merebut pelangganku terus, tidak mengambil user janji ku ini semua tidak akan terjadi …”
“Ha?!” Andre adalah orang yang bringas menatap Naufal garang. “Ngomong apa lo barusan, anjing! Bocah fresh graduate kemarin sore aja belagu!”
Siska yang juga jaga toko, cuma cuek saja masih sibuk main sosmed. Sekarang mata dia menatap Naufal.
Siska mengalihkan pandangannya sejenak dari layar iPhone miliknya, menatap Naufal dari atas ke bawah.
"Lagian lo juga sih, Fal. Udah tahu kerja sebagai sales tuh yang penting closing. Kalau lo nggak bisa jaga user lo sendiri, ya jangan nyalahin Kak Andre. Di sini tuh siapa yang cepat dia yang dapat," cetus Siska pedas.
“Siska lo sebenarnya ada di pihak siapa sih?”
“Gue gak ada dipihak siapa-siapa … cuma netral doang.”
Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Naufal yang sedang tertunduk, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh pemuda itu.
"Dunia nggak bakal kasihan sama air mata lo, Fal. Cowok itu dinilai dari hasilnya, bukan dari seberapa banyak dia ditindas. Makannya kalau gak mau diinjak-injak kamu harus injak balik! Kalau lo emang punya tanggung jawab di rumah, ya tunjukin mental lo! Jangan cuma pasrah kayak keset di depan mereka."
Naufal membelalakan mata lebar. Seperti biasa ini cewek suka bikin dia bingung sebenarnya dia ngapain sih? Mulut tajem gak bisa direm, tapi dibilang kaya peduli .. dia gak begitu yakin.
“Seperti biasa … lo bikin orang bingung.”
“Itu terserah lo.”
Siska kembali menjauh, suaranya kembali meninggi dan ketus. "Udah sana, mending lo siap-siap beresin barang di loker. Lo udah pasti dipecat malam ini kalau cuma bisa melamun kayak orang bego. Gue capek lihat muka pecundang lo itu!"
Meskipun kata-katanya menyakitkan, Naufal bisa melihat tangan Siska sedikit gemetar saat menggenggam ponselnya—sebuah tanda bahwa ia sebenarnya muak melihat ketidakadilan Andre, namun ia sendiri harus bersikap keras untuk bertahan di toko itu.
Naufal merasakan dadanya sesak. Ketidakadilan ini begitu nyata. Ia menatap deretan kotak ponsel di belakang etalase yang kini terasa seperti ejekan. Ia butuh uang untuk biaya kontrol ibunya besok, tapi dunia seolah sepakat untuk menghancurkannya malam ini.
Tiba-tiba, pintu toko yang sudah hampir dikunci terbuka. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah gontai. Penampilannya sangat biasa, hanya memakai kaos oblong pudar dan sandal jepit yang sudah tipis. Di bahunya tersampir tas kain lusuh. Pria itu terlihat seperti orang yang tersesat di kemegahan mal.
Andre yang biasanya sigap menyambut orang, hanya melirik sekilas lalu membuang muka. Ia lanjut mencabuti kabel alarm di HP demo.
"Fal, tuh ada 'ikan teri' datang. Urus sana. Paling cuma mau tanya harga charger atau numpang tanya jalan keluar. Pas banget buat perpisahan lo sama toko ini," cibir Andre.
Siska melirik pria tua itu, lalu menatap Naufal dengan tajam seolah memberi kode 'Ini kesempatan terakhir lo, jangan sampai lo lepas lagi'.
'Kalau lo lepas gue bakal maki lo mati-matian!’
Namun di mulut, ia tetap berkata sinis.
"Duh, udah mau tutup kok datang ke sini... udah miskin sok mau ke toko HP lagi. Sono Fal, urus gih. Jangan sampai lo dipecat dengan kondisi nol closing hari ini. Malu-maluin lulusan SMK aja! Lo lupa slogan SMK .. ? Ayo sebutin bareng- bareng, SMK bisa … SMK Bisa …”
“Iya, bisa gila maksudnya.”
Naufal tidak membantah. Dengan senyum profesional yang dipaksakan, ia mendekat.
"Selamat malam Pak, ada yang bisa saya bantu? Sedang mencari tipe smartphone seperti apa?"
Pria itu melihat-lihat hp demo–display dengan ragu, sesekali menyentuh dan mencoba hp-hp tersebut. "Saya cari yang kameranya bagus untuk anak saya sekolah, tapi... anggarannya terbatas."
"Halah, paling juga mau cari cicilan tanpa DP," gumam Andre keras-keras dari kejauhan, memancing tawa sales lainnya.
Wajah pria itu memerah, ia tampak malu dan hendak berbalik pergi. Menjadi bahan gosip di toko ia jadi sangat malu.
