NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah malam itu, memastikan Ghea bisa tidur, Mike menjadi target balas dendamku kali kali ini. Aku tak akan membiarkan penghianat tersenyum bebas mencium setiap lembar uangnya sedangkan Ghea harus hidup dalam pelarian sepanjang umurnya. Aku resmi mulai melakukan misi keduaku setelah pulang dari Rusia, balas dendam pada Mike.,,

Enam bulan bukanlah waktu yang lama untuk menghancurkan reputasi pria seperti Mike, kecuali kau tahu di mana celahnya. Aku bekerja di ruang gelap kamar sewaku di Yogyakarta, diterangi cahaya biru monitor.

​Aku tidak meretas agensi secara brutal—itu akan memicu alarm. Aku menggunakan metode Slow-Drip Exfiltration. Aku menulis skrip Python yang menyusup ke dalam server komunikasi internal agensi melalui patch keamanan yang belum diperbarui. Setiap malam, pukul 03.00, skrip itu mencuri satu fragmen data kecil yang tidak berarti: daftar kontak, catatan perjalanan dinas, lalu alamat IP.

​Setelah dua bulan, aku punya gambaran lengkap tentang "kehidupan paralel" Mike. Dia menggunakan protokol komunikasi Signal-Encrypted yang dianggap tidak bisa ditembus oleh siapa pun. Tapi, Mike adalah pria yang mencintai kenyamanan. Dia menghubungkan akun Signal-nya ke cloud pribadi demi sinkronisasi data antar perangkat.

​Itu adalah kesalahannya yang fatal.

​Aku tidak meretas Signal. Aku meretas Cloud pribadinya. Di sana, aku menemukan "Kotak Pandora": folder tersembunyi bernama “Insurance”. Isinya membuat tanganku gemetar. Foto Ghea yang diambil saat dia ada di Tora-Tora, laporan intelijen tentang aktivitas Ghea di s, dan yang paling memuakkan: percakapan dengan Marko.

​Marko: "Aku butuh akses ke lokasi asetmu di Jogja. Pastikan dia tidak curiga."

Mike: "Harganya naik. Dia bukan sekadar aset lagi, dia adalah umpan untuk Sam kalau-kalau hantu itu masih hidup."

​Melihat itu, aku tidak merasa takut. Aku merasa jijik. Aku mulai menyalin setiap bit data itu ke server yang tersebar di lima negara berbeda. Jika aku mati, sistem akan otomatis mengirimkannya ke meja Direktur Agensi dan FBI.

​Restoran di Jakarta itu dingin. Aku sudah duduk di sana selama dua puluh menit saat Mike muncul. Dia masih mengenakan setelan jas yang sama, tapi kali ini wajahnya tampak lebih tegang. Dia merasa ada yang salah dengan sistemnya, tapi dia tidak tahu apa.

​Dia duduk di depanku, langsung mengeluarkan rokok. "Sam, kalau kau masih hidup, ini akan jadi akhirmu. Agensi sudah tahu ada kebocoran, dan mereka mencurigai timmu."

​Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya. Aku membiarkan keheningan itu menyiksanya. Perlahan, aku mengeluarkan sebuah tablet tipis dan meletakkannya di meja. Aku tidak membuka folder rahasia, aku memutar satu rekaman suara yang belum pernah dia dengar.

​Suara Mike sendiri, saat dia tertawa dengan Marko di telepon tentang harga nyawa Ghea.

​Wajah Mike berubah pucat pasi. Dia melirik ke sekeliling, tangannya gemetar saat mencoba merogoh pistol di balik pinggangnya. Tapi, aku sudah lebih dulu menaruh jariku di atas sensor kecil di meja itu, remote trigger untuk firewall agensi yang telah kumatikan total.

​"Jangan," kataku pelan, suaraku rendah namun penuh getaran emosi. "Jika kau menarik pistol itu, satu-satunya hal yang akan keluar adalah notifikasi ke seluruh dunia bahwa Mike, agen senior agensi, adalah pengkhianat dan kaki tangan sindikat."

​Aku berdiri, meja kayu tua itu berderit. Aku tidak bisa lagi menahan diri. Aku mencengkeram kerah bajunya dan menariknya mendekat, membuat wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahku.

​"Kau tahu berapa banyak malam yang kuhabiskan memikirkan apakah Ghea masih bernapas karena ulahmu?" teriakku, suaraku menggelegar di restoran kosong itu. Aku melepaskan cengkeramanku dan menghantamkan tinjuku ke meja, memecahkan gelas kopinya.

​"Kau menjualnya seperti barang dagangan, Mike! Dia manusia! Dia pacarku!"

​Mike mencoba berbicara, tapi aku menampar wajahnya dengan punggung tanganku. Itu bukan tamparan seorang agen, itu tamparan seorang laki-laki yang hancur.

​"Kau pikir kau bisa mengendalikan nasib kami? Kau pikir kami hanya angka di layar monitor?" Aku mendekatinya lagi, kali ini aku mengeluarkan foto Ghea dari saku dan meletakkannya di depan matanya. "Lihat dia! Dia tidak tahu apa-apa! Dia hanya ingin hidup tenang, dan kau... kau yang membawa neraka ke dalam hidupnya demi uang!"

​Aku menghantamkan kepalanya ke meja kayu yang keras—tidak sampai membunuhnya, hanya cukup untuk membuatnya merasa sakit yang luar biasa.

​"Dengarkan aku baik-baik," bisikku di telinganya, suaraku sedingin es. "Kau tidak akan mati hari ini. Kau akan hidup dengan sisa kariermu yang hancur, kau akan hidup dengan menyadari bahwa setiap detik, setiap agen yang pernah kau kerjai, setiap musuh yang kau ciptakan, akan memburumu karena data yang baru saja kusebar. Kau tidak punya tempat untuk lari."

​Aku melepaskan cengkeramanku dan mendorongnya hingga jatuh dari kursi. Mike terkapar di lantai, terengah-engah, hancur secara mental dan fisik.

​"James," kataku, menyebutkan nama baruku sendiri untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. "Itu namaku. Dan kau baru saja dihancurkan oleh pria yang kau anggap sudah mati."

​Aku berbalik dan melangkah pergi. Saat aku berjalan keluar, aku mendengar sirine dari kejauhan. Bukan polisi, tapi tim internal agensi yang datang untuk membersihkan "sampah" mereka sendiri. Mike tidak akan pernah keluar dari ruangan itu sebagai pria bebas.

​Aku berjalan masuk ke dalam hujan, merasa seolah beban seberat gunung terangkat dari bahuku. Akhirnya, Ghani telah membalaskan dendamnya. Ghea, di Yogyakarta sana, tidak akan pernah tahu bahwa iblis yang membayanginya telah dikalahkan oleh hantu dari masa lalunya.

Kini aku bisa bersiap untuk misi-misiku selanjutnya, misi yang tak akan pernah melibatkan Ghea lagi. Aku membiarkannya pergi dari kehidupanku. Marko memberikanku pelajaran mahal, bahwa terkadang sendiri jauh lebih baik daripada hidup dengan cinta yang hanya bisa melihat dari kejauhan. Kini aku bertransformasi menjadi "James", sedangkan "Sam" sudah mati. Jika "Sam" dingin, maka "James" adalah kehangatan. Aku membawa sisa-sisa kehangatan Ghea dan Tora-Tora pada karakterku.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!