Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Aturan Nomor Satu yang Dilanggar
Hujan gerimis kembali turun, membawa serta aroma aspal basah dan debu jalanan Jakarta yang khas. Di dalam gang sempit yang remang-remang itu, Luna masih terduduk kaku di atas genangan air dangkal. Ujung celana jin dan sepatu kets putihnya yang sudah pudar kini basah kuyup, menempel dingin pada kulitnya. Namun, rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekacauan yang sedang terjadi di dalam kepalanya.
Hanya beberapa detik yang lalu, ia hampir menjadi mangsa entitas gelap bermata merah—sebuah kengerian dari masa lalunya yang kembali menghantui. Dan sekarang? Entitas itu lenyap tak berbekas, digantikan oleh sesosok pria angkuh berjas navy mahal yang memancarkan pendar biru pucat, berbau parfum citrus yang segar, dan sedang menatapnya dengan raut wajah penuh tuntutan seolah Luna adalah karyawan magang yang baru saja menumpahkan kopi ke atas dokumen pentingnya.
"Halo? Apa Anda tiba-tiba menjadi tuli, Nona?" Nando mengibaskan tangannya di depan wajah Luna. Gerakan itu seharusnya menciptakan embusan angin, namun Luna tidak merasakan apa pun. Tangan pria itu membelah udara kosong. "Saya bertanya, ini daerah mana? Dan di mana jalan raya terdekat untuk mencari taksi ke Rumah Sakit Medika Utama?"
Jantung Luna masih berdegup kencang, memompa darah dengan ritme yang menyakitkan. Ia menelan ludah, berusaha melembapkan tenggorokannya yang mendadak kering kerontang.
Aturan Nomor Satu: Jangan pernah berinteraksi. Jangan menatap mata mereka. Jangan biarkan mereka tahu bahwa kau bisa melihat, mendengar, atau merasakan kehadiran mereka.
Luna telah memegang teguh aturan itu selama lima belas tahun terakhir. Aturan itulah yang membuatnya tetap hidup, yang membedakannya dari orang-orang gila yang berteriak-teriak di pinggir jalan karena pikiran mereka telah digerogoti oleh kengerian dunia astral. Luna tahu, sekali kau merespons, mereka akan menempel padamu seperti lintah. Mereka akan menyedot energimu, merengek meminta tolong untuk menyelesaikan urusan duniawi mereka yang belum tuntas, atau lebih buruk lagi, mengambil alih tubuhmu.
Dengan gerakan kaku bak robot yang kekurangan pelumas, Luna menundukkan kepalanya. Ia bertumpu pada lututnya yang gemetar dan perlahan bangkit berdiri. Ia membetulkan letak tas selempangnya, menepuk-nepuk celananya yang basah—meskipun itu sama sekali tidak membantu—lalu mulai berjalan.
Ia berjalan lurus ke depan. Tepat ke arah Nando berdiri.
"Oh, bagus. Akhirnya Anda berdiri. Sekarang, tunjukkan jalannya—hei! Apa yang Anda lakukan?!"
Mata Nando melebar kaget saat Luna sama sekali tidak menghentikan langkahnya atau mencoba menghindar. Gadis bermasker hitam dengan seragam minimarket biru itu terus berjalan ke arahnya dengan pandangan kosong ke depan.
Nando, dengan insting manusia normal yang tidak ingin ditabrak, secara refleks melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada tembok gang yang lembap. Luna berjalan melewatinya begitu saja, bahu mereka berjarak kurang dari lima sentimeter, tetapi Luna tidak menoleh sedikit pun. Gadis itu terus berjalan membelah sisa gang gelap itu menuju jalan raya raya yang diterangi lampu-lampu neon warung tenda pecel lele.
Nando menatap punggung Luna dengan raut wajah tidak percaya. Rahangnya mengeras. Sebagai CEO dari NaturaGlow, salah satu merek perawatan kulit lokal yang sedang merajai pasar kosmetik Asia Tenggara, Nando terbiasa dihormati. Orang-orang menunduk saat ia lewat. Karyawannya mencatat setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan sabda. Dan sekarang, seorang gadis pelayan minimarket di gang kumuh baru saja mengabaikannya seolah ia adalah tiang listrik yang tidak berguna?
"Hei! Nona! Anda sangat tidak sopan!" seru Nando, suaranya yang berat dan bergema memantul di dinding gang. Ia merapikan jasnya dengan kasar dan mulai melangkah menyusul Luna.
Saat Nando melangkah, ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Langkah kakinya terasa terlalu ringan. Ia tidak merasakan benturan antara sol sepatu kulit mahalnya dengan aspal yang tidak rata. Bahkan, jika ia memperhatikannya dengan saksama, genangan air di bawah kakinya tidak beriak sedikit pun saat ia menginjaknya. Namun, ego dan rasa kesalnya menutupi logika tersebut. Nando mengaitkan perasaan "mengambang" itu dengan kelelahan ekstrem. Pasti karena aku belum tidur dua hari demi presentasi ke investor Jepang itu, batinnya mencari pembenaran.
Luna terus mempercepat langkahnya saat ia keluar dari mulut gang dan memasuki trotoar jalan raya yang masih cukup ramai meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Suara klakson, deru mesin metromini yang ugal-ugalan, dan tawa para pengemudi ojek online yang sedang nongkrong di ujung jalan sedikit banyak membawa Luna kembali ke realita.
Namun, realita itu seketika ternoda oleh suara berat yang terus meracau tepat di belakang telinga kanannya.
