Mencintai sahabat Hazel adalah tantangan terbesar dalam hidup Andrea. Sejak kecil, Luq selalu ada di sana, begitu dekat namun terasa sulit digapai. Kini, saat masa SMA menuntut mereka untuk memilih jalan hidup masing-masing, rintangan mulai bermunculan satu per satu.
Antara janji yang belum terucap dan cita-cita yang harus diraih, Andrea harus belajar bahwa cinta terkadang berarti harus berani melepaskan... atau justru berjuang lebih keras. Sanggupkah mereka mempertahankan ikatan itu saat jarak dan waktu mulai menguji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14: Di Ambang Penentuan
Dua bulan telah berlalu sejak keberhasilan aplikasi "BengkelLog" di bengkel Pak Edi. Waktu terasa bergerak begitu cepat, seolah-olah ditarik oleh gravitasi tugas-tugas sekolah yang menumpuk. Kini, suasana rumah dan sekolah berubah total.
Ketegangan menyelimuti udara; ini adalah minggu Ujian Akhir Semester (UAS).
Bagi anak kelas 8 SMP seperti diriku, ini bukan sekadar ujian kenaikan kelas. Ini adalah pondasi. Nilai rapor semester ini adalah salah satu berkas terpenting yang akan menentukan apakah aku bisa melangkah ke jenjang selanjutnya dengan track record yang layak untuk beasiswa internasional itu.
Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Lampu kamarku satu-satunya yang masih menyala di rumah ini. Di depanku, buku HSK Level 1 dan buku matematika sekolah terbuka lebar, bertumpuk dengan catatan-catatan rumus yang kubuat sendiri.
"Rea," suara Kak Hazel memecah keheningan. Dia membuka pintu sedikit, membawakan segelas susu hangat. "Lo masih belajar? Besok ujian Matematika, kan? Tidur gih."
"Dikit lagi, Kak. Aku harus hafal bagian tata bahasa Mandarin ini buat latihan mandiri," jawabku sambil mengusap mata yang mulai perih.
Kak Hazel duduk di tepi tempat tidur, menatapku dengan sorot mata yang teduh. "Lo udah berusaha keras. Gue bangga sama lo. Jangan sampai pas ujian malah blank karena kurang tidur."
"Aku cuma takut nggak maksimal, Kak. Aku mau masuk kelas 9 nanti dengan nilai yang bikin sekolah nggak ragu buat rekomendasiin aku ikut program beasiswa," kataku jujur.
Besok paginya, aku bertemu dengan Luq di bengkel sebelum berangkat sekolah. Dia juga terlihat kelelahan, tapi ada semangat yang berbeda. Di meja kerjanya, dia tidak hanya memegang kunci pas, tapi juga sebuah buku tebal Bedah Soal Masuk PTN.
"Gimana, siap buat ujian?" tanya Luq tanpa basa-basi saat melihatku datang.
"Tegang, Kak. Tapi aku rasa aku udah siap," jawabku sambil menyesap sebotol yang kubeli di jalan. "Kakak sendiri? Ujian sekolah kan juga lagi padat, ditambah persiapan PTN?"
Luq tersenyum, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding bengkel yang kotor. "Gue ngerasa kayak lagi debugging sistem yang error total. Banyak yang harus diperbaiki di otak gue. Tapi... entah kenapa, gue ngerasa lebih tenang dibanding bulan-bulan lalu."
"Karena Kakak sekarang punya tujuan yang jelas," potongku.
"Mungkin," Luq mengangguk. "Tujuan itu ngerubah rasa lelah jadi 'bahan bakar'. Dulu, gue kerja buat makan. Sekarang, gue kerja buat modal kuliah."
Kami terdiam sejenak, mendengarkan suara bising bengkel yang bagi kami sekarang terdengar seperti irama penyemangat.
Saat ujian berlangsung selama seminggu penuh, hidupku hanya berisi tiga hal: sekolah, belajar, dan doa. Aku tidak lagi memikirkan hal lain. Setiap soal Matematika yang rumit, aku bayangkan sebagai bug dalam aplikasi BengkelLog yang harus kupecahkan. Setiap soal Bahasa Indonesia, aku bayangkan sebagai cara membangun narasi untuk esai beasiswaku.
Hari terakhir ujian adalah yang paling emosional. Saat bel tanda berakhirnya ujian berbunyi, aku merasa seolah-olah beban ribuan kilogram di pundakku baru saja diangkat. Aku berjalan keluar kelas dengan langkah ringan, disambut oleh Vino yang sudah berdiri di depan gerbang dengan wajah berseri-seri.
"Gila, Rea! Akhirnya merdeka!" seru Vino sambil melemparkan tasnya ke atas.
Aku tertawa lepas. Kami, sekelompok siswa yang ambisius namun lelah, akhirnya bisa bernapas.
Sore harinya, kami berkumpul di bengkel. Bukan untuk belajar, tapi untuk merayakan selesainya perjuangan kami. Pak Edi bahkan membelikan kami martabak manis ukuran besar sebagai apresiasi.
"Luq, Rea, gimana ujiannya?" tanya Pak Edi sambil mengelap tangannya dengan kain penuh oli.
"Lancar, Pak!" jawabku dan Luq serempak.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang cerah, aku menatap Kak Luq. Kami berdua telah melewati fase "pengujian" yang paling berat semester ini. Kami tidak hanya menguji otak kami dengan angka dan huruf, tapi menguji ketahanan mental kami.
Aku menyadari satu hal: Ujian sekolah ini hanyalah satu dari sekian banyak ujian yang akan kuhadapi dalam perjalananku menuju China. Tapi setelah melewati UAS ini dengan kondisi mental yang stabil—didukung oleh mentor seperti Luq dan kakak seperti Hazel—aku tahu aku punya peluang.
"Kak," bisikku pada Luq saat kami duduk santai di depan bengkel. "Kalau nanti hasil ujian kita bagus, kita harus bikin target baru. Target yang lebih tinggi."
Luq tersenyum, menatap bintang-bintang di atas bengkel. "Target buat masa depan, ya?"
"Iya. Masa depan yang kita bangun sendiri, bukan yang dikasih sama nasib."
Malam itu, kami tidak lagi bicara tentang cara bertahan hidup. Kami bicara tentang impian. Dan untuk pertama kalinya, impian itu tidak lagi terasa seperti fatamorgana. Ia terasa seperti sesuatu yang bisa disentuh, sesuatu yang nyata, sesuatu yang sedang kami jemput, langkah demi langkah.