Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Jadi Orang Baik Saja
Air mata mulai menetes dari sudut mata Meisya dan Maya. Mereka menatap Restu dengan perasaan campur aduk antara malu, sedih, dan kagum. Selama ini mereka begitu durhaka, sering mengeluh, membanding-bandingkan, bahkan menghina papanya sendiri hanya karena penampilan dan gaya hidup yang sederhana.
"Pa... maafkan Maya ya Pa..."
isak Maya sambil memeluk kaki papanya erat-erat.
"Maya jahat... Maya sering minta ini itu, sering bilang papa pelit, sering bilang papa tidak berguna... Padahal kenyataannya papa adalah orang terkaya yang punya segalanya..."
Meisya pun ikut menangis dan memeluk lengan Restu.
"Maafkan Meisya juga Pa... Meisya sombong... Meisya malu mengakui papa kalau ada teman... Padahal papa sebenarnya raja yang sangat baik. Maafkan kami Pa..."
Restu tersenyum lembut, lalu mengusap kepala kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. Rina yang melihat pemandangan itu pun ikut terharu dan tersenyum bahagia.
"Sudah, sudahlah nak... Papa tidak marah kok. Papa melakukan semua ini memang sengaja,"
kata Restu menenangkan.
"Maksud papa sengaja bagaimana Pa? Kenapa papa harus menyamar jadi orang miskin dan menyembunyikan semua kekayaan ini dari kami?" tanya Meisya sambil menghapus air matanya.
Restu mengajak mereka duduk di teras yang indah itu lalu mulai menjelaskan dengan bijak.
"Dengar ya anak-anakku. Papa menyembunyikan identitas asli papa bukan karena papa malu atau apa. Tapi papa ingin kalian belajar memahami kehidupan. Papa ingin kalian tahu bagaimana rasanya hidup sederhana, belajar hemat, dan belajar menghargai setiap rupiah yang didapatkan."
Restu menatap mereka dalam-dalam.
"Lihatlah di luar sana, masih banyak orang yang susah, yang makan sehari saja susah, yang tidak punya tempat tinggal layak. Kalau dari kecil kalian dimanjakan dengan harta berlimpah, papa takut kalian jadi anak yang manja, sombong, tidak tahu terima kasih, dan meremehkan orang lain."
"Papa ingin kalian tumbuh menjadi wanita yang sholehah, yang tahu cara bersyukur dalam keadaan susah maupun senang. Papa ingin kalian bisa menghargai orang lain, tidak memandang dia kaya atau miskin, semuanya sama di mata Tuhan dan sama di hati kita."
Maya dan Meisya mengangguk-angguk perlahan, kini mereka mengerti maksud baik papanya.
"Jadi selama ini papa 'pelit' itu bukan karena tidak punya uang, tapi supaya kami belajar bersyukur dan tidak boros ya Pa?" tanya Maya pelan.
"Betul sekali nak. Sekarang kalian sudah dewasa, kalian sudah mengerti, dan papa rasa kalian sudah siap untuk memegang tanggung jawab sebagai anak orang kaya yang bijaksana," jawab Restu bangga.
"Terima kasih ya Pa... Terima kasih sudah mendidik kami dengan cara yang luar biasa. Kami janji Pa, mulai sekarang kami akan tetap hidup sederhana, hemat, dan tidak akan pernah sombong walaupun kami punya segalanya!" seru Meisya dan Maya kompak.
"Bagus, itu anak papa yang hebat dan papa sudah transfer uang 10 juta untuk uang bulanan kalian kalau kurang akan papa tambahi"
"Tring"
Masing-masing melihat saldo e walet mereka hingga mereka terkejut
"Ini benaran ya pa"
Restu tersenyum sambil menganggukan kepala sedangkan Rina yang dari tadi melihat anaknya dapat jatah bulanan langsung bertanya sama suaminya ini
"Kalau mama pa"
"Sudah papa kasih sebelum mama minta, lihat saja...."
Rina langsung melihat notifikasi yang masuk yang belum dia baca hingga dia langsung membuka rekeningnya
"Apa?, ini..........."
Rina menutup mulutnya karena takut membuat kedua anaknya iri karena uang yang dia terima mencapai 100.000.000 hingga dia hanya melonjak kesenangan
"Terima kasih ya pa"
Saat itu juga...
