NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Kepergian di Balik Fajar

​Pagi masih sangat buta saat Vanya sudah bersiap. Dengan setelan tweed elegan dan koper kecil di tangannya, ia melangkah turun menuju mobil yang sudah menunggu untuk membawanya ke bandara. Ia tidak membangunkan Devan. Baginya, tidak ada gunanya berpamitan pada seseorang yang menganggap keberadaannya hanya sebagai cadangan saat kekasihnya pergi.

​Pukul sembilan pagi, sinar matahari menembus celah gorden kamar utama. Devan menggeliat, tangannya meraba sisi sofa di dekat balkon yang kini sudah kosong dan tertata rapi. Ia duduk tegak, mengucek matanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar.

​"Kemana dia? Kok nggak ada?" gumam Devan heran. Biasanya, sesibuk apa pun Vanya, ia masih bisa mendengar suara gemericik air atau langkah kakinya di dalam kamar.

​Devan bangkit dan turun ke bawah dengan kaos santai. Di ruang makan, ia melihat Olivia sedang duduk memandangi roti bakarnya dengan wajah yang sangat muram.

​"Ma, lihat Vanya?" tanya Devan sambil menuang air putih.

​Olivia mendongak, matanya yang tajam langsung menatap Devan dengan penuh kejengkelan. "Mana ku tau! Dia sudah pergi ke bandara sejak subuh tadi. Katanya mau ke Paris untuk pembukaan cabang baru."

​Devan tertegun. "Ke Paris? Sendirian?"

​"Tentu saja dengan asisten dan pengawalnya! Kamu itu bagaimana sih? Istri sendiri pergi urusan bisnis besar ke Eropa tapi kamu malah baru bangun jam segini!" bentak Olivia tiba-tiba, menumpahkan semua kekesalannya yang terpendam sejak jabatannya dan jabatan Karlo dipangkas.

​"Ma, kenapa jadi marah ke Devan?"

​"Ya iyalah Mama marah! Lagian kamu tuh harusnya yang jadi pemimpin Jacob Group sekarang! Kakakmu sudah diturunkan jabatannya, harusnya itu jadi kesempatanmu untuk ambil alih! Dasar anak bodoh nggak tau di untung, cuma bisa hura-hura! Mama capek lihat kamu yang cuma jadi penonton di rumah sendiri! Bikin kesel aja, pergi sana!"

​Olivia membanting serbetnya ke atas meja dan bergegas pergi meninggalkan ruang makan, menyisakan Devan yang mematung dengan gelas di tangan.

​Devan mendengus kesal. Ia meletakkan gelasnya dengan kasar dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya. "Apaan sih? Pagi-pagi malah marah-marah nggak jelas," gerutunya.

​Ia membanting tubuhnya kembali ke atas tempat tidur. Namun, suasana kamar yang biasanya terasa nyaman kini mendadak terasa terlalu luas dan sunyi. Ia melirik ke arah sofa tempat Vanya tidur semalam. Ada aroma parfum soft floral yang masih tertinggal tipis di sana—aroma yang entah mengapa membuatnya merasa semakin asing dengan hidupnya sendiri.

​Vanya sedang berada di atas awan menuju pusat mode dunia untuk memimpin imperium ayahnya, sementara dirinya di sini hanya menjadi sasaran amuk ibunya yang kehilangan kemewahan. Devan meraih ponselnya, mencoba menghubungi Viona lagi, namun tetap saja hasilnya nihil. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Devan Jacob merasakan sebuah kehampaan yang nyata, sebuah rasa sesak karena menyadari bahwa ia benar-benar tidak dibutuhkan oleh siapa pun saat ini

​Devan mondar-mandir di kamarnya. Rasa kesal setelah dimarahi ibunya bercampur dengan rasa penasaran yang aneh. Ia meraih ponselnya dan menekan nomor Vanya. Ia tidak berharap Vanya akan menjawab dengan manis, tapi ia setidaknya ingin tahu apakah istrinya itu sudah sampai atau belum.

​Panggilan tersambung. Namun, bukan suara lembut nan kaku milik Vanya yang terdengar, melainkan suara berat seorang pria.

​"Halo..."

​Mata Devan membelalak. "Siapa ini?! Istriku mana?" tanya Devan dengan nada bicara yang langsung naik.

​Tut... tut... tut...

​Panggilan diputus secara sepihak. Devan menatap layar ponselnya dengan wajah memerah. "Sial! Kenapa diputus?! Siapa laki-laki itu?"

​Pikiran Devan langsung melayang ke mana-mana. Apa Vanya punya pria lain di sana? Atau itu rekan bisnisnya? Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi Sesilia, sekretaris korporat yang kini menjadi tangan kanan Vanya.

