Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Isi Kotak Hitam
Saat tutup kotak hitam itu bergerak sedikit, Wira merasakan seluruh ruangan seperti ikut menahan napas.
Ia tidak langsung membuka. Jari-jarinya hanya menekan ukiran di permukaan tutup, sementara matanya terpaku pada garis-garis tua yang nyaris aus dimakan waktu. Ki Rangga berdiri di sampingnya, diam dan waspada. Jaya menoleh ke arah tangga, memastikan suara dari atas belum terlalu dekat. Panca justru mundur setengah langkah, wajahnya tegang seolah kotak itu bisa meledak kapan saja. Raden Seta menatap benda itu dengan sorot mata yang sulit dibaca, campuran lega, cemas, dan sesuatu yang lebih berat.
“Pelan-pelan,” kata Ki Rangga.
Wira mengangguk. Ia menarik kait kecil di sisi kotak. Bunyi gesekan halus terdengar, lalu tutupnya terbuka sedikit. Udara lama yang terperangkap di dalam keluar perlahan, membawa bau kertas tua, minyak kering, dan tanah yang sangat lama tertutup. Panca langsung meringis.
“Bau benda yang terlalu lama disimpan,” gumamnya.
Jaya menatapnya sekilas. “Itu karena yang disimpan penting.”
Wira membuka tutup itu lebih lebar.
Di dalam kotak, terlipat rapi selembar kain tipis berwarna gelap, sebuah bundel kecil berisi naskah tua, dan satu benda terakhir yang membuat Wira langsung membeku: sebuah cincin logam dengan ukiran simbol yang sama seperti pada lempeng kayu dan keping logam. Cincin itu tidak besar, tampak tua, dan agak kusam. Namun ada aura aneh pada benda itu, seperti sesuatu yang bukan sekadar perhiasan, melainkan tanda kepemilikan atau pengesahan.
Wira menatapnya lama.
“Itu…” suaranya hampir tak terdengar.
Raden Seta mengangguk pelan. “Tanda utuh.”
Panca mengernyit. “Tanda utuh apanya?”
Raden Seta menunjuk cincin itu. “Benda-benda yang kalian pegang selama ini bukan hanya kunci. Mereka bagian dari satu warisan. Dan cincin itu adalah penutupnya.”
Wira menelan ludah. Ia menatap cincin lalu mengulurkan tangan, tetapi Ki Rangga menahan pergelangan tangannya sebentar.
“Jangan langsung dipakai,” kata gurunya.
Wira menoleh. “Kenapa?”
“Karena kita belum tahu dampaknya.”
Jaya menatap cincin itu, lalu berkata, “Tapi kita tahu kalau benda ini memang yang dimaksud dalam petunjuk.”
Raden Seta mengangguk. “Benar. Kalau semua bagian disatukan, cincin ini harus menjadi pengikat.”
Panca menyandarkan punggung ke dinding. “Aku tidak suka kalimat ‘pengikat’.”
Wira mengabaikannya. Ia mengangkat cincin itu perlahan. Beratnya lebih dari yang terlihat. Di bagian dalam lingkaran terdapat goresan kecil yang hampir tidak terbaca. Wira menyipitkan mata dan membaca pelan tulisan yang terukir di dalamnya.
“Yang tersisa harus kembali pada yang berhak.”
Ki Rangga menatapnya. “Itu memang tulisan lama.”
Wira merasakan tenggorokannya mengencang. “Berhak atas apa?”
Raden Seta menarik napas. “Atas nama, atas jalur, dan atas tempat yang dulu ditutup.”
Panca langsung mendengus. “Nama lagi. Tempat lagi. Kalian sungguh suka membuat hidup rumit.”
Jaya tidak menanggapi. Ia justru mengambil naskah tua yang terlipat di dalam kotak. Bundel itu dibungkus kain tipis, dan ketika dibuka, tampak lembar-lembar kertas yang sudah menguning dan rapuh. Tulisan di atasnya rapi, penuh tanda kecil di pinggir, seolah ditulis oleh orang yang sangat hati-hati.
Wira menatap naskah itu dengan jantung berdebar. “Itu tulisan ibu?”
Raden Seta mengangguk. “Sebagian besar, ya.”
Wira mengulurkan tangan, tetapi Raden Seta memberi isyarat agar ia menunggu. “Ada satu bagian yang harus dibaca bersama. Jangan terburu-buru.”
Ki Rangga mendekat. “Bacakan.”
Raden Seta membuka halaman pertama, lalu mulai membaca dengan suara pelan namun jelas.
