Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Dokter Tanpa Nama
Ballroom Garuda, Nusa Dua. Jam 09.00 WITA.
Hari ini adalah hari kedua seminar. Tamu yang datang lebih banyak dari kemarin. 200 dokter, 40 profesor. Kemungkinan besar karena pengaruh berita tadi malam yang masuk saluran televisi lokal. Membuat orang-orang penasaran.
Di panggung, Prof. dr. Harun, SpJP, FIHA berdiri. Dia berusia 60 tahun, rambut putih semua, kacamata baca, tapi suaranya masih lantang. Dia membahas tata laksana henti jantung di fasilitas kesehatan primer, golden period & rantai keselamatan.
Clarissa jadi moderator. Itulah alasan kenapa dirinya harus mendatangi seminar tersebut. Dia bukan hanya datang sebagai peserta seminar, tapi sudah diberi tanggung jawab untuk terlibat langsung di dalamnya.
Dia duduk di meja samping podium. Blazer navy, rok span hitam, heels 3 cm. Sejak tadi fokus, bersikap profesional. Tepat di balik punggungnya, nama terpampang di layar, segede gaban. Moderator dr. Clarissa Amartya, SpJP.
Sementara Alvian, dia duduk di meja 3, pojok belakang. Tempat yang sama, batik yang sama kayak semalam. Namtag +1 juga masih melekat sebagai identitasnya.
"Rekan sejawat," Prof Harun berbicara. "Dari data yang telah kita kumpulan, kasus henti jantung di luar RS memiliki angka kematian 90%. Kalian tahu penyebabnya? Itu karena rantai keselamatan putus. Yang bantu panik, tidak tahu RJP, takut salah."
Slide di layar berganti. Sebuah video yang orang kolaps, di trotoar.
Clarissa pegang mic. "Bapak Ibu, kita liat dulu kasus simulasi. Setelah itu Prof. Harun akan membahasnya."
Video diputar. Semua dapat melihat di video itu dokter datang telat. RJP ngawur. Akhirnya, pasien meninggal.
"Ini yang sering terjadi," kata Prof. Harun. Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya "Tapi... Sekitar 3 tahun yang lalu, saya melihat suatu yang berbeda."
Satu ballroom diam. Menyimak cerita.
"Hari itu, di daerah konflik. Ada pasien luka tembak di dada yang buat jantungnya robek. Namun di tempat seperti itu, tidak ada OK, hanya tenda dengan lampu petromak. Semua hampir menyerah, tapi tiba-tiba seorang dokter masuk. Menggunakan scrub hitam, tanpa namtag, cuma cuma ada velcro kecil H.D. di bajunya."
Alvian yang sibuk coret-coret mendadak berhenti. Pulpen diam, tapi mata pena-nya menekan dalam lembaran kertas itu.
"Dia minta thorakotomi set, tapi kita tidak punya. Akhirnya dia buka tasnya sendiri yang isinya scalpel, rib spreader, needle holder, benang 4.0. Dia belah dada pasien di tenda, jepit jantung gunakan tangan, menjahit robekannya dalam beberapa tarikan nafas. Pasien berhasil selamat, tapi besoknya dokter itu menghilang. Tak pamit, tak minta bayaran."
Gemuruh pelan di ballroom terdengar. "Gila..." "Serius itu, Prof?" "Dokter siapa itu?"
Prof. Harun menggelengkan kepala dengan rasa kecewa yang tak bisa disembunyikan.
"Sayangnya, sampai sekarang kolegium masih mencarinya. Namanya tidak ada di database. Wajahnya juga tidak jelas karena masker sama darah. Cuma tau inisial H.D di bajunya. Kalau dia ada di sini, saya pribadi kasih kursi profesor kehormatan. Orang seperti itu, adalah sosok yang sungguh kita butuh di fasilitas kesehatan primer."
Clarissa pegang mic kenceng. Matanya pelan-pelan geser ke pojok belakang. Ke Alvian.
Bagaimana dengan Alvian? Pria itu lagi pura-pura nulis. Kepalanya nunduk, tapi pulpennya nggak gerak, tintanya ngeblob di satu titik sampai kertas itu basah.
Prof. Danang yang duduk di samping Clarissa berbisik, "H.D. Itu legenda. Banyak yang bilang hoax. Tapi Prof. Harun nggak mungkin bohong."
Clarissa tidak mengatakan apapun. Matanya balik ke Prof. Harun, melanjutkan tugasnya. "Silakan dilanjut, Prof. Materi utama."
Sesi tersebut berjalan sekitar 1 jam. RJP, AED, dan algoritma.
Jam 10.30. Waktunya coffee break.
Dokter-dokter keluar berkumpul di stan makanan dan snack. Meski begitu topik pembicaraan mereka masih seputar dokter tanpa nama yang diceritakan Prof. Danang.
"Denger-denger H.D. itu tentara."
"Ada yang bilang dia dokter WHO yang undercover."
"Ah, palingan juga itu mitos."