​"Halo, Sesil! Vanya ke Paris dengan siapa? Dan dia menginap di mana?" cecar Devan tanpa basa-basi.

​"Pak Hans dan tim legal. Mereka menginap di Hotel Plaza Athénée," jawab Sesil bingung.

​"Sesil, belikan aku tiket ke Paris sekarang! Penerbangan paling cepat!"

​"Apa?!" seru Sesil di seberang telepon. "Tapi..."

​"Kenzi sedang dirumahkan oleh Vanya, jadi tidak ada yang bisa membantuku selain kamu! Cepat carikan tiketnya!"

​"Uangnya? ucap Sesil ragu.

​"Pakai uangmu dulu! Aku gak ada uang. Cepat, jangan pakai lama!" perintah Devan dengan nada manja sekaligus memaksa yang menjadi ciri khasnya.

​Sesilia menghela napas panjang di seberang sana. "Baiklah, kita bertemu di bandara satu jam lagi."

​Satu jam kemudian, di Terminal 3 Bandara, Sesilia sudah menunggu dengan wajah lelah. Begitu melihat Devan berlari menghampirinya, ia langsung menyodorkan selembar tiket business class.

​"Nih, tiketnya. Tapi ingat, aku akan meminta Vanya memotong jatah bulananmu untuk mengganti uang ini," ancam Sesil.

​"Atur saja nanti! Mana informasi hotelnya?"

​"Ini nomor kamar Vanya," Sesil menyerahkan secarik kertas. Ia menatap Devan dari atas ke bawah. "Hei Tuan Manja... kenapa tiba-tiba begini? Sejak kapan Anda peduli istrimu?"

​Devan menyambar tiket dan kertas itu, lalu memakai kacamata hitamnya dengan gaya angkuh. "Hanya ikuti feeling saja. Dan satu lagi, rahasiakan ini dari Vanya, oke? Jangan sampai dia tahu aku menyusul."

​"Terserah Anda lah," gumam Sesil sambil memperhatikan punggung Devan yang menghilang di balik gerbang keberangkatan.

​Di dalam pesawat, Devan tidak bisa duduk tenang. Bayangan suara pria yang mengangkat telepon Vanya terus berputar di kepalanya. Ia tidak tahu apakah ini rasa cemburu atau sekadar ego yang terluka karena merasa posisinya terancam. Yang ia tahu, ia harus sampai di Paris sebelum "pajangan" rumahnya itu diambil oleh orang lain atau melakukan sesuatu di luar kendalinya.

​"Kita lihat siapa pria itu, Vanya," desis Devan sambil menatap awan dari jendela pesawat.

​Langkah Devan terasa ringan saat menyusuri lorong mewah Hotel Plaza Athénée. Dengan fasih, ia menanggapi sapaan pelayan hotel dalam bahasa Prancis yang sempurna—salah satu aset masa mudanya yang jarang ia pamerkan. Begitu pintu kamar terbuka, Devan segera masuk, membersihkan diri, dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang sangat ia rindukan. Agar kehadirannya menjadi kejutan, ia mematikan seluruh lampu hingga kamar itu jatuh dalam kegelapan total.

​Pukul sembilan malam waktu Paris, pintu kamar berdenting pelan. Vanya masuk dengan helaan napas berat. Tanpa menyalakan lampu karena matanya sudah terlalu lelah, ia melempar jas dan tasnya ke kursi. Dengan gerakan cepat, ia menanggalkan pakaian kerjanya hingga hanya menyisakan dalaman tipis yang melekat di tubuhnya.

​"Oh Tuhan, biarkan aku tidur nyenyak malam ini. Leherku sakit sekali gara-gara tidur di sofa semalam," gumamnya sambil merangkak naik ke tempat tidur.

​Di bawah selimut yang sama, Devan terbujur kaku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Vanya yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Namun, saat Vanya merebahkan diri dan tangannya mulai meraba-raba mencari posisi nyaman, jarinya menyentuh dada bidang yang hangat dan padat.

​"Apa ini?!" teriak Vanya histeris. "AAAAAA!"

​Vanya menjerit sekuat tenaga, refleks menendang apa pun yang ada di depannya. Devan mengerang kesakitan saat burung garudanya terkena tendangan Vanya. Begitu lampu dinyalakan dengan tangan gemetar, Vanya terbelalak melihat Devan yang meringis di atas kasur. Tanpa pikir panjang, ia menyambar selimut untuk membungkus tubuhnya dan berlari kencang menuju kamar mandi, mengunci pintu dari dalam dengan napas yang memburu hebat.

​"DEVAN?! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" teriaknya dari balik pintu, antara marah dan malu yang luar biasa

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!