"Saya tidak tahu apa masalah Anda, Nona, tapi ini bukan cara Anda memperlakukan seseorang yang sedang tersesat," omel Nando, berjalan mengiringi Luna dengan langkah lebar-lebar. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dengan gaya arogan yang sangat alami baginya. "Saya hanya butuh petunjuk arah. Waktu saya sangat berharga. Setiap menit saya berada di jalanan kotor ini, perusahaan saya bisa kehilangan miliaran rupiah karena saya belum meninjau laporan final dari Bara. Anda tahu Bara? Tentu saja tidak, dia Direktur Keuangan saya."
Luna menggigit bibir bawahnya keras-keras di balik maskernya. Ia memfokuskan pandangannya pada ujung sepatunya sendiri. Dia hantu. Dia hantu cerewet yang tidak sadar dirinya hantu. Abaikan, Luna. Abaikan.
"Tahu tidak? Anda ini cerminan dari merosotnya etika generasi muda saat ini," lanjut Nando tanpa jeda, seolah ia sedang memberikan pidato di depan rapat pemegang saham. "Sikap apatis. Tidak mau membantu sesama. Jika Anda adalah salah satu karyawan sales saya, saya pastikan Anda sudah menerima surat peringatan pertama besok pagi. Penampilan Anda juga berantakan. Tidak adakah standar grooming di tempat Anda bekerja? Masker hitam itu membuat Anda terlihat mencurigakan."
Tangan Luna mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika ada satu hal yang lebih menyebalkan daripada dikejar hantu menyeramkan, itu adalah diikuti hantu penceramah yang menghina pekerjaannya.
Luna menghentikan langkahnya di pinggir jalan raya, tepat di dekat tiang lampu merah. Ia menatap ke arah deretan kendaraan yang melintas, berpura-pura sedang menunggu taksi atau angkutan umum, padahal jarak ke kos-kosannya hanya tinggal dua ratus meter berjalan kaki. Ia butuh pria ini pergi. Ia butuh pria ini menyadari kondisinya sendiri.
"Nah, begitu dong berhenti," ucap Nando, tersenyum puas, mengira Luna akhirnya menyerah pada "otoritasnya". Nando melangkah maju, berdiri di trotoar tepat di sebelah Luna. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke arah jalan raya, bersiap memanggil taksi biru yang terlihat mendekat dari kejauhan.
"Biar saya tunjukkan bagaimana cara yang efisien untuk mendapatkan transportasi," sombong Nando. "Taksi! Hei, Bluebird! Berhenti di sini!"
Taksi sedan berwarna biru itu melaju dengan kecepatan sedang di lajur kiri. Supirnya tampak kelelahan, matanya setengah terpejam. Nando melangkah turun dari trotoar, berdiri sedikit agak ke tengah jalan untuk memastikan supir itu melihatnya.
"Hei! Berhenti!" bentak Nando, melambaikan tangannya lebih agresif.
Luna menahan napas. Matanya melebar dari balik pinggiran poninya. Ia ingin menjerit memperingatkan, tetapi suaranya tercekat.
Taksi itu tidak melambat. Sama sekali.
Dengan kecepatan penuh, bagian depan mobil taksi itu menghantam tubuh Nando. Atau lebih tepatnya, menembus tubuh Nando.
Dalam satu detik yang terasa seperti siaran gerak lambat, Luna melihat kap mobil, kaca depan, dan seluruh kerangka taksi itu melewati dada, perut, dan punggung Nando tanpa hambatan sedikit pun, seolah Nando hanyalah seonggok proyeksi hologram. Supir taksi itu bahkan tidak berkedip, terus menguap sambil menginjak pedal gas, melaju membelah malam Jakarta meninggalkan genangan air yang terciprat ke pinggir trotoar.
Nando berdiri membeku di tengah jalan. Tangan kanannya masih terangkat di udara. Pendar biru di sekitar tubuhnya berkedip tak beraturan, seiring dengan kekacauan yang tiba-tiba meledak di dalam kepalanya.
Ia perlahan menundukkan pandangannya, menatap dadanya yang terbalut kemeja hitam dan jas navy. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit akibat tulang rusuk yang patah. Tidak ada bekas ban. Ia menoleh ke belakang, menatap lampu merah taksi yang semakin menjauh. Lalu, ia mengangkat kedua tangannya ke depan wajahnya, membolak-balikkan telapak tangannya yang kini terlihat sedikit lebih transparan dibandingkan lima menit yang lalu.
"A... apa... apa yang baru saja terjadi?" gumam Nando, suaranya kehilangan seluruh arogansi dan ketegasannya. Nada beratnya kini digantikan oleh getaran horor yang murni. "Dia menabrakku. Mobil itu menabrakku. Tapi... aku..."
Nando menoleh dengan cepat ke arah Luna yang masih berdiri di trotoar. Mata mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya sejak insiden mengerikan di masa kecilnya, Luna tidak memalingkan pandangan saat seekor roh menatapnya. Tatapan Nando dipenuhi oleh keputusasaan dan kebingungan yang memilukan. Sisi kemanusiaan Luna, entah dari mana asalnya, tiba-tiba memberontak melawan rasionalitas ketakutannya.
Luna menghela napas panjang, sangat panjang, hingga dadanya terasa ringan. Ia berbalik dan mulai berjalan kembali menyusuri trotoar menuju kos-kosannya. Kali ini, langkahnya tidak terburu-buru.
Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Benar saja. Hanya dalam hitungan detik, Nando sudah berada di belakangnya. Tidak ada lagi ocehan tentang omset perusahaan atau kritik tentang penampilan. Pria itu kini berjalan dalam keheningan yang mencekam, langkahnya yang tak bersuara mengekor di belakang Luna seperti anak anjing yang kehilangan induknya.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
Semangat Thor. 😃