Ada yang percaya, tapi juga ada yang skeptis tentang cerita dokter tanpa nama. Menurut mereka, cerita seperti itu terlalu dibuat-buat. Bahkan jika benar ada, pastilah sudah ditambahi bumbu-bumbu kebohongan untuk buat orang terkesan.
Alvian ke toilet mencuci muka. Sambil ngaca, bicara ke diri sendiri. "Untung saja mereka tidak tahu," gumamnya, lalu lap muka pake tisu dan berjalan keluar.
Di depan toilet, Clarissa sudah berdiri membawa 2 gelas air mineral.
Tanpa menatap, tak bicara, dia sodorkan gelas mineral di tangan kanannya ke Alvian.
Alvian terkejut. Menerima dengan cepat sambil menyengir. "Makasih, Istri."
Kali ini Clarissa tidak mengomel saat Alvian memanggilnya seperti itu. Mungkin karena di sekitar tidak ada orang, juga, fokusnya hanya tertuju ke bekas luka di tangan kanan Alvian.
"Luka itu, ...."
Alvian seperti tahu pikiran Clarissa. Tapi bukan menyembunyikannya, Alvian malah dengan sengaja menggulung lengan batiknya sehingga luka tersebut dapat dilihat dengan jelas.
"Bagaimana, bagus tidak? Banyak dokter lapangan yang punya bekas luka seperti ini, aku membuatnya dengan susah payah."
Ekspresi Clarissa sulit diartikan. Dia mengambil tangan Alvian, kemudian mengamati luka di tangan kanannya yang ternyata itu palsu.
"I-ini ...." Clarissa membeku. Sementara Alvian hanya tersenyum menikmati ekspresi bingung istrinya.
"Bagaimana, bagus tidak?" tanya Alvian, lagi, setelah beberapa saat.
Namun Clarissa masih diam. Menghempaskan tangan Alvian.
"Jangan bicara lagi, kamu hanya buat kesal."
Setelah bicara Clarissa langsung pergi. Meninggalkan Alvian yang sekarang bingung bagaimana dirinya membuat sang istri marah kepadanya.
"Untung masih istri," gumam Alvian.
Yang tidak Clarissa tahu, luka yang sama ada di tangan kiri Alvian. Namun luka tersebut sudah disamarkan, dan tidak akan terlihat jika tidak melihatnya dari dekat. Sedangkan luka palsu di tangan kanan, itu sengaja dipakainya untuk berjaga-jaga.
___
Seminar hari kedua berakhir.
Clarissa kembali ke kamar dan langsung membuat laporan seminar. Dia sibuk dengan laptopnya, sementara Alvian di kasur seberang hanya rebahan, sambil main HP.
"Besok check out jam 12. Koper sudah aku siapkan."
"Oke." Alvian tiba-tiba meletakkan HP dan bangun dari tidurnya. Bertanya, "Bagaimana jika besok jalan-jalan dulu? Mumpung di Bali, jarang-jarang punya waktu datang ke sini."
"Tidak. Kamu saja sendiri."
Clarissa menolak. Setelah selesai dengan pekerjaannya dia langsung ke tempat tidur, mengenakan selimut.
Alvian tak punya kesempatan. Dia menghembuskan nafas, lalu pergi ke kamar mandi.
Saat suara air menyala, Clarissa yang sebelumnya bersiap tidur tiba-tiba turun dari kasur. Pelan, membuka resleting ransel Alvian yang digantung di kursi.
Tidak mengobrak-abrik, tapi cuma buka, dan lihat.
Isinya 2 kaos, sikat gigi, sama satu pouch hitam ukuran kotak P3K. Ada tulisan kecil bordir, A.W. Mungkin inisial namanya, Alvian Wira.
Clarissa melirik ke pintu kamar mandi, lalu membuka pouch hitam milik Alvian. Di dalamnya, scalpel disposable 3 biji, lidocaine 1 ampul, benang chromic 3.0 dan 4.0, needle holder kecil, pinset, kasa steril. Di bawah itu, ada velcro patch lecek, sudah nggak nempel.
Pintu kamar mandi terbuka. Clarissa yang terkejut langsung menutup kembali pouch hitam dan menjauh dari koper Alvian.
Alvian keluar tanpa tahu apa-apa. Tapi ketika melihat kopernya terbuka, dia menatap Clarissa di tempat tidur, tiga detik, kemudian mengedikkan bahu dan berjalan sambil menggosok rambutnya.
Clarissa di balik selimut masih deg-degan. Dia meremas baju tidur, sambil berusaha tak bergerak.
"Tunggu! Kenapa aku harus panik?! Aku tidak mencuri apapun. Jadi, tidak perlu panik."
Memikirkan itu Clarissa perlahan menurunkan selimut, tapi saat itu Alvian sudah tak bergerak di tempat tidurnya.
"..."
"Sudah tidur??"
Clarissa seperti tak percaya. Sambil menahan kesal, mematikan lampu, ikut tidur.