Naufal merasa hatinya teriris. Ia tahu rasanya dipandang rendah karena penampilan. Tapi ini terlalu keterlaluan, mentang-mentang Manajer tidak ada mereka bicara sembarangan.
"Jangan didengarkan, Pak. Mari saya tunjukkan tipe yang paling sesuai dengan kebutuhan Bapak," ujar Naufal tulus.
Naufal menatap layar-layar ponsel di depannya, tapi pandangannya kosong.
Angka target itu seperti menghantuinya, berputar-putar di kepalanya tanpa henti.
Dua belas juta… dalam setengah jam? Mustahil. Naufal tidak bermaksud menghina, namun meski bapak tua ini benar-benar membeli hp palingan cuma seri 2 jutaan dan belum cukup.
Dadanya terasa berat. Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang selama ini ia tolak mati-matian… muncul begitu saja.
Apa… gue memang gak cocok di sini?
Bayangan wajah ibunya dan para adik yang menunggu di rumah dengan perut kelaparan muncul lagi. Dan ucapan Siska yang selalu tajam, pedas, tapi berupa motivasi kalau diambil hikmahnya.
Nafasnya tercekat. Kalau dia mundur siapa yang akan mengurus mereka!?
“Gue… gak boleh kalah sekarang…” gumamnya lirih, hampir tidak terdengar.
Tangannya gemetar saat meraih hp demo di meja— saat tangan Naufal menyentuh hp demo untuk melakukan probing (perkenalan produk), tiba-tiba dia tersetrum oleh sengatan listrik.
“Aduh!”
kepalanya mendadak berdenyut hebat. Sebuah suara dingin, jernih, dan tanpa emosi bergema di otaknya.
[Ding!]
[Selamat sistem analisis Nilai kembali aktif]
[Menemukan inang yang cocok]
[Progres wairsan 60% … 80 % … 100%]
[Proses pewarisan sistem berhasil!]
[Progres penyatuan dengan tuan rumah]
[Sistem Analisis Nilai Sedang Sinkronisasi... 10%... 50%... 100%!]
[Selamat! Inang telah mengaktifkan saya
[ sistem analisis nilai Kembali aktif!]
Tiba-tiba, pandangan Naufal berubah. Di atas kepala pria bersandal jepit itu, muncul sebuah panel transparan yang hanya bisa dilihat olehnya.
> [Target: Budi Santoso]
> [Identitas: Pemilik yayasan pendidikan sekolah dasar yatim piatu (Menyamar)]
> [Budget: Rp 150.000.000 (seratus lima puluh juta)]**
> [Kebutuhan: 50 Unit Smartphone untuk CSR Pendidikan]**
> [Tingkat Kepercayaan pada Sales: 5%]
> [Menurun drastis atas penghinaan di toko, Budi berencana untuk mencari toko lain]
Mata Naufal membelalak hampir keluar dari kelopaknya. Apa-apaan ini!? Tiba-tiba data muncul di kepala nya, namun yang paling terkejut adalah nominal yang dia butuhkan dan banyaknya unit hp
"Mas? Kenapa melamun? Kalau memang tidak ada yang murah, saya permisi saja," ujar pria itu, suaranya terdengar kecewa.
Naufal tersentak. Ini kan layar notifikasi yang dia lihat kemarin malam, kok kembali lagi? Ia sangat tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi jika barisan tulisan data itu benar. Ini adalah kesempatan. Tahu ini adalah satu-satunya kesempatannya. Jika ia berhasil menutup penjualan ini, Andre dan manajer sombong itu akan sujud di kakinya.
"Tunggu, Pak!" Naufal menahan langkah pria itu. "Bapak tidak butuh smartphone murah. Bapak butuh perangkat yang tahan lama untuk jangka panjang, dan kebetulan... saya tahu persis apa yang Bapak cari untuk lima puluh anak di yayasan Bapak."
Langkah pria itu terhenti. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang sangat berbeda dari sebelumnya. "Bagaimana kamu tahu saya butuh lima puluh unit?"
Naufal tersenyum, auranya mendadak berubah menjadi sangat tenang dan penuh percaya diri. "Karena saya tidak hanya melihat penampilan Bapak, saya melihat kemungkinan saja."
Dari kejauhan, Andre tertawa meremehkan. "Lihat si bodoh itu, malah membual! Siap-siap berkemas, Naufal. Malam ini kamu jadi pengangguran! Hahaha!”
Siska tidak ikut mengolok-ngolok, dari tatapan itu dia tahu satu hal. Akhirnya orang yang dia hormati kembali berjaya seperti sedia kala! Ia tersenyum samar-samar. 'Nah bagus gue suka semangat itu .. itu baru Naufal yang kukenal!’
Naufal tidak membalas. Ia hanya menatap panel sistem yang kini berkedip - kedip.
[Tingkat Kepercayaan Target Meningkat: 45%... 60%...]
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN