NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Tetangga dan Mata-Mata

​Pagi di Ciampea selalu riuh dengan suara ayam dan deru motor, namun bagi Rismawati, keriuhan yang paling ia hindari adalah antrean Posyandu. Dengan menggendong Jalaludin yang dibalut kain jarik, Risma duduk di kursi plastik panjang, berusaha menunduk serendah mungkin.

​Sayangnya, di Posyandu, radar ibu-ibu tukang ghibah lebih tajam daripada radar militer.

​"Eh, Risma! Ya Allah, ini teh beneran Risma istrinya Kang Ahmad?" suara melengking itu datang dari Bu Tejo, koordinator ghibah tingkat RT. "Kok tiba-tiba sudah nenteng bayi? Kapan lahirannya, Neng? Kok nggak ada kabar, nggak ada syukuran, tahu-tahu sudah sebulan aja."

​Risma memaksakan senyum yang lebih mirip ringisan. "Iya, Bu. Lahirnya... anu, pas badai besar kemarin itu. Jadi repot mau ngabar-ngabarin."

​"Ih, si Eneng mah pelit kabar! Kita-kita kan tetangga, pengen tahu juga," sahut Bu Entin sembari mengunyah kerupuk. "Jangan-jangan lahirannya diumpetin ya? Atau jangan-jangan bukan anaknya Kang Ahmad?"

​Darah Risma mulai mendidih. "Astaghfirullah, Bu Entin! Mulutnya meuni licin kayak belut. Ini asli anak Kang Ahmad, lihat saja hidungnya, sudah kayak perosotan di mal. Kami cuma belum sempat bikin acara karena... ya, kondisi rumah juga kemarin sempat kena petir."

​Seolah merasakan emosi ibunya yang mulai naik, Jalaludin yang sejak tadi diam, tiba-tiba menggerakkan tangan mungilnya. Ia meraih ibu jari Risma dan menggenggamnya dengan sangat kuat. Genggaman itu aneh; hangat dan sangat tenang, seolah sang bayi sedang berbisik, "Sabar, Mak, jangan diladeni."

​Risma seketika melunak. Ia mengusap pipi Jalal dengan lembut. "Iya, Sayang. Mama nggak marah kok."

​"Berikutnya, Jalaludin Al Bulqini!" panggil seorang petugas Posyandu bernama Pak Dadang.

​Risma masuk ke ruang periksa yang hanya dibatasi sekat kain. Di sana, seorang bidan muda sedang menyiapkan timbangan.

​"Beratnya bagus ya, Bu. Naik banyak ini," ujar bidan itu ramah. "Coba saya lihat respon matanya sebentar."

​Risma menghela napas, ia memutuskan untuk jujur. "Anu, Bu Bidan. Jalal... dia sepertinya tidak bisa melihat. Matanya tidak pernah buka sejak lahir."

​Seketika, gerakan bidan itu terhenti. Suasana di balik sekat yang tipis itu mendadak sunyi, namun hanya sesaat. Karena di luar sana, telinga-telinga "dinding" sudah menangkap informasi tersebut.

​"Hah? Buta?" bisik-bisik di luar langsung pecah seperti laron kena lampu.

"Ih, pantesan lahirnya pas petir. Kutukan itu mah!"

"Kasihan ya, masih bayi sudah begitu. Pasti ada yang salah pas hamilnya."

​Risma mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia menggendong kembali Jalal tanpa menunggu instruksi lebih lanjut. "Sudah kan, Bu? Saya permisi."

​Sepanjang jalan pulang, telinga Risma panas. Namun, kekagetannya memuncak saat sampai di depan rumah kayu miliknya. Sebuah mobil bak terbuka tua terparkir di sana. Di teras rumah, duduk dua orang tua yang sangat ia kenal: Emak dan Abah dari Indramayu.

​"Mak! Abah!" Risma berlari kecil, matanya berkaca-kaca.

