Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Banyak Gerak Dulu
Suasana kamar yang luas itu mendadak terasa menyempit, hanya menyisakan ruang bagi hembusan napas yang saling memburu. Lucas menekan kedua telapak tangannya ke permukaan meja rias dan mengurung Keysa dalam kungkungan tubuhnya yang kokoh, aroma maskulin yang tajam bercampur dengan kehangatan kulit Lucas membuat pertahanan Keysa perlahan runtuh.
"Keysa, jangan menatapku seperti itu jika kamu tidak siap dengan konsekuensinya," bisik Lucas.
Tangan Lucas bergerak perlahan, ujung jemarinya membelai garis rahang Keysa hingga turun ke lehernya yang jenjang, sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bagi Keysa.
"Aku menginginkanmu, Keysa," gumam Lucas dengan tatapan mata yang gelap dan penuh tuntutan.
Keysa tertegun, jantungnya berdentum keras seolah ingin melompat keluar. Keraguan sempat melintas di benaknya, namun saat ia menatap mata elang Lucas, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa takut.
Ada rasa tidak rela yang membakar ulu hati Keysa ketika membayangkan wanita lain seperti Mawar atau wanita di dalam surat itu berada di posisi ini, menikmati dekapan ini dan memiliki perhatian Lucas.
'Nggak, aku nggak akan biarkan siapa pun mengambil posisi ini,' batin Keysa.
Keysa memberanikan diri menatap balik mata Lucas, ia tidak lagi memalingkan wajah. Tangannya yang tadi gemetar kini perlahan merayap naik, mencengkeram kerah kemeja putih Lucas yang sudah sedikit berantakan.
"Lucas, malam ini dan seterus aku adalah istrimu," suara Keysa kini lebih stabil, meski masih ada getaran di sana.
Keysa mengambil napas panjang, sebuah janji ia bisikkan dalam hatinya sendiri. 'Selama Lucas tidak memintaku pergi, aku akan bertahan. Biarpun badai akan datang menjemput, aku akan mempertahankan pernikahan ini,' batin Keysa.
"Jangan tanya apakah aku siap," lanjut Keysa sambil menarik kepala Lucas agar lebih dekat.
"Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tangan wanita lain," lanjutnya.
Mendengar pengakuan yang tak terduga itu, sudut bibir Lucas terangkat membentuk seringai tipis yang mematikan. Campuran antara kemenangan dan gairah yang meledak, ia tidak lagi memberi ruang bagi kata-kata.
Lucas menunduk dan menyapu bibir Keysa dengan c**m*n yang jauh lebih dalam dan posesif dari sebelumnya. Kali ini, Keysa tidak hanya menerima, ia membalasnya dengan keberanian seorang istri yang sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, di depan cermin besar yang menjadi saksi bisu, Lucas menggendong Keysa menuju tempat tidur. Malam itu, di tengah kemewahan mansion yang biasanya terasa dingin dan sunyi, sebuah ikatan baru mulai terjalin, bukan karena uang, melainkan karena ego dan rasa memiliki yang mulai tumbuh di hati keduanya.
.
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, namun suasana di dalam kamar utama itu terasa jauh lebih hangat dibandingkan suhu udara di luar. Keysa perlahan membuka matanya, merasakan sensasi pegal yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terutama di bagian bawah yang terasa nyeri berdenyut.
Keysa mencoba bergerak sedikit untuk meregangkan otot, namun erangan kecil lolos dari bibirnya. Rasa sakit itu seketika mengingatkannya pada kejadian semalam, bagaimana Lucas yang biasanya kaku dan dingin, berubah menjadi sosok yang begitu liar dan tak terhentikan.
"Jangan banyak gerak dulu," suara berat itu terdengar tepat di samping telinganya.
Keysa menoleh dan menemukan Lucas sudah bangun, menyangga kepalanya dengan satu tangan sambil menatapnya dengan pandangan yang sangat berbeda. Tidak ada tatapan tajam seperti saat menghadapi musuh bisnisnya, yang ada hanyalah kelembutan yang dalam, meski tetap dengan aura dominan yang kental.
"Sakit, ya?" tanya Lucas pelan.