Tiba-tiba terdengar suara dingin dan mekanis di dalam kepala Restu.
[SYSTEM NOTIFICATION]
TANTANGAN BERHASIL: MENJAGA KERENDAHAN HATI DAN MENDIDIK KELUARGA
INTEGRITAS: 100%
PENGARUH: TERSEDIA
SELAMAT! ANDA BERHASIL MENJALANKAN MISI HIDUP SEDERHANA DENGAN BAIK.
HADIAH: SAHAM HOTEL BINTANG LIMA "SEMESTA" SEBANYAK 60%
STATUS: AKTIF DAN RESMI
MISI BARU: KEMBANGKAN BISNIS PARIWISATA DAN JADI NOMOR 1 DI DUNIA
Restu tersenyum lebar. 'Wah, dapat lagi... Hotel Bintang Lima Semesta, salah satu hotel termewah di negeri ini juga sekarang jadi milikku.'
"Alhamdulillah..." gumam Restu bahagia.
"Ada apa Pa? Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Rina penasaran.
"Tidak apa-apa Ma. Cuma dapat rezeki tambahan lagi nih. Ternyata kita sekarang juga pemilik mayoritas di Hotel Semesta lho," jawab Restu santai.
"Astaga! Hotel Semesta yang super mewah itu juga milik Abang?!" Rina ternganga lagi.
"Iya Ma. Jadi besok-besok kalau mau liburan atau makan enak, kita tinggal ke sana. Itu kan rumah kita sendiri juga," canda Restu.
"Apa pa?, hotel Bintang Lima Semesta itu punya papa?"
Maya dan Meisya saling pandang ketika papanya menganggukan kepala dan mamanya ikut mengangguk hingga Meisya penasaran untuk bertanya
"Sebenarnya Kami boleh tahu, perusahaan yang papa miliki saat ini, apakah mama tahu juga"
Restu tersenyum sambil melihat Rina istrinya
"Ya mama kalian tahu kalau perusahaan tempat papa kerja selama ini adalah milik papa"
"Apa?, Itu kan perusahaan terbesar di negara kita milik papa?"
"Iya nak"
"Jadi mobil mewah yang antar jemput kita itu sebenarnya milik papa juga ya"
"Iya benar dan biar mama saja yang kasih tahu karena mama sudah tahu semua perusahaan milik papa dan semua dokumen nantinya mama yang menyimpannya'
Rina mengangguk dan memberitahu perusahaan-perusahaan milik papanya dari Rumah sakit, perusahaan mobil, properti dan hotel bintang lima yang membuat Meisya dan Maya terkejut
"Jadi papa sebenarnya benar-benar kaya"
"Iya nak, itu tergantung sama kalian mau menjadi orang yang tidak terbuai dengan kekayaan atau jadi orang yang sombong, kalau kalian jadi orang baik dan mau menghargai orang lain, baik miskin atau kaya maka kalian dapat bulanan dua kali lipat setiap bulan tapi begitu kalian sombong maka uang bulanan tidak akan papa kasih lagi"
"Kami mau jadi orang baik saja pa"
Meisya dan Maya pasti memilih jadi orang baik karena akan mendapatkan uang bulanan dua kali lipat bulan depannya, yang berarti dapat jajan 20 juta perbulannya tapi kalau mereka mempertahankan sikap tidak baik maka papanya tidak akan memberi uang jajan lagi jadi pasti mereka memilih tetap jadi orang baik.
Cobaan buat mereka, saat ini apa yang di makan mereka di rumah adalah hidangan mewah kelas restoran mahal dan Hotel berbintang dan mereka diantar jemput dengan mobil mewah, uang saku mereka jutaan tapi mereka tidak boleh menunjukan identitas mereka dengan menunjukan kemewahan yang mereka punya hingga di kelas Maya ada yang mengejeknya.
"Sebaiknya Maya tidak usah ikut acara party kita karena dia nanti tidak bisa bayar, kasihankan kalau dipaksakan......"
Semua siswa tertawa bahkan ada yang menambahi kata-kata kawannya
"Benar itu Siska, kemarin saja ku dengar ayahnya termasuk jual motor untuk bayar SPP mereka yang sudah nunggak"
"Kasihan ya Nara melihat kehidupan Maya....."
tinggalkan jejak sobat ya
makasi