​"Risma! Gusti, anakku!" Emak langsung memeluk Risma erat-erat. "Kamu itu gimana, baru ngabarin kemarin sudah lahiran. Emak sama Abah langsung berangkat subuh tadi."

​Abah hanya diam, namun matanya menatap tajam ke arah gendongan Risma. Sebagai mantan jawara di kampungnya, Abah memiliki insting yang berbeda.

​"Sini, Emak mau lihat cucu pertama Emak. Mana si kasep?"

​Risma membuka perlahan kain bedongannya. Jalaludin tampak tenang, wajahnya sangat bersih dan tampan, namun kelopak matanya tetap tertutup rapat.

​"Tapi, Mak... Abah..." Risma tersedu. "Jalal... dia tidak bisa melihat. Kata bidan, Jalal buta total."

​"Hah?" Emak menutup mulutnya, air mata langsung tumpah membasahi pipinya yang keriput. "Ya Allah, Risma! Cobaan apa ini, Gusti? Kenapa cucu Emak harus begini?"

​Emak menangis sesenggukan, meratapi takdir yang ia anggap malang. Namun, Abah tetap diam. Ia mendekat, lalu dengan perlahan menyentuh kening Jalaludin. Abah terdiam lama, matanya menyipit seolah sedang merasakan sesuatu yang tidak kasat mata.

​"Abah? Kenapa diam saja? Abah sedih ya?" tanya Risma cemas.

​Abah menarik napas panjang, suaranya berat dan tenang. "Jangan menangis, Risma. Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu gendong. Bayi ini... dia tidak butuh mata untuk melihat busuknya dunia ini."

​"Abah ngomong apa, sih? Orang lagi sedih juga!" protes Emak sembari menyeka air mata.

​"Sudah, masuk dulu. Siapkan kopi buat Abah," perintah Abah tanpa melepaskan pandangannya dari Jalal. Dalam hati, Abah bergumam, "Darah Si Buta memang tidak pernah salah memilih wadah."

​Di sisi lain Ciampea, Pak Dadang, petugas Posyandu yang tadi mencatat data Jalal, tampak terburu-buru pulang ke rumah kontrakannya. Ia tidak langsung makan siang, melainkan mengunci pintu kamar rapat-rapat.

​Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sebuah ponsel model lama dari laci tersembunyi. Ia menekan sederet nomor yang tidak tersimpan di kontak.

​"Halo?" suara di seberang terdengar sangat dingin dan berat, berlatar belakang kebisingan kota Jakarta.

​"Lapor, Tuan," bisik Dadang, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya menemukan targetnya. Namanya Jalaludin Al Bulqini. Lahir tepat tanggal 19 September di Ciampea. Umurnya baru dua belas hari."

​Hening sejenak di seberang telepon.

​"Matanya?" tanya suara itu.

​"Buta total, Tuan. Sesuai dengan ramalan yang Tuan cari. Ibunya bernama Rismawati, ayahnya Ahmad Syihabudin. Mereka orang biasa, tapi kakeknya sepertinya bukan orang sembarangan."

​"Bagus. Pantau terus. Jangan lakukan tindakan apapun sampai Satya siap. Pastikan bayi itu tetap hidup... untuk saat ini."

​Klik.

​Telepon ditutup. Pak Dadang menyeka keringat dingin di dahinya. Ia tidak tahu siapa orang di seberang telepon itu, yang ia tahu hanyalah setiap informasi yang ia berikan dihargai dengan uang yang cukup untuk makannya selama setahun.

​Di luar, angin Ciampea berhembus kencang, menggoyangkan pohon-pohon bambu seolah sedang membisikkan peringatan. Bahwa di atas ketenangan keluarga Ahmad dan Risma, sebuah bayangan besar dari Jakarta mulai menjulurkan kuku-kukunya, siap untuk mencabik kedamaian mereka kapan saja.

​Sementara itu, di dalam rumah, Jalaludin sedikit tersenyum dalam tidurnya, seolah ia tahu bahwa namanya baru saja disebutkan di sebuah gedung pencakar langit yang sangat jauh.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!