“Jika cincin ini ditemukan, maka jalur lama tidak boleh dibuka sembarang orang. Tiga kunci hanya akan menunjukkan arah, bukan membuka kebenaran sepenuhnya. Yang mencari karena kuasa akan tersesat. Yang mencari karena dendam akan hancur. Yang datang karena darah akan diuji.”
Wira langsung menatap naskah itu.
“Darah akan diuji?” ulangnya pelan.
Raden Seta menatapnya singkat, lalu melanjutkan membaca.
“Tempat yang dijaga bukan hanya ruang simpan, melainkan bukti. Bukti bahwa nama lama pernah dihapus, bahwa waris pernah dipindah, dan bahwa seseorang pernah dipaksa meninggalkan haknya agar yang lain tetap berdiri.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit.
Panca menatap Wira, lalu ke naskah. “Ini semakin besar dari yang kita kira.”
Jaya mengangguk perlahan. “Ini bukan cuma soal benda. Ini soal sejarah yang sengaja dibuang.”
Ki Rangga mengambil halaman lain dan melihat simbol kecil di pinggirnya. “Ada peta jalur tambahan.”
Raden Seta mengangguk. “Itulah yang kuharap kalian lihat.”
Wira menatap naskah itu sambil merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Ada rasa marah, sedih, dan bingung bercampur menjadi satu. Ibunya tidak sekadar menyembunyikan sesuatu. Ia menulis peringatan. Ia memang tahu bahwa rahasia ini bisa dipakai untuk memanipulasi, memburu, atau menghancurkan. Dan Wira ternyata berada di tengahnya.
Ia menatap Raden Seta. “Kalau nama lama pernah dihapus, maksudnya apa?”
Raden Seta diam sejenak. “Artinya ada garis yang sengaja diputus. Nama, hak, dan kedudukan yang seharusnya ada di tangan tertentu dipindah ke tangan lain.”
Wira menegang. “Jadi aku…?”
Ki Rangga menyela dengan tenang, “Kau mungkin bagian dari garis itu.”
Wira memejamkan mata sebentar. Ia tidak ingin mendengar jawaban setengah. Ia ingin pasti. Tetapi malam ini, kepastian justru datang dalam bentuk yang lebih menyakitkan: ia memang terhubung. Ia memang bukan orang biasa dalam cerita ini. Dan itulah sebabnya para pengejar terus mencari dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari atas.
Bukan sekadar langkah.
Seperti sesuatu didorong atau dijatuhkan.
Panca langsung menegakkan tubuh. “Mereka sudah masuk ke lorong bawah.”
Jaya mengarah ke pintu batu sempit di sisi ruangan. “Kita tidak punya banyak waktu.”
Raden Seta menatap Wira. “Simpan cincin itu.”
Wira menatap benda di tangannya. “Kalau ini penutupnya, kenapa tidak langsung kita pakai?”
“Karena kau harus mengerti dulu apa yang sedang dibuka,” jawab Raden Seta. “Kalau tidak, kebenaran bisa jadi bumerang.”
Ki Rangga mengangguk. “Ikuti dia.”
Wira menarik napas dalam lalu menyelipkan cincin itu ke dalam kain yang tadi membungkus kotak. Ia menggenggamnya erat, lalu mengikuti Ki Rangga bergerak ke arah pintu samping. Jaya lebih dulu memeriksa lorong yang mengarah ke luar. Suara dari atas semakin jelas. Ada orang berbicara cepat, ada yang memerintah, dan ada bunyi benda logam yang bergesekan dengan batu.
“Cepat,” desis Jaya.
Mereka bergerak lagi. Ruang bawah itu ternyata memiliki jalur kecil di belakang pilar batu yang mengarah ke lorong sempit lainnya. Raden Seta menuntun mereka masuk. Jalurnya lebih rendah, sehingga mereka harus membungkuk sepanjang jalan. Dindingnya kasar, udara makin sempit, dan bau tanah semakin kuat.
Wira berjalan di tengah, menggenggam kain berisi cincin dan beberapa lembar naskah kecil yang sempat ia ambil. Di sampingnya, Panca terus mengusap lengan sendiri seperti berusaha meyakinkan tubuhnya bahwa ia masih hidup. Ki Rangga di depan, Jaya di belakang. Raden Seta paling akhir, memastikan lorong tetap tertutup setelah mereka lewat.
Setelah beberapa belokan, lorong itu tiba di lubang batu yang mengarah naik. Bukan tangga, tetapi semacam celah vertikal yang bisa dipanjat dengan bantuan tonjolan batu. Di atas, samar terlihat cahaya malam.
