"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: KODE BARU, PANGGILAN BARU
Minggu pertama setelah pembersihan besar-besaran di New Ardent terasa sangat damai. Tidak ada alarm peringatan peretasan, tidak ada sniper di bukit, dan yang paling penting: tidak ada lagi Aldric Halim yang mengganggu ketenangan pagi gue.
Gue sedang duduk di meja kerja penthouse, fokus menatap barisan kode untuk memperkuat sistem keamanan perbankan Winchester. Rambut gue dicepol asal-asalan, dan gue masih memakai kaos kebesaran milik Keano yang baunya sangat maskulin.
Tiba-tiba, gue merasakan sepasang lengan kekar melingkar di leher gue. Sebuah dagu diletakkan dengan manja di bahu kiri gue. Gue hampir refleks menyikut perut orang itu kalau saja gue nggak mencium aroma parfum *sandalwood* yang sangat gue kenal.
"Kerja terus," bisik Keano, suaranya terdengar serak dan—tunggu, apa ini?—sedikit merajuk?
"Keano, lepasin. Gue lagi kunci enkripsi data server Singapura. Satu digit salah, miliaran melayang," kata gue tanpa menoleh, meski jantung gue sebenernya mulai disko di dalem sana.
Bukannya lepas, Keano malah makin erat memeluk gue. Dia mengendus ceruk leher gue, bikin gue merinding disko. "Miliaran itu bisa gue cari lagi dalam sejam, Arcelia. Tapi waktu lo buat gue itu langka."
Gue berhenti mengetik. Gue memutar kursi gue, membuat Keano terpaksa melepaskan pelukannya dan berdiri di depan gue. Gue menatapnya dari bawah ke atas. Pria yang biasanya pake setelan jas tiga lapis dan tatapan membunuh ini, sekarang cuma pake celana training dan kaos polos, matanya sayu kayak bayi minta digendong.
"Lo... lo sakit? Apa ada peluru nyasar yang kena otak lo kemarin pas di dermaga?" tanya gue sambil memegang keningnya.
Keano menangkap tangan gue, lalu mengecup telapak tangan gue lama. "Gue sehat. Gue cuma ngerasa, hubungan kita ini terlalu kaku. Kita udah ngelewatin hidup dan mati bareng-bareng, tapi lo masih manggil gue kayak lagi di rapat pemegang saham."
Gue mengerutkan kening. "Terus gue harus manggil lo apa? Tuan Besar? Yang Mulia?"
Keano menggeleng. Dia duduk di pinggiran meja kerja gue, menarik kursi gue makin dekat ke arahnya. "Gue mau panggilan khusus. Sesuatu yang cuma lo yang boleh pake. Dan gue juga mau manggil lo dengan sesuatu yang... manis."
Gue hampir tersedak ludah sendiri. "Manis? Keano, lo tau kan gue ini Arcelia? Gue bisa ngeratain sistem keamanan Pentagon dalam sepuluh menit. Gue nggak cocok sama yang manis-manis."
"Gue nggak peduli," sahutnya keras kepala. "Gimana kalau 'Honey'?"
"Gue bakal muntah," jawab gue jujur.
"Sayang?"
"Terlalu pasaran. Kayak panggilan Shania ke semua cowok koleksinya."
Keano tampak berpikir keras. Dia menatap gue dalam-dalam, lalu sebuah senyum tipis yang nakal muncul di bibirnya. "Kalau gitu... gimana kalau gue panggil lo Lia? Singkat, tapi cuma gue yang boleh manggil itu. Dan buat gue... gimana kalau lo panggil gue Ké?"
Gue terdiam sejenak. Lia dan Ké. Sederhana, tapi kedengarannya memang intim. Tapi dasar sifat bar-bar gue nggak mau kalah begitu aja.
"Gue punya ide yang lebih bagus," kata gue sambil menyeringai. "Gue bakal panggil lo **'Beruang'**. Karena lo besar, kuat, tapi kalau lagi manja kayak gini bener-bener mirip beruang madu."
Keano melongo. "Beruang? Arcelia, reputasi gue sebagai penguasa Winchester bisa hancur kalau orang tau gue dipanggil Beruang."
"Oh, tadi lo bilang nggak peduli sama pendapat orang lain, kan?" gue menantangnya. "Atau lo lebih suka gue panggil 'Ké' tapi gue nggak mau nurut sama perintah lo?"
Keano menghela napas pasrah. Dia menarik gue masuk ke dalam pelukannya lagi, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher gue. "Oke, terserah lo. *Lia*... Beruang nggak keberatan selama itu dari lo."
Gue ketawa renyah. Rasanya aneh tapi menyenangkan. Pria paling ditakuti di New Ardent ini baru saja menyerah pada keinginan istrinya yang bar-bar.
"Nah, sekarang Beruang harus biarin gue kerja sebentar lagi," kata gue sambil menepuk-nepuk kepalanya yang berambut legam itu.
"Nggak mau," gumam Keano. Dia malah mengangkat tubuh gue dari kursi kerja dan menggendong gue menuju sofa besar di ruang tengah. "Kerjanya lanjut besok. Malem ini, Beruang mau istirahat sambil meluk Lia. Nggak ada protes."
Gue cuma bisa geleng-geleng kepala. Ternyata, di balik tembok es yang tebal itu, ada sisi manja yang luar biasa yang selama ini dia simpen sendiri. Dan gue ngerasa terhormat karena cuma gue yang bisa liat sisi itu.
Sambil nyender di dada bidangnya yang luas di atas sofa, gue mulai ngerasa kalau hidup baru gue sebagai Arcelia Mirelle Winchester ini nggak bakal ngebosenin. Kalaupun ada masalah di depan, gue tau Beruang gue bakal selalu ada di belakang buat jagain punggung gue—atau sekadar minta peluk kalau dia lagi capek.
"Lia..." panggilnya pelan, hampir bisik-bisik.
"Hmm?"
"Makasih udah bangun di tubuh itu. Makasih udah nyelamatin gue dari kesepian ini."
Gue tersenyum, menutup mata gue dengan rasa damai yang hakiki. "Makasih juga udah tau siapa gue sebenernya, Ké."
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