Tangan Lucas merayap di bawah selimut, mengusap pinggang Keysa dengan gerakan melingkar yang menenangkan. Saat ini keduanya tidak memakai apapun, hanya selimut sebagai penutup.
Wajah Keysa memerah sempurna, ia menarik selimut hingga menutupi hidungnya dan hanya menyisakan matanya yang jernih untuk menatap sang suami.
"Sedikit," jawab Keysa pelan.
Lucas menghela napas panjang, ada rasa bersalah yang melintas di wajahnya. Semalam, meski ia sudah mencoba sebisa mungkin untuk berhati-hati saat mendengar rintihan Keysa, gairah dan rasa memiliki yang meluap membuatnya sempat kehilangan kendali.
"Maafin aku ya, aku kemarin nggak bisa ngontrol diri," ucap Lucas lalu mengecup dahi Keysa lama sekali.
"Hari ini jangan turun dari tempat tidur, aku udah minta Bi Lita menyiapkan sarapan untuk dibawa ke sini," lanjut Lucas.
"Tapi Lucas, aku harus...," Belum sempat Keysa menyelesaikan perkataannya, Lucas sudah bersuara.
"Nggak ada tapi-tapi," potong Lucas dengan nada perintah yang tak bisa dibantah, namun kali ini terasa sangat manis.
"Kamu adalah prioritas utamaku hari ini, urusan kantor bisa menunggu dan Johan bisa mengurus semuanya lewat telepon," lanjut Lucas.
Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu, Lucas bangkit dengan tubuh t*l*nj*ng lalu ia mengenakan celana kain panjang tanpa mengenakan atasan dan memamerkan punggungnya yang tegap dan berotot, ia mengambil nampan dari tangan Bi Lita di ambang pintu tanpa membiarkan wanita tua itu masuk, demi menjaga privasi istrinya.
Lucas kembali ke ranjang, meletakkan nampan berisi bubur ayam hangat, jus jeruk segar dan potongan buah di meja nakas. Dengan telaten, ia membantu Keysa duduk bersandar pada tumpukan bantal.
"Aku bisa makan sendiri, Lucas," protes Keysa saat Lucas menyendokkan bubur ke arah mulutnya.
"Diam dan buka mulutnya, anggap ini kompensasi karena aku sudah membuatmu kesulitan berjalan pagi ini," balas Lucas.
Keysa pasrah dan menerima suapan demi suapan dari pria yang paling ditakuti di dunia bisnis itu, ada rasa haru yang menyeruak di dadanya. Di balik topeng dinginnya, Lucas ternyata bisa menjadi sosok yang sangat perhatian.
Lucas menyuapi Keysa hingga mangkuk bubur itu kosong tak bersisa, ia memastikan Keysa meminum jus jeruknya untuk mengembalikan stamina yang terkuras habis. Setelah meletakkan nampan kembali ke meja nakas, Lucas menatap Keysa yang masih bersandar lemas dengan selimut melilit tubuhnya.
"Badanmu terasa lengket, kan? Aku akan membantumu membersihkan diri," ucap Lucas tanpa menunggu persetujuan sang istri.
Sebelum Keysa sempat melayangkan protes, Lucas sudah menyibakkan selimutnya. Keysa memekik kecil, refleks menyilangkan tangan di depan dadanya yang polos. Namun, Lucas hanya memberikan senyuman miring yang tenang, ia mengangkat tubuh mungil Keysa ke dalam gendongannya.
Langkah kaki Lucas yang kokoh bergema di lantai marmer saat ia memasuki kamar mandi yang luasnya hampir menyamai ruang tamu rumah Keysa, uap hangat pun sudah mengepul dari bathtub saat Lucas menyiapkannya.
Di bawah siraman lampu kristal kamar mandi, Keysa memejamkan mata rapat-rapat dan wajahnya terasa terbakar karena malu, ia bisa merasakan tatapan Lucas yang tidak pernah lepas dari setiap inci kulitnya. Tanpa ragu, Lucas melepaskan celana panjangnya dan memamerkan tubuh atletisnya yang sempurna sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam bak mandi besar itu sambil tetap mendekap Keysa.
"Lucas... aku bisa mandi sendiri," ucap Keysa pelan saat tubuhnya bersentuhan dengan air hangat dan kulit panas suaminya.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...