Raden Seta menunjuk ke atas. “Keluar di sisi belakang bukit.”
Panca menatap celah itu dengan wajah pahit. “Aku mulai rindu tempat yang cuma harus ditutup pintunya.”
Jaya menyeringai kecil. “Kau bisa duduk di sana nanti kalau kita selamat.”
“Kalau.”
“Ya, kalau,” kata Jaya.
Ki Rangga sudah mulai memanjat lebih dulu. Wira menyusul dengan tangan gemetar. Batu-batu kecil melukai telapak tangan dan ujung jarinya, tapi ia terus naik. Di belakang, Panca beberapa kali mengeluh karena pijakan sempit, tetapi tetap bertahan. Saat Wira mencapai bagian atas, angin malam langsung menerpa wajahnya. Ia mendongak.
Mereka keluar di balik semak besar di sisi bukit, jauh dari bangunan utama dan cukup terlindung oleh batu-batu tinggi. Di bawah, rumah singgah tua tampak jauh sekali. Namun dari sana, Wira masih bisa melihat obor bergerak dan bayangan orang-orang yang sibuk.
Mereka berhasil keluar, tapi pengejaran belum berakhir.
Ki Rangga segera berjongkok di balik batu. “Mereka mungkin masih menyisir jalur bawah.”
Raden Seta mengangguk. “Dan saat sadar kita tidak ada di sana, mereka akan naik menyebar.”
Panca menghela napas panjang. “Jadi kita masih dikejar.”
Wira menatap kain yang digenggamnya. “Tapi sekarang kita punya ini.”
Jaya menatapnya. “Dan sekarang kita punya arah yang lebih jelas.”
Ki Rangga mengangguk perlahan. “Pertanyaan berikutnya, ke mana?”
Raden Seta menatap Wira. “Ke tempat yang disebut dalam naskah.”
Wira membuka satu lembar kertas kecil yang sempat ia ambil dari kotak. Di sana ada gambar jalur sederhana, dengan satu titik ditandai bulat tebal dan tulisan kecil di bawahnya. Tulisan itu hampir pudar, tetapi masih terbaca.
“Pintu ketiga.”
Wira menatap tulisan itu lama. “Pintu ketiga?”
Raden Seta mengangguk. “Itulah tempat yang selama ini kita cari.”
Panca mengernyit. “Kita sudah punya tiga kunci, tiga bagian, dan sekarang pintu ketiga. Aku mulai pusing.”
Jaya menatapnya. “Kau tidak harus paham semuanya sekarang.”
“Bagus,” balas Panca. “Karena aku memang tidak paham.”
Wira menatap naskah itu lagi, lalu mengalihkan pandangan ke Raden Seta. “Apa yang ada di pintu ketiga?”
Raden Seta terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Nama asli tempat ini. Dan alasan mengapa ibumu bersembunyi.”
Wira menelan ludah. Angin malam berhembus melalui celah batu, membuat dedaunan berdesir. Di kejauhan, suara orang-orang masih terdengar samar. Mereka mungkin belum menemukan jalur keluar, tetapi itu hanya soal waktu.
Ki Rangga menepuk bahu Wira sekali. “Kita harus bergerak sebelum mereka naik ke sini.”
Wira mengangguk. Ia meremas kain berisi cincin sampai buku jarinya memutih. Kini ia tahu mereka bukan sekadar membawa benda warisan. Mereka membawa bukti. Bukti bahwa selama ini ada sesuatu yang sengaja ditutup, dipindahkan, dan mungkin direbut dari garis yang seharusnya.
Dan yang paling membuatnya diam adalah satu pikiran yang terus menempel sejak membaca naskah ibunya: jika tempat ini menyimpan bukti, maka ibunya bukan hanya korban. Ia pernah tahu banyak. Mungkin terlalu banyak.
Jaya memandang ke arah timur bukit. “Kalau pintu ketiga ada di peta, kita harus menemukan jalurnya sebelum fajar.”
Raden Seta mengangguk. “Dan sebelum orang lain membaca arah ini.”
Panca menyandar sebentar pada batu besar. “Aku berharap pintu ketiga benar-benar terakhir.”
Ki Rangga menjawab singkat, “Jangan berharap terlalu banyak.”
Wira hampir tersenyum, tapi rasa tegang lebih kuat. Ia menatap langit gelap di atas bukit, lalu kembali pada kain kecil di tangannya. Cincin itu terasa berat, bukan karena logamnya, tetapi karena artinya.
Malam belum selesai.
Dan rahasia yang disimpan ibunya baru saja membuka mulutnya sedikit.
bukin pusing aja